SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
26. Bahan Plastik


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ayana menyiapkan makan malam untuk Dimas dan Toyib. Walaupun hanya bisa memasak masakan sederhana seperti yang diajarkan oleh Bu Lastri tapi Ayana merasa senang karena Dimas dan Toyib selalu makan dengan lahap makanan yang di masaknya. Hal itu membuat Ayana jadi senang memasak. Bahkan Ayana mencoba memasak masakan dengan resep dari televisi ataupun dari bungkus penyedap masakan yang ada di dapur. Dimas juga selalu membelikan bahan memasak, bahkan membeli bahan masakan yang diminta oleh Ayana.


Selama satu bulan tinggal di rumah Bu Lastri, Ayana sudah belajar banyak hal dari Bu Lastri. Belajar mandiri dengan mencuci bajunya sendiri karena tidak mungkin meminta Bu Lastri mencucikan baju nya. Membantu Bu Lastri mengepel dan menyapu lantai. Dan sekarang, semua yang dipelajarinya dari Bu Lastri sangat bermanfaat bagi Ayana. Setidaknya Ayana bisa membereskan rumah dan memasak untuk dua pria pemilik rumah tempatnya menumpang tinggal dan makan beberapa hari ini.


Ayana memasak sup ayam yang dicampur bakso, potong kentang dan wortel. Dengan daun bawang serta daun sop dilengkapi taburan bawang goreng diatasnya. Ada tahu, tempe goreng dan kerupuk udang sebagai pelengkap. Nasi panas yang baru di pindahkan Ayana ke wadah nasi nampak masih mengepulkan asap.


"Makan malam sudah siap!"teriak Ayana dari ruang makan.


"Wah, kebetulan perut sudah keroncong ini,"ujar Toyib bergegas beranjak dari duduknya diikuti oleh Dimas. Dimas langsung berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangannya. Sedangkan Toyib langsung menarik salah satu kursi meja makan untuk duduk.


"Plak"


"Aduh! Sakit!"pekik Toyib saat pukulan centong sayur stainless yang lumayan tebal langsung mendarat di tangannya yang akan membalikkan piringnya agar bisa di isi makanan.


"Cuci tangan sebelum makan! Sudah bangkotan juga kelakuan melebihi anak kecil,"bentak Ayana.


"Kamu sangat hobi memarahi dan memukul aku. Sedangkan Dimas tidak pernah kamu marahi, apalagi kamu pukul. Yang ada malah Dimas kamu cium. Padahal kamu numpang di rumah kami berdua, bukan cuma rumah Dimas. Tapi kamu pilih kasih pada kami seperti ibu tiri,"gerutu Toyib.


"Aku marah demi kebaikan kamu! Agar kamu tidak menjadi orang yang jorok! Kamu lihat tidak baju kamu yang digantung di sana sini nggak dicuci-cuci jadi sarang nyamuk. Terus buang sampah bekas cemilan sembarangan mengundang semut dan kecoa. Mana baju sudah beberapa kali dipakai nggak dicuci lagi. Bau tahu!"ujar Ayana panjang lebar.


"Kamu, 'kan banyak waktu di rumah, bisalah mencucikan baju aku,"ujar Toyib seraya mengedipkan sebelah matanya genit.


"Hii.. dasar duda gatel! Genit!"umpat Ayana yang bergidik melihat Toyib mengedipkan sebelah matanya dengan genit,"Ogah aku nyuci baju kamu! Aku bukan pembantu kamu!"ketus Ayana.


Dimas yang sudah selesai mencuci tangan dan duduk di salah satu kursi di meja makan itu pun hanya menghela napas berkali-kali melihat perdebatan keduanya.


"Pilih kasih amat kamu. Baju Dimas di cucikan. Sedangkan bajuku tidak,"keluh Toyib.

__ADS_1


"Karena kak Dimas ngasih aku uang jajan. Sedangkan kamu enggak. Kalau mau baju kamu aku cuci, bayarannya lima ribu satu stel,"ujar Ayana yang memang sering dikasih uang oleh Dimas untuk jajan.


Namun selama tinggal bersama Dimas dan Toyib, tidak selangkah pun Ayana keluar dari rumah itu karena tidak diijinkan oleh Dimas. Dimas tidak ingin ada orang yang berniat jahat pada Ayana saat dirinya dan Toyib tidak ada di rumah. Semua itu karena wajah Ayana yang cantik. Bukan berprasangka buruk pada warga sekitar tempat mereka mengontrak, tapi hanya berjaga-jaga. Gadis cantik di tinggal di rumah sendirian, wajar, 'kan, jika Dimas mengkhawatirkan Ayana? Karena itu Dimas memberikan semua kebutuhan Ayana tanpa terkecuali. Dan mengalah pergi berbelanja untuk semua yang dibutuhkan Ayana.


Ayana sendiri juga nampak enggan keluar dari rumah itu setelah mengalami kejadian buruk hampir dilecehkan dan di kejar-kejar oleh Noval dan tiga orang preman jalanan kemarin. Ayana merasa trauma. Karena itu Ayana tidak merasa keberatan saat Dimas melarang dirinya keluar rumah. Lagi pula semua kebutuhannya juga sudah dipenuhi oleh Dimas.


Berbeda dengan saat tinggal di rumah Pak Parman. Ayana sering pergi keliling kampung, melihat-lihat bagaimana suasana kampung itu dan membeli apapun yang disukai nya. Sehingga banyak orang yang Ayana kenal di kampung Pak Parman. Dan orang-orang kampung di tempat Pak Parman tinggal juga baik-baik dan ramah-ramah.


Ramah dalam artian sebenarnya, ya! Yaitu baik hati dan menarik budi bahasanya, manis tutur kata dan sikapnya, suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan. Bukan ramah yang diplesetkan jadi Rajin Menjamah.


"Lima ribu satu stel? Buset dah! Mahal banget! Lebih mahal dari pada di laundry,"sahut Toyib.


"Ya sudah, cuci saja di laundry. Jangan digantung di sana sini! Bikin banyak nyamuk saja. Mengerti tidak!"ketus Ayana.


'Iya, iya. Mengerti,"sahut Toyib dengan wajah masam, seperti seorang anak yang dimarahi ibunya habis-habisan.


"Sudah, cepat cuci tangan sana! Keburu dingin makanannya,"ujar Dimas menengahi dua orang yang selalu berdebat jika bertemu itu.


Semenjak tinggal bersama Dimas dan Toyib, Ayana malah nampak menurut pada Dimas. Karena Dimas selalu perhatian pada Ayana. Menanyakan apapun kebutuhan Ayana, bahkan semua pakaian yang dimiliki Ayana sekarang adalah pemberian Dimas.


Sedangkan dengan Toyib, Ayana selalu berdebat dengan duda beranak satu itu. Semua itu karena kebiasaan Toyib yang menurut Ayana jorok.


Toyib mengerti bahwa Ayana mendisiplinkan dirinya agar hidup bersih dan sehat. Tapi Toyib suka malas menjalani nya. Selama ini Toyib hidup berdua dengan Dimas tanpa aturan.Bangun tidur langsung makan, atau makan tanpa mencuci tangan. Walaupun Dimas sering mengingat kan Toyib untuk hidup bersih, tapi peringatan dari Dimas seperti angin lalu bagi Toyib. Lain dengan Ayana yang langsung memukul Toyib jika Toyib tidak bisa diingatkan. Malah keseringan dipukul dulu baru diingatkan. Namun hal itu benar-benar melatih Toyib untuk hidup bersih.


Mereka bertiga akhirnya makan bersama dengan lahap. Nasi dan lauk yang dimasak Ayana sudah ludes berpindah ke perut ketiga nya.


"Egkk,"Toyib yang duduk bersandar di kursi makan bersendawa karena kekenyangan.

__ADS_1


"Issh.. Jorok! Jangan dibiasakan makan kekenyangan.Supaya tidak sendawa seperti itu. Lagian, makan sampai kekenyangan seperti itu tidak baik buat kesehatan. Apalagi kalau habis makan langsung tiduran, tambah buncit itu perut,"ujar Ayana kembali menceramahi Toyib.


"Iya, iya, lain kali tidak lagi. Aku lapar diceramahi, kenyang pun diceramahi. Nggak sekalian saja kamu buka kuliah subuh buat acara ceramah,"gerutu Toyib.


"Plak "


"Auwh! Kamu hobi sekali memukul aku!"keluh Toyib saat centong sayur kembali dipukul kan Ayana di kepalanya.


"Yang aku katakan itu demi kebaikan dan kesehatan kamu!"sergah Ayana masih memegang centong sayur.


"Iya, iya, mengerti,"sahut Toyib seraya mengelus kepalanya yang baru saja di pukul dengan centong sayur stainless.


"Dim, besok kamu ganti semua peralatan dapur kita dengan bahan dari plastik. Beli sendok plastik, centong plastik dan apa saja yang bahannya dari plastik,"pinta Toyib.


"Kenapa?"tanya Dimas dan Ayana pun tampak penasaran.


"Supaya tidak sakit saat dipukul kan sama aku,"ujar Toyib seraya beranjak dari tempat duduknya, pergi meninggalkan ruangan makan.


Sedangkan Dimas dan Ayana malah tertawa mendengar kata-kata Toyib.


...🌟"Cara setiap orang memberikan perhatian itu berbeda-beda, walaupun tujuannya sama."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2