
Setelah sekitar satu jam pergi membeli satai, akhirnya Toyib kembali juga. Pengantin baru itu bergegas menuju ruangan sahabatnya berada.
"Ceklek"
Suara pintu yang terbuka membuat keluarga Tuan Buston menoleh ke arah pintu.
"Eh, Om, Tante!"sapa Toyib dengan seulas senyum di bibirnya.
"Masuk, Yib!"ucap Liliana.
"Iya, Tan,"sahut Toyib, kemudian menatap ke arah ranjang. Eh, kok tumben sudah tidur. Padahal baru sekitar satu jam di tinggal,"gumam Toyib yang masih bisa di dengar keluarga Tuan Buston.
"Kamu tadi dari sini, Yib?"tanya Tuan Buston.
"Iya, Om. Tadi katanya Ayana pengen dibelikan satai, tapi ternyata sudah tidur duluan,"sahut Toyib tersenyum tipis seraya meletakkan satai yang dibawanya di atas nakas.
"Oh, ya, Yib. Kenalkan, ini kedua putra Tante. Yang itu Axell dan yang itu Delvin adiknya Axell,"ujar Liliana memperkenalkan kedua putranya. Toyib pun menyalami Axell dan Delvin.
"Toyib ini adalah sahabat kakak kalian. Ada satu lagi sahabat kakak kalian, yaitu detektif Diky yang terkenal itu. Kalian belum pernah bertemu, 'kan, dengan detektif itu?"tanya Buston.
"Iya, pa. Aku cuma tahu namanya doang. Dia itu, 'kan misterius banget. Nggak ada yang tahu wajah aslinya. Aku jadi penasaran,"sahut Axell antusias.
"Ceklek"
Pintu ruangan itu kembali terbuka dan semua orang yang duduk di sofa pun menoleh ke arah pintu.
"Yang baru saja dibicarakan datang. Panjang umur kamu, Dik,"ujar Toyib.
"Kalian ngumpul di sini cuma mau menggosipkan aku? Pantas saja dari tadi telingaku berdengung,"canda Diky tersenyum tipis, kemudian menoleh ke ranjang, melihat Ayana yang terlelap memeluk Dimas. Pria itu meletakkan buah-buahan yang di bawanya ke atas nakas.
"Xell, Vin, ini detektif Diky. Kalau Diky sih, tanpa papa perkenalkan juga pasti tahu siapa kalian berdua. Kalian beruntung sekali bisa bertemu detektif terkenal yang wajahnya tidak diketahui banyak orang,"ujar Tuan Buston.
"Om terlalu melebih-lebihkan,"sahut Diky terkekeh kecil seraya menyalami Axell dan Delvin.
"Kakak . "gumam Ayana yang nampak gelisah dalam tidurnya. Diky dan Toyib pun bergegas menghampiri Ayana.
"Kakak.. kak!"pekik Ayana langsung terduduk saat terbangun dari mimpinya dengan napas yang tidak teratur.
"Ay!"panggil Toyib dan Diky bersamaan. Toyib lebih dulu menghampiri Ayana.
"Abang!"ucap Ayana langsung memeluk pria yang sudah dianggapnya sebagai saudaranya itu.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja,"ucap Toyib menenangkan.
__ADS_1
"Kami akan selalu ada untuk mendukung kamu. Kamu tidak sendiri. Kita akan melewati semuanya bersama-sama,"ucap Diky seraya mengelus kepala Ayana.
"Oh, ya, Abang sudah balik dari tadi, kamu nya malah tidur. Satai kamu dingin, tuh,"ujar Toyib setelah Ayana agak tenang.
"Babang tadi juga bawa buah kesukaan kamu,"imbuh Diky.
Ayana merenggangkan pelukannya menatap kedua kakak angkatnya dengan wajah yang basah oleh air mata. Semenjak Dimas mengalami koma, Ayana selalu bermimpi Dimas meninggalkan dirinya. Hingga membuat Ayana selalu menangis setiap terbangun dari tidurnya. Takut kehilangan, itulah yang dirasakan oleh Ayana.
"Terimakasih!"ucap Ayana mencoba tersenyum.
"Cuci wajah kamu. Atau matamu akan sembab nanti,"pinta Toyib tersenyum lembut seraya mengelus kepala Ayana.
Ayana mengangguk kecil, kemudian beranjak ke kamar mandi. Diky dan Toyib pun hanya bisa menghela napas panjang melihat Ayana yang masuk ke kamar mandi.
"Apa Ayana masih sering bermimpi buruk?"tanya Tuan Buston pada Liliana.
"Masih, pa,"sahut Liliana menghela napas panjang.
Axell yang tidak tahu apa-apa, dari tadi hanya diam mengamati semuanya. Menjadi pendengar setia dan memperhatikan semua orang. Sedangkan Delvin terlihat tidak suka melihat Toyib memeluk Ayana.
Tak lama kemudian Ayana keluar dari dalam kamar mandi bertepatan saat Geno, Hilda dan Nando masuk ke dalam ruangan itu. Tuan Buston kembali memperkenalkan kedua putranya pada keluarga Geno. Ayana nampak biasa saja saat diperkenalkan dengan Delvin yang pernah mengejar-ngejar dirinya itu.
"Aku salut, kakak dan istrinya di kelilingi orang-orang yang baik dan peduli pada mereka,"gumam Axell dalam hati merasakan keakraban orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Aku saja,"
"Aku yang akan menjaganya,"
"Biar aku saja,"
Ucap Delvin, Diky dan Axell hampir bersamaan. Membuat semua orang saling bertatapan.
