SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
79. Hati Yang Hancur


__ADS_3

Hari yang dinantikan oleh Nando dan Bening pun tiba. Hari dimana mereka akan mengikat janji suci, sekaligus menggelar resepsi pernikahan.


Geno telah menyiapkan kamar di sebuah hotel untuk Ayana dan Dimas. Tidak jauh dari kamar pengantin Nando dan Bening.


Akad nikah akan digelar pukul tujuh malam dan langsung dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.


Pukul tiga sore, Dimas dan Ayana telah tiba di hotel tempat acara akan di gelar. Beberapa jam lagi, Ayana akan di rias oleh MUA yang sudah disiapkan oleh Hilda.


Setelah masuk ke dalam kamar hotel, Ayana merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk menghilangkan penatnya setelah menempuh perjalanan menggunakan motor sekitar satu jam.


"Apa lelah sekali?"tanya Dimas seraya duduk di samping Ayana berbaring. Mengelus kepala Ayana dengan lembut.


"Nggak terlalu, kok, kak. Cuma mau meluruskan punggung aja. Takut nanti kecapean karena banyak duduk dan berdiri. Soalnya, tadi mama bilang, jam enam nanti giliran aku dirias. Masih tiga jam lagi,"sahut Ayana.


"Aku kira karena capek naik motor,"sahut Dimas, takut Ayana kecapean karena harus menempuh perjalanan menggunakan motor.


"Aku malah suka kalau naik motor. Bisa peluk-pelukan sama kakak. Kalau naik mobil, 'kan nggak bisa peluk-pelukan. Nggak seru,"sahut Ayana bangkit dari tempatnya berbaring kemudian bergelayut manja di lengan Dimas.


"Dasar!"ucap Dimas mencubit hidung mancung Ayana gemas,"Tadi, aku lihat di dekat sini ada mini market.Mau dibelikan cemilan?"tanya Dimas.


"Mau,"sahut Ayana antusias.


"Oke. Kamu rebahan saja dulu. Aku beli cemilan dulu,"ucap Dimas beranjak dari duduknya.


"Oke,"sahut Ayana tersenyum manis.


Ayana kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya merentangkan kedua tangannya. Namun beberapa saat kemudian gadis itu beranjak duduk.


"Aku lupa minta kakak buat beliin minuman,"gumam Ayana langsung menyusul Dimas.


"Dimas!"seru suara seorang wanita memanggil Dimas. Dimas nampak terkejut dan menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seorang wanita yang memanggil namanya. Suara yang sangat dikenali nya.

__ADS_1


"Bening?"ucap Dimas menatap orang yang memanggilnya.


Ayana yang akan menghampiri Dimas pun menghentikan langkahnya dan memilih bersembunyi di balik tembok. Mengintip Dimas yang berdiri menghadap seorang wanita yang menghampirinya, yang tidak lain adalah calon kakak iparnya.


"Apa kak Dimas mengenal kak Bening?"gumam Ayana mengintip dari tempat persembunyiannya.


"Aku sangat merindukanmu, Dim,"ucap Bening langsung memeluk Dimas.


Ayana membulatkan matanya melihat Bening memeluk Dimas. Kedua tangan gadis itu mengepal, saat melihat suaminya, pria yang dicintainya di peluk wanita lain.


Dimas melerai pelukan Bening, menatap Bening dengan ekspresi datar. Sedangkan Ayana yang berada di tempat persembunyiannya hanya bisa melihat punggung Dimas saja, tidak dapat melihat ekspresi Dimas.


"Dim, kamu masih mencintai aku, 'kan?"tanya Bening menatap lekat wajah Dimas.


Ayana yang masih bersembunyi di tempatnya pun semakin terkejut mendengar pertanyaan Bening.


"Ap.. apa kak Bening adalah mantan pacar kak Dimas?"gumam Ayana lirih.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,"ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang datar.


Mendengar kata-kata Dimas, hati Ayana serasa diiris-iris, di remas-remas. Begitu sakit, walaupun tidak berdarah. Dengan langkah cepat, Ayana melangkahkan kakinya kembali ke dalam kamarnya. Menutup pintu kamarnya dan berdiri bersandar di balik pintu. Wajah gadis cantik itu sudah basah oleh air mata.


"Jadi, karena itu kak Dimas selalu menghindar saat aku bertanya apakah dia mencintai aku? Ternyata sudah ada nama seseorang yang terukir di hatinya. Lalu .. apa arti diriku bagi kak Dimas? Apa posisi ku di hatinya? Apakah kak Dimas bertahan denganku hanya karena pernikahan kami? Apakah tidak ada sedikitpun rasa cintanya untuk aku? Untuk apa dia bertahan dengan aku, jika hatinya mencintai wanita lain? Apa aku begitu menyedihkan, hingga kak Dimas tetap bertahan dengan aku karena merasa kasihan?"gumam Ayana berlinangan air mata. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan hati yang terasa hancur berkeping-keping.


