SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
68. Terimalah


__ADS_3

"Ay!"seru Dimas memotong kata-kata Ayana. Pria itu melihat istrinya sudah mulai tersulut emosi. Sedangkan Ayana menundukkan kepalanya dengan wajah suram setelah mendengar seruan suaminya.


"Maaf, pa, ma, kak! Aku akan mendidik Ayana lebih baik lagi,"ucap Dimas tenang dan terlihat berwibawa. Tidak ada kemarahan sedikit pun di wajah pria tampan itu, walaupun Nando dan Hilda jelas-jelas menghinanya.


"Apa kamu mencuci otak putriku, hingga dia begitu penurut padamu?"ketus Hilda yang belum bisa menerima Dimas sebagai menantunya.


"Sudah! Cukup, ma!"sergah Geno yang merasa kesal pada Hilda dan Nando yang selalu menyulut perdebatan.


"Kalau begitu, kami pamit pulang, pa, ma, kak,"ucap Dimas sopan. Tidak ingin perdebatan di rumah itu berlanjut. Dimas menyalami dan mencium punggung tangan Geno, namun saat akan menyalami Hilda, perempuan paruh baya itu melipat kedua tangannya di depan dada. Sedangkan Ayana hanya menyalami Geno, kemudian keduanya meninggalkan ruangan makan itu.


"Apa kalian tidak bisa, jika tidak mencari keributan dengan Ayana?"sergah Geno saat Dimas dan Ayana sudah meninggalkan ruangan makan itu.


"Aku malu, pa, punya ipar kere seperti dia,"sahut Nando dengan wajah kesal.


"Memangnya tunangan kamu itu orang kaya apa?"tanya Geno menohok, membuat Nando terdiam. Pasalnya Bening juga berasal dari kalangan menengah ke bawah.


"Tapi, Bening itu bekerja sebagai sekretaris, pa. Bukan sales pakaian keliling seperti suami Ayana itu. Bayangkan, bagaimana malunya mama jika teman-teman sosialita mama tahu jika menantu kita adalah sales pakaian keliling,"ujar Hilda dengan wajah kesal.


"Ingat, ma! Kita dulu juga bukan orang kaya. Kita merintis usaha kita dari nol. Jadi jangan menghina Dimas seperti itu!"ucap Geno mengingatkan.


"Mama ingat jika dulu kita bukan orang kaya. Mama juga ingat bagaimana orang-orang menghina kita karena kita bukan orang kaya. Karena itu, mama ingin anak-anak kita menikah dengan orang kaya, syukur-syukur bisa membantu kita agar bertambah kaya. Mama tidak ingin anak-anak kita hidup menderita seperti kita dulu,"sahut Hilda yang dulunya memang sering di hina dan direndahkan orang lain karena Hilda berasal dari kalangan menengah ke bawah.


"Papa mengerti maksud mama. Tapi, untuk apa kita memaksakan kehendak kita? Sebelum pergi ke rumah Dimas kemarin, papa menemui psikolog yang menangani trauma Ayana. Kata psikolog itu, Ayana mengalami trauma karena hampir mengalami pelecehan. Ayana jadi takut bersosialisasi dengan pria selain orang-orang terdekatnya. Ayana akan histeris jika mendengar suara hujan, kilat, petir dan juga angin kuat. Kita sudah melihatnya sendiri waktu kita berada di rumah Dimas. Walaupun Dimas bukan orang kaya, tapi dia sangat menyayangi dan bertanggung jawab pada Ayana. Dia telah membuat Ayana banyak berubah. Dia menjaga Ayana dengan baik. Rutin membawa Ayana ke psikolog, bahkan sebelum dia menikahi Ayana. Sedangkan kita yang merupakan orang tua kandungnya, sama sekali tidak tahu jika Ayana mengalami trauma. Jadi, biarkan Ayana bahagia dengan pilihannya. Dan kamu Nando, berhenti menghina dan mencari keributan dengan adikmu! Bahkan pria asing yang bernama Toyib itu lebih menyayangi Ayana dari pada kamu. Terimalah Dimas! Bagaimana pun, saat ini Dimas adalah bagian dari keluarga kita,"ujar Geno panjang lebar, menohok di hati Hilda dan Nando.


Dimas dan Ayana mengambil barang-barang mereka di kamar Ayana. Keduanya meninggalkan rumah itu menggunakan taksi online yang di pesan oleh Dimas. Di dalam taksi, Ayana hanya diam dengan wajah sedihnya.


"Sudah! Jangan dipikirkan kata-kata mama dan kakak. Mungkin mereka masih belum terbiasa dengan aku,"ujar Dimas menggenggam tangan Ayana dengan lembut. Namun Ayana malah memeluk Dimas kemudian menangis di dada bidang pria itu. Dimas menghela napas panjang, memeluk Ayana dan mengelus kepala gadis itu.


"Sudah, jangan menangis lagi! Matamu akan menjadi bengkak jika kamu terus menangis,"ujar Dimas masih memeluk Ayana hingga akhirnya gadis itu terdiam.


Dimas menatap Ayana yang ternyata tertidur setelah lelah menangis. Pria itu merebahkan kepala Ayana di pangkuannya dan mengelus lembut rambut Ayana. Saat mereka sudah tiba di rumah kontrakan mereka, pria itu menggendong Ayana yang masih tertidur ke dalam kamar mereka dan membaringkan Ayana di atas ranjang.

__ADS_1


"Ayana kenapa, Dim?"tanya Toyib saat Dimas keluar dari kamarnya.


"Mungkin tadi bangun terlalu pagi, jadi pas di mobil tadi ketiduran,"sahut Dimas yang tidak ingin menceritakan tentang masalah mama dan kakak iparnya yang sudah membuat Ayana sedih.


"Ohh.. aku kira sakit,"sahut Toyib.


"Kamu mau berangkat kerja?"tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.


"Tidak. Aku ingin pergi ke dealer motor,"sahut Toyib.


"Jadi, pengen beli motornya?"tanya Dimas.


"Iya. Aku sudah capek jalan kaki keliling kampung,. Apalagi waktu cuaca sedang panas-panasnya. Berjalan membawa barang yang begitu berat di tengah cuaca panas membuat aku sangat lelah karena terlalu banyak berkeringat. Sepertinya saat berjalan di cuaca panas, hanya dari gigi saja yang enggak keluar keringat,"sahut Toyib.


"Kamu bisa saja,"sahut Dimas terkekeh.


"Kayak kamu tidak mengalami saja,"sahut Toyib,"Apa kamu mau ikut ke dealer?"tanya Toyib.


"Serius?"tanya Toyib yang tidak pernah mendengar Dimas berniat membeli motor.


"Serius lah,"sahut Dimas.


"Iya, biar bisa bonceng istrimu yang polos itu,"ujar Toyib mengulum senyum.


"Jangan meledek aku lagi,"ketus Dimas.


"Iya..iya. Susah memang, kalau nggak dapat-dapat jatah. Bawaannya sensi melulu,"celetuk Toyib.


"Ya sudah, ayo berangkat!"ajak Dimas.


Dua orang sahabat itu akhirnya pergi ke sebuah dealer, meninggalkan Ayana yang masih terlelap. Pergi ke sebuah dealer motor. Kedua orang pria itu membeli motor matic gambot, mengingat postur tubuh mereka yang tinggi. Tidak nyaman jika memakai motor matic biasa. Setelah selesai memilih dan melakukan transaksi, akhirnya kedua pria itu kembali ke kontrakan mereka.

__ADS_1


Baru saja mereka akan masuk ke dalam rumah, terdengar suara seorang wanita memanggil mereka.


"Nak Dimas! Nak Toyib! Ibu ada perlu dengan kalian,"panggil seorang wanita yang tidak lain adalah Bu Nur. Wanita paruh baya yang dimintai tolong oleh Dimas dan Toyib untuk mengantar dan menjemput Ayana sekolah selama ini.


"Kakak! Abang!"panggil Ayana yang baru saja bangun.


Kedua pria itu saling menatap saat mendengar suara Ayana dari dalam rumah.


"Mari masuk dulu, Bu! Kita bicara di dalam!"ajak Dimas, sedangkan Toyib membuka pintu yang mereka kunci dari luar.


"Iya, nak,"sahut Bu Nur.


Selama ini tidak ada seorang perempuan pun yang dipersilahkan kedua pria itu masuk ke dalam rumah mereka. Setiap ada tamu perempuan, mereka selalu mempersilahkan mereka untuk bicara di teras rumah mereka. Hal itu mereka lakukan agar tidak mengundang fitnah, mengingat mereka berdua adalah laki-laki. Namun karena kali ini ada Ayana, kedua pria itu pun mempersilahkan Bu Nur masuk.


"Eh, ada Bu Nur,"ucap Ayana yang baru masuk ke ruangan tamu.


"Ini.. Ayana?"tanya Bu Nur, menatap wajah Ayana tanpa berkedip.


Selama ini Bu Nur tidak pernah melihat wajah Ayana, karena Ayana selalu memakai masker. Karena itulah, Bu Nur tampak terkejut melihat wajah Ayana yang ternyata sangat cantik. Walaupun Ayana baru saja bangun dari tidur dengan rambut yang agak acak-acakan, tapi gadis itu tetap saja terlihat cantik.


"Iya, Bu. Aku Ayana,"sahut Ayana tersenyum manis.


"Cantik banget. Pantesan tidak diijinkan keluar sendirian oleh nak Dimas dan nak Toyib,"sahut Bu Nur. Tidak menyangka jika gadis yang sudah diantar dan dijemput nya setiap hari itu ternyata sangat cantik.


"Oh iya, kata ibu tadi, ibu ada perlu. Ada perlu apa, ya, Bu?"tanya Dimas.


...🌸❤️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2