"Ayana tidak bisa dijaga orang asing, apalagi seorang laki-laki. Ayana pernah mengalami trauma karena hampir dilecehkan pria yang baru dikenalnya. Karena itu, Ayana selalu menghindari pria terkecuali orang-orang terdekat Dimas dan keluarganya. Jadi, kalian berdua tidak bisa menjaga Ayana,"jelas Diky menatap Axell dan Delvin.
"Oh, begitu, ya,"sahut Axell nampak mengerti. Sedangkan Delvin terlihat kecewa.
"Biar Diky saja yang menjaga Ayana malam ini,"sahut Geno.
***
Waktu terus berputar, tidak terasa kandungan Ayana sudah berusia empat bulan. Semenjak mengetahui Dimas koma dan kecil kemungkinannya untuk sadar, Delvin kembali mendekati Ayana sedikit demi sedikit dengan sering ikut mamanya mengunjungi Ayana. Namun Ayana tetap bersikap seperti biasanya, menjaga jarak dari Delvin. Seperti enggan untuk dekat dengan Delvin, walaupun Delvin sudah berusaha untuk akrab dengan Ayana.
Hari ini Delvin datang sendiri ke rumah sakit untuk menemui Ayana. Kebetulan pemuda itu melihat Ayana yang sedang duduk di taman rumah sakit di bawah pohon yang rindang seraya memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Ay!"panggil Delvin yang sudah berdiri di depan Ayana. Senyuman cerah terlihat di wajah pemuda itu.
Ayana mendongakkan kepalanya menatap Delvin sekilas, kemudian beranjak bangkit dari duduknya, hendak meninggalkan tempat itu.
"Ay!"ucap Delvin langsung meraih dan memegang tangan Ayana.
"Lepaskan!"bentak Ayana yang tidak suka di sentuh Delvin, seraya menghentakkan tangannya dengan kuat hingga pegangan tangan Delvin terlepas. Wanita itu hendak melangkah meninggalkan Delvin.
"Ay, lebih baik kamu ikhlaskan Dimas. Dia tidak akan pernah sadar, Ay. Aku bersedia menikah dengan kamu dan membesarkan bayi dalam kandungan kamu itu. Toh, bayi itu juga anak kakak ku. Aku janji akan menjaga kalian baik-baik,"ucap Delvin membuat Ayana menghentikan langkahnya.
Ayana membalikkan tubuhnya, lalu menatap Delvin dengan tatapan tajam,"Kak Dimas akan sadar. Dia sudah berjanji padaku tidak akan meninggalkan aku,"ucap Ayana penuh penekanan.
"Oh, ayolah, Ay! Sadar lah! Kamu harus realistis dan menerima kenyataan. Sudah banyak dokter yang di datangkan papa dari luar negeri, tapi tidak satupun dari mereka yang bisa menyembuhkan Dimas. Apa seumur hidup kamu akan tinggal di rumah sakit untuk menjaga pria yang tidak mungkin akan sadar itu? Pikirkan juga bayi dalam kandungan kamu itu! Apa kamu ingin membesarkan anak kamu di dalam rumah sakit ini? Menikahlah dengan aku!"
"Walaupun kak Dimas sudah tidak ada, aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun. Apalagi dengan kamu!"ucap Ayana dengan tatapan tajam penuh kebencian menunjukan jari telunjuknya pada Delvin, kemudian pergi dari tempat itu dengan penuh rasa kesal, marah dan benci. Sungguh Ayana tidak suka mendengar kata-kata Delvin yang mengatakan bahwa Dimas tidak akan sadar lagi. Walaupun Ayana tahu, kemungkinan Dimas untuk sadar sangat kecil, tapi Ayana benci saat Delvin mengatakannya.
"Bugh"
"Akhh!"pekik Delvin saat tiba-tiba Axell muncul dan memberikan bogeman mentah di wajahnya.
"Kenapa kakak memukul aku?"protes Delvin seraya mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena di pukul Axell.
"Kamu pantas di pukul. Bahkan pantas di hajar. Apa kamu sudah tidak punya otak? Berani sekali kamu berkata seperti tadi! Bagaimana pun juga, kak Dimas itu adalah saudara kita. Kamu malah berani melamar istrinya di saat kakak kita masih hidup. Di mana akal sehatmu? Apa otak kamu itu sudah pindah ke dengkul?!"sarkas Axell yang merasa geram pada adiknya itu.
Axell mendengar semua pembicaraan Delvin dan Ayana dari awal hingga akhir. Dan Axell benar-benar merasa geram mendengar setiap kata yang keluar dari mulut adiknya itu.
"Dia tidak akan sadar, kak! Kenapa harus menyia-nyiakan waktu untuk menunggu orang yang sedang koma. Sebentar lagi dia juga pasti bakalan mati!"ketus Delvin tanpa dosa.
"Dasar brengseek!"
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
Axell menjadi semakin emosi mendengar kata-kata Delvin, hingga Axell kembali memukul Delvin. Delvin berusaha menghindar, tapi Axell terus memukul Delvin hingga beberapa kali Delvin terkena pukulan Axell. Beberapa orang yang lewat di tempat itupun jadi berhenti bahkan mendekat melihat Axell yang terus menyerang Delvin. Tidak memberikan kesempatan pada Delvin untuk membalas.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued