
Angin mulai berhembus kencang saat Pak ustadz mulai bersiap-siap menikahkan Dimas dan Ayana. Toyib dan Dimas pun mulai was-was. Sedangkan Ayana masih berdiri di tempatnya. Masih memegang pisau yang di arahkan ke lehernya sendiri.
"Pak, tolong dipercepat!"ucap Dimas dan Toyib bersamaan.
Semua orang yang ada di tempat itu pun merasa agak aneh dengan ekspresi khawatir kedua pria itu. Namun tak urung mengikuti apa yang diinginkan kedua pria itu. Beberapa menit kemudian, Dimas mengucapkan ijab kabul dengan lancar hingga akhirnya Dimas dan Ayana saat ini sudah menjadi suami-istri yang sah dimata agama.
"Alhamdulillah,"ucap Pak ustadz setelah acara pernikahan dadakan itu selesai.
"Duarr"
Tiba-tiba suara petir menggelegar membuat semua orang terkejut.
"Aakkh!"pekik Ayana.
"Klang"pisau yang di pegang Ayana terpental.
"Astaghfirullah,"ucap Pak ustadz memegang jantungnya karena terkejut.
"Ay!"pekik Toyib dan Dimas bersamaan.
Baru saja acara nikah dadakan itu selesai, tiba-tiba suara petir terdengar begitu keras. Ayana yang terkejut pun langsung berjongkok menutup telinganya dengan kedua tangannya, hingga pisau yang di pegangnya terlempar. Dimas pun langsung berlari menghampiri Ayana dan memeluknya. Tiba-tiba hujan turun dengan deras, angin berhembus kencang. Kilat dan petir pun terdengar bersahutan memekakkan telinga.
"Ay! Tenanglah! Ada aku. Tenanglah!"ucap Dimas memeluk Ayana.
Ayana menangis dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan Tangannya yang bergetar memeluk Dimas dengan erat. Tanpa mengatakan apapun, Dimas meninggalkan ruangan itu. Menggendong Ayana yang memeluknya dengan erat ke dalam kamar . Seperti biasanya, Dimas memeluk Ayana dalam posisi berbaring. Namun bedanya kali ini, jika Dimas melakukan lebih dari sekedar memeluk pun tidak jadi masalah.
"Ada apa ini? Ayana kenapa?"tanya Geno pada Toyib. Karena pria itu nampaknya sudah paham dengan keadaan Ayana. Terbukti dengan ekspresi Toyib saat ini yang sudah tidak cemas seperti tadi. Semua orang yang ada di tempat itu pun menatap Toyib.
"Sebentar, saya akan menceritakannya nanti. Sekarang tolong ibu ikut dengan saya!"ucap Toyib agak keras, kemudian menatap Hilda.Mengingat saat ini sedang hujan deras dan kilat serta petir saling bersahutan. Maka tidak akan terdengar jika tidak bicara agak keras.
Hilda mengikuti Toyib setelah menatap Geno dan Geno mengangguk tanda mengijinkan Hilda ikut Toyib.
"Tolong ibu obati leher Ayana yang berdarah tadi!'pinta Toyib mengulurkan kotak obat pada Hilda dan membawa Hilda ke sebuah kamar yang pintunya terbuka. Dimana ada Dimas yang sedang berbaring memeluk Ayana.
__ADS_1
Hilda masuk ke dalam kamar dan mendekati putrinya yang menyembunyikan wajahnya di dada Dimas. Sedangkan Toyib langsung kembali ke ruang tamu. Dimas tersenyum canggung melihat kehadiran Hilda. Wanita yang baru beberapa saat lalu menjadi ibu mertuanya. Sedangkan Hilda mulai mengobati leher Ayana dengan sejuta pertanyaan dalam kepalanya.
Hilda melihat tubuh putrinya yang nampak bergetar seperti orang yang menggigil kedinginan. Memeluk tubuh Dimas dengan erat. Setelah selesai mengobati Ayana, Hilda pun keluar dari kamar itu dan menutup pintunya. Wanita paruh baya itu kemudian kembali ke ruang tamu bersama yang lainnya.
Setelah Hilda kembali ke ruang tamu, Toyib mendekat ke arah semua orang itu agar apa yang dikatakannya bisa di dengar oleh semua orang. Karena saat ini hujan masih turun dengan deras. Kilat dan petir pun terdengar bersahutan.
Dengan suara yang agak dikeraskan, Toyib menceritakan apa yang dialami Ayana saat ini dan menceritakan apa penyebab Ayana mengalami trauma seperti saat ini. Semua orang pun terkejut mendengar cerita Toyib.Terutama keluarga Ayana.
Setelah selama tiga jam hujan turun dengan deras, akhirnya hujan malam itu reda juga. Pak ustad pamit pulang, begitu pula dengan keluarga Ayana. Sedangkan Dimas dan Ayana masih tetap berada di dalam kamar.
"Akhirnya kalian sah juga,"gumam Toyib menatap pintu kamar Dimas dan Ayana dengan seulas senyum dan napas lega.
Karena malam sudah sangat larut, Toyib pun memilih masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Di dalam mobil Nando.
"Ini memalukan sekali, pa. Yang benar saja, aku harus mempunyai adik ipar seorang sales kredit pakaian keliling,"gerutu Nando.
"Mau bagaimana lagi? Kamu tidak lihat, adikmu benar-benar nekad melukai dirinya sendiri,"sahut Geno menghela napas yang terasa berat.
"Sudahlah! Tidak usah di bahas lagi! Biarkan semua berjalan secara alami. Jangan memaksa Ayana lagi. Aku melihat Dimas dan temannya yang bernama Toyib itu orang yang bertanggung jawab dan nampak sangat peduli pada Ayana. Dan selama enam bulan ini, mereka bahkan menjaga Ayana dengan baik melebihi kita, orang tua kandung Ayana. Kita lihat saja bagaimana nanti. Jika Ayana memang bertahan dengan Dimas, ya biarkan saja,"ujar Geno panjang lebar.
Setelah melihat dan mengetahui tentang trauma Ayana, Geno merasa sangat bersalah karena memaksa Ayana untuk bertemu Noval. Bagaimana pun, Ayana adalah putrinya. Melihat Ayana nekad dan putus asa seperti tadi, membuat Geno merasa bersalah.
Saat dini hari, tiba-tiba Ayana terbangun karena perutnya terasa sangat mual. Dengan cepat Ayana melepaskan pelukan Dimas dan berlari menuju kamar mandi. Dimas ikut terbangun dan bergegas menyusul Ayana ke kamar mandi.
"Huek! Huek! Huek!"
Lagi-lagi tidak ada yang bisa Ayana muntahkan selain cairan yang berwarna kuning.
"Kamu kenapa?"tanya Dimas setelah Ayana tidak muntah lagi, pria itu terlihat khawatir.
"Aku hanya masuk angin saja,"sahut Ayana yang terlihat pucat dan lemas.
__ADS_1
Melihat keadaan Ayana yang seperti itu, Dimas pun menggendong Ayana kembali ke dalam kamar. Membaringkan Ayana di atas ranjang.
"Apa masih terasa mual?"tanya Dimas.
Mendengar pertanyaan Dimas, Ayana hanya mengangguk kecil untuk menjawabnya.
"Akan aku oleskan minyak kayu putih di tubuhmu,"ujar Dimas kemudian mengambil minyak kayu putih.
Dengan ragu-ragu Dimas sedikit menaikkan switer yang dipakai Ayana untuk mengolesi perut Ayana dengan minyak kayu putih. Sedangkan Ayana memalingkan wajahnya karena malu.
"Kenapa bisa masuk angin seperti ini?"tanya Dimas penasaran sekaligus untuk mengurangi rasa canggungnya.
"Sejak aku dibawa pulang secara paksa kemarin siang, aku dikurung mama di dalam kamar dan tidak diberi makan ataupun minum sampai pagi,"sahut Ayana membuat Dimas terkejut. Tidak menyangka jika mama Ayana berbuat seperti itu pada putrinya sendiri.
"Berbalik lah, agar aku bisa membaluri punggung mu dengan minyak kayu putih,"pinta Dimas.
Ayana membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap. Dengan ragu, Dimas menaikkan switer yang dipakai Ayana, hingga matanya tertuju pada memar di punggung Ayana yang berwarna biru. Pria itu nampak terkejut.
"Ada apa dengan punggung mu?"tanya Dimas.
"Ini juga karena mama. Mama mengurung ku, tidak memberiku makan dan memukuli aku karena aku menolak bertemu dengan Noval,"sahut Ayana jujur.
Dimas menghela napas berat mendengar penjelasan Ayana. Tidak menyangka Ayana diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya sendiri. Dimas merapikan baju Ayana setelah selesai membaluri punggung Ayana dengan minyak kayu putih.
"Aku akan membuatkan teh hangat untuk kamu,"ucap Dimas beranjak dari duduknya, sedangkan Ayana membalikan tubuhnya, kemudian beringsut untuk duduk bersandar di headboard ranjang.
"Kak!"
...πΈβ€οΈπΈ...
Mohon bantuan like dan komen nya, agar karya ini tetap bisa update!πππππ
.
__ADS_1
.
To be continued