
Usai makan malam, Dimas, Ayana, Toyib dan Diky nampak duduk di ruang keluarga yang tidak terlalu besar di rumah kontrakan mereka..
"Ay, gimana hasil investigasi kamu?"tanya Diky tidak sabar.
"Emm.. gimana, ya ?"sahut Ayana seraya mengernyitkan keningnya.
"Ye ilee.. Ay! Babang nanya, kamu malah balik nanya. Terus Babang harus jawab apa?"ujar Diky menghela napas panjang.
"Nggak sabar amat babang. Udah ngebet pakai banget, ya?"ledek Ayana terkekeh kecil seraya bergelayut di lengan Dimas.
"Terserah kamu mau bilang apa. Yang pasti, babang nggak mau jadi JoDi, alias jomblo abadi. Kamu sama Dimas, Toyib sebentar lagi mau nikah, masa iya, babang sendiri yang jadi jomblo abadi. Sendal aja berpasangan, truk bergandengan, masa iya, babang yang manusia sendirian,"sahut Diky kembali menghela napas panjang.
"Ye ilee.. sampai segitunya,"sahut Ayana kembali terkekeh.
"Maklum aja, Ay! Lagi datang bulan, jadi agak sensi,"sahut Toyib kemudian ikut terkekeh.
"Kamu pikir aku perempuan apa?"ketus Diky bersungut-sungut.
"Sudah! Sudah! Kalian ini malah meledek Diky,"sahut Dimas,"Gimana, Ay? Apa kira-kira kalau Diky melamar Wulan bakal di terima?"tanya Dimas yang sedari tadi hanya diam.
"Sepertinya, sih, bapak dan ibu suka sama babang. Bahkan sebelum aku kasih tahu kalau babang adalah detektif terkenal yang enggan menunjukkan wajahnya di hadapan publik. Setelah mereka tahu siapa babang, bapak, sih, setuju. Karena bapak lebih suka jika putrinya menjalani hubungan yang serius dari pada pacaran yang nggak sehat. Menurut bapak, pacaran jaman sekarang itu banyak yang enggak sehat. Karena gaya pacaran anak jaman sekarang itu kebanyakan melakukan hal-hal di luar batas wajar. Salah satunya berhubungan suami-istri yang seharusnya tidak dilakukannya saat pacaran. Ibu sendiri juga suka sama babang, dan yang pastinya ibu akan menurut pada keputusan bapak. Tapi.. kalau Wulan... dia merasa minder dan pesimis menjalin hubungan dengan babang, apalagi setelah tahu kalau babang detektif terkenal,"ujar Ayana panjang lebar sesuai hasil investigasi nya.
"Berarti, masalahnya ada di Wulan?"tanya Dimas setelah mendengar penuturan dari Ayana.
"Aku rasa begitu, kak,"sahut Ayana.
"Tapi, Ay, menurut kamu, Wulan suka nggak sama Dimas?"tanya Toyib.
"Aku nggak tahu, bang. Tapi, dia seperti malu-malu gitu, kalau pada membahas soal babang Diky,"sahut Ayana sesuai dengan pengamatannya.
"Kalau reaksinya seperti itu, berarti dia suka sama Diky. Sebenarnya, bukan masalah besar jika Wulan belum menyukai Diky. Yang penting, Wulan tidak membenci Diky, dan kedua orang tuanya suka pada Diky. Kalau di pepet terus, lama-lama juga suka. Sebenarnya menghadapi dan mengambil hati cewek itu mudah. Asal mau mengerti, memahami dan perhatian sama mereka, mereka pasti akan suka sama kita. Apalagi kalau sudah berkeluarga, suami harus pintar-pintar menyenangkan istri. Ingat! Jantung keluarga itu adalah istri. Jika istri tidak bahagia, rumah akan terasa seperti neraka. Namun jika istri bahagia, rumah akan terasa seperti syurga,"ujar Toyib panjang lebar.
"Setuju! Seratus buat Abang!"sahut Ayana antusias.
__ADS_1
"Welehh.. sudah kayak Pak ustadz aja
kamu, Yib.. Yib. Aku heran sama kamu, Yib. Pemikiran kamu begitu dewasa dan bijaksana, tapi kenapa kamu bisa jadi duda?"celetuk Diky tanpa dosa.
"Itu karena mantan istri ku tidak puas dengan penghasilan ku. Dulu dia sendiri yang menyuruh aku pergi ke kota agar bisa mencari rezeki yang lebih banyak. Tapi saat aku tinggal merantau, dia malah tergoda dengan pria lain yang lebih mapan dari pada aku. Dia merasa tidak punya masa depan yang cerah jika terus hidup bersama aku. Jadi dia memilih berpisah dari aku dan menikah dengan pria lain yang menurut dia lebih mapan dan punya masa depan lebih baik dari pada aku"ujar Toyib apa adanya.
