
Wulan terus mengendarainya motornya sambil berbincang dan bersenda gurau dengan Wulan. Dua sahabat itu sama sekali tidak menyadari jika mereka sedang diikuti. Hingga akhirnya keduanya melewati jalan yang lumayan sepi.
"Ckiiitt"
"Akkh!"
Ayana dan Wulan sangat terkejut saat tiba-tiba ada mobil yang mendahului motor mereka dan berhenti mendadak di depan mereka.
"Sialan! Itu orang nggak bisa nyetir mobil apa? Main menyalip dan berhenti seenak jidat tanpa aba-aba,"umpat Wulan yang tinggal beberapa senti lagi pasti akan menabrak mobil yang berhenti mendadak di depannya. Untung saja rem motor Wulan pakem. Maklum.. motornya masih baru.
"Itu orang apa sih, maunya? Emang dia pikir jalanan ini milik nenek moyangnya apa?"gerutu Ayana yang juga merasa kesal seperti Wulan.
Clara dan kedua temanya turun dengan gaya angkuh mereka. Menatap sinis pada Ayana dan Wulan. Wulan dan Ayana pun turun dari motor dengan wajah yang terlihat kesal.
"Heh, bisa nyetir mobil enggak, sih? Main menyalip dan berhenti seenak jidat aja!"sergah Wulan yang jadi emosi melihat gaya angkuh ketika gadis itu.
"Eh, lihat dulu! Kalau ada yang lecet, suruh mereka ganti rugi,"ujar salah satu teman Clara.
"Sorry, ya! Aku bukan pengemudi amatiran macam kalian yang tidak becus mengemudi! Kalau tidak tahu cara mengemudi, jangan turun di jalan raya! Lagian, kalau pun mobil kalian lecet, itu kesalahan kalian. Bukan salah kami,"ketus Wulan.
"Jangan-jangan nggak punya duit buat beli bensin. Pengen di tabrak terus minta ganti rugi,"sinis Ayana.
"Gue miskin? Mobil gue aja mewah, mana mungkin gue miskin? Elu berdua, tuh, yang jelas-jelas miskin!"hina Clara.
"Iya, tuh! Cuma punya motor aja belagu,"imbuh teman Clara.
"Jangan-jangan, motornya masih ngedit lagi. Baru bayar DP doang,"hina teman Clara satunya lagi tersenyum mengejek.
"Iya, tuh! Kelihatan kalau masih baru. Baru ngedit maksudnya,"imbuh teman Clara satunya lagi menertawakan Ayana dan Wulan.
Wulan dan Ayana merasa geram mendengar kata-kata ke tiga gadis itu. Dua orang sahabat itu melepaskan helm mereka menahan emosi.
"Apa urusannya sama kalian? Mau motor aku kredit, atau kontan, nggak ada urusannya sama kalian. Toh, aku nggak minta duit dari kalian buat bayarnya,"sambar Wulan.
__ADS_1
"Lagian, kalian naik mobil tapi mobil ortu (orang tua) kalian, 'kan? Bukan punya kalian sendiri. Gitu aja sombong. Bisanya hanya membanggakan harta milik orang tua,"timpal Ayana sinis.
"Walaupun ini milik ortu gue, itu artinya ortu gue kaya. Nggak kayak elu-elu pada. Cuma naik motor. Berarti ortu kalian kismin, alias miskin,"sambar Clara dengan tatapan merendahkan.
"Mau ortu kami kaya atau miskin itu nggak ada hubungannya dengan kalian. Toh, kami juga nggak minta makan sama kalian,"sambar Ayana.
"Sudah! To the point aja, Ra! Eneg aku lihat cewek-cewek miskin ini! Males berurusan sama orang-orang rendahan macam mereka,"sahut teman Clara.
"Apa lu bilang? Kami rendahan? Mulut kalian itu yang rendahan! Ngomong nggak punya saringan. Menghina orang lain sesuka hati. Hidup masih numpang sama orang tua aja sombong! Disekolah kan dulu, tuh mulut! Biar tahu adab dalam berbicara. Mulut kalian itu persis kayak orang nggak berpendidikan. Sebelas dua belas sama tong sampah,"sergah Ayana merasa kesal.
"Dari pada elu, cewek kegatelan! Cewek miskin yang bisanya cuma menggoda pria kaya buat di jadikan ATM berjalan,"sambar teman Clara satunya.
"Jangan sembarangan menuduh lu! Gue nggak pernah menggoda pria buat gue porotin. Nggak banget, deh! Banyak yang naksir gue aja nggak gue ladenin. Buat apa gue menggoda pria buat di porotin? Najis!"sinis Ayana.
"Heh, cewek sok kecantikan! Gue peringatin elu, ya! Jangan coba-coba ya, elu pengen jadi pacarnya Delvin! Nggak usah pura-pura cuekin Delvin cuma agar di kejar-kejar sama Delvin. Cewek miskin kayak lu itu nggak pantes sama Delvin. Mending lu pergi jauh-jauh dari Delvin. Kalau enggak, gue nggak segan-segan bertindak sama elo!"ucap Clara dengan angkuh menunjuk-nunjuk pada Ayana.
"Cih! Siapa yang sok kecantikan? Elu itu yang sok kecantikan. Kalau gue, sih, cantik alami tanpa polesan. Nggak kayak elu, cantik karena dempulan, full makeup. Udah persis kayak ondel-ondel lu. Dan siapa juga yang pengen di kejar-kejar sama Delvin? Nggak minat gue sama dia. Kalau elu mau sama Delvin, ambil aja sana! Suami gue lebih ganteng dari dia. Tubuhnya pun lebih proporsional dari si Delvin itu,"balas Ayana.
"Cih, nggak usah pura-pura, lu! Mana ada cewek yang nggak naksir sama Delvin yang tampan dan kaya raya. Munafik, lu! Ngaku-ngaku sudah punya laki. Elu cuma cari alasan doang, 'kan, karena elu takut sama gue! Makanya ngaku-ngaku sudah punya laki,"balas Clara yang merasa Ayana mengaku sudah bersuami agar Clara melepaskan Ayana.
"Tampan dan kaya raya? Sudah gue bilang, suami gue lebih tampan dari dia. Dan kaya raya? Yang kaya itu ortu dia. Bukan dia! Dia aja nggak punya usaha sendiri. Kaya dari mananya? Dari Hongkong?!"ketus Ayana.
"Halaahh.. dasar munafik, lu! Gue nggak percaya sama omongan elu! Pokoknya, jangan coba-coba elu deketin Delvin! Gue janji bakal buat elu menyesal jika berani mendekati, apalagi berani jadian sama Delvin!"ancam Clara yang tidak percaya jika Ayana tidak menyukai Delvin.
"Dasar cewek sinting! Sudah gue bilang, gue nggak minat sama dia . Suami gue lebih ganteng dari dia. Kalau elu suka sama Delvin, ya, kejar aja sana! Ngapain ngelabrak gue? Dasar tidak waras! Elu ngerasa tersaingi gara-gara gue lebih cantik dari elu, 'kan? Terima aja kenyataan kalau elu memang kalah segalanya dari gue! Gue lebih muda, lebih cantik dan lebih bohay dari elu. Lihat, tuh, muka! Nggak cantik-cantik amat kalau nggak full makeup, body elu aja sebelas dua belas sama jalan tol,"cibir Ayana yang merasa semakin kesal pada Clara yang terus-menerus menuduh dirinya ingin menarik perhatian Delvin dan ingin menjadi pacar Delvin.
"Kau!"geram Clara benar-benar kesal pada Ayana.
"Akkh!"pekik Ayana saat tiba-tiba Clara mendorong Ayana hingga Ayana hampir saja jatuh jika tidak segera di pegang Wulan.
"Dasar cewek sinting!"geram Ayana.
"Akkh"pekik Clara yang hampir terjatuh karena Ayana balas mendorongnya. Namun kedua temannya langsung memegang tangan Clara hingga tidak jadi terjatuh.
__ADS_1
"Kau! Beraninya!"geram Clara penuh amarah.
"Kenapa tidak berani? Elu duluan yang nyari gara-gara sama gue!"sergah Ayana.
"Sepertinya gue harus benar-benar memberi pelajaran sama elu!"ucap Clara seraya. merogoh saku celananya.
"Eh, Ra! Kamu mau apa?"tanya teman Clara yang jadi takut saat melihat Clara mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya.
Ayana dan Wulan pun jadi takut melihat Clara yang memegang pisau lipat itu.
"Akan aku merusak wajah yang dibangga banggakan nya itu. Agar dia tidak berani lagi menggoda Delvin,"ujar Clara menatap ayana penuh kebencian.
"Dasar sinting lu! Lu mau masuk penjara?"ujar Ayana yang sebenarnya ketakutan.
"Ra, jangan macam-macam, Ra! Kita bisa dapat masalah,"
"Iya, Ra. Aku tidak mau berurusan dengan polisi,"
Kedua teman Clara itu mencoba mengingatkan Clara. Tidak ingin mereka terseret dalam masalah karena Clara.
"Di sini sepi. Nggak ada orang. Nggak bakal ada yang tahu,"ucap Clara dengan tatapan penuh kebencian pada Ayana.
"Kamu pikir kamu bisa lolos dari hukuman? Aku akan bagikan rekaman ini di media sosial. Biar dunia tahu, cewek macam apa kamu ini. Ingin mencelakai orang lain hanya demi seorang cowok,"ujar Wulan yang ternyata diam-diam membuat live video di media sosial.
"Kau! Cepat kalian rebut handphonenya! Dan hancurkan!"titah Clara pada kedua temannya.
"Tapi, Ra!"
"Cepat!"bentak Clara langsung menyerang Ayana. Sedangkan kedua temannya berusaha merebut handphone Wulan.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued