SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
240. Ketulusan Hati


__ADS_3

Buston berjalan ke arah ruangan Dimas berada diikuti oleh Saman. Saat berada di depan pintu ruangan Dimas dirawat, pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu menghentikan langkah kakinya. Dari pintu yang setengah terbuka.itu, Buston melihat Liliana baru saja duduk di sofa bersama Ayana. Buston mendengar istrinya itu mengarang cerita tentang siapa Dimas yang sesungguhnya, membuat Buston terdiam di depan pintu menatap istrinya.


"Mama sudah tahu kalau Dimas adalah putraku? Lalu kenapa mama mengarang cerita seperti itu? Apa maksud mama?"gumam Buston dalam hati menatap lekat istrinya. Sedangkan Saman yang berada di belakang Buston dan mendengar apa yang dikatakan oleh Liliana pun mengernyitkan keningnya.


Liliana menghela napas panjang setelah selesai bercerita pada Ayana tentang hubungannya dengan Dimas. Cerita yang setengahnya kebohongan dan setengahnya lagi kebenaran. Namun wanita paruh baya itu nampak terkejut saat melihat seseorang yang berdiri di depan pintu ruangan itu.


"Papa?"gumam Liliana menatap Buston yang berjalan masuk ke dalam ruangan itu menghampiri istri dan menantunya.


"Sejak kapan papa berdiri di sana? Apa papa mendengar semua perkataan ku? Masa bodoh lah, jika papa mendengar semua yang aku katakan. Itu malah lebih baik,"gumam Liliana dalam hati.


Ayana yang melihat Liliana nampak terkejut dan menyebut suaminya dengan tatapan ke arah pintu ruangan itu pun menoleh dan melihat Buston yang berjalan menghampiri mereka.


"Maaf, pa! Mama sudah tidak sabar datang ke sini untuk melihat putra kita. Jadi, mama tidak menunggu papa lagi,"ujar Liliana dengan wajah yang dibuat setenang mungkin.


"Tuan!"sapa Ayana sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda rasa hormatnya.


"Kenapa masih memanggil aku Tuan? Kamu sudah tahu kalau aku adalah ayah kandung Dimas bukan? Jadi, panggil aku papa!"ucap Buston tersenyum lembut.


"I.. iya,"sahut Ayana terlihat canggung.


"Aku tidak tahu apa maksud Liliana bercerita seperti tadi, tapi jika aku tidak mengikuti skenario yang dibuat Liliana, keadaannya akan menjadi rumit. Jadi, aku ikuti saja skenario yang dibuat Liliana. Lagipula, cerita yang dia karang tadi tidak merugikan siapapun. Liliana malah membuat semuanya menjadi lebih baik. Walaupun hampir setengah dari ceritanya adalah bohong. Nanti aku akan membicarakan soal ini dengan Liliana,"gumam Buston dalam hati.


"Sepertinya papa mendengar semua pembicaraan kami. Baguslah!"gumam Liliana dalam hati.


"Orang terkaya di negeri ini adalah orang tua kandung kak Dimas? Aku tidak sedang bermimpi, 'kan?"gumam Ayana dalam hati.


"Bagaimana keadaan kamu?"tanya Buston.


"Sudah lebih baik, pa,"sahut Ayana masih terlihat canggung saat memanggil papa.


"Kamu jangan khawatir! Papa dan mama akan mencarikan dokter terbaik untuk merawat Dimas. Bukankah, begitu, ma?"tanya Buston pada Liliana.

__ADS_1


"Tentu saja, pa. Kalau soal ruangan.. sepertinya ruangan ini adalah ruangan ini adalah ruangan terbagus di rumah sakit ini,"ujar Liliana seraya mengamati ruangan tempat mereka berada.


"Iya, ini ruangan terbagus di rumah sakit ini,"sahut Buston,"Untuk biaya rumah sakit, biar menjadi urusan papa dan mama. Kamu fokus saja pada kesehatan kamu. Jaga cucu kami baik-baik,"ujar Buston.


"Iya, pa,"sahut Ayana yang wajahnya masih terlihat pucat.


"Kamu sebaiknya istirahat dulu! Lihatlah, wajah kamu masih pucat,"ujar Liliana.


"Apa perlu papa mintakan ranjang tambahan di ruangan ini agar kamu bisa beristirahat dengan nyaman?"tanya Buston yang tidak ingin menantunya itu merasa tidak nyaman.


"Tidak perlu, pa. Ranjang Kakak cukup besar, aku bisa tidur satu ranjang dengan kakak,"sahut Ayana.


"Tapi ."


"Biarkan saja, pa! Orang yang sedang mengandung memang kebanyakan ingin menempel pada suaminya. Mungkin bawaan bayi,"ujar Liliana memotong kata-kata Buston.


"Baiklah, kalau begitu,"sahut Buston yang merasa apa yang dikatakan oleh Liliana adalah benar.


Sepasang suami-isteri itu akhirnya meninggalkan ruangan itu diikuti Saman. Sedangkan Ayana beranjak untuk mendekati Dimas. Wanita itu duduk di tepi ranjang, lalu membelai wajah suaminya.


"Kakak harus segera sadar. Aku dan anak kita membutuhkan kakak,"ucap Ayana, kemudian menempelkan telapak tangan Dimas di perutnya,"Di sini ada anak kita. Apa kakak senang? Aku berjanji akan menjaganya baik-baik. Karena itu, kakak harus segera sadar,"ucap Ayana, lalu mengecup telapak tangan suaminya.


.


Ayana merebahkan tubuhnya di samping Dimas, lalu mencium bibir Dimas yang terasa dingin itu untuk beberapa saat. Ayana memeluk Dimas, kemudian memejamkan matanya


Beberapa menit kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Hilda yang masuk ke ruangan itu menghela napas lega saat melihat Ayana tertidur memeluk Dimas.


"Huff.. ternyata dia benar-benar ada di sini,"gumam Hilda yang tadi tidak menemukan Ayana di ruang rawatnya. Karena itu Hilda mencari Ayana di ruangan Dimas. Dan sesuai dugaannya, putrinya itu memang berada di ruangan menantunya.


Buston dan Liliana baru saja sampai di rumah mereka. Karena Liliana sudah sehat dan diizinkan dokter untuk pulang.

__ADS_1


"Ma, papa ingin bicara dengan mama,"ucap Buston setelah mereka berada di dalam kamar mereka.


"Mama juga, pa. Papa pasti sudah mendengar cerita yang mama karang tadi, 'kan? Maaf, jika mama berbuat seperti itu tanpa persetujuan dari papa. Tapi mama merasa tidak adil jika papa tidak mengakui Dimas sebagai putra papa. Mama mengarang cerita itu, agar tidak ada yang tersakiti di antara kita semua. Dengan cerita mama tadi, jika suatu saat Dimas sadar, dia tidak akan di panggil anak haram. Papa juga tidak perlu menyembunyikan kebenaran bahwa Dimas adalah putra papa. Papa bisa memberikan Dimas kasih sayang seperti papa memberikan kasih sayang papa kepada kedua putra kita. Mama akan menerima Dimas sebagai putra tertua kita. Mama juga tidak keberatan, jika harta yang kita miliki dibagi tiga secara rata. Untuk Dimas, Axell dan Delvin,"


"Mama serius?"tanya Buston yang terkejut mendengar kata-kata Liliana.


"Tentu saja mama serius, pa. Anak itu tidak bersalah. Dia lahir bukan karena dosa yang kalian perbuat. Tapi ketidak kesengajaan. Ibunya tidak mau menjadi perusak rumah tangga kita dan memilih berpisah dari papa. Bahkan sengaja menghilang dari kehidupan papa tanpa memberitahu Dimas tentang papa sebagai ayah kandungnya. Jarang ada wanita yang seperti itu, pa. Yang ada, jika tahu pria yang merenggut kesucian adalah orang kaya, pasti akan menuntut untuk dinikahi. Apalagi kalau sampai mengandung seperti ibu Dimas. Tapi ibu Dimas tidak melakukan itu. Dia memilih menjauh dari kita dan membawa rahasia ini dari Dimas sampai mati,"


"Tapi, ma, harta yang kita miliki ini adalah harta dari warisan keluarga mama. Papa tidak berhak atas semua harta yang kita miliki,"


"Kenapa papa berkata seperti itu? Perusahaan kecil milik kedua orang tua mama tidak akan menjadi sebesar ini jika bukan karena papa. Atau mungkin perusahaan kedua orang tua mama akan berakhir bangkrut jika mama yang menjalankannya. Jadi semua harta ini adalah milik kita bersama. Sebagai putra papa, Dimas juga berhak mendapatkan bagian yang sama dengan Axell dan Delvin. Apalagi Dimas sudah menyelamatkan kita semua. Bahkan mama dan Axell sudah dua kali diselamatkan Dimas. Jika waktu itu Dimas tidak mendonorkan darahnya pada Axell, Axell belum tentu selamat, pa. Bukankah wajar jika kita memberikan hak yang sama pada Dimas? Walaupun seandainya Dimas tidak bisa sadar lagi, mama akan tetap memberikan warisan bagian Dimas pada anaknya nanti,"ujar Liliana serius dan tulus.


Buston langsung memeluk Liliana setelah mendengar penuturan Liliana. Pria paruh baya itu menitikkan air mata karena rasa haru, syukur dan bahagia.


"Terimakasih, ma! Karena kebaikan dan ketulusan hati mama inilah, papa tidak pernah bisa berpaling, apalagi meninggalkan mama,"ucap Buston tulus dari dalam hatinya.


"Kita harus memberitahu Axell dan Delvin tentang hal ini, pa,"


"Iya, ma. Tapi Axell baru saja berangkat ke luar negeri mengurus perusahaan kita yang ada di sana, ma. Mungkin satu bulan lagi Axell baru kembali,"


"Kalau begitu, kita tunggu Axell pulang, baru kita beritahu mereka tentang hal ini,"


"Baiklah,"


...🌟"Tidak semua kebohongan itu buruk, dan tidak semua kejujuran itu baik. Ada waktunya kita harus berbohong, dan ada waktunya pula kita harus jujur."🌟...


...🌸❀️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2