SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
59. Jika Apa?


__ADS_3

Setelah beberapa menit keluar dari kamar, Dimas kembali masuk ke dalam kamar. Menghampiri Ayana yang masih duduk meluruskan kakinya di tepi ranjang.


"Sudah sore. Kamu mau mandi nggak?"tanya Dimas seraya menghampiri Ayana. Bersikap biasa saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


"Mau, kak,"sahut Ayana beranjak turun dari ranjang.


"Apa masih sakit? Jika masih, kita panggil Mak Er saja,"tawar Dimas.


"Tidak! Jangan panggil Mak Er. Ini sudah mendingan, kok,"ucap Ayana cepat berusaha untuk berdiri walaupun kakinya lumayan nyeri. Mengingat betapa sakitnya saat kakinya di urut, Ayana benar-benar jera untuk diurut.


"Sudah, jangan di paksakan. Biar aku gendong,"ujar Dimas, kemudian menggendong Ayana ke kamar mandi.


"Kak.. baju ku..."


"Mandilah! Nanti aku ambilkan baju kamu,"ucap Dimas memotong kata-kata Ayana.


Lima belas menit kemudian, Ayana sudah selesai mandi dan Dimas pun kembali menggendong Ayana ke kamar.


"Eh, kenapa ini gendong-gendongan? Jangan-jangan... Kalian baru selesai main, ya?"duga Toyib yang baru saja pulang, menaik turunkan sebelah alisnya dengan senyuman penuh arti. Dimas terlihat geram melihat tingkah Toyib itu, sedangkan Ayana nampak mengernyitkan keningnya.


"Main apaan, bang?"tanya Ayana.


"Buka-bukaan, gesek-gesek.. Auwh! Sakit Dim!"pekik Toyib tidak bisa lagi melanjutkan kata-kata yang ingin diucapkannya, karena Dimas menginjak kakinya.


"Kaki Ayana terkilir. Mulut itu disaring!Jangan bicara macam-macam!"ketus Dimas bersungut-sungut melangkah masuk ke dalam kamar.


"Memangnya santan apa, pakai di saring segala,"gerutu Toyib,"Kenapa bisa sampai terkilir?"tanya Toyib mengikuti Dimas masuk ke dalam kamar.


"Jatuh dari motor,"sahut Dimas mendudukkan Ayana di tepi ranjang.


"Sudah di urut belum?"tanya Toyib menatap kaki Ayana yang terlihat sedikit bengkak. Sedangkan Dimas mengambil sisir untuk menyisir rambut Ayana.


"Sudah, bang,"sahut Ayana.


"Kamu pengen makan apa? Biar Abang belikan,"tawar Toyib.


Ayana menatap Dimas yang duduk di sampingnya sambil menyisir rambutnya. Seolah bertanya pada Dimas.


"Katakan saja pengen beli apa. Biar dibelikan Toyib,"sahut Dimas yang ditatap Ayana. Masih menyisir rambut Ayana.


"Sate, bang!"ucap Ayana antusias.


"Dim, Ayana pengen sate,"ujar Toyib menaik turunkan sebelah alisnya menggoda Dimas.

__ADS_1


"Itu otak di benerin dulu, biar nggak gesrek,"ketus Dimas yang mengerti maksud kata-kata Toyib yang ujung-ujungnya mengarah ke urusan ranjang. Tapi Toyib malah tertawa.


"Abang sama kakak kenapa, sih?"tanya Ayana yang tidak mengerti dengan pembicaraan kedua pria itu.


"Nggak usah di dengerin, Ay! Abang kamu itu memang rada-rada, kurang se- ons,"sahut Dimas meletakkan sisir kembali di tempatnya.


"Sembarangan! Kamu pikir aku nggak waras apa?"protes Toyib.


"Sudah, nggak usah banyak bacot! Beli sate sana!"ketus Dimas yang merasa kesal pada Toyib.


"Oke.. oke. Mau sate apa? Sate kambing, sate ayam, apa sate lilit?"tanya Toyib kali ini serius.


"Kambing sama ayam,"sahut Ayana.


"Oke. Abang belikan buat adik Abang tersayang,"sahut Toyib kemudian keluar dari kamar Dimas dan Ayana.


"Kak, main apa, sih, yang dimaksud Abang?"tanya Ayana yang masih penasaran.


"Nggak usah di dengerin kata-kata abang kamu itu! Dia kalau bicara memang suka sembarangan,"ujar Dimas dan Ayana pun diam dengan rasa penasaran yang tidak terjawab.


Toyib, Dimas dan Ayana makan malam bersama. Dengan lauk sate yang di beli Toyib. Ayana nampak lahap memakan sate. Sedangkan Dimas hanya tersenyum tipis melihat Ayana makan dengan lahap.


"Pelan-pelan makannya! Masih banyak. Mulutmu sampai belepotan seperti itu,"ujar Dimas mengusap sudut bibir Ayana yang belepotan sambal dengan jari jempolnya kemudian menjilat jempolnya sendiri.


"Makanlah!"ucap Dimas tersenyum tipis menepuk pelan kepala Ayana. Mengalihkan pandangannya dari bibir Ayana.


"Eh.. iya,"sahut Ayana gugup, kembali makan,"𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙘𝙞 𝙖𝙠𝙪?"gumam Ayana dalam hati.


"Nanggung banget, Dim. Kenapa nggak dijilat langsung di bibirnya saja,"ujar Toyib yang dari tadi memperhatikan sepasang suami istri itu. Dengan santai memakan sate. Ayana menunduk malu mendengar kata-kata Toyib, mengingat Dimas yang menciumnya tadi sore.


"Itu mulut remnya blong, apa? Kalau ngomong suka labas,"kesal Dimas.


"Aihh.. pengantin baru sensi banget. Belum di servis itu mesin, mangkanya rada-rada rewel,"ujar Toyib membuang napas kasar seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Abang sama kakak ngomong apa, sih? Akhir-akhir ini, aku nggak nyambung sama pembicaraan kalian,"ujar Ayana dengan wajah bingungnya.


Toyib malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi bingung Ayana yang menurutnya lucu. Sedangkan Dimas mati-matian menahan diri untuk tidak menyentuh Ayana saat melihat ekspresi bingung Ayana yang menurut Dimas sangat menggemaskan. Ingin rasanya Dimas mencubit dan menciumi wajah Ayana yang menggemaskan itu.


Selesai makan malam, Ayana memilih masuk ke dalam kamarnya memainkan ponselnya. Sedangkan Dimas dan Toyib sibuk melipat pakaian dagangan mereka. Mereka juga mengganti plastik barang yang sudah buram dan tutupnya tidak merekat lagi.


"Dim!"panggil Toyib seraya melipat barang dagangan nya.


"Hemm,"sahut Dimas yang juga masih melipat barang dagangan nya.

__ADS_1


"Maaf jika pertanyaan ku ini terlalu pribadi. Tapi aku sangat penasaran. Apa kamu dan Ayana belum pernah... melakukan.."


"Ayana masih sekolah, Yib. Aku ingin dia menyelesaikan sekolah nya dulu,"ucap Dimas memotong kata-kata Toyib.


"Pantesan dia masih polos banget,"ujar Toyib kemudian terkekeh,"Dim, selama ini kita sudah mencoba berbagai macam cara untuk mengobati trauma Ayana. Aku pikir, mungkin dia akan melupakan traumanya itu jika..."Toyib nampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Jika apa?"tanya Dimas penasaran.


"Mungkin dengan membuat kenangan yang tidak terlupakan saat akan turun hujan akan membuat Ayana melupakan traumanya,"jawab Toyib.


"Kenangan tak terlupakan? Kenangan apa maksud kamu?"tanya Dimas nampak tidak mengerti.


"Melakukan nya saat hujan mungkin akan membuat Ayana bisa melupakan traumanya. Kamu tahu, 'kan? Saat kita melakukan hubungan suami-istri, kita akan melupakan segalanya. Jangan bilang, seumur hidup kamu belum pernah melakukannya sekalipun!"ujar Toyib menatap wajah Dimas curiga,"Kamu masih perjaka, ya?"tanya Toyib yang melihat ekspresi Dimas.


"Berisik! Lipat saja barang dagangan kamu itu!"ketus Dimas yang merasa malu karena tebakan Toyib memang benar.


Toyib tertawa terbahak-bahak menatap Dimas,"Ternyata masih perjaka,"ujar Toyib susah payah menahan tawanya,"Cobalah sekali! Aku yakin, kamu bakalan ketagihan,"goda Toyib.


"Dasar duda gatel!"umpat Dimas yang benar-benar kesal dengan Toyib yang terus menerus menggoda nya.


Toyib menghentikan tawanya lalu memasang wajah serius,"Aku serius, Dim. Mungkin dengan melakukannya saat hujan, Ayana akan melupakan traumanya. Karena kenangannya saat hujan akan berubah dengan kenangan tentang kalian berdua. Selama ini, kita beruntung selalu ada saat dia mengalami trauma.Bayangkan, bagaimana jika Ayana mengalami traumanya saat berada di luar rumah,"ujar Toyib membuat Dimas terdiam. Apa yang dikatakan oleh Toyib memang ada benarnya.


Dua orang pria itu menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara angin yang mulai berhembus kencang. Sepertinya akan turun hujan.


"Dim, masuklah temani Ayana!"pinta Toyib dengan wajah serius.


"Hum,"sahut Dimas beranjak menuju kamarnya.


"Sampai kapan Ayana harus mengalami trauma seperti itu,"gumam Toyib menghela napas panjang, menatap Dimas yang bergegas ke kamarnya.


"Ay!"panggil Dimas menghampiri Ayana yang sudah terlihat tegang karena mendengar suara angin yang mulai berhembus kencang.


"Kak!"panggil Ayana langsung memeluk Dimas yang baru saja duduk di sampingnya.


"𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙏𝙤𝙮𝙞𝙗?"gumam Dimas dalam hati.


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2