
"Ada apa, bang?"tanya Ayana yang penasaran melihat ekspresi wajah Toyib yang nampak tidak baik-baik saja.
"Ay, Dimas mengalami kecelakaan. Dan sekarang sedang di tangani di IGD,"ucap Toyib lembut agar Ayana tidak terlalu syok.
"A.. apa?!"tanya Ayana menutup mulutnya sendiri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ay!"pekik Toyib dan Bunga bersamaan, langsung memegang tangan Ayana saat melihat Ayana hampir terjatuh.
"Ayo, Abang bantu berbaring dulu!"ucap Toyib ingin memapah Ayana kembali masuk ke kamarnya. Namun Ayana memberi isyarat dengan tangannya bahwa dirinya tidak mau.
"Tolong antar aku ke rumah sakit, bang! Aku ingin melihat suamiku,"ucap Ayana seraya mengusap air matanya.
"Baiklah. Bersiap-siaplah! Abang akan memesan taksi online,"ucap Toyib, kemudian menatap Bunga,"Kamu bantu Ayana bersiap, ya!"pinta Toyib.
"Iya, bang,"sahut Bunga.
Beberapa menit kemudian, taksi online yang di pesan Toyib pun datang. Dalam perjalanan ke rumah sakit, sesekali Ayana menghapus air matanya. Walaupun tidak terdengar suara isak tangisnya, tapi air mata Ayana terus menetes. Bunga yang duduk di kursi penumpang bagian belakang bersama Ayana pun menggenggam tangan Ayana hangat, berusaha menenangkan Ayana.
Sedangkan Toyib yang duduk di kursi penumpang di sebelah pengemudi pun hanya bisa menghela napas berkali-kali, sambil sesekali menoleh pada Ayana.
Beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di IGD. Ternyata di depan IGD itu sudah ada Geno, Hilda, Nando, Diky, Wulan dan juga Tuan Buston.
"Ay!"panggil Hilda dan Wulan. Kedua wanita beda usia itu langsung menghampiri Ayana dan memeluknya.
"Tenanglah! Semua pasti akan baik-baik saja,"ujar Hilda menenangkan.
Ayana hanya diam tanpa kata. Tiba-tiba Ayana teringat dengan mimpinya kemarin. Bermimpi Dimas meninggalkan dirinya.
"Itu hanya mimpi. Kak Dimas tidak akan meninggalkan aku. Dia sudah berjanji padaku,"gumam Ayana dalam hati.
Semua orang di depan IGD itu nampak tegang. Menunggu Dimas selesai ditangani. Sesekali perawat keluar, kemudian masuk lagi. Setelah beberapa jam menunggu dalam kecemasan, akhirnya seorang dokter pun keluar.
"Dengan keluarga Tuan Dimas?"tanya dokter itu.
Ayana dan yang lainnya pun segera mendekat pada dokter itu.
"Bagaimana keadaan Dimas, dok?"tanya Geno.
__ADS_1
"Dengan berat hati saya mengatakan, Tuan Dimas dalam keadaan kritis. Saya bukan Tuhan, tapi menurut prediksi saya sebagai tenaga medis, walaupun Tuan Dimas bisa melewati masa kritisnya, kemungkinan besar Tuan Dimas akan mengalami koma. Dan jika Tuan Dimas mengalami koma, kemungkinan untuk sadarnya sangat kecil,"jelas dokter itu.
"Ay!"pekik semua orang saat tiba-tiba Ayana menjadi limbung. Untung saja Hilda dan Geno langsung menangkap tubuh Ayana.
Diky pun langsung menggendong Ayana menuju ruang pemeriksaan. Mengingat Geno dan Nando yang baru pulih dari patah tulang dan tidak disarankan mengangkat beban yang berat-berat. Hilda, Bunga dan Wulan pun mengekor di belakang Diky. Sedangkan yang lainya masih menunggu keterangan dokter tentang Dimas.
"Bagaimana keadaan putri saya, dok?"tanya Hilda setelah dokter selesai memeriksa.
Dokter itu tidak menjawab, tapi menatap tajam pada Diky.
"Kalian baru menikah?"tanya dokter itu pada Diky dengan suara datar.
"Iya, dok,"sahut Diky yang merasa aneh dengan tatapan tajam dokter wanita itu.
"Saya tahu, kalian masih muda. Tapi jangan terus-terusan juga melakukanya. Anda tahu? Istri anda sampai kelelahan karena anda. Apa anda tidak kasihan pada istri anda?"tanya dokter itu masih dengan tatapan tajamnya.
Wulan yang berdiri di sebelah Diky pun mengulum senyum dengan pipi yang memerah melihat suaminya dimarahi dokter.
"Kelelahan? Istri saya baik-baik saja dok,"sahut Diky yang memang merasa Wulan baik-baik saja.
"Apa dokter ini salah paham padaku? Mengira Ayana adalah istriku?"gumam Diky dalam hati, mulai curiga.
"Baik-baik saja? Sudah seperti itu masih berani mengatakan istri anda baik-baik saja?Kalian para suami sering kali tidak peduli dengan istri kalian. Saya paham betul dengan para pria yang baru menikah seperti anda. Apa kalian pikir wanita itu tempat pelampiasan? Jika terjadi apa-apa pada istri anda bagaimana? Jangan memikirkan diri sendiri! Pikirkan istri anda juga!"
"Tunggu! Tunggu! Sepertinya dokter salah paham pada saya. Istri saya itu..."
"Istri anda itu kelelahan! Dan semua itu karena anda!"sergah dokter itu memotong kata-kata Diky.
"Tapi, dok, disini kami ingin tahu bagaimana keadaan Ayana. Kenapa malah jadi membahas tentang saya?"protes Diky.
"Karena anda suaminya!"sergah dokter itu terlihat geram pada Diky.
Wulan dan Bunga memalingkan wajah menahan tawa. Sedangkan Hilda nampak tepok jidat.
"Siapa yang bilang saya suaminya? Saya ini kakaknya. Kenapa dokter jadi memarahi saya?"protes Diky yang dari tadi dipojokkan oleh dokter itu.
"Hah?! Anda bukan suaminya? Anda kakaknya? Lalu, dimana suaminya?"tanya dokter itu terkejut sekaligus malu karena salah orang.
__ADS_1
"Jika dokter ingin memarahi suaminya, datangi lah dan marahi lah, sana! Suaminya berada di ICU, saat ini sedang kritis,"sahut Diky membuang napas kasar.
"Hah?!"dokter itu kembali terkejut.
"Lalu, bagaimana keadaan putri saya, dok?"tanya Hilda yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Ayana.
Tiba-tiba wajah dokter itu menjadi sedih dan menghela napas panjang,"Suaminya sedang kritis?"tanya dokter itu nampak tidak enak hati.
"Iya. Dokter mengatakan, jika dia bisa melewati masa kritisnya, kemungkinan koma lebih besar dari pada sadarnya. Karena mendengar itu adik saya jadi pingsan,"jelas Diky menghela napas panjang.
"Adik anda, positif hamil, empat Minggu. Keadaannya lemah. Dan mungkin drop karena kelelahan dan mendengar berita yang membuat dia syok seperti yang anda katakan tadi,"ucap dokter itu setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Diky, membuat semua orang yang menunggu Ayana itu terkejut.
Geno, Hilda, Nando, Diky, Wulan, Toyib dan Bunga nampak berkumpul di ruang rawat Ayana. Selang infus terhubung pada punggung tangan Ayana. Wajah wanita muda itu terlihat pucat.
"Bagaimana keadaan Ayana, ma? Apa kata dokter?"tanya Geno.
"Ayana mengandung, pa. Keadaannya lemah dan drop karena kelelahan dan syok mendengar prediksi dokter tentang keadaan Dimas tadi,"ucap Hilda membuat Geno, Nando, dan Toyib terkejut.
Mereka semua terdiam tanpa kata. Tidak tahu harus sedih atau bahagia menerima kabar seperti ini. Berita yang sebenarnya akan menjadi berita bahagia jika keadaan Dimas tidak seperti saat ini. Saat Dimas berjuang antara hidup dan mati.
Mama tidak tahu, harus merasa sedih atau bahagia, pa,"ucap Hilda menitikkan air mata.
"Sabar, ma! Ini adalah ujian. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah Dimas dan Ayana. Kita harus menemani, menguatkan dan mendukung Ayana melewati masa sulit ini. Kita harus membuatnya kuat melewati ujian ini, ma! Jika mama seperti ini, bagaimana Ayana bisa melewati masa sulit seperti ini, ma?"ujar Geno seraya memeluk Hilda.
Di sisi lain, Tuan Buston nampak berada di sebuah ruang rawat. Menunggu Liliana yang terbaring tidak sadarkan diri dengan selang infus yang terhubung di punggung tangannya. Liliana mengalami kecelakaan di tempat yang sama dengan Dimas mengalami kecelakaan. Namun keadaan Lilian tidak terlalu parah dan mengkhawatirkan seperti keadaan Dimas.
Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan rawat inap itu. Dan Saman pun masuk ke dalam ruangan itu setelah tuan Buston mempersilahkannya masuk.
"Bagaimana keadaan anak dan menantu saya?"tanya Tuan Buston yang tidak menyadari tangan Liliana sudah mulai bergerak-gerak.
"Tuan muda masih belum melewati masa kritisnya. Dan Nona muda..."Saman menggantung kata-katanya lalu menghela napas panjang.
"Kenapa dengan menantu saya?"tanya Buston yang penasaran dan tidak sabar menunggu Saman melanjutkan kata-katanya.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued