
Di rumah sederhana Pak Parman dan Bu Lastri, nampak sepasang suami istri itu sedang duduk di ruang tamu bersama Wulan. Seperti biasa, sore itu Pak Parman baru saja pulang dan membawa makanan. Saat ini mereka sedang memakan kue klepon yang di bawa oleh Pak Parman.
Kue Klepon dari tepung beras ketan berbentuk bola-bola berwarna hijau berselimutkan parutan kelapa. Berisi gula merah yang akan lumer di mulut saat di gigit.
"Kurang rame, ya, kalau nggak ada Ayana,"ujar Pak Parman seraya menatap anak dan istrinya yang sedang makan kue klepon.
"Iya,. Pak. Kurang seru kalau cuma ada kami berdua di rumah,"sahut Bu Lastri sambil menjilat jari jempolnya yang terkena lelehan gula merah dari kue klepon.
"Aku sudah menghubungi Ayana beberapa kali, tapi handphone nya tidak aktif, Pak,"sahut Wulan dengan mulut penuh oleh kue klepon.
"Kita jadi tidak tahu bagaimana kabar nya,"ujar Pak Parman menghela napas panjang seraya melepaskan kemeja yang dipakainya karena merasa kepanasan. Hari itu memang terasa panas sekali. Mungkin malam nya akan turun hujan.
"Ibu jadi kepikiran sama anak itu. Dia itu sepertinya kurang perhatian. Ibu melihat dia itu seperti terharu setiap kali kita memberi sedikit perhatian padanya,"ujar Bu Lastri kembali mengambil kue klepon.
"Bapak juga merasa seperti itu, Bu,"sahut Pak Parman mengambil sapu tangan dari saku celananya lalu mengelap peluh di wajah, leher, dada, bahkan mengelap peluh di ketiaknya dengan sapu tangan itu.
"Ih, bapakkk! Jorok banget, sih!"tegur Wulan.
"Walaupun keringatan, bau keringatnya harum, kok,"ucap Pak Parman yang malah mencium sapi tangan yang baru saja di lapnya di ketiak nya, membuat Wulan dan Bu Lastri bergidik jijik.
"Menurut Ayana, sebelum dia menginap di rumah kita, dia sudah pernah menginap di beberapa rumah teman-teman kami. Tapi kata Ayana, hanya di sini dia merasa betah dan nyaman. Orang tua Ayana jarang dirumah, dan mereka juga jarang berkumpul ataupun sekedar makan bersama. Mereka hanya rutin mengirim uang ke rekening Ayana. Bahkan yang biasa mengambilkan raport Ayana adalah tukang kebun atau security di rumah Ayana,"ujar Wulan sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Ayana padanya.
"Kasihan sekali,"ucap Bu Lastri yang sudut bibir nya ada parutan kelapa dari kue klepon .
"Padahal Ayana itu anak yang baik dan selalu ceria. Bapak takut, Ayana terjerumus dalam pergaulan bebas jika sampai salah bergaul,"ujar Pak Parman merasa khawatir pada Ayana.
"Apa dia di kurung orang tuanya, ya pak. Soalnya handphonenya sudah beberapa hari nggak aktif,"ujar Wulan terlihat khawatir.
"Bapak juga nggak tahu. Masalahnya kita tidak tahu di mana rumah nya. Kalau bapak tahu, walaupun tidak bisa bertemu Ayana, minimal bapak 'kan bisa bertanya sama security di rumah Ayana bagaimana keadaan anak itu,"sahut Pak Parman menghela napas panjang.
"Aku juga nggak tau alamat rumah Ayana, Pak,"sahut Wulan.
__ADS_1
"Apa Bapak nggak lihat alamat rumah Ayana yang ada di raport nya saat mengambilkan raport Ayana kemarin?"tanya Bu Lastri.
"Enggak, Bu. Bapak nggak kepikiran mau lihat alamat rumah Ayana dari raport dia kemarin,"sahut Pak Parman.
"Kalau seperti ini, hanya bisa menunggu sampai masuk sekolah nanti. Baru bisa bertemu dengan Ayana,"sahut Wulan.
"Berdoa saja agar dia baik-baik saja,"sahut Pak Parman kemudian mengambil satu buah kue klepon dan menggigitnya dengan satu kali gigitan hingga...
"*****"
"Bapakk!"pekik Bu Lastri karena wajah nya terciprat gula merah dari kue klepon yang digigit Pak Parman. Sedangkan Wulan malah tertawa melihat wajah Bu Lastri yang terkena cipratan gula merah dari kue klepon yang digigit oleh Pak Parman.
"Maaf, Bu! Tidak sengaja!"ujar Pak Parman yang melihat wajah Bu Lastri belepotan gula merah. Dengan cepat Pak Parman mengelap wajah Bu Lastri.
"Hueek! Bapak, bapak lap pakai apa wajah ibu? Hueek!"tanya Bu Lastri yang perutnya terasa mual setelah wajahnya dilap oleh Pak Parman.
"He..he..he.. Pakai ini, Bu,"Pak Parman menyengir bodoh menunjukkan sapu tangan yang dari dipakainya untuk mengelap wajah, leher, dada dan ketiaknya tadi tentunya. Membuat wajah Bu Lastri langsung merah karena marah. Sedangkan tawa Wulan semakin pecah mengetahui wajah'Bu Lastri di lap menggunakan sapu tangan bekas ketiak Pak Parman.
"Bapakk!"teriak Bu Lastri dengan wajah geram.
"Brak"Pak Parman tidak sengaja menyenggol teko air.
"Syuut"
"Gedebuk"
"Wadowh! Encok!"pekik Pak Parman saat tanpa sengaja terpeleset karena air teko yang tumpah.
"Aakkh!"pekik Bu Lastri yang juga ikut terpeleset.
"Brugk"Bu Lastri jatuh menimpa Pak Parman yang masih terlentang di lantai.
__ADS_1
"Wadowh! "pekik Pak Parman sekali lagi, meringis menahan sakit.
"Maaf, Pak! Nggak sengaja!"ucap Bu Lastri sambil menyengir bodoh.
"Nggak sengaja sih, nggak apa-apa, Bu! Tapi kalau badan bapak di timpa karung beras begini, nanti malam bisa-bisa nggak bisa push up ini,"ujar Pak Parman tanpa dosa.
"Bapakk!"
***
Malam semakin larut, Ayana sudah masuk ke dalam kamarnya setelah makan malam dan mencuci peralatan makan yang dipakai tadi. Sedangkan Dimas dan Toyib masih sibuk membenahi jualan mereka yang akan dijajakan besok pagi.
Tiba-tiba angin bertiup kencang, langit mulai gelap karena tertutup awan hitam yang begitu tebal. Ayana bergegas masuk ke dalam kamarnya. Entah mengapa hari ini sepertinya akan turun hujan. Padahal semenjak hujan deras semalaman saat Ayana di tolong Dimas waktu itu, hujan tidak turun lagi selama beberapa hari ini. Namun sepertinya hari ini akan turun hujan deras seperti malam itu.
Dan benar saja, titik-titik air mulai berjatuhan dan semakin lama semakin banyak hingga akhirnya hujan turun dengan deras. Angin pun bertiup dengan kencang membuat semua orang memilih berdiam diri di dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat.
Ayana nampak gelisah dan ketakutan. Apalagi saat kilat dan petir menyambar saling bersautan. Malam ini persis seperti malam dimana Ayana melarikan diri dari Noval dan tiga preman jalanan yang mengejar dirinya dan ingin melecehkannya waktu itu.
Melihat cuaca yang nampak tidak kondusif, Toyib dan Dimas memilih menyudahi aktivitas mereka. Toyib bergegas masuk ke dalam kamar untuk tidur. Sedangkan Dimas pergi ke kamar mandi
Ayana nampak semakin ketakutan di dalam kamarnya. Tubuh gadis itu bergetar dan wajahnya pucat pasi. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya. Kenangan saat dirinya dikejar kejar dan hampir dilecehkan serta bagaimana putus asanya dirinya malam itu, seolah berputar di otaknya seperti film yang di putar ulang. Butir-butir kristal bening mulai berjatuhan dari sudut mata Ayana. Menangis tanpa suara.
"Pyarr"
Ayana ketakutan hingga tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas di atas nakas hingga jatuh ke lantai dan pecah.
"Gleb"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued