SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
169. Keputusan Wulan


__ADS_3

Setelah rombongan Diky pulang, Pak Parman, Bu Lastri dan Wulan kembali duduk di ruang tamu.


"Lan, sekarang semuanya tergantung dari keputusan kamu. Kamu sudah mendengar sendiri jika nak Diky berniat menjalin hubungan serius sama kamu. Dan kamu juga tahu sendiri, apa profesi nak Diky. Kamu bisa mengira-ngira bagaimana situasi yang harus kamu hadapi, jika kamu menjadi istri Nak Diky nanti. Sekarang bapak tanya, kamu mau menerima lamaran ini atau tidak? Kamu suka atau tidak sama Nak Diky?"tanya Pak Parman lembut.


"Sebenarnya, aku juga suka sama bang Diky, Pak. Cuma, aku masih ingin melanjutkan pendidikan ku, Pak. Aku ingin kuliah,"sahut Wulan.


"Jadi, kamu tidak mau menerima lamaran Nak Diky, Lan?"tanya Bu Lastri nampak khawatir jika Wulan menolak lamaran Diky.


"Aku mau menerimanya Bu. Tapi, aku ingin bertunangan saja dulu,"sahut Wulan.


"Syukurlah jika kamu mau menerimanya. Tapi, Lan, kamu sudah dengar sendiri kalau nak Diky itu ingin langsung menikah. Bagaimana jika dia membatalkan lamaran nya karena kamu belum mau langsung menikah? Susah, loh, Lan, mencari pemuda yang serius dan langsung mau ngajak nikah. Kalau yang ngajak bobok bareng tanpa ikatan, sih, banyak. Di luar sana, banyak yang sudah berpacaran bertahun-tahun, bahkan sudah tidak sedikit pula yang sudah melakukan hubungan layaknya suami-istri, tapi ujung-ujungnya malah putus. Bagi cowok sih, nggak masalah. Tapi bagi cewek, 'kan, rugi, Lan. Sudah diajak bobok bareng nggak dinikahi, tapi malah di putusin. Jangan sampai kamu nanti menyesal jika Nak Diky sampai membatalkan lamaran nya sama kamu dan menikahi gadis lain, Lan,"ujar Bu Lastri yang tidak ingin putrinya menyesal suatu hari nanti karena salah dalam mengambil keputusan.


"Jangan memaksa Wulan, Bu. Wajar saja jika Wulan ingin bertunangan lebih dulu. Usia Wulan baru delapan belas tahun, masih terlalu muda bagi Wulan untuk menikah, Bu,"sahut Pak Parman yang tidak ingin memaksa Wulan.


"Ibu tidak memaksa Wulan, Pak. Cuma, sayang jika sampai nak Diky membatalkan lamaran dengan alasan Wulan belum siap untuk menikah.Bapak, 'kan, lihat sendiri, Nak Diky itu sudah dewasa, wajar jika sudah ingin menikah. Jika Wulan tidak mau menikah dengan Nak Diky, bukan tidak mungkin Nak Diky mencari wanita lain untuk di ajak menikah. Nak Diky itu tampan dan punya pekerjaan yang tidak bisa diremehkan. Pasti banyak perempuan di luar sana yang bersedia menjadi istri Nak Diky. Kita ini orang tidak punya, tidak usah sok jual mahal! Kita sangat beruntung, karena orang seperti Nak Diky mau menjadikan putri kita sebagai pendamping hidupnya,"ujar Bu Lastri yang tidak ingin kehilangan calon menantu idaman seperti Diky.


"Ibu memang benar. Tapi ibu tidak boleh memaksa Wulan.Bapak akan tetap menyerahkan keputusan ini pada Wulan. Bagaimana, Lan? Apa keputusan kamu"tanya Pak Parman.


"Apa tidak bisa, jika aku ingin kami bertunangan lebih dulu, Pak? Siapa tahu bang Diky setuju. Tapi jika bang Diky tidak mau bertunangan dulu, dan bersikeras ingin langsung menikah, ya sudah, aku nurut saja, Pak,"sahut Wulan pasrah.


Sebenarnya Wulan sangat senang saat Diky melamar dirinya. Karena Wulan juga menyukai Diky. Tapi, Wulan ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Wulan belum ingin menikah, karena takut, jika nanti tidak bisa melanjutkan kuliah karena harus mengurus suami.


"Begitu juga bagus, Lan. Sebenarnya, bapak juga nggak rela, jika Nak Diky sampai membatalkan lamarannya karena kamu tidak ingin langsung menikah. Nyari calon menantu yang baik itu susah, Lan. Apalagi yang nggak mau pacaran tapi langsung mau melamar. Belum lagi, Nak Diky ini adalah orang yang dekat dengan keluarga Ayana, malahan sahabatnya Dimas. Bapak yakin, dia pasti pemuda baik-baik. Karena Nak Dimas nggak mungkin bersahabat dengan orang yang nggak baik. Selain itu, bapak memang langsung suka sama Nak Diky semenjak pertemuan pertama. Bapak sempat takut kamu tidak mau menerima lamaran Nak Diky,"ujar Pak Parman panjang lebar.


"Lahh.. bapak! Tadi ngomong nya terserah Wulan, dan ibu nggak boleh maksa Wulan. Tapi, nyatanya juga nggak rela jika Nak Diky membatalkan lamaran nya,"cibir Bu Lastri.

__ADS_1


"Masalahnya, yang mau menikah dan menjalani pernikahan itu, 'kan, Wulan, Bu. Bukan kita. Jadi yang berhak mengambil keputusan itu, ya, Wulan,"sahut Pak Parman membela diri.


"Iya, ibu tahu, Pak. Tapi, sebagai orang tua, kita juga harus mengarahkan anak kita ke arah yang lebih baik. Terkadang, anak-anak itu tidak tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Jadi, kita sebagai orang tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan harus memberi tahu anak kita. Jangan sampai anak kita mengambil keputusan yang salah, yang nantinya akan menjadi penyesalan seumur hidup nya,"ujar Bu Lastri beralasan.


"Iya, Bu. Ibu benar,"sahut Pak Parman.


***


Rombongan Diky baru saja sampai di rumah Geno. Mereka semua duduk bersama di ruangan tamu.


"Malam sudah larut. Sebaiknya kalian menginap saja di sini,"ujar Hilda memberikan saran.


"Benar kata mama. Kalian menginap saja di sini. Masih ada kamar kosong, kok, untuk kalian tempati,"timpal Geno.


"Aku dan Ayana akan menginap di sini. Bagaimana, dengan kalian, Yib, Dik?"tanya Dimas.


"Baiklah, kami juga akan menginap di sini, Om, Tan,"ucap Toyib.


"Emm.. apa menurut kalian semua, mereka akan menerima lamaran ku?"tanya Diky menatap semua orang yang ada di ruangan itu.


"Menurut, Om, kemungkinan besar akan diterima. Tapi, Om merasa mereka akan meminta untuk bertunangan lebih dulu. Sepertinya mereka agak keberatan jika kamu meminta langsung menikah. Tapi, ya, maklum saja. Wulan, 'kan, baru lulus sekolah,"sahut Geno.


"Bertunangan dulu juga nggak apa-apa, Dik. Yang penting, lamaran kamu tidak di tolak,"sahut Dimas.


"Iya, Dik. Kalau mereka minta untuk bertunangan lebih dulu, itu nggak masalah, Dik. Setelah kalian resmi bertunangan, kamu, 'kan, bisa pepet dia. Kalau di pepet terus, lama-lama juga bakalan mau di ajak nikah,"timpal Toyib.

__ADS_1


"Kalau sudah di pepet tapi belum mau juga di ajak nikah, bobol gawang aja, Dik! Entar pasti dia yang mohon-mohon minta di nikahi,"imbuh Nando.


"Ihh.. kakak apaan, sih! Malah mengajari ajaran sesat sama babang Diky,"sambar Ayana yang sedari tadi bergelayut manja di lengan Dimas seperti biasanya. Wanita muda itu nampak tidak setuju dengan ide kakaknya.


"Ciee.. ciee . adik Abang sudah nggak polos lagi. Sudah tahu apa artinya bobol gawang,"ledek Toyib kemudian terkekeh.


Toyib sangat ingat, dulu Ayana tidak mengerti apa yang dimaksud bobol gawang, hingga dulu sering sekali Toyib tertawa karena kepolosan Ayana itu.


"Abanng! Jangan ngeledek, deh!"sambar Ayana dengan suara manja seraya bersungut-sungut.


"Iisshh... bikin gemes, deh,"ujar Dimas lalu mencubit hidung Ayana dengan gemas.


Geno dan Hilda hanya tersenyum melihat interaksi para generasi muda yang sekarang sudah mereka anggap seperti keluarga mereka sendiri itu.


Sedangkan Nando, hanya tersenyum tipis seraya menghela napas. Melihat interaksi Ayana dengan Toyib yang terlihat sangat akrab, membuat Nando merasa iri.


Ada rasa sesal di hati Nando, karena selama ini tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Ayana. Dan selama ini malah selalu merendahkan adiknya sendiri hingga Ayana dan dirinya tidak pernah bisa akur apalagi akrab.


...🌟"Keputusan kamu hari ini, bisa menentukan nasibmu esok hari, atau mungkin suatu hari nanti."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2