SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
101. Buru-buru


__ADS_3

Ayana melangkahkan kakinya masuk ke pekarangan rumah kedua orang tuanya dengan perasaan malas. Enggan rasanya menginjakkan kakinya ke dalam rumah yang terlihat megah itu. Ayana lebih bersemangat jika pulang ke rumah kontrakan tempat tinggalnya bersama Dimas dan Toyib. Dua orang pria yang menyayangi dirinya dengan cara yang berbeda, tapi membuat Ayana bahagia. Yang satu menyayangi dirinya sebagai pasangan hidup. Dan yang satunya menyayangi dirinya sebagai seorang adik.


Sudah nyaman rasanya tinggal bersama kedua pria yang jauh lebih dewasa darinya itu. Walaupun saat ini mereka hanya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang terdiri dari dua kamar tidur lengkap dengan kamar mandi di dalamnya, ruangan tamu, ruangan keluarga, ruangan makan, dapur dan kamar mandi yang ada di dapur. Lebih bagus dan lebih besar sedikit dari kontrakan mereka yang lama.


Ayana melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan melihat papanya yang menggunakan kursi roda baru saja keluar dari dapur.


"Pa!"sapa Ayana seraya menghampiri Geno, kemudian mencium punggung tangan Geno.


"Baru pulang?"tanya Geno.


"Iya,"sahut Ayana.


"Ya sudah. Ganti baju dulu sana, sudah itu makan,"ujar Geno dengan seulas senyum.


"Iya, pa. Kalau begitu, aku ke kamar dulu,"pamit Ayana.


"Hum,"sahut Geno. Pria itu menatap putrinya dengan seulas senyum di bibirnya,"Tidak aku sangka, Ayana nekat menikah dengan pria yang benar-benar berkualitas. Pria yang kami anggap tidak pantas untuk Ayana. Sekarang aku malah merasa putriku yang kurang pantas bersanding dengan pria sesempurna Dimas. Ayana sangat beruntung bisa menikah dengan Dimas,"gumam Geno masih dengan senyuman di bibirnya.


Ayana melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai dua, dimana kamarnya berada. Saat ini tidak ada yang menempati kamar di lantai dua itu selain dirinya dan Dimas. Karena semenjak Nando pulang dari rumah sakit, Nando pindah ke kamar yang ada di lantai satu.


Karena cuaca hari ini begitu panas, Ayana merasa gerah dan tubuhnya lengket oleh keringat. Gadis itu membersihkan dirinya di bawah kucuran air shower. Setelah merasa tubuhnya lebih segar, Ayana menyudahi aktivitas mandinya. Gadis itu kemudian turun dari lantai dua menuju dapur.


"Bik, di lemari es ada bahan masakan apa saja?"tanya Ayana pada pelayan yang biasanya bertugas memasak. Ayana masih menikmati makan siangnya yang kesorean.


"Semua bahan masih lengkap, non. Tadi pagi, Tuan menyuruh saya untuk membeli semua bahan masakan yang habis,"sahut pelayan itu.


"Ada kelapa nggak, Bik?"tanya Ayana seraya mengunyah makanannya.


"Ada, non. Ada yang sudah tua, ada pula yang agak sedikit muda,"sahut pelayan itu.

__ADS_1


"Coba aku lihat dulu,"sahut Ayana setelah selesai makan. Gadis itu berjalan ke arah lemari es dan memeriksa rak bagian sayur dan juga daging.


"Apa ada bahan masakan yang nona inginkan tapi nggak ada di dalam sini, non? Kalau ada yang kurang, biar saya belikan,"tanya pelayan itu.


"Lengkap, kok, Bik. Aku akan mulai memasak satu jam lagi saja, Bik. Soalnya aku akan memasak beberapa menu masakan. Nanti tolong bantuin, ya, Bik!"pinta Ayana saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.


"Baik, non. Bibi siap bantu,"sahut pelayan itu antusias.


Biasanya Dimas akan pulang sekitar pukul enam sore. Dan Ayana ingin sebelum Dimas pulang, dirinya sudah mandi. Tidak ingin menyambut suaminya tercintanya dengan tubuh yang bau masakan.


