SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
23. Nikahi


__ADS_3

Sudah beberapa hari pulang kampung, akhirnya bang Toyib balik juga. Kenapa bang Toyib disuruh pulang kedua orang tuanya? Tentu saja karena ingin dijodohkan. Dengan alasan mencari ibu untuk putranya. Seorang anak harus punya figur ibu dan ayah yang lengkap. Karena itu orang tua Toyib menyuruh Toyib menikah lagi dengan salah satu gadis di kampung mereka. Toyib dicarikan calon istri yang masih gadis? Atau masih perawan? Entahlah.


Sebenarnya apa bedanya antara gadis dan perawan? Kalau gadis belum tentu perawan. Tapi kalau perawan pasti masih gadis. Masalahnya, jaman sekarang covernya saja yang gadis, tapi sudah banyak yang tidak perawan.


Toyib melangkah dengan hati riang. Sudah ada gadis yang akan menikah dengan dirinya. Sekarang dirinya harus mencari uang dan sebongkah berlian untuk menikah nanti. Tunggu dulu!Sebongkah berlian? Sepertinya sebongkah berlian terlalu berlebihan untuk seorang sales pakaian keliling. Kita ganti saja satu suku emas untuk mas kawin.


(𝟭 𝙨π™ͺ𝙠π™ͺ π™šπ™’π™–π™¨ π™‹π™–π™‘π™šπ™’π™—π™–π™£π™œ \= 𝟲,𝟳 π™œπ™§π™–π™’.)


Walaupun tidak tahu, calonnya masih perawan atau tidak, yang penting masih gadis dan mau menerima putranya dalam pernikahan mereka nanti. Toh dirinya juga sudah duda, bukan lagi perjaka.


"Eh, bang Toyib, udah balik, ya?"


"Lama juga pulang kampungnya,"


"Apa nih, oleh-oleh dari kampung?"


Beberapa orang menyapa Toyib, dan Toyib hanya menjawab seadanya saja. Duda beranak satu itu ingin segera sampai di rumah kontrakan nya dan merebahkan tubuhnya. Sudah sangat lelah rasanya setelah perjalanan panjang dari kampung halaman nya kembali ke kontrakannya ini.


"Akhirnya sampai juga,"gumam Toyib yang menggendong tas ransel dan menenteng kardus.


Duda muda itu segera membuka pintu rumah kontrakan nya dengan kunci cadangan miliknya. Begitu pintu terbuka, Toyib langsung masuk dan meletakkan barang bawaan nya di atas meja ruang tamu.


"Si Dimas pergi tanpa mematikan televisi. Siapa yang akan menonton televisi? Hantu? Buang-buang listrik saja,"gerutu Toyib mematikan televisi yang menyala.


Baru beberapa langkah Toyib berjalan dari ruang tamu...


"Akkh"


"Gedubrak"


"Aduh! Sakit sekali! Kenapa bisa ada air di sini,"keluh Toyib yang terjatuh karena terpeleset lantai yang basah oleh air.


"Ha..ha..ha.ha.."Ayana yang muncul dari dalam dapur sambil membawa kain pel pun tertawa terbahak-bahak melihat Toyib jatuh terlentang di lantai.


Semua itu karena Ayana yang tidak sengaja menumpahkan air minum saat akan ke ruang tamu tadi. Sebelum mengambil kain pel untuk mengeringkan lantai, Ayana malah duduk di ruang makan dan memakan agar-agar dari kulkas.Hingga sebelum lantai itu sempat di pel Ayana, tanpa sengaja Toyib menjadi korban.

__ADS_1


"Gadis tengil! Kenapa kamu ada di sini? Apa yang kamu lakukan di sini?"tanya Toyib berusaha bangun sambil meringis menahan sakit di punggung dan kepalanya,"Ini pasti kerjaan kamu, 'kan?"tanya Toyib curiga bercampur kesal. Toyib menduga Ayana yang membuat lantai menjadi basah hingga dirinya terjatuh.


"Yee.. situ. aja yang nggak hati-hati malah menyalahkan orang lain,"protes Ayana.


"Lagian kenapa kamu bisa ada di sini? Ngapain kamu di sini?"tanya Toyib yang heran dengan keberadaan Ayana di rumah kontrakan nya bersama Dimas.


"Mau tahu?"tanya Ayana dan Toyib pun mengangguk cepat,"Pengen tahu banget?"tanya Ayana lagi dan Toyib kembali mengangguk cepat,"Cari tahu aja sendiri! Dasar kepo!"ujar Ayana yang malah tertawa dan masuk ke dalam kamar Dimas.


"Dasar gadis tengil! Hei, kenapa kamu masuk ke kamar Dimas?"teriak Toyib di depan pintu kamar Dimas.


"Ceklek"Ayana membuka pintu.


"SSG, Suka Suka Gue!"ujar Ayana kemudian melempar kain pel yang di pegangnya tadi tepat mengenai wajah Toyib.


"Woi! Dasar gadis tengil!"pekik Toyib.


"Brakk"gadis itu kembali menutup pintu kamar Dimas.


Toyib mengambil kain pel yang menutupi wajah dengan wajah yang merah padam,"Gadis tengil!"geram Toyib yang merasa sangat kesal pada Ayana.


"Kenapa gadis tengil itu ada di sini? Apa yang terjadi selama aku pulang kampung beberapa hari ini?"gumam Toyib penasaran.


Saat Toyib keluar dari dalam kamar mandi, Toyib mendengar suara pintu depan yang dibuka. Toyib bergegas keruang tamu. Kebetulan Dimas baru saja pulang. Pria itu meletakkan tas besar yang selalu tergantung di pundaknya setiap dagang keliling. Pria itu juga meletakkan daster dan kain penutup dada wanita yang selalu disampirkan di lengannya setiap kali berjualan keliling.


"Dim, kenapa gadis tengil itu ada di rumah kita?"tanya Toyib tidak sabar.


"Oh, dia. Dia tidak mau pulang kerumahnya karena keluarganya memaksanya pergi dengan seorang pemuda yang ternyata berniat buruk padanya,"sahut Dimas santai seraya berjalan ke arah dapur dan mengambil air dingin dari dalam lemari es, kemudian meneguk nya.


"Keluarga yang mana? Keluarga Pak Parman?"tanya Toyib masih penasaran.


"Bukan. Wulan hanya teman sekelas Ayana, dan keluarga Pak Parman bukan siapa-siapa Ayana,"sahut Dimas mengeluarkan agar-agar yang tadi dimakan Ayana.


"Jadi, kabar kalau Ayana itu keponakan Pak Parman tidak benar?"tanya Toyib semakin penasaran.Dirinya menjadi seperti ibu-ibu yang suka kepo.


"Iya. Itu hanya agar warga tidak banyak bertanya tentang Ayana,"sahut Dimas lalu menyuapkan agar-agar ke mulutnya.

__ADS_1


"Lalu kenapa dia musti tinggal di sini? Bagaimana jika.ada warga yang tahu?"tanya Toyib lagi, ikut memakan agar-agar.


"Aku sudah bilang sama Pak RT kalau dia itu adalah adikku,"sahut Dimas.


"Adik kamu? Adik ketemu gede?"cibir Toyib,"Lalu gimana ceritanya gadis tengil itu bisa terdampar di sini?"tanya Toyib masih dengan jiwa kepo empat limanya.


"Aku melihat dia dikejar dan akan dibawa tiga orang preman jalanan. Lalu aku membawa dia ke sini,"sahut Dimas.


"Miris juga nasibnya. Tapi dia itu tengil sekali, Dim. Aku baru pulang, dia sudah membuat aku terpeleset di lantai. Setelah itu malah melemparkan kain pel ke muka aku,"adu Toyib bersungut-sungut. Namun Dimas malah menertawakan nya.


"Oh, ya, nggak apa-apa, 'kan, kita tidur satu kamar? Kamarku di pakai Ayana,"ujar Dimas meminta izin.


"Iya. Nggak masalah. Tapi, sampai kapan dia akan tinggal di sini?"tanya Toyib.


"Nggak tahu,"sahut Dimas membuat Toyib menghela napas panjang.


"Kamu naksir sama dia, ya?"tanya Toyib seraya memicingkan sebelah matanya.


"Ngomong apa sih, kamu? Kamu tahu sendiri, jika kami bertemu, dia selalu mengolok-olok aku SPd, sales penjual daster. Mana mungkin aku naksir sama dia,"kilah Dimas.


"Kalau nggak naksir,ngapain kamu biarin dia tinggal di sini? Malah kamu suruh tidur di kamar kamu lagi! Dari kemarin banyak yang naksir dan melamar kamu, tapi kamu tolak. Janda kaya sekampung pun kamu tolak. Ternyata selera kamu daun muda, gadis belia. Pantesan yang lain pada di tolak semua,"cibir Toyib.


"Omongan kamu semakin melantur saja,"gumam Dimas.


"Nikahi aja, dari pada nggak jelas begitu. Saudara bukan, adik bukan, teman juga bukan, cuma kenalan yang mengesankan. Karena selalu di olok-olok dalam setiap perjumpaan. Lebih baik di jadikan teman. Teman di ranjang berbagi kehangatan. Lumayan buat ngagetin pas kedinginan,"ujar Toyib tersenyum penuh arti.


"Plak"


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2