SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
96. Ingin Berduaan


__ADS_3

"Aku tidak mungkin membiarkan suamiku pergi dengan perempuan lain,"ujar Ayana.


"Bening bukan orang lain, Ay! Dia itu kakak iparmu,"ucap Hilda mengulangi kata-katanya yang tadi.


"Walaupun dia kakak iparku, aku tetap tidak mengijinkan jika suamiku harus pergi berdua dengan dia. Jangankan kakak ipar, banyak diluar sana yang selingkuh dengan anak kandung sendiri,"sahut Ayana.


"Jadi, kamu tidak percaya dengan suamimu sendiri?"tanya Hilda.


"Aku percaya pada suamiku. Sangat percaya. Tapi aku tidak percaya dengan orang lain,"ucap Ayana yang secara tidak langsung menyindir Bening.


"Ya sudahlah, ma! Aku tidak jadi pergi. Aku sudah tidak berselera lagi untuk makan,"ujar Bening memasang wajah sedih, kecewa dan lesu. Secara tidak langsung menyalahkan Ayana karena nafsu makannya hilang karena berdebat dengan Ayana.


"Eh, mana boleh begitu! Jika kamu lapar, cucu mama juga akan lapar. Dan jika kamu sakit, cucu mama juga akan sakit. Dim, antarkan Bening mencari makanan yang dia inginkan! Tidak usah menghiraukan Ayana! Dia itu cuma anak kecil dan masih labil. Saat ini, Bening lebih penting,"ujar Hilda yang takut terjadi sesuatu pada Bening.


"Sudah, ma! Aku sudah tidak berselera makan lagi karena perdebatan ini,"sahut Bening.


"Ini semua gara-gara kamu, Ay! Kamu bikin nafsu makan kakak ipar kamu hilang!"ketus Hilda.


"𝙎𝙪𝙠𝙪𝙧𝙞𝙣! 𝙈𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝙚𝙣𝙖𝙠, 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙢𝙖𝙢𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞?"gumam Bening dalam hati. Merasa senang karena Ayana dimarahi Hilda.


"Kenapa jadi aku yang disalahkan?"protes Ayana.


"Karena kamu melarang Dimas mengantarkan Bening untuk membeli soto, Bening jadi nggak selera makan lagi,"ketus Hilda.


"Kapan aku melarangnya? Aku, 'kan, bilang, aku akan ikut bersama dengan suamiku untuk mengantar kakak ipar. Aku melarang suamiku pergi berdua bersama wanita lain, tapi kalau bersama aku, 'kan, jadi bertiga. Jadi, nggak masalah. Kak Bening aja yang baperan,"ketus Ayana.


"𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙨𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣! 𝙍𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙧𝙖𝙘𝙪𝙣 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙞𝙣𝙞. 𝘿𝙞𝙖 𝙘𝙪𝙢𝙖 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙟𝙖,"gumam Bening dalam hati, merasa kesal pada Ayana.


"Kamu itu belum pernah hamil. Jadi tidak bisa merasakan rasanya ngidam,"sahut Hilda.


"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?"tanya Geno yang terbangun karena keributan yang terjadi.


"Ini, pa. Kak Bening ngidam pengen makan soto di tempatnya. Pengen minta di antar sama kak Dimas. Trus aku bilang, aku temenin, karena aku tidak mau suamiku pergi berduaan dengan wanita lain. Tapi kak Bening malah ngambek nggak jadi mau makan.Kalau memang benar-benar pengen diantar beli soto karena ngidam pengen makan di tempatnya, seharusnya nggak masalah, 'kan, kalau aku ikut mengantarkan? Kecuali jika niat sebenarnya pengen diantar suamiku adalah karena ingin berduaan dengan suamiku,"ujar Ayana tanpa menutup-nutupi isi hatinya.

__ADS_1


"Ayana! Jaga bicaramu! Berani sekali kamu menuduh kakak ipar kamu seperti itu!"bentak Hilda.


"Sudahlah, ma! Ayana masih kecil. Dia belum mengerti apa-apa. Dia hanya salah paham. Over thinking,"sahut Bening berpura-pura menenangkan Hilda, namun sebenarnya ingin menghina Ayana.


"𝙈𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙪𝙖𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝙨𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙟𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜. 𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪!"gumam Bening dalam hati kesal.


"Dia itu memang harus di didik lebih baik lagi. Agar tidak melawan pada orang tua!"ketus Hilda.


"Seharusnya aku memang tidak pernah pulang. Karena dimata kalian, aku selalu saja salah, tidak pernah benar,"ketus Ayana, kemudian membereskan barang-barangnya seraya menghapus air matanya.


Dimas hanya bisa menghela napas melihat dan mendengar apa yang terjadi di depannya. Ikut membereskan barang-barangnya Bening benar-benar pintar memainkan kata-kata untuk memojokkan Ayana dan menarik simpati orang lain memasang wajah memelas nya. Dengan alasan hamil, dan bersikap seolah pengertian, tapi nyatanya Bening secara tidak langsung memojokkan dan menghina Ayana.


"Ay, jangan pergi, Ay! Apa kamu tidak mau merawat papa lagi,"ujar Geno terdengar sedih.


"Aku akan merawat papa lagi, jika tidak ada yang mencari gara-gara lagi dengan aku,"sahut Ayana terang-terangan.


"Pa, aku ingin membawa Ayana pulang dulu. Besok kalau Ayana sudah tenang, kami kesini lagi,"ujar Dimas memutuskan. Tidak ingin lagi Ayana tertekan di tempat itu.


"Dim, jika kamu tidak punya pakaian untuk ke kantor, besok, pagi-pagi sekali mampirlah ke butik mama. Mama akan menyuruh karyawan mama untuk membuka butik lebih awal agar kamu bisa memilih pakaian,"ujar Hilda.


"Terimakasih, ma! Mama tidak perlu repot. Aku punya pakaian untuk ke kantor,"sahut Dimas, kemudian menyalami dan mencium punggung tangan Geno dan Hilda, diikuti oleh Ayana,"Kami pulang, ma , pa,"ucap Dimas.


"Iya. Hati-hati!"ucap Geno dan Hilda bersamaan.


Akhirnya Dimas membawa Ayana keluar dari ruangan itu. Agar perdebatan di ruangan itu tidak semakin panjang. Tidak pantas rasanya berdebat di kamar pasien yang notabene sedang membutuhkan istirahat yang cukup untuk pengobatan dan pemulihan.


"Ma, kenapa mama berkata seperti itu pada Ayana? Mama tahu, 'kan, Ayana akan semakin keras jika kita keras padanya. Contoh lah Dimas! Dia mendidik Ayana dengan lembut dan tidak pernah langsung menyalahkan Ayana. Dimas bisa dengan mudah mengendalikan Ayana tanpa mengeluarkan emosinya seperti mama barusan,"ujar Geno panjang lebar dengan nada lembut.


Semenjak dekat dengan Dimas, Geno mencontoh sikap Dimas yang selalu tenang dalam menghadapi Ayana yang keras. Dan hasilnya memang Ayana tidak keras kepala lagi. Buktinya tadi saat dirinya bicara dengan lembut pada Ayana, Ayana tidak bicara ketus padanya.


"Habisnya anak itu kalau dibilangin suka melawan,"ujar Hilda kesal.


"Kalau bicara dengan Ayana itu jangan dengan nada yang tinggi dan ketus, ma! Biar dia nggak emosi dan jadi melawan,"ujar Geno menghela napas berat.

__ADS_1


Dimas membawa Ayana duduk di taman yang ada di rumah sakit itu untuk menenangkan Ayana.


"Menangis lah, jika itu bisa membuat kamu lega!"ucap Dimas seraya memeluk Ayana.


"Mantan pacar kakak itu menyebalkan sekali! memasang wajah memelas untuk menutupi akal bulusnya dan juga hatinya yang busuk itu. Pengen sekali rasanya aku merobek-robek mulutnya yang manis tapi beracun itu. Pengen aku tendang perempuan munafik itu. Kenapa dulu kakak bisa jatuh cinta pada perempuan se-munafik itu! Bahkan mengorbankan segalanya. Aku sebel! Sebel! Sebel!"ucap Ayana dengan airmata yang membasahi pipinya seraya memukuli dada Dimas untuk meluapkan emosinya.


"Greb"


Dimas mencekal kedua tangan Ayana, lalu mencium bibir Ayana dengan lembut dan penuh cinta untuk beberapa saat. Dimas melepaskan pagutan bibirnya, kemudian menghapus air mata Ayana.


"Tidak peduli, apa yang dilakukan oleh Bening, aku tidak akan tergoda. Yang pasti, dalam hatiku hanya ada kamu. Tidak akan ada nama lain di hati ku selain kamu,"ujar Dimas menenangkan seraya memegang kedua pipi Ayana.


"Benar, kakak tidak akan tergoda dengan ulat bulu itu?"tanya Ayana menatap lekat wajah suaminya..


"Mana mungkin aku tergoda padanya! Tidak ada perempuan yang cantik, imut, menggemaskan dan manja seperti kamu. Lagian, buat apa mencari yang lain, apalagi sudah punya suami dan sedang mengandung. Istri aku aja sampai sekarang masih perawan,"ujar Dimas kemudian terkekeh.


"Apaan, sih, kakak,"sahut Ayana dengan wajah memerah.


"Masih datang bulan?"tanya Dimas.


"Hum,"sahut Ayana.


"Sudah lega? Kalau sudah puas nangisnya, kita pulang,"ujar Dimas.


"Hum,"sahut Ayana.


Dimas membawa pulang Ayana pulang, setelah Ayana tenang. Apapun akan Dimas lakukan agar Ayana bahagia. Karena bagi Dimas, saat ini hanyalah Ayana tujuan hidupnya.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2