
Ayana terbangun lebih dulu dari pada Dimas, karena memang sudah terbiasa bangun pagi. Ayana menghela napas panjang, menatap wajah tampan Dimas yang masih terlelap memeluk tubuhnya. Ayana benar-benar tidak mengerti dengan sikap Dimas pada dirinya. Tingkah laku Dimas seolah menunjukkan jika Dimas sangat mencintai dirinya. Tapi jika ditanya apa Dimas mencintai dirinya, Dimas selalu menghindar. Dan yang membuat Ayana tidak ingin mengharapkan Dimas lagi adalah karena Dimas lebih memilih mengucapkan kata cinta pada orang lain dari pada mengucapkannya pada dirinya.
Perlahan Ayana melepaskan pelukan Dimas dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dimas baru saja terbangun saat Ayana keluar dari kamar mandi.
"Kamu sudah mandi, Ay?"tanya Dimas kemudian menguap. Walaupun baru saja bangun dengan rambut yang agak acak-acakan, tapi pria itu tetap saja terlihat tampan.
"Hum,"sahut Ayana singkat.
"Aku mandi dulu,"ujar Dimas kemudian beranjak ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Dimas keluar dari kamar mandi. Pria itu memeluk dari belakang Ayana yang baru saja selesai menyisir rambutnya.
"Harum sekali. Aku suka aroma tubuh mu,"ucap Dimas, kemudian mengecupi leher Ayana yang putih mulus. Ayana memejamkan matanya dengan tangan yang terkepal. Hingga perhatian mereka teralihkan saat handphone Dimas berdering.
Dimas melepaskan pelukannya pada Ayana dan menerima panggilan masuk di handphonenya. Pria itu melangkah ke arah balkon sambil berbicara dengan seseorang. Beberapa saat kemudian, Ayana juga menerima panggilan masuk di handphonenya dari mamanya.
"Halo, ma!"sahut Ayana malas. Ayana diam, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Hilda dari sambungan telepon.
"Baiklah. Aku dan kakak akan kesana sebentar lagi,"sahut Ayana kemudian meletakkan handphonenya setelah Hilda mengakhiri panggilan.
Tidak lama kemudian, Dimas kembali ke dalam kamar.
"Mama menyuruh kita sarapan bersama,"ucap Ayana pada Dimas.
"Baiklah, aku menyisir rambut dulu,"ucap Dimas.
Setelah siap, keduanya menuju tempat yang dikatakan oleh Hilda. Dimas hanya bisa menghela napas panjang melirik Ayana yang hanya diam. Bahkan gadis itu tidak bergelayut manja di lengannya seperti biasanya.Dimas benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kemarin sore hingga Ayana tenggelam di dalam bathtub. Dan sejak saat itu, Ayana berubah dan lebih banyak diam. Tak lama kemudian, mereka pun tiba di
__ADS_1
depan sebuah pintu sebuah privat room di restoran yang ada di dalam hotel itu.
"Tok! Tok! Tok!"Ayana mengetuk pintu di depannya.
"Masuk!"terdengar suara Geno dari dalam privat room itu.
Dimas membuka pintu itu. Melihat Geno, Hilda, Nando dan Bening yang sudah ada di ruangan itu.
"Duduklah! Lihatlah menu makanannya, dan pesan apa saja yang kalian suka!"ucap Geno tersenyum tipis.
"Kalau kamu tidak tahu atau bingung harus pesan apa, biar Ayana saja yang pesankan. Kalau tidak, biarkan aku saja yang memesankan makanan untuk kalian berdua. Aku akan pilihkan makanan yang cocok di lidah kampungan kalian itu,"ujar Nando mencibir. Mengira Dimas tidak pernah makan di restoran. Sedangkan Ayana memang tidak terlalu suka makan makanan di restoran.
Bening yang mendengar ucapan Nando hanya bisa menghela napas. Bening yang menjadi saksi bagaimana dalam waktu singkat Dimas bisa memiliki karir yang cemerlang sebagai wakil CEO di perusahaan tempat mereka bekerja dulu karena kecerdasannya. Tepatnya, waktu itu Dimas menjabat sebagai COO (Chief Operating Officer). Jadi, makan di restoran itu bukan hal aneh bagi Dimas.
"Lebih baik kakak diam, dan tidak usah mengurusi kami! Kakak urusi saja istri kakak. Jangan sampai istri kakak ilfil pada kakak, karena mulut kakak yang pedas itu, lalu melirik pria lain yang lebih tampan dari kakak,"ucap Ayana dengan suara yang terdengar dingin. Selain ingin menampar Nando dengan kata-kata, sekaligus bermaksud menyindir Bening. Istilahnya sekali tepuk dua lalat mati.
Semenjak masuk ke dalam ruangan itu, Ayana melihat Bening yang selalu mencari kesempatan untuk menatap suaminya. Walaupun Dimas tidak mencintai dirinya, tetap saja Ayana cemburu saat melihat wanita lain menatap suaminya dengan tatapan kagum dan suka.
"𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙧𝙞𝙠 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜. 𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙪𝙡𝙖𝙩 𝙗𝙪𝙡𝙪!"gumam Ayana dalam hati, melirik tajam pada Bening yang menundukkan kepalanya.
"Nando, diam lah! Jangan membuat keributan! Papa ingin sarapan dengan tenang,"ujar Geno yang jadi merasa kesal pada Nando. Nando yang ingin membalas kata-kata Ayana pun, tidak jadi membuka mulutnya.
Akhirnya mereka pun makan dengan tenang. Bening masih saja mencuri pandang pada Dimas. Sedangkan Dimas sama sekali tidak menatap Bening. Pria itu hanya makan sambil sesekali melirik istrinya. Tak lama kemudian, mereka selesai sarapan pagi.
"Dim, hari ini papa ingin kita semua berlibur ke pantai. Setelah itu, nanti malam kalian menginap lah di rumah,"pinta Geno.
"Iya, pa,"sahut Dimas.
__ADS_1
"Ya sudah. Kita berangkat sekarang saja. Papa bawa mobil yang muat untuk kita sekeluarga,"ucap Geno antusias.
Selama ini Geno tidak pernah mengajak keluarganya berlibur barang sehari pun. Mengetahui Dimas mengajak Ayana pergi ke pantai waktu itu, Geno jadi ingin juga berlibur ke pantai bersama seluruh keluarganya. Mengingat Nando juga belum bisa berbulan madu karena saat ini perusahaan mereka sangat sibuk.
"Maaf, pa! Aku naik motor saja. Soalnya aku ke sini bawa motor,"ucap Dimas.
"Kamu mau naik mobil bersama kami, Ay?"tanya Hilda.
"Aku naik motor sama kakak saja,"sahut Ayana.
Setelah mengemasi barang-barang mereka di kamar hotel, akhirnya mereka bertemu di parkiran. Geno, Hilda, Nando dan Bening masuk ke dalam mobil. Sedangkan Dimas memakaikan helm untuk Ayana. Bening merasa iri melihat Dimas yang begitu perhatian pada Ayana. Apalagi melihat Ayana memeluk pinggang Dimas saat di bonceng Dimas.
Ayana sengaja menunjukkan kemesraannya dengan Dimas di depan Bening. Semenjak melihat Bening memeluk Dimas di koridor hotel dan Dimas mengatakan mencintai Bening, Ayana jadi benci pada Bening. Apalagi saat memergoki perempuan itu mencuri-curi pandang pada suaminya.
Setelah sampai di pantai, Ayana langsung menarik tangan Dimas ke tepi pantai. Gadis itu menendang air pantai dan di arahkan pada Dimas. Dimas yang melihat Ayana kembali ceria pun membalasnya. Akhirnya mereka kejar-kejaran di pinggir pantai dan bersenda gurau. Dimas bahkan mengangkat tubuh Ayana dan membawanya berputar, hingga mereka tertawa bersama.
"𝙈𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖, 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙘𝙪𝙠𝙪𝙥 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖,"gumam Dimas yang melihat Ayana kembali ceria.
Sedangkan Bening yang sedang mengandung hanya bisa jalan-jalan di tepi pantai bersama Nando. Wanita itu begitu iri melihat kemesraan Dimas dan Ayana.
Notebook :
Chief Operating Officer atau COO adalah pimpinan yang bertanggungjawab pada pembuatan keputusan administrasi dan operasional perusahaan. COO biasanya melapor langsung ke CEO. COO dianggap sebagai orang kedua dalam rantai komando setelah CEO.
...🌸❤️🌸...
,
__ADS_1
To be continued