SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
158. Kemungkinan


__ADS_3

"Kamu sendiri gimana? Apa hubungan kamu sama Wulan sudah ada kemajuan?"tanya Toyib mengalihkan pembicaraan.


Diky pernah bercerita jika Diky tertarik pada Wulan, teman sekolah Ayana. Dan mengatakan akan mendekati Wulan. Karena itu Toyib berani bertanya tentang hal itu pada Diky.


"Aku belum sempat untuk menemui dia. Kamu tahu sendiri, 'kan, jika aku sangat sibuk. Aku hanya menyempatkan diri untuk nge- chat dia. Tapi itu pun tidak sering,"sahut Diky menghela napas panjang.


"Kamu sudah menyelidiki semua hal tentang dia, 'kan?"tanya Toyib.


"Sudah. Dia gadis baik-baik, tidak pernah keluar rumah untuk hal-hal yang tidak penting. Tetangganya juga bilang, dia gadis yang baik dan keluarganya juga harmonis, sama seperti yang diceritakan oleh Ayana,"sahut Diky yang memang sudah menyelidiki semua hal tentang Wulan.


"Ayana sudah lumayan lama tinggal dengan mereka, dan Ayana betah tinggal bersama mereka. Ayana tidak lagi tinggal di rumah Wulan karena kejadian dia hampir di lecehkan Noval dan tiga orang preman waktu itu. Hingga Ayana di tolong Dimas dan akhirnya tinggal bersama kami sampai saat ini. Aku juga menilai jika gadis itu gadis yang baik dan sopan. Aku mendukung kamu jika kamu ingin berhubungan serius dengan dia,"sahut Toyib yang memang sudah lama berjualan pakaian keliling di kampung Pak Parman. Sedikit banyak, Toyib mengetahui sifat dan kebiasaan sebagian orang di tempatnya mengais rezeki itu.


"Makasih, Yib, atas info dan dukungannya. Tapi aku bingung bagaimana caranya mendekati dia. Aku tidak berpengalaman dalam hal mendekati wanita. Aku juga tidak punya banyak waktu untuk melakukan pdkt,"sahut Diky yang semakin lama memang semakin sibuk.


Semakin berkibar namanya, semakin banyak pula klien yang ingin memakai jasanya. Sehingga Diky tidak memiliki waktu luang untuk bersantai.


"Kamu belum juga mendapatkan anak buah baru?"tanya Toyib yang tahu Diky sedang mencari anak buah baru.


"Sudah, Yib. Tapi masih kurang. Klien kami semakin banyak. Otomatis kami memerlukan lebih banyak orang lagi. Jika anak buah ku sedikit, akan lama untuk menyelesaikan penyelidikan,"sahut Diky.


Mengingat klien yang semakin banyak, Diky juga memerlukan anak buah lebih banyak agar penyelidikan cepat selesai. Namun mencari anak buah juga tidak mudah. Diky harus memastikan mereka cakap dalam bekerja dan setia pada dirinya. Karena itu, cukup sulit untuk mencari anak buah baru.

__ADS_1


"Sekarang aku tanya. Kamu benar-benar menyukai Wulan tidak?"tanya Toyib dengan ekspresi serius.


"Aku menyukai dia, Yib,"sahut Diky serius.


"Ingin serius menjalin hubungan dengan dia?"


"Ingin. Tapi bagaimana caranya jika aku tidak punya waktu untuk mendekati dia,"sahut Diky menghela napas berat.


Menjadi detektif adalah pekerjaan yang sangat di sukai nya. Tapi Diky juga ingin mempunyai pendamping hidup seperti orang lain. Apalagi jika melihat kemesraan Dimas dan Ayana, Diky juga ingin seperti itu.


"Jika kamu serius dengan Wulan, aku sarankan untuk melamar dia. Sebelum hatinya terpaut pada pemuda lain,"ujar Toyib memberi saran.


"Kami belum terlalu saling mengenal, Yib. Ngedate aja belum pernah, apalagi pacaran. Masa iya, tiba-tiba aku langsung melamar dia?"sahut Diky yang merasa saran Toyib itu berlebihan. Mengingat dirinya dan Wulan belum punya hubungan yang dekat.


"Kamu jangan menakut-nakuti aku, Yib,"sahut Diky yang merasa was-was karena penuturan Toyib itu.


Bagaimana pun, apa yang di katakan oleh Toyib itu masuk akal. Walaupun tidak secantik Ayana, tapi Wulan bisa dikategorikan sebagai gadis yang cantik dan manis. Apalagi pembawaan Wulan yang ramah dan terlihat polos. Akan banyak pemuda yang ingin menjadikan Wulan kekasih.


"Aku mengatakan hal yang masuk akal. Jika kamu tidak takut hatinya keburu nyangkut di hati pemuda lain, ya... terserah kamu saja. Tapi kamu harus ingat! Wulan akan semakin dewasa, dan pergaulan di tempat kuliah juga akan semakin luas. Akan banyak pemuda yang dia kenal nanti. Jangan curhat sama aku jika dia keburu di embat pemuda lain,"ujar Toyib bermaksud agar Diky tidak lambat bergerak untuk mendapatkan Wulan.


"Apa tidak terlalu ekstrim, jika dekat juga belum, tapi langsung melamar?"tanya Diky yang merasa ragu jika harus langsung melamar Wulan, sedangkan mereka belum dekat.

__ADS_1


"Ingat, Dik! Yang pacaran bertahun-tahun kalah sama yang melamar duluan. Karena pacaran itu belum tentu bertujuan untuk sampai ke pelaminan. Bisa saja hanya untuk bersenang-senang. Tapi yang melamar itu pasti serius untuk menuju ke pelaminan. Orang tua akan lebih menghargai pemuda yang melamar putri mereka dari pada macari putri mereka. Jika kamu sudah melamarnya, dia akan terikat sama kamu. Soal kapan kamu mau menikah, itu bisa dibicarakan lagi. Tapi, kalau bisa, ya.. jangan terlalu lama,"ujar Toyib panjang lebar.


"Halah, situ aja tunangan sudah sekitar satu tahun belum nikah-nikah juga,"sahut Diky yang memang benar adanya.


"Itu karena kami harus menunggu kakak dia nikah dulu. Masalahnya, kakaknya masih bekerja di luar negeri. Tapi dua bulan lagi akan pulang dan langsung menikah. Setelah itu, baru kami yang menikah. Lagi pula, aku masih ingin mengetes dia. Apa benar dia mau menikah dengan duda beranak satu seperti aku? Dan ingin tahu, apakah walau berjauhan seperti ini dia tetap setia pada ku. Maklum, aku pernah dikhianati. Jadi, aku agak berhati-hati dalam memilih pasangan. Apalagi ini pasangan hidup. Kalau bisa, ini pernikahan aku yang kedua dan yang terakhir,"jelas Toyib panjang lebar.


"Oh, begitu ceritanya? Tapi, Yib, jika aku tiba-tiba melamar dia, apa dia akan menerima lamaran ku? 'Kan, malu kalau di tolak, Yib,"ujar Diky mengungkapkan kekhawatirannya.


"Kamu harus optimis. Kamu, 'kan, sudah tidak memiliki orang tua lagi. Minta tolong pada keluarga Om Geno melamar kan Wulan untuk kamu. Kita, 'kan, dekat dengan mereka. Aku rasa, mereka tidak akan keberatan jika kamu meminta tolong untuk melamar Wulan. Apalagi ada Dimas Ayana dan aku, aku yakin Pak Parman tidak akan menolak lamaran kamu,"ujar Toyib penuh keyakinan.


"Begitu, ya? Baiklah, aku akan membicarakan hal ini pada Dimas dan Ayana dulu. Jika mereka setuju, aku akan minta tolong pada Om Geno dan Tante Hilda,"sahut Diky setelah memikirkan perkataan Toyib.


"Begitu juga bagus. Percayalah, kalau jodoh nggak bakal kemana! Tapi namanya juga melamar, bisa di terima, bisa juga di tolak. Jadi, lapangkan dada seandainya di tolak,"ujar Toyib enteng.


"Heh, kamu gimana, sih? Tapi meyakinkan aku kalau lamaran aku bakal diterima. Kok, sekarang malah ngomong gitu?"protes Diky.


"Itu kemungkinan yang realistis, Dik! Tapi percayalah! Kemungkinan di terimanya lebih besar dari pada kemungkinan di tolaknya. Apalagi kamu punya pekerjaan yang bisa di banggakan,"ujar Toyib kembali meyakinkan.


"Dasar nggak jelas! Kadang meyakinkan, kadang meragukan,"dengus Diky.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2