"Kamu nggak patah hati karena istri kamu minta pisah dengan kamu dan menikah dengan orang lain, Yib?"tanya Diky lagi.
"Tentu saja aku sempat patah hati dan kecewa. Karena aku manusia biasa yang punya hati dan juga perasaan. Apalagi aku memang mencintai dia. Tapi akhirnya aku menanggapi semuanya dengan santai. Yakini saja, bahwa apa yang terjadi pada kita itu adalah yang terbaik buat kita. Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya. Apa yang diambil dari kita, berarti itu tidak baik bagi kita. Jika kita berpikir seperti itu, maka kita akan tenang dalam menjalani hidup,"ujar Toyib dengan gayanya yang santai.
"Wooah..! Aku benar-benar salut sama kamu, Yib! Usia kamu memang lebih muda dari aku dan Dimas, namun nyatanya, pemikiran kamu lebih dewasa dari usia kamu,"puji Diky sesuai dengan kata hatinya.
"Jangan terlalu memuji! Aku takut nanti terbang ketinggian terus di sambar pesawat. Mati, dong!"sahut Toyib kemudian terkekeh.
"Bisa aja kamu,"sahut Diky kemudian ikut terkekeh.
"Jadi, setelah tahu tentang Wulan dan keluarganya, apa rencana kamu, Dik?"tanya Dimas kembali pada pembicaraan awal.
"Menurut kalian gimana? Aku tidak terlalu mengerti dengan hal semacam ini,"sahut Diky jujur adanya.
"Suka,"sahut Diky mantap.
"Ingin pacaran dulu, tunangan dulu, apa langsung nikah?"tanya Dimas yang juga terlihat serius.
"Kalau pacaran, aku jelas-jelas tidak punya banyak waktu. Kalau langsung nikah, takutnya Wulan dan keluarganya tidak setuju, mengingat kami belum terlalu saling mengenal. Walaupun sebenarnya, aku ingin langsung nikah saja. Biar pacarannya halal, dan bebas mau ngapain aja,"sahut Diky yang awalnya serius, tapi akhirnya malah membuat Dimas, Ayana dan Toyib memutar bola mata malas.
"Itu, sih, artinya kamu sudah kebelet,"cibir Toyib yang membuat Ayana menahan tawa.
"Ini gara-gara otakku sudah terkontaminasi oleh Ayana dan Dimas,"cetus Diky.
"Dih, kenapa babang jadi menyalahkan kami?"protes Ayana tidak terima disalahkan Diky.
"Siapa suruh, kamu tinggal bersama kami?"sahut Dimas.
__ADS_1
"Itu, sih, dasar kamu nya aja yang udah pengen. Kenapa jadi menyalahkan mereka? Aku yang tinggal sama mereka lebih dulu dari kamu aja, biasa aja,"imbuh Toyib.
"Iya.. iya.. aku memang udah kepengen, kebelet kawin,"sahut Diky membuang napas kasar.
"Tunggu! Tunggu! Sebenarnya kamu pengen nikah apa pengen kawin, sih?!"tanya Toyib memperjelas keinginan Diky.
"Dua-duanya,"sahut Diky cepat.
"Lah, kalau dua-duanya, berarti sudah ngebet pakai banget, dong!"sahut Toyib kemudian terkekeh.
"Iya. Aku udah kebelet, pakai banget. Puas?!"sambar Diky.
"Ye ilee.. yang udah kebelet pakai banget!"ledek Toyib kembali terkekeh.
"Kalau begitu, apa sekarang rencana kamu?"tanya Dimas serius.
"Aku pengen langsung lamar Wulan, kalau bisa, langsung nikah aja,"sahut Diky serius.
"Menurut aku itu bagus. Tapi, setelah melamar, sebaiknya kamu beri mereka waktu untuk berpikir. Masalahnya, kamu bekerja, 'kan, tidak tentu waktu. Bisa berangkat kapan aja, dan pulang kapan aja. Dan kemungkinan, kamu juga tidak memiliki banyak waktu untuk Wulan. Jika Wulan setuju menikah dengan kamu, maka dia harus mengerti dan memaklumi keadaan kamu. Jangan sampai setelah menikah nanti, Wulan mengeluh tentang keadaan kamu dan menjadi masalah dalam rumah tangga kalian nanti. Karena itu, menurut aku, kamu harus menjelaskan semuanya itu pada Wulan dan kedua orang tuanya. Biarkan mereka berpikir dan mempertimbangkan semuanya,"ujar Dimas panjang lebar.
"Aku setuju dengan Dimas,"sahut Toyib.
"Aku juga setuju,"sahut Ayana.
...π"Jika tak ingin kecewa, maka jangan terlalu berharap mendapat yang sempurna....
...Jika tidak mau terluka, maka jangan terlalu mencinta....
...Jangan terlalu senang akan pujian, karena sesungguhnya, pujian adalah sebuah ujian."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued