
Lalu, bagaimana keadaan pria yang bernama Noval itu?"tanya Toyib penasaran.
"Aku belum tahu keadaan nya. Besok aku akan ke kantor polisi bersama psikolog Ayana. Jadi, selama aku pergi, aku titipkan Ayana padamu dulu. Aku hanya percaya padamu untuk menjaga Ayana. Karena aku tidak mungkin menitipkan Ayana di rumah mertuaku. Aku yakin Ayana akan lebih merasa nyaman saat bersama mu dari pada berada di rumah kedua orang tuanya. Apalagi di sana ada Bening. Ayana akan merasa semakin tidak nyaman bila bertemu dengan Bening,"ujar Dimas panjang lebar.
"Kamu tenang saja! Aku akan menjaga Ayana saat kamu pergi. Tapi, Dim, bukankah selama ini orang yang bernama Noval itu tidak pernah mencari Ayana? Kenapa tadi tiba-tiba dia mencari Ayana? Apa kamu tidak curiga jika ini ada sangkut pautnya dengan mantan pacar kamu itu?"tanya Toyib yang tiba-tiba merasa curiga pada Bening. Pasalnya, selama hampir satu tahun Ayana tinggal bersama mereka, orang yang bernama Noval itu tidak pernah mencari Ayana.
"Aku juga curiga, bahwa kejadian ini ada hubungannya dengan dia,"sahut Dimas membuang napas kasar.
"Minta polisi mengorek informasi dari pria yang bernama Noval itu!"ujar Toyib.
"Ayah Noval adalah pebisnis yang lumayan di perhitungkan di dunia bisnis. Noval sendiri adalah anak satu-satunya yang juga memiliki usaha sendiri, yaitu beberapa klub malam. Aku rasa, ayahnya akan mengeluarkan Noval dengan berbagai macam cara,"sahut Dimas.
"Memang susah kalau melawan orang yang punya uang,"ujar Toyib membuang napas kasar.
"Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan tetap berusaha menjebloskan dia ke jeruji besi,"ujar Dimas dengan wajah seriusnya.
Di sisi lain.
Di sebuah rumah megah, nampak seorang pria paruh baya sedang duduk di ruang kerjanya. Di hadapannya ada seorang pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Bagaimana? Apa kabar putraku?"tanya pria paruh baya yang bernama Buston itu.
"Selama Tuan di luar negeri, sudah banyak yang terjadi pada Tuan Muda. Uang seratus milyar yang Tuan berikan kepada Tuan Muda waktu itu digunakan Tuan Muda untuk jual beli saham. Dan hasilnya, uang itu sudah berlipat ganda. Tuan muda juga sudah menikah sekitar empat bulan yang lalu dengan putri seorang pengusaha makanan ringan. Bahkan sudah sekitar satu bulan ini menggantikan mertuanya memimpin perusahaan. Karena mertuanya masih dalam masa pemulihan setelah sekitar satu bulan yang lalu mengalami kecelakaan,"ujar pria yang bernama Saman.
__ADS_1
"Dia sudah menikah? Apa istrinya cantik?"tanya Buston dengan senyum yang menghias bibirnya.
"Sangat cantik, Tuan. Bahkan masih sangat muda. Usia istri Tuan Muda baru delapan belas tahun,"sahut Saman.
"Apa? Delapan belas tahun? Bukankah umur delapan belas tahun itu biasanya masih sekolah?"tanya Buston nampak terkejut.
"Iya, Tuan. Masih duduk di kelas dua belas,"sahut Saman.
"Haiss.. ternyata seleranya daun muda,"ujar Buston kemudian terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan,"Apa dia sangat mencintainya, hingga tidak sabar menunggu gadisnya lulus sekolah?"ujar Buston menghela napas panjang.
"Sepertinya Tuan Muda memang sangat mencintai gadis itu, Tuan. Menurut penyelidikan saya, gadis itu tidak pernah keluar rumah kecuali bersama Tuan Muda, teman Tuan Muda yang tinggal serumah dengan Tuan Muda dan seorang wanita paruh baya yang berprofesi sebagai tukang ojek yang dulunya mengantar jemput gadis itu. Namun sekarang yang mengantarkan tiap pagi adalah Tuan Muda sendiri,"jelas Saman.
"Dasar posesif!"ujar Buston tersenyum tipis,"Sudah menjadi berapa uang yang aku berikan waktu itu?"tanya Buston lagi.
"Sekitar tiga kali lipat, Tuan. Dan saat ini, Tuan Muda menginvestasikan sebagian di perusahaan mertuanya. Karena prospek nya memang sangat menjanjikan, Tuan,"jelas Saman.
"Tuan muda memiliki jiwa bisnis seperti anda, Tuan,"sahut Saman.
"Kamu benar. Dia mewarisi jiwa bisnis dariku. Bahkan saudara-saudara nya tidak begitu bisa diandalkan dalam berbisnis,"ujar Buston menghela napas panjang.
"Kenapa Tuan tidak membawa Tuan Muda pulang?"tanya Saman.
"Aku dan istri ku saling mencintai. Aku tidak ingin melukai hatinya dengan mengatakan aku mempunyai anak dari perempuan lain. Aku dulu hanya karyawan biasa yang beruntung di cintai putri pemilik perusahaan. Putraku lahir dari kesalahanku. Waktu itu ada yang ingin menjebak ku. Aku tidak sengaja meniduri gadis itu. Namun saat aku ingin menikahinya sebagai bentuk pertanggung jawaban ku, dia tidak mau. Dia mengatakan, sepanjang aku bercinta dengan dia, aku hanya menyebut nama istriku. Karena itulah dia tidak mau aku nikahi. Dia tidak ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga ku. Akhirnya dia menikah dengan kekasihnya. Saat aku tahu dia melahirkan putraku, aku memberikan uang kepada nya untuk memenuhi kebutuhan putraku. Namun aku kehilangan jejak mereka saat terjadi banjir bandang di desanya. Aku sudah mengerahkan banyak orang untuk mencarinya dan putraku, tapi tidak ketemu. Akhirnya aku menyerah untuk mencarinya, karena memang banyak yang tidak bisa ditemukan dalam peristiwa banjir bandang itu. Tidak di sangka, aku malah bertemu dengan dia saat dia dewasa. Dan dialah yang menyelamatkan aku dan seluruh keluarga ku,"jelas Buston dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Apa Tuan Muda mempunyai tanda lahir, hingga waktu itu Tuan merasa bahwa dia adalah putra Tuan?"tanya Saman.
"Tidak. Tapi dari kecil, matanya sangat mirip dengan ibunya. Saat aku melihat matanya, aku seperti melihat mata ibunya. Apalagi waktu itu dia mendonorkan darahnya. Dia bahkan menunggu kami semalaman. Aku iseng saja memeriksa DNA nya. Tidak di sangka, ternyata dia benar-benar putraku"ujar Buston tersenyum tipis.
"Apa anda tidak berniat untuk mengatakan pada Tuan Muda, bahwa anda adalah ayah biologisnya?"tanya Saman.
"Aku tidak ingin merusak nama baik ibunya dengan mengatakan bahwa aku ayah biologisnya. Jika aku mengatakan bahwa aku adalah ayah biologisnya, itu sama saja dengan aku mengatakan bahwa dia adalah anak haram ku. Aku tidak ingin dia merasa rendah diri karena hal itu. Terkadang, akan lebih baik jika kamu tidak mengetahui sesuatu, dari pada kamu mengetahuinya, tapi menyakiti hati mu,"sahut Buston.
"Anda benar,"sahut Saman ikut menghela napas panjang.
"Dimana mereka tinggal?"tanya Buston.
"Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sederhana, tapi terlihat nyaman, Tuan,"sahut Saman.
"Dia seperti ibunya. Dulu, walaupun aku memberinya uang yang lumayan, mereka tetap tinggal di rumah yang sederhana dan hidup sederhana,"ujar Buston tersenyum tipis,"Awasi dia! Pastikan bahwa dia baik-baik saja! Dan usahakan untuk bekerja sama dengan perusahaan mertuanya, agar aku bisa sering bertemu dengan dia!"titah Buston.
"Baik, Tuan,"sahut Saman.
π"Ada kalanya, tidak tahu itu lebih baik dari pada tahu, tapi membuat sakit hatimu."π
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued