SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
93. Tepatnya Cari Perhatian


__ADS_3

"𝘿𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙖𝙙𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙧𝙖𝙢𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣,"gumam Ayana yang sangat yakin jika Bening hanya pura-pura pingsan agar bisa dipeluk Dimas yang memang sudah dekat dengan mereka.


"Sus! Sus! Tolong! Menantu saya pingsan,"Hilda memanggil seorang perawat yang sedang melintas.


Sedangkan Dimas hanya diam. Tidak berani mendekati Bening. Takut Ayana marah. Dari gelagatnya, Dimas dapat menduga jika Ayana tidak akan suka jika dirinya menyentuh Bening


"𝙄𝙨𝙨𝙝, 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖, 𝙨𝙞𝙝, 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝𝙠𝙪?"gerutu Bening dalam hati. Tadinya Bening berharap yang akan menangkap tubuhnya adalah Dimas. Tapi yang terjadi malah Ayana yang menangkap tubuhnya.


Sebelum benar-benar menutup matanya tadi, Bening melihat Ayana lebih dulu menyambar tubuhnya. Tidak sesuai harapan Bening yang ingin Dimas yang menangkap tubuhnya,"𝙏𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜 𝘽𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜! 𝙏𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜! 𝙎𝙚𝙗𝙚𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙜𝙚𝙣𝙙𝙤𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨,"gumam Bening dalam hati.


Bening men-sugesti dirinya sendiri bahwa Dimas yang akan menggendong dirinya. Karena tidak mungkin Ayana yang akan menggendong dirinya. Tapi apa benar Dimas yang akan menggendong Bening? Apa Ayana rela, jika Dimas menyentuh apalagi menggendong mantan pacarnya itu.


Senyuman yang lebih mirip seringai licik terbit di bibir Ayana,"Tubuh kakak ipar berat sekali, sepertinya kebanyakan dosa, deh,"ujar Ayana sengaja agak keras agar di dengar Bening.


"𝙎𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣! 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙩𝙪,"umpat Bening dalam hati.


"Bang, tolong kakak iparku ini, bang!"pinta Ayana pada Toyib.


"𝘼𝙥𝙖? 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙚𝙣𝙙𝙤𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪? 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙩𝙖𝙙𝙞? 𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙨𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣!"umpat Bening dalam hati. Bening beberapa kali mendengar Ayana memanggil Abang pada pria yang datang bersama Dimas dan Ayana tadi. Jadi pasti pria itulah yang akan menggendong dirinya nanti. Benar-benar rencana yang Gatot, alias gagal total.


"Oke, serahkan saja pada Abang,"sahut Toyib yang langsung menghampiri Bening dan menggendong Bening.


"Mari! Ikuti saya!"ucap perawat yang di panggil Hilda tadi. Toyib mengikuti perawat itu menuju sebuah ruangan agar Bening bisa di periksa.


Saat Ayana menyebutkan wanita yang saat ini digendongnya adalah kakak ipar Ayana, Toyib langsung tahu jika perempuan itu adalah mantan pacar Dimas. Toyib jadi mengerti, kenapa Dimas tadi tampak enggan untuk menangkap tubuh Bening yang hampir jatuh. Dan mengapa Ayana meminta dirinya menggendong Bening, bukan Dimas saja yang disuruh Ayana.


"Mama urus Bening dulu, ya? Kalian tunggu di sini!"ucap Hilda bergegas mengikuti perawat dan Toyib yang menggendong Bening.


"Iya, ma,"sahut Dimas dan Ayana bersamaan.


"Aku yakin kalau mantan pacar kakak itu cuma cari perhatian saja sama kakak. Pengen di peluk dan di gendong sama kakak. Sudah menikah, bahkan sudah hamil, tapi masih saja keganjenan sama suami orang,"gerutu Ayana dengan wajah yang bersungut-sungut.


"Sudah, biarkan saja. Yang penting aku tidak menanggapi dia, 'kan?"ucap Dimas lembut, tidak ingin Ayana semakin tersulut emosi. Dimas merangkul Ayana dan membawa Ayana duduk di kursi tunggu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan papa sekarang?"gumam Ayana seraya menatap pintu ruangan UGD.


"Tenanglah! Papa dan kakak pasti akan baik-baik saja,"ucap Dimas seraya memeluk Ayana, agar istri kecilnya itu tenang.


Sedangkan Bening yang berada di ruangan lain, saat ini seorang dokter kandungan sedang mendekatkan minyak angin ke arah hidung Bening, agar wanita itu sadar. Bening terpaksa mengakhiri aktingnya saat dokter menempelkan minyak angin itu di hidungnya. Karena Bening langsung mual saat mencium aroma minyak angin itu.


"Hueek..hueek! Jauhkan dari saya, minyak angin itu! Perut saya mual karena mencium aromanya,"ucap Bening seraya menutup hidungnya.


"Oh, mual, ya, karena bau aroma minyak angin. Ya sudah., kita periksa dulu,"ujar dokter.


"Saya, tunggu di luar, Tan,"pamit Toyib yang tidak mungkin diam di dalam ruangan itu saat Bening diperiksa.


"Ah, iya,"sahut Hilda.


"Aku rasa dia hanya pura-pura pingsan saja. Mukanya aja nggak pucat sama sekali. Terus pas aku gendong tadi juga nggak lemes banget kayak orang yang pingsan. Pasti cuma untuk mencari perhatian dari Dimas. Ayana benar, perempuan ini sepertinya memang kegatelan,"gumam Toyib yang saat ini sudah berada di luar ruangan tempat Bening diperiksa.


Toyib pernah mengalami diselingkuhi oleh istrinya. Jadi Toyib tahu benar bagaimana rasanya diselingkuhi. Toyib jadi tidak respek pada Bening yang sudah bersuami, tapi masih mengejar-ngejar suami orang.


Kembali ke ruangan tempat Bening diperiksa. Dokter itu baru saja memeriksa Bening.


"Bagaimana keadaan menantu saya dan bayi dalam kandungannya, dok?"tanya Hilda.


"Semuanya normal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cuma perlu istirahat dan perhatian saja,"sahut dokter itu yang juga tahu jika Bening hanya pura-pura pingsan. Setelah selesai memeriksa Bening, dokter itu pun meninggalkan ruangan itu.


"Kamu istirahat saja di sini. Jaga kesehatan kamu! Mama akan kembali ke UGD menunggu papa dan suami kamu,"ujar Hilda.


"Iya, ma,"sahut Bening menurut.


"Mending aku tidur agar besok pagi mataku tidak seperti mata panda. Di UGD juga nggak bisa deketin Dimas. Si Ayana itu selalu saja mengacaukan rencanaku,"gumam Bening kesal setelah Hilda keluar dari ruangan itu.


Hilda keluar dari ruangan itu, menghampiri Toyib yang masih menunggu di luar.


"Sudah, Tan?"tanya Toyib.

__ADS_1


"Sudah. Kata dokter cuma perlu istirahat dan perhatian saja,"sahut Hilda seperti apa yang dikatakan oleh dokter.


"𝙆𝙪𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣? 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙪𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣. 𝙏𝙚𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣,"gumam Toyib dalam hati.


"Ya sudah, kita kembali ke UGD! Biarkan Bening istirahat di sini,"ujar Hilda pada Toyib.


"Baik, Tan,"sahut Toyib mengikuti langkah Hilda menuju UGD.


Tidak lama kemudian, Toyib dan Hilda pun sudah sampai di depan ruangan UGD tempat Geno dan Nando ditangani.


"Bagaimana, ma, keadaan kak, Bening?"tanya Ayana.


"Dia baik-baik saja. Mungkin cuma syok saja karena kecelakaan yang dialami oleh kakak kamu"sahut Hilda.


"Syukurlah kalau baik-baik saja,"sahut Ayana.


"Tuh, 'kan! Dia benar-benar cuma cari perhatian sama kakak,"gerutu Ayana lirih, dan hanya bisa di dengar oleh Dimas saja.


"Yang penting nggak aku ladenin, 'kan?"ucap Dimas seraya mengelus kepala Ayana lembut, menenangkan istri kecilnya itu.


Beberapa saat kemudian seorang perawat keluar dari ruangan UGD itu dan mengatakan bahwa Geno dan Nando membutuhkan donor darah. Dimas dan Toyib yang kebetulan mempunyai golongan darah yang sama pun mendonorkan darah mereka.


Setelah beberapa jam menunggu akhirnya Geno dan Nando dipindahkan ke ruang rawat. Hilda sengaja menempatkan anak dan ayah itu di ruangan yang sama agar bisa menjaga mereka berdua sekaligus.


"Kalian tidak usah pulang dulu. Kalian dari mendonorkan darah. Lebih baik istirahat di sini saja,"ucap Hilda lembut. Tidak seperti biasanya yang selalu ketus pada Dimas dan Toyib. Malam ini Dimas dan Toyib telah banyak membantu Hilda mengurus administrasi suami, anak dan menantunya. Bahkan telah mendonorkan darah mereka untuk anak dan suaminya.


Iya, ma,"sahut Dimas.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2