SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
78. Bukan Niatnya Yang Salah


__ADS_3

Waktu terus berputar, hari pun terus berganti. Tidak terasa tinggal satu hari lagi adalah hari pernikahan Nando. Seperti biasanya, malam itu Toyib sedang main game online, Dimas sibuk berdiskusi tentang jual beli saham lewat smartphone nya. Dan Ayana sedang menonton televisi.


Ayana yang sedang bermanja-manja di pangkuan Dimas menghela napas kasar saat handphone nya berdering dan menampilkan nama mamanya sebagai nama pemanggilnya. Gadis itu tidak kunjung menerima panggilan masuk di handphonenya karena malas menerima telepon dari mamanya.


"Siapa yang menelpon, Ay? Kenapa tidak di angkat?"tanya Dimas yang matanya tetap fokus pada layar handphonenya.


"Mama, kak,"sahut Ayana terdengar malas-malasan. Benar-benar enggan rasanya menerima panggilan masuk dari mamanya. Mengingat wanita yang telah melahirkannya itu selalu saja menghina suaminya.


"Ya, udah, cepat di angkat, gih!"titah Dimas.


Ayana menghela napas panjang kemudian menggeser ikon berwarna hijau di handphonenya dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo, ma!"sahut Ayana pelan.


"Kenapa kamu dan suami kamu itu tidak kunjung ke butik mama? Lusa adalah hari pernikahan kakakmu. Tapi kamu belum juga ke butik mama memilih baju untuk hari pernikahan kakakmu. Seharusnya, paling lambat seminggu yang lalu kalian datang ke butik mama, agar mama bisa membuatkan baju yang cocok untuk kalian. Tapi kalian malah tidak kunjung datang juga. Besok, ke butik mama! Mama tunggu!"titah Hilda tidak ingin di bantah.


Sudah beberapa kali Hilda menelpon Ayana untuk datang ke butiknya, Ayana cuma bilang iya akan datang, tapi sampai hari ini tidak kunjung datang ke butik Hilda, membuat Hilda menjadi kesal.


"Mama tidak perlu khawatir. Aku dan kak Dimas sudah punya baju untuk acara pernikahan kak Nando,"sahut Ayana.


"Jangan macam-macam kamu! Jangan bikin keluarga kita malu! Memangnya gaun seperti apa yang bisa dibelikan suami kamu yang berprofesi sebagai pedagang pakaian keliling itu? Jangan bilang, kalian mau menyewa gaun untuk ke pesta pernikahan kakak kamu! Memalukan sekali!"ketus Hilda.


"Jika mama merasa kedatangan kami ke pesta pernikahan kak Nando akan membuat mama malu, kami tidak perlu datang ke pesta pernikahan kak Nando,"sahut Ayana yang merasa kesal pada mamanya. Wanita yang telah melahirkannya itu selalu saja mencari celah untuk menghina suaminya. Dan hal itu selalu sukses membuat Ayana kesal, bahkan marah.

__ADS_1


"Dasar anak tidak berbakti! Jangan menjadikan mama sebagai alasan kalian tidak datang! Apa kamu sengaja ingin melihat mama dimarahi oleh papa kamu? Mama heran, apa yang telah kalian lakukan hingga sekarang papamu begitu membela kalian,"gerutu Hilda.


Semenjak Ayana menikah dengan Dimas, Hilda merasa Geno terkesan jauh lebih lembut pada Ayana, bahkan nampak sangat menghargai Dimas. Bahkan saat Dimas menolak di ajak berkerja di perusahaan mereka, suaminya pun tidak marah sedikitpun. Sedangkan Hilda sendiri, sampai saat ini masih belum bisa menerima Dimas sebagai menantunya.


Mengingat profesi Dimas sebagai sales pakaian keliling, Hilda jadi benci pada Dimas. Akan sangat memalukan bagi dirinya jika sampai teman-teman sosialita nya tahu jika dirinya memiliki seorang menantu yang berprofesi sebagai sales pakaian keliling. Karena itulah Hilda membenci Dimas.


"Jika mama ingin kami datang, maka biarkan kami memakai pakaian pilihan kami sendiri. Mama tidak perlu repot-repot menyiapkan pakaian untuk kami,"sahut Ayana kesal.


Tanpa bicara apapun lagi, Hilda menutup teleponnya. Karena merasa sangat kesal pada Ayana.


"Ada apa, Ay? Mama menyuruh kita pergi ke butik mama lagi?"tanya Dimas yang mendengar perkataan Ayana, melirik ekspresi istrinya yang terlihat kesal.


"Iya. Mama memaksa kita untuk datang ke butik,"sahut Ayana dengan wajah cemberut.


"Apa mama khawatir jika kita memakai pakaian yang tidak sesuai dengan ekspektasi mama?"tanya Dimas yang sudah tahu sifat ibu mertuanya itu.


"Mana boleh begitu,"ucap Dimas meletakkan handphonenya di atas meja, kemudian menggenggam lembut tangan Ayana yang merebahkan kepalanya di pangkuannya,"Aku janji, kita tidak akan membuat mama dan keluarga kamu malu. Kamu percaya, 'kan, sama aku?"tanya Dimas seraya mengelus kepala Ayana dengan lembut.


"Percaya saja, Ay! Dimas tidak akan membuat mamamu dan keluarga kamu malu,"sahut Toyib meyakinkan Ayana. Duda itu sudah terbiasa melihat kemesraan sepasang suami-isteri itu.


"Aku percaya sama kakak, dan Abang. Kakak tidak akan membuat keluarga aku malu. Aku cuma malas bertemu dengan mama dan kak Nando. Aku tidak suka pada mereka, karena mereka selalu mencari kesempatan untuk menghina kakak,"sahut Ayana mengungkapkan perasaan nya.


"Aku fine fine aja, kok. Walaupun mereka menghina aku. Bagaimanapun juga, mereka adalah keluarga kita, Ay. Kita tidak bisa menyuruh apalagi memaksa orang lain untuk menyukai atau pun menghormati kita, Ay,"sahut Dimas seraya mengelus kepala Ayana.

__ADS_1


"Iya. Aku tahu, kak. Tapi aku tidak suka jika mama dan kak Nando menghina kakak,"sahut Ayana menghela napas panjang. Inilah yang selalu membuat Ayana merasa nyaman bersama Dimas. Pria itu selalu bisa menenangkan hatinya dan membuatnya merasa nyaman.


Disisi lain, wajah Hilda terlihat geram setelah menelpon Ayana tadi.


"Dasar anak badung! Selalu saja menentang apa kataku. Semenjak bersama sales pakaian keliling itu, anak itu semakin melawan dan tidak bisa aku kendalikan sama sekali,"gerutu Hilda.


"Ada apa lagi?"tanya Geno yang baru masuk ke dalam kamar, tanpa sengaja mendengar gerutuan Hilda.


"Putri papa itu. Dia tidak mau memakai baju dari butik mama. Entah baju apa yang akan dia pakai di acara pernikahan Nando nanti. Mama tidak ingin mereka mempermalukan keluarga kita,"oceh Hilda mengeluarkan unek-uneknya.


"Saat kita ke hotel nanti, mama bawa saja baju yang kira-kira cocok untuk mereka. Mama tahu sendiri, Ayana selalu menentang mama, karena mama selalu kasar padanya,"sahut Geno benar adanya.


"Mama cuma ingin yang terbaik untuk Ayana. Apa mama salah?"ketus Hilda.


"Tidak ada yang salah dengan niat baik mama. Yang salah itu cara mama. Setelah Ayana menikah dengan Dimas, papa dapat mengerti segalanya. Dimas mendidik Ayana dengan kelembutan, perhatian, dan kasih sayang. Dimas tidak pernah memaksa Ayana melakukan apa yang Dimas inginkan dan selalu mengingatkan Ayana dengan lembut saat Ayana berbuat salah. Sedangkan kita hanya memberikan Ayana uang tanpa memberikan perhatian dan kasih sayang. Selalu memarahi dan memaksa Ayana untuk melakukan apa yang kita inginkan. Karena itu Ayana nekat meninggalkan kita dan memilih hidup sederhana bersama Dimas. Apa mama belum juga mengerti dengan semua ini?"ujar Geno panjang lebar.


Hilda tidak menyanggah apa yang dikatakan oleh Geno. Karena semua yang dikatakan oleh Geno memang benar adanya. Namun Hilda tetap saja tidak bisa menerima Dimas sebagai menantunya. Bagaimanapun, Hilda merasa malu jika sampai ada yang tahu jika menantunya adalah sales pakaian keliling.


...🌟"Baik atau tidak penilaian orang lain terhadap kita, jangan dijadikan tolok ukur dalam hidup kita. Jangan memperbaiki diri demi orang lain! Berusahalah menjadi lebih baik untuk diri kita sendiri."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2