
"Siapa yang ada di kolam renang, Bik?"tanya Hilda yang baru saja pulang. Perempuan paruh baya itu merasa aneh mendengar suara pria dan wanita yang terdengar dari kolam renang.
"Non Ayana, nyonya,"sahut ART itu.
"Dengan siapa?"tanya Hilda lagi.
"Dengan seorang pria, nyonya,"sahut ART itu.
Hilda berjalan ke arah kolam renang, hingga akhirnya berhenti tidak jauh dari kolam renang. Mengintip siapa yang bersama putrinya di kolam renang.
"Orang miskin itu. Untuk apa dia ke sini?"gumam Hilda menatap tidak suka pada Dimas, kemudian pergi dari tempat itu menuju kamarnya.
Sedangkan di kolam renang, Dimas berenang mengejar Ayana.
"Akkhh!"
"Blup"
Dimas tiba-tiba menarik tubuh Ayana ke dasar kolam renang lalu mencium Ayana di dalam air. sepasang suami-isteri itu saling memagut di dalam air. Dimas membawa tubuh Ayana naik ke permukaan air saat mereka sudah hampir kehabisan napas. Keduanya tertawa bersama setelah kepala mereka keluar dari dalam air. Ayana mengalungkan tangannya di leher Dimas dan Dimas melingkarkan tangannya di pinggang Ayana.
Keduanya saling menatap. Dan entah siapa yang memulainya tiba-tiba bibir mereka kembali bertemu dan saling bertautan, menyesap, mengulum, melummat, mengecup dan saling berperang lidah. Dimas melepaskan pagutan mereka kemudian membawa Ayana naik ke tepi kolam. Pria itu memasang handuk kimono pada tubuh Ayana dan juga pada tubuhnya sendiri, kemudian menggendong Ayana ke dalam kamar Ayana.
Dimas menurunkan Ayana di bawah shower, kemudian menyalakan shower. Pria itu kembali mencium Ayana. Namun kali ini, ciuman pria itu lebih agresif dari pada di dalam kolam tadi. Ayana berusaha mengimbangi ciuman Dimas. Satu persatu pakaian mereka teronggok di lantai tanpa di sadari oleh Ayana. Perlahan Dimas mendorong Ayana ke dinding kamar mandi. Gadis itu melenguh saat suaminya menyusuri seluruh tubuhnya dengan bibir, lidah dan juga jemari tangannya. Terbuai dengan setiap sentuhan Dimas. Hingga..
"Akkh! Kak! Sakit Kak!"pekik Ayana saat Dimas berusaha menyatukan tubuh mereka.
"Tahan dulu, Ay! Sedikit lagi!"ucap Dimas masih berusaha menerobos masuk ke dalam inti tubuh Ayana.
"Berhenti, kak! Sakit!"pekik Ayana berlinang air mata.
Melihat Ayana yang benar-benar terlihat kesakitan, akhirnya Dimas pun menghentikan pergerakannya.
"Maaf!"ucap Dimas memeluk Ayana dan mengecup puncak kepala Ayana,"Aku akan memandikan mu,"ucap Dimas beberapa saat kemudian, membuat Ayana membulatkan matanya.
"Kak, a.. aku bisa sendiri,"ucap Ayana yang menjadi gugup.
"Kenapa? Kamu malu? Aku sudah melihat seluruh tubuh mu,"ucap Dimas, kemudian mengecup bibir Ayana sekilas.
Dimas memandikan Ayana di bawah shower. Ayana sama sekali tidak bisa menolak kemauan Dimas. Gadis itu hanya bisa menurut. Sebenarnya Ayana sangat malu saat mereka sama-sama polonya seperti saat ini.
Ayana melihat betapa indahnya tubuh suaminya.Gadis itu susah payah menelan salivanya sendiri saat melihat benda pusaka milik suaminya yang bahkan masih berdiri tegak.
__ADS_1
"Besar sekali,"gumam gadis itu lirih, memalingkan wajahnya yang memerah.
Tak lama kemudian Dimas selesai memandikan Ayana lalu memakaikan handuk di tubuh Ayana.
"Keluar lah!"ucap Dimas mendorong pelan Ayana keluar dari dalam kamar mandi.
"Aiss.. kak Dimas benar-benar membuat otak ku menjadi kotor,"gumam Ayana memukul-mukul kepalanya sendiri saat mengingat tubuh polos suaminya.
Sedangkan Dimas menuntaskan pekerjaan yang seharusnya dilakukan Ayana. Pria itu terpaksa bersolo karir ditemani sabun cair.
"Kenapa kakak mandinya lama sekali,"gumam Ayana yang sudah selesai berpakaian, tapi Dimas belum keluar juga dari dalam kamar mandi.
***
Dimas yang baru keluar dari kamar melihat Ayana berdiri di balkon kamar. Pria itu bergegas memakai pakaiannya, kemudian menghampiri Ayana. Pria itu memeluk Ayana dari belakang.
"Maaf!"ucap Ayana dengan wajah tertunduk.
Dimas mengernyitkan keningnya mendengar permintaan maaf dari istri kecil nya itu. Perlahan melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Ayana menghadap pada dirinya.
"Kenapa meminta maaf?"tanya Dimas.
"Aku.. aku belum bisa melayani kakak. Kepala kakak pasti sakit, ya?"tanya Ayana dengan wajah tertunduk.
Dimas mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Ayana. Ayana seolah tahu jika hasratnya tidak dituntaskan akan membuat dirinya sakit kepala.
"Sakit kepala?"tanya Dimas yang memastikan asumsinya.
"A.. aku tadi sudah Googling. Katanya.. kalau nggak di tuntaskan bakal sakit kepala. Kakak... kakak boleh melakukannya lagi. Aku.. aku akan menahan rasa sakitnya. Katanya.. katanya sakitnya cuma saat pertama kali saja, 'kan?"tanya Ayana tanpa menatap wajah suaminya.
Dimas tersenyum, kemudian memeluk Ayana,"Aku akan menunggu sampai kamu siap. Dan pastinya bukan sekarang. Kita akan mencobanya lain kali,"ucap Dimas yang jadi enggan mencobanya lagi, setelah dua kali gagal.
"Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan pintu membuat perhatian sepasang suami-isteri itu teralihkan.
"Non, di tunggu Tuan dan nyonya di ruangan makan,"
"Iya, Bik. Sebentar,"sahut Ayana.
"Ayo, kita turun! Tidak enak, jika mereka terlalu lama menunggu kita"ajak Dimas.
__ADS_1
"Hum,"sahut Ayana.
Sepasang suami-isteri itu pun akhirnya turun ke lantai satu dan menuju ruang makan.
"Kemari! Duduklah! Kita makan bersama!"ajak Geno ramah membuat Hilda dan Nando mengernyitkan keningnya.
Dimas menghampiri Geno lalu mencium punggung tangan Geno. Kemudian menghampiri Hilda, mencium punggung tangan Hilda. Ayana pun mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya.
Hilda dan Nando nampak bengong melihat apa yang dilakukan oleh sepasang suami-isteri itu.
"Apa kabar,.pa, ma, kak?"sapa Dimas sopan.
"Baik. Ayo, duduk dan makan bersama!"ajak Geno dengan seulas senyum di wajahnya. Sedangkan Hilda dan Nando hanya diam memperhatikan.
Hilda mengambil makanan untuk dirinya sendiri, sedangkan Ayana mengambilkan makanan untuk Geno, setelah itu Ayana mengambilkan makanan untuk Dimas, baru setelah itu untuk dirinya sendiri. Hilda dan Nando nampak menatap aneh pada Ayana.
"Kapan kalian kesini tadi?"tanya Geno di sela-sela makannya.
"Sore tadi, pa,"sahut Dimas.
"Naik apa kesini? Pasti naik ojek, ya?"cibir Nando.
"Naik taksi online, kak,"sahut Dimas sopan, walaupun Nando mencibir dirinya.
"Masih bocil udah kebelet kawin aja. Mana kawin sama orang kismin lagi. Dijodohkan sama yang tajir malah milih yang kere,"sindir Nando yang melihat kiss mark di leher Ayana.
"A..."
"Ay!"seru Dimas langsung memotong kata-kata Ayana yang bahkan belum lengkap satu kata. Dimas dapat melihat kemarahan di wajah Ayana. Pria itu menggenggam tangan Ayana lembut dan menggeleng pelan. Ayana menghela napas berat, menunduk kembali makan.
"Wih, kamu apain adikku? Sampai cuma dengan satu kata bisa nurut sama kamu,"ujar Nando tersenyum sinis.
"Nando! Jangan bikin keributan! Makanlah dengan tenang!"ujar Geno memperingati. Hal seperti ini sudah biasa terjadi saat mereka sedang berkumpul. Tapi entah mengapa kali ini Geno merasa kesal dengan sikap Nando.
Sekarang Geno benar-benar bisa membedakan, saat makan bersama di rumah Dimas yang sederhana dan saat makan bersama di rumah nya sendiri. Di rumahnya hanya ada pertengkaran antara Ayana dan Nando, karena Nando yang suka mencari masalah dengan Ayana. Sedangkan di rumah sederhana Dimas, susana saat makan terasa hangat dan menyenangkan, tidak ada perdebatan.Mungkin karena itulah putrinya lebih memilih hidup bersama Dimas dari pada bersama keluarganya sendiri.
"Pa, aku ingin perusahaan kita bekerja sama dengan AK grup. Mereka menawarkan kerjasama yang sangat menguntungkan untuk perusahaan kita,"ucap Nando membuat Dimas berhenti menyendok nasi di piringnya.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued