
Dimas melangkahkan kakinya memasuki kamar, yang mulai semalam telah menjadi kamar Ayana dan dirinya. Pria itu membawa nampan yang berisi semangkok bubur dan teh hangat.
"Ceklek"
Dimas membuka pintu kamarnya dan melihat Ayana yang nampak baru terbangun.
"Kamu sudah bangun? Apa kepalamu terasa pusing?"tanya Dimas menghampiri Ayana yang memegangi kepalanya.
"Hum,"sahut Ayana,"Maaf! Aku bangun kesiangan,"ucap Ayana mencoba untuk beranjak dari tempat tidurnya. Dimas bergegas meletakkan nampan yang dibawa nya, lalu membantu Ayana untuk duduk.
"Badanmu agak demam. Wajar jika bangun kesiangan. Makanlah dulu! Setelah itu minum obat, agar kamu cepat sembuh,"ujar Dimas seraya mengambil mangkok yang berisi bubur, berniat menyuapi Ayana.
"A.. aku bisa makan sendiri, kak,"ujar Ayana yang terlihat tidak nyaman saat Dimas mendekatinya.
"Kenapa? Kenapa kamu seperti tidak mau aku dekati?"tanya Dimas yang melihat Ayana nampak menghindari dirinya.
"A.. aku belum mandi, kak. Aku bau,"ucap Ayana tertunduk. Merasa tidak percaya diri karena baru bangun dari tidur dan belum berkumur atau pun cuci muka, apalagi mandi.
Dimas mengulum senyum mendengar kata-kata Ayana,"Nggak bau, kok! Dan tetap cantik walaupun baru bangun dari tidur,"ucap Dimas jujur, namun Ayana malah semakin tertunduk mengulum senyum, memalingkan wajahnya yang memerah.
"πππππ π ππ₯ππ£, π ππ πΏππ’ππ¨ ππππ π¨πͺπ π π’ππ£πππ€π’πππ‘ π¨ππ₯ππ§π©π ππ£π?"gumam Ayana dalam hati, merasa senang dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Dimas.
"Ayo, makan dulu! Biar cepat sembuh. Kamu tidak mau terus-terusan sakit, 'kan?"tanya Dimas menyodorkan sesendok bubur ke mulut Ayana.
Mau tak mau akhirnya Ayana menerima suapan dari Dimas hingga isi mangkok itu tandas. Dimas juga memberikan obat untuk menurunkan demam Ayana.
"Aku akan menyiapkan air hangat untuk air mandi mu,"ujar Dimas beranjak dari duduknya membawa kembali nampan berisi mangkok dan gelas yang sudah kosong itu kembali ke dapur.
Tidak lama kemudian, Dimas pun kembali ke kamar itu,"Ayo, mandi! Air hangatnya sudah siap,"ujar Dimas menyingkap selimut yang menutupi kaki Ayana, lalu menggendong Ayana.
"Kak, tidak perlu di gendong! Aku masih sanggup untuk jalan,"ucap Ayana yang benar-benar tidak nyaman berdekatan dengan Dimas saat dirinya belum mandi.Apalagi saat mencium tubuh Dimas yang sudah wangi.
"Sudah! Menurut saja!"ucap Dimas berjalan keluar kamar.
"Iya, Ay. Istri yang baik itu, harus nurut sama suami,"celetuk Toyib yang kebetulan lewat di depan pintu kamar Dimas dan Ayana.
Ayana memalingkan wajahnya menghadap ke dada Dimas, merasa malu. Entah mengapa jadi canggung jika mengingat dirinya dan Dimas saat ini adalah suami istri.
"Cie.. cie . pengantin baru malu-malu,"goda Toyib.
__ADS_1
"Abang apaan, sih!"ketus Ayana dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus. Memeluk leher Dimas, menyembunyikan wajahnya di dada Dimas.
"Cieee.. malah peluk-pelukan,"goda Toyib yang merasa gemas dengan Ayana.
"Berisik! Awas! Minggir! Air mandi Ayana keburu dingin, kalau kamu tetap berdiri di situ,"ketus Dimas yang tidak bisa keluar dari kamar karena Toyib berdiri di depan pintu.
"Sorry! Sorry! Aku lupa di mana tempat aku berdiri,"ujar Toyib menyengir bodoh, menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya menyingkir dari depan pintu kamar Dimas dan Ayana.
Setelah Ayana selesai mandi, Dimas mengemasi barang-barangnya yang ada di kamar Toyib. Untuk dipindahkan ke kamarnya dan Ayana.
"Dim, apa hari ini kamu ada tagihan?"tanya Toyib yang bersiap-siap berangkat kerja,"Kalau ada, biar aku tagihkan,"tawar Toyib.
"Sebenarnya ada. Tapi sudah aku kasih tahu kalau bakal aku ambil lusa saja. Aku tidak ingin merepotkan kamu,"ujar Dimas.
"Santai aja, Dim! nggak perlu sungkan begitu. Kayak sama siapa aja. Lagian, aku juga pengertian, pengantin baru pasti masih pengen berduaan,"ujar Toyib mengulum senyum seraya merapikan pakaiannya.
"Berhenti menggoda aku! Lama-lama aku lakban juga itu mulut,"gerutu Dimas.
"Yee.. ile.. pengantin baru kok, ambekan. Gara-gara belum dapat jatah, ya? Sabar! Tunggu Ayana sehat dulu! Setelah itu, baru lahap dia sampai habis. Buat dia menjerit ahh..ahh..."ujar Toyib yang benar-benar merasa senang saat menggoda Dimas.
"Dasar duda gatel! Mesum!"umpat Dimas yang merasa kesal.
"Bugh"
"Bugh"
"Nggak kena! Nggak kena!"ejek Toyib yang berhasil menghindar dari lemparan Dimas. Namun tiba-tiba..
"Srekk"
"Akkh"
"Gedebuk"
"Aduh! Sakit sekali,"rintih Toyib yang terjatuh di lantai karena kakinya tersangkut kabel setelah menghindari lemparan bantal dari Dimas.
Dimas malah tertawa terbahak-bahak melihat Toyib yang jatuh dengan posisi tengkurap. Pasalnya saat Toyib bangun dari lantai, Dimas melihat kepala Toyib benjol.
"Kuwalat kamu sama aku,"ujar Dimas sambil tertawa.
__ADS_1
Sedangkan Toyib menggosok kepalanya yang benjol sambil meringis,"Apes aku,"gumam Toyib.
Dimas membawa barang-barang nya dari kamar Toyib ke kamarnya dan kamar Ayana. Ayana beranjak duduk saat melihat Dimas masuk ke dalam kamar sambil membawa banyak barang.
"Kenapa kamu bangun? Berbaring lah! Bukankah kepalamu masih terasa pusing?"tanya Dimas seraya meletakkan barang yang dibawanya.
"Kakak taruh saja barang-barang kakak di keranjang pakaian. Nanti biar aku yang bereskan,"ujar Ayana yang merasa tidak enak hati karena saat ini belum bisa membantu Dimas menyusun barang-barang Dimas di kamar mereka.
"Aku bisa menyusunnya sendiri. Istirahat lah!"ujar Dimas seraya mulai menyusun barang-barang nya.
Malam harinya, Ayana yang merasa lebih sehat pun ikut makan di meja makan bersama Toyib dan Dimas. Dengan lauk sarden yang di masak Dimas.
"Abang, kenapa kepala Abang benjol?"tanya Ayana saat Toyib baru saja duduk.
"Oh, ini. Tadi jatuh,"sahut Toyib sambil nyengir, kemudian mulai mengambil nasi dan lauk.
"Olehnya kuwalat sama orang tua,"sahut Dimas mulai makan.
"Iya . iya.. memang tuaan situ dari pada aku. Tapi aku lebih berpengalaman. Kamu belum buka segel, 'kan? Apa mau aku ajarin tutorialnya,"ujar Toyib tanpa di saring.
"Uhuk.. uhuk . uhuk.."
Dimas terbatuk-batuk karena tersedak, mendengar apa yang dikatakan oleh Toyib. Sedangkan Toyib malah tertawa terbahak-bahak melihat Dimas tersedak.
"Minum dulu, kak!"ujar Ayana menyodorkan segelas air putih pada Dimas. Sedangkan Dimas menatap kesal pada Toyib.
"Gimana? Mau aku ajarin buka segel, nggak?"Toyib kembali menggoda.
"Tutup mulut kamu itu! Apa perlu aku lakban, agar tidak ngomong sembarangan!"ketus Dimas setelah meminum air putih.
"Tutorial buka segel apaan, sih, yang kalian bicarakan?"tanya Ayana polos membuat Toyib kembali' tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Dimas memalingkan wajahnya yang terlihat memerah.
Ayana menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi bingung, menatap dua orang pria yang berada di meja makan bersamanya itu secara bergantian.
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued