
"Lalu, kamu akan tinggal di sini dengan keadaan kamu yang seperti ini? Kamu akan membuat keluarga Pak Parman kerepotan untuk mengurus kamu?"tanya Dimas lembut tapi terasa mengintimidasi.
"A.. Aku..."Ayana tertunduk, tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Apa yang dikatakan oleh Dimas memang benar. Jika dirinya tinggal bersama keluarga Pak Parman dalam keadaan yang seperti saat ini, maka dirinya akan merepotkan keluarga Pak Parman.
"Kita pulang!"ucap Dimas.Bu Lastri dan Wulan pun saling menatap.
"Hum. Aku akan mengemasi barang-barang ku dulu,"sahut Ayana yang tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Dimas. Karena saat ini, Dimas adalah suaminya.
"Biar aku yang kemasi barang-barang kamu, Ay,"ucap Wulan bergegas mengemasi barang-barang Ayana.
"Biar ibu bantu,"ucap Bu Lastri ikut membantu, sedangkan Ayana masih duduk di tepi ranjang.
Dimas mengangkat panggilan masuk di handphone nya,"Halo!"sapa Dimas pada orang yang menelponnya. Mendengarkan apa yang di katakan oleh si penelpon.
"Tunggu sebentar, ya, Pak. Sebentar lagi kami keluar,"ucap Dimas kemudian kembali memasukkan handphone nya ke dalam saku jaketnya.
"Ini, Ay. Sudah kami masukkan di tas kamu,"ucap Wulan memberikan tas ransel Ayana.
"Terimakasih, Lan, Bu!"ucap Ayana tersenyum pada Wulan dan Bu Lastri.
"Biar aku bawa,"ucap Dimas memakai tas ransel Ayana, kemudian menggendong Ayana.
"Bu, Lan, kami pamit. Maaf jika selama di sini, Ayana sudah merepotkan kalian,"ucap Dimas sopan.
"Nggak merepotkan, kok, Nak. Kami malah senang saat Ayana menginap di sini,"sahut Bu Lastri, sedangkan Wulan hanya tersenyum tipis.
"Bu, Lan, aku pulang dulu, ya!"pamit Ayana.
"Iya,"sahut Bu Lastri dan Wulan bersamaan.
"Hati-hati!"ucap Bu Lastri.
Dimas menggendong Ayana keluar dari rumah Bu Lastri. Sedangkan Ayana melingkarkan tangannya di leher Dimas. Di depan rumah Bu Lastri sudah terparkir taksi online yang di pesan Dimas.
__ADS_1
"Buka pintunya, Ay!"titah Dimas pada Ayana saat mereka sudah berada di depan pintu mobil.
Ayana membuka pintu mobil, dan Dimas mendudukkan Ayana di dalam mobil. Dimas ikut masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil itupun melaju meninggalkan rumah Bu Lastri.
Bu Lastri dan Wulan akan masuk ke dalam rumah, bertepatan dengan Pak Parman yang pulang.
"Assalamu'alaikum! Bapak pulang!"ucap Pak Parman seperti biasanya.
"Wa'alaikumus salam,"sahut Bu Lastri dan Wulan bersamaan, kemudian mencium punggung tangan Pak Parman bergantian.
"Bu, itu tadi mobil siapa?"tanya Pak Parman seraya menyerahkan kantong plastik pada Wulan.
"Itu, Pak. Tandi Nak Dimas menjemput Ayana,"sahut Bu Lastri.
"Nak Dimas menjemput Ayana? Nak Dimas yang mana?"tanya Pak Parman seraya masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Wulan dan Bu Lastri.
"Nak Dimas sales pakaian keliling itu, Pak,"sahut Bu Lastri.
"Kami juga tidak tahu, Pak. Tiba-tiba Nak Dimas datang dan mengatakan ingin menjemput Ayana dan Ayana nya juga mau,"jelas Bu Lastri ikut duduk. Begitu pula dengan Wulan yang langsung duduk dan memakan gorengan yang di bawa Pak Parman.
"Padahal dulu, Ayana, 'kan suka berantem, sama kak Dimas, Pak. Tapi kenapa tiba-tiba tadi kak Dimas jemput Ayana?"ujar Wulan sambil mengunyah gorengan dalam mulutnya.
"Terus, tadi itu, Ayana kayak nurut banget sama Nak Dimas, Pak,"imbuh Bu Lastri.
"Sudahlah. Nanti kita juga bakal tahu, ada hubungan apa di antara mereka,"sahut Pak Parman.
***
Di dalam taksi online, Dimas dan Ayana hanya diam. Tidak satupun dari mereka yang berniat untuk memulai pembicaraan. Hingga akhirnya mereka, pun tiba di rumah kontrakan yang mereka tempati. Dimas menggendong Ayana masuk ke dalam rumah dan mendudukkan Ayana di atas ranjang. Pria itu kemudian duduk di samping Ayana duduk dengan posisi yang berhadapan.
"Katakan padaku! Kenapa kamu bekerja? Apa uang yang aku berikan pada mu masih kurang, hingga kamu harus bekerja? Katakan padaku! Berapa aku harus memberikan uang padamu untuk mencukupi kebutuhan mu? Walaupun mungkin tidak bisa memenuhi harapan mu. Aku akan mengusahakannya,"ujar Dimas membuat Ayana terkejut.
"Tidak, kak. Uang dari kakak masih banyak. Aku memutuskan bekerja karena ingin mencari kesibukan dan pengalaman saja,"sahut Ayana yang merasa jika Dimas marah pada dirinya.
__ADS_1
"Kamu bekerja tanpa sepengetahuan ku, apalagi ijin dari ku. Apa kamu tidak ingat jika kamu adalah seorang istri, dan aku adalah suamimu?"tanya Dimas lembut tapi terasa mengintimidasi.
"Maaf. Aku hanya berusaha agar bisa mandiri,"sahut Ayana dengan wajah tertunduk.
"Berusaha agar bisa mandiri seperti apa yang kamu inginkan?"tanya Dimas masih dengan nada bicara yang sama. Tidak mengerti dengan keinginan istri kecil nya itu.
"Aku tidak ingin kembali ke rumah kedua orang tuaku, jika suatu saat nanti kakak menceraikan aku. Karena itu, aku ingin bisa mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ku sendiri,"ucap Ayana masih dengan wajah yang tertunduk. Matanya nampak berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak.
Dimas menghela napas panjang mendengar kata-kata Ayana. Menatap Ayana dengan tatapan tidak berdaya. Namun matanya menjadi fokus melihat bibir bervolume Ayana yang berwarna merah alami.
"Bukankah sudah aku bilang? Pernikahan itu bukan mainan. Pernikahan itu suci. Mana boleh menikah dan bercerai sembarangan?"ujar Dimas menelan salivanya susah payah menatap bibir Ayana.
"Kakak menikahi aku karena terpaksa. Untuk apa menjalani pernikahan yang di paksakan? Aku ikhlas jika suatu hari kak Dimas mencerai... emp.."Ayana tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat tiba-tiba Dimas mencium bibirnya. Dimas benar-benar tidak tahan melihat bibir Ayana yang berada di depan matanya dan terlihat sangat menggoda.
Ayana membulatkan matanya dengan jantung yang berdetak kencang. Tubuhnya terasa kaku hingga tidak bisa bergerak. Walaupun bibir mereka hanya saling menempel saja, namun gerakan cepat Dimas itu sudah cukup membuat Ayana syok hingga Ayana diam terpaku.
Dimas melepaskan ciumannya secara perlahan,"Jika masih bicara soal perceraian lagi, aku akan menggigit bibirmu itu,"ucap Dimas kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar itu lalu menutup pintunya. Pria itu bersandar di balik pintu dengan jantung yang berdegup kencang.
"Aku bisa gila jika terus berdekatan dengan dia. Aku tidak yakin bisa terus-terusan menahan diri jika setiap hari selalu bersama dia,"gumam Dimas lirih, kemudian membuang napas kasar.
Sedangkan Ayana nampak masih terpaku sampai akhirnya tersadar saat Dimas keluar dan menutup pintu kamar mereka.
"Kak.. kak Dimas mencium bibirku? Di.. dia mencium ku?"gumam Ayana seraya memegang bibirnya yang baru saja di cium Dimas. Wajah gadis itu memerah mengingat kembali saat Dimas mencium dirinya tadi.
"A.. apa artinya ini? Ciuman ini...apakah kak Dimas tidak membenci aku?"gumam Ayana tersenyum-senyum sendiri. Entah mengapa hatinya jadi berbunga-bunga setelah Dimas mencium bibirnya. Wanita hanya menempel untuk beberapa saat saja, tapi bagi Ayana, itu berarti Dimas tidak membencinya.
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1