Sedangkan di tempat Dimas dan Bening berada, Dimas kembali melerai pelukan Bening. Pria itu memegang kedua pundak Bening dan menatap manik mata Bening lekat.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintai mu. Tapi itu dulu. Sekarang, sudah tidak ada lagi cinta di hatiku untuk kamu,"ucap Dimas tanpa keraguan.


Bening menggeleng pelan, tersenyum dengan ekspresi tidak percaya. Menatap Dimas lekat.


"Kamu pasti berbohong, 'kan? Tidak mungkin kamu tidak lagi mencintai aku. Kamu bahkan sudah berkorban banyak untuk aku. Kamu rela mengorbankan harta dan karirmu hanya demi aku. Karena kamu tidak ingin aku disentuh oleh pria lain. Tidak mungkin kamu tidak lagi mencintai aku. Tidak mungkin secepat ini hatimu berubah,"ucap Bening yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dimas.

__ADS_1


"Tapi sayangnya, itu adalah kenyataannya. Aku tidak lagi mencintai kamu,"ucap Dimas melepaskan pegangan tangannya dari pundak Bening.


"Tidak! Tidak mungkin kamu tidak mencintai aku lagi. Tidak mungkin kamu sudah melupakannya aku secepat ini! Kamu pasti berbohong. Aku tahu, kamu sangat mencintai aku,"ucap Bening yang tidak bisa menerima jika pria yang dulu sangat dipuja dan diinginkan nya tidak lagi mencintai dirinya.


"Waktu, situasi dan kondisi bisa merubah segalanya. Termasuk hatiku. Hubungan kita sudah lama berakhir. Aku sudah tidak lagi mencintai kamu dan sudah melupakanmu. Aku sudah membuka lembaran baru dan melupakan masa lalu. Saat ini, kita hanya sebatas orang yang pernah saling mengenal. Tidak lebih. Maaf! Aku ada urusan,"ucap Dimas kemudian berjalan meninggalkan Bening.


Dulu Dimas memang sangat mencintai Bening. Tapi itu dulu. Sekarang, hanya Ayana yang ada di dalam hati Dimas. Hanya Ayana yang membuatnya bahagia. Hanya Ayana yang ingin di jaga Dimas seumur hidupnya.


"Dim!"panggil Bening. Namun Dimas sama sekali tidak menoleh apalagi berhenti.


Tanpa terasa, Bening menitikkan air mata. Menatap punggung Dimas yang semakin jauh darinya. Bening menyangka, Dimas masih mencintai dirinya. Namun melihat ekspresi wajah Dimas yang datar dan kata-kata Dimas yang tegas mengatakan tidak lagi mencintai dan sudah melupakannya, membuat hati Bening terluka.


Ayana berendam dalam bathtub dengan hati yang terasa hancur berkeping-keping. Dimas selalu menghindar jika dirinya menanyakan apakah Dimas mencintainya. Namun saat bertemu Bening, dengan mudah kata-kata itu terlontar dari bibir Dimas.


Satu-satunya alasan Ayana bahagia adalah Dimas. Namun ternyata Dimas juga tidak mencintai dirinya, tapi mencintai orang lain. Ayana merasa hidupnya tidak berarti lagi. Tidak ada yang menginginkan dirinya. Tidak ada yang menginginkan kehadirannya. Ayana menenggelamkan dirinya di dalam bathtub, sudah lelah rasanya hidup.


Setelah beberapa menit pergi ke mini market, akhirnya Dimas kembali ke kamar hotel tempat dirinya dan Ayana akan menginap malam ini. Pria itu masuk ke dalam kamar hotel dan menebarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tapi tidak menemukan Ayana. Entah mengapa hatinya tiba-tiba merasa gelisah saat tidak melihat Ayana di dalam kamar itu. Pria itu bergegas menuju kamar mandi.


"Ay!"panggil Dimas di depan kamar mandi, tapi tidak ada sahutan. Mencoba membuka pintu kamar mandi tapi ternyata di kunci.


"Ay! Ay! Kamu sedang apa? Buka pintunya, Ay!"teriak Dimas sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Tidak mendengar jawaban dari dalam kamar mandi, Dimas pun menjadi cemas. Pria itu bergegas keluar dari kamarnya dan meminta kunci cadangan kamar mandi pada pihak hotel. Dimas benar-benar mengkhawatirkan Ayana.


Setelah mendapatkan kunci cadangan, Dimas pun bergegas kembali ke kamarnya dan segera membuka pintu kamar mandi.


"Brakk"


"Ay!"


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2