SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
18. Putus Asa


__ADS_3

Ayana yang ternyata bersembunyi tidak jauh dari tempat Noval saat ini berdiri pun terkejut mendengar kata-kata Noval. Ternyata firasat nya memang benar. Pemuda itu punya maksud jahat padanya. Saat ini Ayana hanya bisa berharap pemuda itu tidak menemukannya.


Tiba-tiba angin mulai bertiup dan semakin lama semakin kencang. Langit tiba-tiba menjadi gelap karena tertutup awan. Nampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Noval menengadah menatap langit dengan wajah kesal.


"Sebentar lagi akan turun hujan. Aku benar-benar tidak tahu ke arah mana gadis itu pergi.Sial!"pekik Noval tiba-tiba menendang tong sampah di dekatnya.


Ayana hampir saja memekik karena terkejut dengan suara tong sampah yang ditendang oleh Noval. Untung saja Ayana langsung menutup mulutnya sendiri hingga suaranya tertahan..


Noval meninggalkan area pertokoan itu dengan wajah kesal. Kembali ke mobilnya dengan tangan kosong. Pemuda itu memutar balik mobilnya dan kembali melajukan mobilnya ke arah rumah Ayana.


Merasa Noval sudah pergi jauh, Ayana pun keluar dari tempat persembunyiannya. Sedangkan titik-titik air sudah mulai berjatuhan dari langit. Semakin lama titik-titik air itu semakin banyak berjatuhan dan akhirnya hujan pun turun dengan deras.


"Bagaimana ini? Sekarang aku harus kemana?"gumam Ayana.


Ayana mengamati tempat di sekeliling nya. Kemudian dengan perlahan mulai masuk ke lorong pertokoan itu berharap bisa menemukan tempat untuk berteduh. Namun Ayana mengurungkan niatnya masuk lebih dalam ke lorong itu saat mendengar suara beberapa orang laki-laki. Ayana terus mencari tempat untuk berteduh, tapi setiap melihat atau mendengar suara laki-laki, Ayana langsung pergi menjauh. Hingga akhirnya Ayana memutuskan menjauh dari area pertokoan itu.


Ayana berjalan dengan tertatih-tatih menyusuri jalan yang sunyi di tengah guyuran hujan yang semakin deras. Suara kilat dan petir bersautan memekakkan telinga. Ayana menutup mata dan telinganya sambil duduk berjongkok saat suara petir seolah akan menyambar dirinya. Kemudian gadis itu kembali melangkah menuju sebuah tempat yang nampaknya adalah pemukiman penduduk.


"Mama, papa, mengapa kalian tidak menyayangi aku? Apa salahku? Tega sekali mama memberikan aku pada pria hidung belang. Pria yang bahkan baru kita kenal. Umurku bahkan belum genap delapan belas tahun. Aku masih sekolah. Tapi kalian sudah tidak sabar mencarikan aku calon suami. Apakah kalian merasa aku menjadi beban kalian? Kalian ingin membuang beban kalian ini?"gumam Ayana menangis di tengah lebatnya hujan. Gadis yang merasa tidak disayangi dan diabaikan oleh keluarga nya sendiri. Merasa keluarga nya terbebani dengan kehadiran nya.


Tubuh gadis itu nampak sudah menggigil karena kedinginan. Wajahnya terlihat pucat pasi. Saat hampir tiba di pemukiman penduduk itu, Ayana melihat tiga orang pria nampak duduk di tempat yang sepertinya adalah pangkalan ojek.


Satu orang nampak sibuk dengan gadget nya. Satu orang bersandar sambil merokok, dan satu lagi nampak sedang menatapnya.


"Eh, gadis cantik mau ke mana hujan-hujan begini? Sini! Berteduh saja di sini! Biar Abang hangatkan,"ucap pria yang sedang menatapnya.


Ayana mempercepat langkahnya karena merasa takut jika para pria itu bermaksud jahat padanya. Tapi tiba-tiba tangannya di pegang oleh seseorang.

__ADS_1


"Lepaskan!"teriak Ayana berusaha melepaskan tangannya yang dipegang oleh pria yang menegurnya tadi. Namun pria itu terus menarik Ayana ke tempat dua orang teman pria itu berada. Ayana pun terus meronta berusaha meloloskan diri dari pria itu.


"Wahh.. sepertinya kita bisa menghangatkan tubuh kita malam ini,"ucap pria yang tadi merokok.


"Lepaskan!"pekik Ayana memukul tangan pria yang memegang tangannya dengan high heels yang dibawanya, hingga pegangan tangan pria itu terlepas. Ayana langsung berlari meninggalkan tempat itu dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Menerjang hujan yang masih setia mengguyur bumi dengan kilat dan petir yang bersahutan.


"Gadis sialan!"pekik pria itu merasakan sakit di tangan nya karena pukulan high heels Ayana.


"Kejar! Jangan biarkan dia lolos! Barang bagus ini,"ucap pria yang sedang merokok langsung membuang rokoknya mengejar Ayana diikuti dua orang pria lainnya.


"𝙔𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣! 𝙏𝙤𝙡𝙤𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖𝙢𝙪 𝙞𝙣𝙞! 𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙤𝙝𝙤𝙣!"gumam Ayana dalam hati. Ayana tidak tahu bagaimana nasibnya jika sampai tertangkap ke tiga pria itu. Tapi yang pasti bukanlah hal yang baik yang akan terjadi jika dirinya sampai tertangkap oleh ke tiga pria itu.


Ayana berlari tak tentu arah. Beberapa kali terjatuh kemudian bangun lagi dan berlari lagi. Ketiga pria itu pun terus mengejar Ayana hingga Ayana kembali terjatuh karena kakinya terjerembab di sebuah lubang, dan kali ini tidak bisa berdiri lagi. Tubuhnya sudah terasa lemas, dan sepertinya kakinya juga terkilir.


"Akhirnya kamu tidak bisa pergi ke mana-mana lagi,"ucap salah seorang pria dari ketiga pria yang saat ini sudah mengelilingi nya.


Ketiga itu terus mendekati Ayana. Ayana berusaha bangkit dan menjauh dari ketiga pria itu. Namun tubuhnya benar-benar terasa lemah, dan kakinya benar-benar sakit saat digerakkan.


"Jangan dekati aku! Pergi! Tolong! Tolong!"pekik Ayana dengan perasaan takut dan juga putus asa. Ayana tidak yakin ada orang yang akan mendengar suara teriakan nya karena derasnya hujan saat ini. Namun saat ini Ayana benar-benar merasa ketakutan dan putus asa.


"Tidak akan ada yang bisa mendengar teriakkan mu!"


"Tidak akan ada yang menolong mu!"


"Malam ini kami akan mengajakmu bersenang-senang,"


Ucap ke tiga pria itu bergantian, terus mendekati Ayana. Sedangkan kilat dan petir terus bersahutan hingga membuat gendang telinga terasa mau pecah.

__ADS_1


"𝘼𝙠𝙪 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙢𝙖𝙩𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙪𝙘𝙞 𝙡𝙖𝙜𝙞.𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙠𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙠𝙚𝙨𝙪𝙘𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙪,"gumam Ayana dalam hati dengan air mata yang terus mengalir.


"Bapak, ibu, Wulan, aku ingin pulang. Aku rindu kalian,"gumam Ayana dengan suara lirih. Mengingat kebahagiaan yang dirasakan nya bersama keluarga Wulan. Pak Parman dan Bu Lastri yang memperlakukan dirinya seperti anak sendiri dan Wulan yang menyayangi dirinya seperti saudara sendiri. Hingga pandangan matanya semakin lama semakin buram dan akhirnya gadis yang baru naik kelas tiga SMU itu pun tubuhnya jatuh, tidak sadarkan diri.


Tubuhnya Aryana lemah karena kehabisan tenaga setelah berlari dikejar Noval. Kemudian berjalan cukup jauh di tengah hujan deras. Ditambah dikejar oleh tiga orang pria. Tubuhnya menggigil kedinginan karena sudah terlalu lama diguyur hujan. Dan juga rasa putus asa yang menderanya membuat Ayana tidak sadarkan diri.


"Dia pingsan. Kita bawa ke markas kita,"ucap salah seorang dari ketiga pria itu.


"Kita tidak akan kedinginan malam ini. Kita akan bersenang-senang,"ucap seorang pria tertawa lebar.


"Biar aku yang menggendong dia,"ujar yang lainnya.


Ketiga pria itu nampak merasa senang. Dalam pikiran mereka bertiga, malam ini mereka tidak akan kedinginan karena menemukan gadis yang akan menghangatkan tubuh mereka di malam yang dingin karena hujan yang turun begitu lama ini.


"Bugh"tiba-tiba pria yang berjongkok bersiap-siap akan menggendong itu di tendang seseorang. Pria itu pun tersungkur di dekat Ayana.


...🌟"Bahagia itu sederhana. Tapi nyatanya tidak mudah untuk mendapatkan nya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2