Ayana kembali naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Duduk di headboard ranjang seraya memainkan gadget nya. Satu jam kemudian, Ayana keluar dari dalam kamarnya dan mulai memasak di bantu pelayan.


"Kita mau masuk apa, non?"tanya pelayan yang biasanya membantu Ayana memasak.


"Ayam bakar, ikan bakar, urap, perkedel kentang, bakwan jagung, dan jangan ketinggalan kerupuk udangnya, ya, Bik!"ujar Ayana.


"Siap, non!"sahut pelayan itu.


"Baik, non,"sahut pelayan itu.


Keduanya pun mulai memasak. Saat waktu menunjukkan pukul enam sore, adonan bakwan jagung dan perkedel sudah siap. Ayam dan ikan tinggal di bakar dan bumbu urap juga sudah jadi. Tinggal mencampur bumbu urap dengan sayuran. Setelah itu Ayana meminta pelayan itu melanjutkan masakannya dan memilih untuk membersihkan diri.


Di sisi lain, Dimas baru saja menyelesaikan pekerjaan nya. Pria tampan itu membereskan mejanya dan bersiap untuk pulang. Saat keluar dari gedung yang menjulang tinggi itu, Dimas melihat cuaca yang terlihat mendung.


"Sudah beberapa hari ini cuaca sangat panas. Jangan-jangan mau turun hujan,"gumam Dimas. Dengan cepat pria itu menuju parkiran dan mengendarai motornya dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya. Sampai saat ini, Ayana masih trauma dengan hujan, angin kuat, dan kilat serta petir. Dimas tidak ingin trauma Ayana kambuh tanpa ada orang yang menenangkannya. Karena hal itu akan membuat trauma Ayana semakin parah.


"Ada apa dengan Tuan Dimas? Kenapa dia seperti buru-buru sekali?"gumam Pak Adit yang tidak pernah melihat Dimas mengendarai motornya dengan laju yang lumayan cepat dari biasanya seperti saat ini.


Dimas terus mengendarai motornya menembus kemacetan. Langit yang semakin menghitam karena tertutup awan hitam membuat Dimas semakin khawatir.

__ADS_1


"Argkhh! Sial! Sial!"pekik Dimas saat menyadari ban motornya kempes dan terpaksa harus menepi.


Dimas mengedarkan pandangannya ke sekitar tempatnya berada dan melihat sebuah bengkel motor. Dimas pun bergegas menuju bengkel motor itu.


"Pak, ban motor saya kempes. Sepertinya bocor. Bisa tolong ditambahkan, Pak!"pinta Dimas terlihat gusar karena melihat cuaca yang sepertinya akan turun hujan.


Melihat wajah Dimas yang gusar dan terlihat buru-buru, tanpa berkata apapun, pemilik bengkel itupun melihat ban motor Dimas.


"Wah.. bannya sobek, nak. Sudah tidak bisa ditambal lagi,"sahut pemilik bengkel itu.


"Ya sudah, kalau begitu diganti dengan yang baru saja, Pak,"pinta Dimas.


"Stok ban untuk ban belakang kami habis, nak,"sahut pemilik bengkel itu dengan ekspresi tidak berdaya.


"Kalau begitu, saya titip motor saya di sini dulu, ya, pak? Besok saya ambil,"ujar Dimas kemudian langsung keluar dari bengkel itu tanpa menunggu jawaban dari sang pemilik bengkel.


"Sepertinya buru-buru sekali,"gumam pemilik bengkel itu menatap Dimas yang sudah menjauh.


Dimas mencoba mencari ojek online untuk pulang, tapi tak kunjung mendapatkannya. Mencari taksi online pun tak kunjung dapat. Sedangkan langit semakin terlihat gelap.


"Kenapa sulit sekali mendapatkan ojek online ataupun taksi online?"gumam Dimas yang merasa semakin gusar.


Dimas masih fokus dengan layar handphonenya, dan tidak memperhatikan sekitarnya. Saat ini Dimas hanya ingin cepat pulang. Hingga sebuah mobil berhenti di depan Dimas berdiri. Seorang wanita yang memakai sepatu dengan heels yang tidak terlalu tinggi turun dari mobil itu.


"Dim, sedang apa kamu di sini?"


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2