
Ayana terdiam sejenak seraya menatap wajah suaminya yang memelas. Sebenarnya Ayana masih merasa lelah untuk melayani Dimas. Tapi Ayana tidak ingin Dimas mengeluhkan apapun tentang dirinya. Apalagi jelas-jelas sudah ada pelakor yang ingin mendekati suaminya.
"Baiklah,"ucap Ayana tidak berdaya. Tidak ingin suaminya mencari kepuasan pada perempuan lain.
"Terimakasih!"ucap Dimas dengan wajah yang berbinar kembali mengecup bibir Ayana beberapa kali, kemudian memakaikan helm Ayana dan helm nya sendiri. Tak lama kemudian, sepasang suami-isteri itu pun menaiki motor meninggalkan rumah itu.
Melihat sepasang suami-isteri itu sudah pergi, Bening pun keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas menyusul Dimas dan Ayana.
Sedangkan Hilda melihat pesan yang masuk ke dalam handphonenya. Wanita paruh baya itu menghela napas panjang saat melihat mobil Bening keluar dari garasi.
"Ayana dan Dimas sudah bahagia. Aku tidak akan membiarkan siapapun merusaknya, termasuk Bening. Aku tidak akan segan-segan bertindak jika Bening berani mengusik kebahagiaan Ayana bersama Dimas,"gumam Hilda dengan tatapan tajam ke arah mobil Bening yang hampir keluar dari pekarangan rumah itu.
Bening mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan rumah megah milik mertuanya itu. Wanita itu mengikuti Dimas dan Ayana dari jauh.
"Aku harus tahu, dimana Dimas tinggal. Jika aku tahu dimana Dimas tinggal, aku bisa menemui dia saat Ayana pergi ke sekolah. Nando mengatakan, Dimas terpaksa menikahi Ayana karena Ayana mengancam akan bunuh diri jika Dimas tidak mau menikahi Ayana. Berarti Dimas tidak mencintai Ayana. Aku yakin, Dimas hanya marah padaku karena aku meninggalkan dia dan menikah dengan pria lain. Dia pasti pura-pura bahagia dengan Ayana karena marah dan cemburu padaku. Dia hanya menjadikan Ayana sebagai tempat pelarian dan pelampiasan saja,"gumam Bening yang masih yakin jika Dimas masih mencintai dirinya. Wanita itu terus membuntuti Dimas dan Ayana.
Dimas yang sedang mengendarai motornya melirik ke arah kaca spion motornya. Pria itu mendengus kesal saat mengetahui bahwa dirinya tengah di buntuti seseorang.
"Apalagi yang diinginkan perempuan itu? Sudah jelas-jelas aku menolaknya, tapi dia masih saja mencari cara untuk mendekati aku. Sekarang dia malah membuntuti aku,"gumam Dimas yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri karena Dimas memakai helm full face dan sedang mengendarai motor.
"Ay! Pegangan yang kuat!"pinta Dimas sedikit menoleh ke belakang, dengan suara agak kuat agar Ayana bisa mendengarnya.
"Iya,"sahut Ayana mengeratkan pelukannya.
Setelah Ayana memeluknya lebih kuat, Dimas langsung menaikkan kecepatan motornya. Pria itu menyalip beberapa kendaraan di depannya di jalan yang lumayan padat kendaraan.
"Sial! Kenapa Dimas melajukan motornya lebih cepat? Aku kesulitan untuk menyusul mereka,"gumam Bening yang mulai panik saat motor Dimas semakin melaju menjauh dari mobilnya. Sedangkan Bening terjebak padatnya lalu lintas.
Dimas yang menggunakan motor lebih mudah menyelip di antara kendaraan lain lalu menyalipnya. Sedangkan Bening yang mengendarai mobil pun semakin sulit untuk membuntuti Dimas.
"Argkhh! Sial! Sial!"pekik Bening saat benar-benar kehilangan jejak Dimas. Perempuan itu memukul-mukul stir mobil nya untuk meluapkan kekesalannya,"Seandainya Nando memberikan uang yang banyak padaku, aku akan menyewa orang untuk mencari tahu dimana rumah Dimas. Tidak perlu bersusah payah seperti ini. Sayangnya Nando tidak mudah di poroti. Dan sialnya hanya dia yang berhasil aku gaet. Keuangan nya masih di atur papa. Sama sekali tidak bisa meminta uang sembarangan. Pria tua itu seharusnya mati dalam kecelakaan waktu itu. Jika pria tua itu mati, maka Nando lah yang akan menjadi kepala keluarga. Nando akan memberikan apapun yang aku inginkan,"gumam Bening seraya memutar balik mobilnya kembali ke rumah mertuanya.
Di sisi lain, Dimas membawa Ayana ke sebuah hotel yang tidak jauh dari sebuah pantai. Pria itu nampak sudah tidak sabar untuk mengulangi kegiatan panas mereka dini hari tadi.
__ADS_1
"Kakak!"pekik Ayana saat tiba-tiba Dimas menggendong nya. Pria itu membaringkan Ayana di atas ranjang dan langsung menyerang Ayana.
Dua jam kemudian.
"Mau pergi ke pantai?"tanya Dimas pada Ayana yang saat ini berada dalam pelukannya. Keduanya baru saja selesai melakukan aktivitas panas di atas ranjang. Hanya selembar selimut yang menutupi tubuh mereka yang saat ini polos tanpa sehelai benang.
"Pantai?"tanya Ayana seraya mendongakkan kepalanya menatap Dimas.
"Hum. Hotel ini dekat dengan pantai,"sahut Dimas seraya membelai bibir Ayana.
"Benarkah?"tanya Ayana dengan wajah yang terlihat berbinar.
"Apa aku pernah berbohong kepada mu?"tanya Dimas seraya mencubit hidung Ayana gemas.
"Aku mau, kak. Tapi jangan sekarang! Sebentar lagi cuacanya akan panas. Aku tidak mau kulitku terbakar karena matahari,"ujar Ayana.
"Iya. Kita akan ke sana agak sore saja. Agar cuacanya tidak terlalu panas lagi. Sebentar lagi siang. Kita mau makan siang di mana? Di hotel ini atau di tempat lain?"tanya Dimas seraya membelai rambut Ayana.
"Jangan di hotel, kak! Aku tidak terlalu suka dengan masakan hotel. Kita cari warung makan lesehan, yuk!"ajak Ayana.
"Kita tidak akan menginap di hotel ini, 'kan?"tanya Ayana.
"Kenapa?"tanya Dimas.
"Apa Kakak lupa? Besok aku harus sekolah, kak,"ujar Ayana mengingatkan.
"Ah, iya. Aku lupa. Istriku masih kecil, masih sekolah,"ujar Dimas kemudian terkekeh.
"Kakak meledek aku? Awas, ya!"ujar Ayana langsung menggelitik Dimas.
"Hahahaha... geli, Ay! Sudah, Ay!"pinta Dimas yang merasa kegelian.
Saat hari menjelang siang, sepasang suami-isteri itu makan siang di sekitar pantai. Makan di sebuah warung lesehan.Tentu saja Ayana sangat senang saat melihat pantai dari tempat mereka makan. Seharian itu, Dimas dan Ayana menghabiskan waktu di hotel dan juga di pantai. Sore harinya, mereka melihat sunset bersama-sama.
__ADS_1
Ayana duduk di batu karang seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimas yang duduk di belakangnya. Pria itu memeluk Ayana dari belakang.
"Indahnya,"gumam Ayana seraya menatap langit senja. Kedua tangan Ayana memegang lengan Dimas yang sedang memeluknya.
"Lebih indah kamu. Aku tidak perlu menunggu sore datang untuk melihat mu. Aku lebih suka lagi kalau malam. Karena aku bisa melihat kamu dalam dekapan ku,"celetuk Dimas kemudian mengecup leher Ayana.
"Gombal,"celetuk Ayana kemudian terkekeh.
"Gombalin istri sendiri nggak berdosa, 'kan?"tanya Dimas yang beralih mencium pipi Ayana.
"Aku juga seperti senja, kak. Karena kakak harus menunggu sore datang untuk melihat aku. Kakak pulang dari kantor sore, 'kan?"tanya Ayana mengingatkan.
"Iya, ya. Istri kecilku ini memang pintar,"puji Dimas yang kali ini mengecup bibir Ayana.
"Senja sudah tidak terlihat lagi, kak. Kita pulang, yuk!"ajak Ayana.
"Ah, iya. Ternyata sudah mau malam,"sahut Dimas yang baru sadar setelah menatap ke sekelilingnya. Dari tadi pria itu hanya asyik menciumi istrinya. Tidak melihat senja ataupun keadaan di sekeliling mereka.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, akhirnya sepasang suami-istri itu tiba di rumah kontrakan mereka.
"Assalamu'alaikum! Abang! Aku beliin sate buat Abang,"ujar Ayana begitu masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumus salam. Wahh.. kebetulan belum makan, nih,"sahut Toyib yang baru keluar dari kamarnya. Namun sesaat kemudian Toyib mengernyitkan keningnya saat melihat Ayana yang berjalan ke ruangan makan lebih dulu dari dirinya.
"Ternyata kalian ke pantai main bola, ya? Sudah gol, ya, Dim?"tanya Toyib menoleh pada Dimas seraya terkekeh.
"Di pantai, mana ada yang main sepak bola, bang? Apanya yang, gol?"
...π"Kamu bukanlah senja yang hanya datang saat sore tiba. Kamu adalah udara yang selalu ingin aku hirup dimanapun aku berada."π...
..."Nana 17 Oktober"....
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued