SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
188. Kecuali Kalau Khilaf


__ADS_3

Diky sudah tiba di sebuah mall yang di dalamnya ada bioskopnya. Tepatnya terletak di lantai atas mall. Karena tidak ada bioskop yang terletak di lantai dasar atau lantai dua. Bioskop di mall selalu berada di lantai paling atas mall.


Diky merangkul pinggang Wulan saat mereka masuk ke dalam mall itu. Sedangkan Wulan hanya pasrah tanpa bisa menolak apa yang dilakukan Diky. Walau menolak pun, Diky akan mengancam dirinya dengan segala macam ancaman.


"Masih ada waktu satu jam lagi untuk menonton. Apa kamu ingin jalan-jalan dulu?"tanya Diky setelah melihat film apa saja yang akan di putar di bioskop itu. Dan mereka memilih salah satunya.


"Terserah Abang aja!"sahut Wulan membuat Diky menghela napas panjang.


Setiap ditanya apapun, jawaban Wulan selalu saja terserah. Dan hal itu sukses membuat Diky harus berpikir keras untuk memahami dan mengerti apa yang kira-kira diinginkan Wulan.


Namun sesat kemudian, pemuda itu malah tersenyum smirk. Diky menundukkan kepalanya, kemudian pemuda itu berbisik pada Wulan,"Jika terserah aku, aku ingin kita pergi ke hotel yang kita lewati tadi. Kita bermalam disana. Berdua,"ucap Diky kemudian menggigit kecil telinga Wulan.


Wulan yang mendengar apa yang dikatakan oleh Diky pun langsung membulatkan matanya. Apalagi saat merasakan Diky menggigit kecil telinganya. Wulan teringat dengan kata-kata ibunya sebelum dirinya pergi bersama Diky tadi.


"Jangan mau di ajak ke hotel, losmen, penginapan, atau apapun itu. Jangan serahkan dirimu sebelum kalian resmi, dan sah menjadi pasangan suami-isteri!"


Itulah yang dipesankan ibunya sebelum Diky menjemputnya tadi.


Wulan berusaha melepaskan diri dari Diky, namun Diky memeluk pinggangnya erat.


"A.. Abang jangan macam-macam! Ki.. kita belum menikah,"ucap Wulan tergagap. Wulan sama sekali tidak bisa bergerak karena Diky memeluknya dari samping dengan kedua tangannya yang kekar. Sedangkan wajah Diky masih ada tepat di samping wajah Wulan. Hingga jika Wulan menoleh, mungkin mereka akan berciuman.


Diky mengulumm senyum menahan tawa melihat Wulan yang jadi ketakutan hanya karena diancam seperti itu.


"Aku hanya bercanda. Kenapa kamu jadi takut sekali?"ujar Diky yang merasa sangat gemas pada Wulan.


"Cup"


"Cup"


"Cup"


Diky mengecup pipi Wulan beberapa kali karena merasa sangat gemas pada Wulan. Sedangkan Wulan kembali membulatkan matanya karena ulah Diky itu. Merasa tegang sekaligus malu karena ada beberapa orang yang melihat mereka.


"Kamu jangan takut seperti itu. Aku tidak akan melakukan itu sebelum kita sah menjadi suami istri,"ucap Diky,"Kecuali kalau aku khilaf,"lanjut Diky dalam hati.


Mendengar kata-kata Diky barusan, Wulan menjadi merasa lega. Namun andai saja Wulan mendengar apa kata hati Diky, Wulan pasti akan takut di ajak ngedate lagi oleh Diky.

__ADS_1


"Makanya kalau di tanya jangan bilang terserah terus. Katakan saja apa yang kamu inginkan. Tidak perlu malu! Karena aku adalah calon suami kamu. Ayo, katakan! Kamu ingin apa? Ingin kemana? Aku pasti menurutinya,"ucap Diky masih memeluk Wulan, seraya menunduk menatap Wulan.


"A.. aku ingin lihat-lihat aja dulu,"ucap Wulan pada akhirnya.


Wulan masih saja gugup setiap kali berada di dekat Diky. Apalagi semenjak mereka bertunangan, Diky selalu saja memeluk dirinya setiap mereka pergi berdua. Bukan cuma sekali dua kali saja pemuda itu mencium pipi dan bibirnya. Namun entah mengapa Wulan tidak pernah bisa menolak saat Diky memeluk ataupun mencium dirinya. Walaupun sadar jika yang mereka lakukan adalah salah.


Keduanya berjalan berkeliling melihat-lihat. Saat melihat toko aksesoris, Diky pun membawa Wulan masuk ke dalam toko itu.


"Belilah yang kamu suka. Jika kamu tidak membeli sesuatu, kita tidak akan keluar dari toko ini!"Diky kembali mengancam Wulan.


"Ya ampun! Kenapa orang ini suka sekali mengancam aku, sih? Tapi herannya, aku tetap saja suka padanya,"gumam Wulan dalam hati, tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Walaupun setiap mereka pergi Diky selalu saja mengancam dirinya dengan berbagai macam ancaman, tapi tetap saja Wulan sangat senang saat di ajak ngedate oleh Diky.


Setelah membeli aksesoris, mereka kembali berkeliling melihat- lihat dan membeli beberapa barang. Hingga akhirnya mereka kembali ke lantai atas karena film yang ingin mereka tonton akan segera di putar.


Saat duduk menonton bioskop, Diky pun enggan untuk melepaskan Wulan. Pemuda itu merangkul pundak Wulan. Sedangkan Wulan yang akhirnya terbiasa dengan apa yang dilakukan oleh Diky pun hanya diam saja. Wulan fokus menatap layar bioskop yang filmnya baru saja dimulai. Tapi tidak dengan Diky. Pemuda itu lebih fokus pada gadis yang dirangkulnya itu.


Diky meraih tangan Wulan dan menggenggamnya. Wulan hanya diam saja saat tangannya di genggam Diky. Diky menatap wajah Wulan dari samping. Menurut Diky wajah gadis itu cantik dan manis. Tidak membosankan untuk di pandang. Tatapan Diky tertuju pada bibir Wulan. Pria itu menelan salivanya susah payah saat mengingat bagaimana rasanya bibir berwarna pink itu.


Diky menggelengkan kepalanya cepat, membuang pikiran mesumnya. Jika tiba-tiba dirinya mencium Wulan, mungkin Wulan tidak akan suka. Itulah yang ada di hati Diky. Karena itu, Diky menahan diri untuk tidak mencium bibir Wulan. Sungguh, berada bersama Wulan benar-benar ujian.


"Bang, aku ingin ke toilet dulu,"pamit Wulan.


"Okey, aku tunggu di sana, ya?"ucap Diky seraya menunjuk outlet yang menjual minuman dan makanan kekinian.


"Hum,"sahut Wulan bergegas pergi setelah Diky melepaskan rangkulannya.


Diky berjalan menuju outlet itu, kemudian duduk di sebuah tempat yang masih kosong. Diky melihat buku menu untuk memilih makanan dan minuman.


"Dik! Diky, 'kan?"sapa seorang pria.


"Oh, kamu Nov,"ucap Diky saat melihat siapa yang menyapanya.


"Sudah lama, ya, kita tidak bertemu? Tinggal di mana kamu sekarang?"tanya pemuda yang bernama Novan itu langsung duduk di dekat Diky.


"Aku tinggal di perkampungan yang ada di daerah xx,"sahut Diky kemudian melambaikan tangannya pada seorang pelayan, lalu memesan makanan dan minuman sebanyak dua porsi.

__ADS_1


"Kamu nggak pesan makanan atau minuman? Kalau mau pesan, pesan aja. Biar aku yang traktir,"ujar Diky pada Novan.


"Mau, dong! sahut Novan, kemudian ikut memesan.


"Kerja apa kamu sekarang, Dik?,"


"Aku kerja nggak tentu. Semauku aja,"sahut Diky yang tidak ingin identitasnya sebagai detektif diketahui oleh orang lain.


"Kamu belum memiliki pekerjaan pasti? Sayang sekali. Kamu kemarin kuliah jurusan hukum, 'kan? Aku pikir mau jadi pengacara, jaksa, atau legal officer, mungkin. Ternyata malah kerja nggak tentu,"sahut Novan.


"Aku tidak menyukai pekerjaan yang di tuntut harus berpakaian formal,"sahut Diky yang dulunya memang kuliah jurusan hukum sekaligus jurusan kriminologi. Tapi tidak banyak teman-teman Diky yang tahu jika Diky mengambil kuliah kriminologi. Karena Diky mengambil kuliah yang berbeda di universitas yang berbeda pula. Dan memang tidak ingin teman-temannya tahu jika dirinya mengambil kuliah jurusan kriminologi.


"Lalu buat apa kamu kuliah hukum jika tidak menjadi jaksa, pengacara atau legal officer?"tanya Novan heran.


"Aku hanya tidak ingin dibodohi orang lain karena tidak mengerti hukum,"sahut Diky.


"Susah kalau mau kerja dengan jurusan itu tapi tidak mau bekerja memakai pakaian formal,"sahut Novan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Aku biasa aja, tuh,"sahut Diky kemudian melihat handphonenya karena ada notifikasi pesan masuk.


Wulan yang kembali dari toilet pun mengernyitkan keningnya saat melihat Diky duduk bersama seorang pria.


"Dia teman bang Diky, ya?"gumam Wulan menatap pria yang duduk di sebelah Diky.


Walaupun merasa agak canggung menghampiri Diky yang sedang duduk dengan seorang pria yang tidak dikenalnya, namun Wulan tetap melangkah ke arah Diky bertepatan dengan seorang pelayan yang mengantarkan makanan dan pesanan Diky.


Wulan duduk di depan Diky yang sepertinya sedang membalas chat, hingga Diky tidak melihat kehadiran Wulan. Wulan berusaha bersikap tenang dan biasa saja.


"Kamu siapa?"tanya Novan saat melihat Wulan duduk di kursi yang berhadapan dengan Diky.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Bioskop (Belanda: bioscoop) adalah tempat untuk menonton pertunjukan film dengan menggunakan layar lebar


•Bioskop di atas karena butuh ruangan tanpa kolom atau tanpa tiang.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2