
Sarapan sudah hampir selesai. Tapi Bening tidak melihat Dimas mual karena memakan ayam yang diambilkan oleh Ayana tadi. Bening jadi sangat penasaran. Apa benar, Dimas sudah bisa memakan makanan dari olahan daging ayam? Itulah yang ada di dalam hati Bening. Berusaha mencuri pandang pada Dimas. Dan Bening semakin kesal saat menyadari jika Dimas terus-terusan melirik Ayana.
Dari tadi, pria itu terus saja melirik pada istrinya. Menatap bibir bervolume milik Ayana yang sedang mengunyah makanannya itu membuat Dimas ingin menikmati bibir berwarna pink itu. Mesum. Begitulah otaknya sekarang. Setelah tahu rasanya, ternyata bikin kecanduan. Itulah yang terjadi pada Dimas saat ini.
"Oh, iya, pa. Mama rasa, Bening tidak perlu lagi bekerja di kantor. Lebih baik Bening di rumah saja, menjaga Nando dan papa. Selain itu, orang yang sedang mengandung itu tidak boleh terlalu lelah. Jadi, lebih baik di rumah saja,"ujar Hilda yang merasa jika Bening benar-benar ingin mendekati menantunya.
Mengijinkan Bening bekerja di kantor, berarti memberi kesempatan untuk Bening bertemu lebih sering dengan Dimas. Hilda tidak ingin Bening mempunyai kesempatan untuk bertemu apalagi mendekati Dimas. Hilda tidak mau dan tidak akan memberikan celah bagi Bening untuk merusak apalagi menghancurkan semua yang sudah berjalan dengan baik.
"Papa setuju. Lagi pula, jika Bening bekerja, tidak ada yang akan menemani Nando saat kemoterapi,"sahut Geno.
"Aku juga setuju,"sahut Nando yang juga tidak ingin Bening sering bertemu dengan Dimas. Jika Bening bekerja berarti ada kemungkinan Bening dan Dimas bisa sering bertemu. Itulah yang ada dalam hati Nando.
"Semua sudah setuju. Jadi, kamu tidak perlu bekerja di kantor lagi, Bening,"ucap Hilda menegaskan.
"Iya, ma,"sahut Bening seraya tersenyum. Senyuman yang benar-benar dipaksakan.
Ayana yang mendengar keputusan keluarganya itupun menjadi sangat senang. Tidak perlu takut Bening merayu suaminya di kantor.
**
"Kalian ingin pulang ke kontrakan kalian?"tanya Geno setelah mereka selesai sarapan.
"Iya, pa. Abang suka nggak makan secara teratur, jika aku tidak ada di rumah,"sahut Ayana apa adanya.
"Sok perhatian banget sama orang lain. Apa kamu punya hubungan spesial dengan orang itu?"celetuk Nando yang sebenarnya merasa cemburu karena Ayana begitu perhatian pada orang lain. Tapi tidak pernah memperhatikan dirinya.
"Bang Toyib adalah kakak angkat ku. Dia sudah menganggap aku seperti adiknya sendiri. Dia juga sangat perhatian dan sayang pada ku melebihi kakak kandungku sendiri. Jadi, wajar jika aku sangat perhatian pada bang Toyib. Selain itu, kami tidak ada hubungan lain. Aku Hanya punya hubungan spesial dengan kak Dimas. Hanya mencintai kak Dimas dan tidak akan menyimpan perasaan pada pria lain apalagi berusaha mendekati pria lain. Aku bukan tipe wanita penghianat atau tidak setia. Apalagi pelakor,"ujar Ayana membuat Nando dan Bening merasa tertohok. Sekali tepuk, dua lalat mati. Itulah yang dilakukan Ayana saat ini.
"𝙎𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣! 𝘿𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙞𝙣𝙙𝙞𝙧 𝙖𝙠𝙪? 𝙄𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙢𝙗𝙖𝙠 𝙧𝙖𝙢𝙗𝙪𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙧𝙚𝙢𝙖𝙨-𝙧𝙚𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙩𝙪,"gumam Bening yang merasa kesal dan tersindir.
Sedangkan Geno dan Hilda juga merasa jika Ayana sedang menyindir Bening.
__ADS_1
"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪? 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙞𝙣𝙙𝙞𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞𝙜𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙞𝙣𝙙𝙞𝙧 𝘽𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜? 𝘼𝙥𝙖 𝘽𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙥𝙚𝙨𝙞𝙖𝙡 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨?"gumam Nando dalam hati seraya melirik Bening.
"Kami pulang dulu pa, ma, kak,"pamit Dimas yang tidak ingin lagi ada pembicaraan yang agak meruncing.
"Ya. Hati-hati!"ucap Geno dan Hilda bersamaan.
Ayana dan Dimas bergiliran mencium tangan Geno dan Hilda, kemudian keluar dari rumah itu.
"Sayang, aku keluar dulu sebentar, ya? Ada yang ingin aku beli,"pamit Bening.
"Hum,"sahut Nando singkat. Bening bergegas ke kamarnya untuk mengambil dompetnya. Hilda yang akan pergi ke butiknya juga bergegas bersiap-siap.
Ayana bergelayut manja di lengan Dimas. Keduanya berjalan menuju motor Dimas yang sudah dikeluarkan dari garasi dan sudah dipanaskan mesinnya oleh pelayan di rumah itu.
"Bisa naik, ke motor nggak?"tanya Dimas pada Ayana.
"Biasanya juga bisa. Kakak aneh-aneh saja nanyanya,"sahut Ayana.
"Sedikit,"sahut Ayana.
"Masa dari malam sedikit melulu. Kapan nggak sakitnya?"tanya Dimas seraya menghela napas panjang.
"Nggak sakit lagi, kok. Cuma sedikit pegal aja,"sahut Ayana tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Dasar!"ucap Dimas seraya mencubit hidung Ayana gemas,"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke hotel?"tanya Dimas seraya menaik turunkan kedua alisnya dengan senyuman penuh arti pada Ayana.
"Ke hotel? Ngapain? Mau lihat pembangunan hotel milik papa, ya? Memangnya sudah selesai, ya, kak?"tanya Ayana dengan wajah polosnya.
"Iiihhh... gemesin banget sih, istri aku ini,"ucap Dimas langsung menarik tangan Ayana, lalu memeluk dan mencium bibir Ayana beberapa kali.
Bening yang ternyata sedang bersembunyi mengintip sepasang suami-isteri itu pun meremas dompet di tangannya. Merasa iri, cemburu dan benci pada Ayana melihat betapa mesranya Dimas pada Ayana.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang sedang di peluk dan di cium Dimas. Bukan Ayana. Dimas lebih segalanya dari Nando, hanya satu kekurangan nya, tidak kaya. Seandainya Dimas tidak jatuh miskin, aku tidak akan pernah meninggalkan dia,"gumam Bening lirih dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
Tidak mau hidup susah bersama Dimas, tapi juga masih mencintai Dimas. Memilih meninggalkan Dimas yang jatuh miskin dan mencari laki-laki kaya. Nggak bisa move on, tapi juga tidak mau bertahan dengan Dimas. Itulah Bening. Sehingga tidak rela dan benci saat Dimas dekat, apalagi dimiliki wanita lain.
"Pasti hatinya panas, karena melihat Dimas dan Ayana begitu mesra. Menjijikkan sekali. Punya suami tapi berniat menjadi pelakor,"gumam Hilda yang melihat Bening bersembunyi mengintip Dimas dan Ayana.
Dimas berhenti mengecup bibir Ayana, kemudian menyatukan kening mereka. Pria itu menatap Ayana yang masih berada dalam pelukannya itu lekat. Sedangkan Ayana berjinjit melingkarkan kedua tangannya di leher Dimas.
"Dengar! Kita ke hotel bukan untuk melihat pembangunan hotel papa. Tapi untuk berbulan madu. Mau?"tanya Dimas.
"Berbulan madu?"tanya Ayana seraya mengernyitkan keningnya.
"Hum. Kita melakukannya lagi seperti semalam dan tadi pagi. Aku sangat suka mendengar kamu mendesah dan meracau seperti semalam dan tadi pagi,"ucap Dimas kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Ayana,"Ay! Ngerasa nggak? Yang di bawah sudah bangun lagi. Udah kepengen lagi,"bisik Dimas seraya menggesekkan miliknya yang kembali mengeras di paha Ayana.
"Iiihhh.. kakak mesum!"pekik Ayana memukul dada Dimas dengan sebelah tangannya dengan wajah cemberut. Sedangkan Dimas malah terkekeh.
"Tambah gemesin tau!"ucap Dimas kemudian mencium bibir Ayana bertubi-tubi.
"Kakak! Sudah!"pinta Ayana seraya mendorong pelan dada Dimas.
"Mau, ya?"tanya Dimas masih memeluk Ayana.
"Mau apa?"tanya Ayana dengan wajah polosnya, membuat Dimas benar-benar merasa gemas.
"Ke hotel. Please!"pinta Dimas dengan wajah memelas.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1