
Hilda mengendarai mobilnya menuju kediamannya dengan senyum yang tersemat di bibirnya. Setelah meminta maaf pada menantunya tadi, Hilda benar-benar merasa lega. Hilda juga merasa bahagia melihat putrinya bahagia.
"Mereka hidup dalam kesederhanaan, tapi terlihat bahagia. Tidak perduli dengan kata-kata ku yang selalu menghina mereka, mereka tetap hidup seperti yang mereka inginkan. Semoga kalian selalu bahagia,"doa Hilda penuh ketulusan.
Beberapa menit kemudian, Hilda pun sampai di rumahnya Hilda terkejut melihat Geno Nando, dan Bening yang seperti sedang menunggu dirinya di teras rumah.
"Akhirnya mama pulang juga. Papa sangat khawatir sama mama,"ujar Geno yang merasa lega setelah melihat Hilda baik-baik saja.
"Kenapa mama pulang begitu larut? Apa ada yang terjadi? Kami sangat khawatir karena kami tidak bisa menghubungi mama,"imbuh Nando.
"Astaga.. maafkan mama! Handphone mama lowbat. Dan soal mama pulang terlambat, itu karena mama mampir ke rumah Ayana,"ucap Hilda penuh sesal. Hilda terlalu merasa nyaman berada di rumah Ayana, sehingga tidak terpikirkan jika anak dan suaminya mengkhawatirkan dirinya.
"Pantesan, mama pulang selarut ini,"ujar Geno menghela napas panjang.
"Maaf!"ucap Hilda penuh sesal,"Oh, ya, kalian tahu tidak, siapa yang mama temui di rumah Ayana tadi?"tanya Hilda yang berubah menjadi antusias.
"Memangnya siapa, ma?"tanya Geno.
"Mama bertemu dengan detektif yang terkenal itu di rumah Ayana, pa,"ujar Hilda terlihat antusias.
"Yang benar, ma? Mama tidak berbohong, 'kan?"tanya Nando tidak percaya.
"Untuk apa mama berbohong? Mama benar-benar bertemu dengan detektif itu. Dia adalah temannya Dimas,"jelas Hilda dengan wajah serius.
Mendengar kata-kata Hilda, Bening pun langsung teringat pada Diky. Satu-satunya sahabat Dimas yang berprofesi sebagai detektif.
"𝘿𝙞𝙠𝙮? 𝘿𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝘿𝙞𝙠𝙮 𝙣𝙖𝙢𝙥𝙖𝙠 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙡𝙞𝙣 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨. 𝘿𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙖𝙘𝙪𝙝 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪. 𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪, 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪. 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙘𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨? 𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪,"gumam Bening dalam hati, mengingat bagaimana sikap Diky kepadanya dulu.
"Sampai saat ini, tidak banyak yang tahu wajah detektif itu, ma. Apa mama yakin jika yang mama temui di rumah Dimas adalah detektif itu?"tanya Nando masih belum percaya.
__ADS_1
"Selama ini, Dimas tidak pernah berbohong pada kita, Nan. Lalu, untuk apa Dimas berbohong tentang detektif itu?"tanya Hilda tanpa menjawab pertanyaan Nando.
Mendengar kata-kata Hilda, Nando pun terdiam. Benar kata Hilda, selama ini Dimas memang tidak pernah berbohong kepada mereka. Walaupun Dimas terkesan menyembunyikan jati dirinya pada keluarga Geno. Karena pria itu selalu menghindar jika ditanya tentang latar belakangnya.
"Sudah! Sudah! Kenapa jadi berdebat soal itu? Kalau penasaran, minta saja Dimas dan Ayana membawa orang itu ke sini untuk makan malam. Papa juga penasaran, seperti apa orangnya,"sahut Geno menengahi.
"Mama setuju,"sahut Hilda cepat.
"Ya sudah, ayo, masuk dulu!"ucap Geno.
"Ah, iya. Sampai lupa kalau kita ngobrol di teras,"sahut Hilda, kemudian mendorong kursi roda Geno, begitu pula dengan Bening yang mendorong kursi roda Nando.
"Mama sepertinya sangat senang setelah pulang dari rumah Ayana,"ujar Geno.
"Papa benar. Mama sangat senang. Mama mau membersihkan diri dulu, pa. Badan mama rasanya lengket semua,"ujar Hilda.
Beberapa menit kemudian, Hilda sudah selesai mandi, Sedang Geno nampak membaca majalah bisnis, di sebelah ranjang.
"Mama sangat menyesal, pa. Dulu mama sering menghina dan merendahkan Dimas. Tapi sekarang, nyatanya dia yang sudah begitu banyak membantu kita,"ujar Hilda duduk di tepi ranjang seraya mengeringkan rambutnya.
"Mama benar. Jika tidak ada Dimas, entah bagaimana jadinya perusahaan kita. Namun, sampai sekarang, papa belum tahu, siapa sebenarnya Dimas. Dia itu seperti menyembunyikan banyak hal, termasuk kecerdasan nya. Berprofesi sebagai sales pakaian keliling, tapi sangat handal dalam bisnis dan bahkan bisa memimpin perusahaan kita dengan baik. Jauh lebih baik dari papa yang sudah puluhan tahun bergelut di bidang bisnis. Bahkan Adit selalu memuji Dimas setiap kali membicarakan Dimas. Sepertinya Adit lebih suka jika Dimas yang memimpin perusahaan dari pada papa, apalagi Nando yang ilmu bisnisnya belum terlalu banyak. Papa merasa Dimas menyembunyikan banyak hal dan berusaha menutupi kemampuannya,"ujar Geno yang merasa Dimas memiliki banyak rahasia.
"Mama juga merasa begitu, pa. Dan satu lagi yang sampai saat ini mama masih penasaran, yaitu sikap Ayana yang terlihat tidak suka dengan Bening. Ayana bicara dan berprilaku seolah-olah Bening adalah calon pelakor,"ujar Hilda.
"Dimas juga nampak menghindari Bening, ma. Tapi papa merasa kalau Bening yang malah mencari kesempatan untuk berdekatan dengan Dimas,"ujar Geno serius.
"Mama juga merasa begitu, pa. Mama masih ingat, saat berada di rumah sakit dulu, Bening bersikeras ingin pergi ditemani Dimas. Tapi dengan segala alasan, Dimas menolaknya. Waktu itu Dimas beralasan tidak ingin mengganggu Ayana yang sedang tidur di pangkuannya. Anehnya, saat Ayana bangun dan ingin menemani mereka pergi, Bening malah membujuk Ayana agar tidak ikut. Dan saat Ayana tetap ingin ikut, Bening malah tidak jadi pergi dengan alasan sudah tidak selera lagi dan berbicara seolah menyalahkan Ayana atas hilangnya nafsu makannya. Dan dengan bodohnya mama malah menyalahkan Ayana. Tidak cuma itu, mama sering melihat Bening mencuri pandang pada Dimas. Bahkan mama juga pernah melihat Bening mengintip kemesraan Dimas dan Ayana,"ujar Hilda mengungkapkan apa yang di amati nya selama ini.
"Papa juga merasa begitu, ma. Tapi, untungnya, Dimas selalu menghindar Bening. Sepertinya anak itu benar-benar menjaga perasaan Ayana,"sahut Geno.
__ADS_1
"Mama juga merasa seperti itu, pa. Kita harus mengawasi Bening baik-baik. Jangan sampai dia merusak kebahagiaan Ayana. Entah mengapa, mama merasa bahwa Bening menyukai Dimas. Jika benar, lalu dianggapnya apa putra kita Nando? Jika dia berani macam-macam, mama tidak akan segan-segan membuang dia dari keluarga kita,"ucap Hilda dengan wajah yang terlihat serius.
***
Hari beranjak gelap saat Diky pulang. Diky melihat Toyib yang sedang main game online di bawah pohon jambu.
"Woi, ngapain mau magrib begini malah duduk di sini?"tanya Diky seraya menghampiri Toyib.
"Cari keterangan. Biar main game nya enggak terganggu,"sahut Toyib santai, tetap fokus pada layar handphonenya.
"Ada-ada saja kamu ini. Main game online aja, pakai cari keterangan segala,"sahut Diky tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, berjalan meninggalkan Toyib.
"Hei! Mau kemana?"tanya Toyib menatap sekilas ke arah Diky yang hendak berjalan ke dalam rumah.
"Mau mandi. Badanku rasanya lengket semua,"sahut Diky menoleh sebentar ke arah Toyib.
"Sini dulu! Mandinya sebentar lagi saja. Nggak baik masih keringatan langsung mandi,"ujar Toyib masih tetap fokus pada layar handphonenya.
"Aku sudah risih, Yib. Aku benar-benar pengen mandi sekarang,"sahut Diky terus melangkah masuk ke dalam rumah.
"Jika kamu sudah masuk, jangan menyesal! Aku sudah memperingatkan kamu,"ujar Toyib tanpa menoleh pada Diky.
Diky mengernyitkan keningnya mendengar kata-kata Toyib, namun tetap melangkah masuk ke dalam rumah.
... 🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1