
Karena hari sudah sore, sepulang kuliah Ayana membersihkan tubuh suaminya dan mengganti pakaiannya. Tak lupa memakaikan skincare yang biasa di pakai suaminya. Karena itulah kulit Dimas tetap terawat walaupun sedang koma. Bahkan Ayana rajin mencukur kumis dan jenggot suaminya dan juga merawat kuku-kuku suaminya. Sehingga wajah Dimas tetap terlihat tampan dengan kulit putih mulus yang terawat.
Setiap dirinya meninggalkan Dimas, Ayana menyuruh seorang perawat pria untuk menjaga Dimas. Tidak rela jika suaminya itu di sentuh wanita lain.
Setelah selesai membersihkan tubuh suaminya, Ayana pun bergegas membersihkan dirinya. Hari ini tugas kampusnya lumayan banyak. Jadi, setelah selesai mandi, wanita muda itu pun segera mengerjakan tugas-tugasnya.
"Ceklek"
"Ay!"panggil Toyib yang masuk ke ruangan itu.
"Mana kak Bunga, bang? Abang ke sini sendirian?"tanya Ayana karena tidak melihat Bunga datang bersama Toyib.
"Dia tidur. Jadi abang ke sini sendirian,"ujar Toyib seraya duduk di sebelah Ayana.
"Baru jam segini udah tidur? Apa Abang menggempur kak Bunga habis-habisan, hingga jam segini sudah tidur?"tanya Ayana yang melihat waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam. Tapi istri kakak angkatnya itu malah sudah tidur. Sedangkan perjalanan dari rumah kontrakan mereka ke rumah sakit ini adalah setengah jam. Berarti istri kakak angkatnya itu sudah tidur sekitar setengah jam yang lalu.
"Anak kecil jangan ngomong masalah orang dewasa,"ujar Toyib seraya mengacak-acak rambut Ayana.
"Abang! Jangan membuat rambutku berantakan!"ketus Ayana seraya merapikan rambutnya yang di acak-acak Toyib. Tapi Toyib malah terkekeh.
"Kamu sudah makan, belum?"tanya Toyib yang melihat Ayana membereskan buku-bukunya.
"Belum, bang,"
"Kenapa belum makan? Kamu harus menjaga kesehatan kamu, Ay. Ingat, kamu bukan hidup sendirian! Janin dalam kandungan kamu perlu asupan gizi yang cukup untuk perkembangannya. Dan itu semua melalui kamu. Jika kamu tidak makan, dia juga akan kelaparan, Ay. Jika kamu malas membeli makanan, katakan pada Abang, kamu mau makan apa! Biar Abang belikan,"
"Makanan sih, udah ada, bang. Tuh, di atas nakas. Mama Liliana selalu mengirimkan makanan untuk aku. Tapi aku lagi malas makan. Lagi nggak berselera,"sahut Ayana yang memang sedang tidak berselera makan.
"Coba pikirkan, makanan apa yang kira-kira pengen kamu makan. Biar Abang belikan. Kamu harus makan agar tetap sehat. Kalau kamu sakit, kamu tidak akan bisa membersihkan tubuh Dimas. Apa kamu rela, kalau tubuh Dimas dibersihkan oleh perawat? Apalagi kalau perawatnya wanita dan masih muda. Bagaimana kalau dia mencium suamimu tersayang itu,"ujar Toyib seraya mengambil makanan di atas nakas.
"Abang! Jangan bicara seperti itu! Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh suamiku,"sahut Ayana bersungut-sungut.
__ADS_1
"Kalau begitu cepat makan! Kalau ingin yang lain, katakan. Biar Abang belikan,"ujar Toyib seraya meletakkan makanan yang dibawanya di depan Ayana.
"Kalau begitu, belikan aku satai! Aku ingin Abang membelinya di tempat langganan aku,"
"Okey. Abang belikan sekarang. Tapi makan dulu yang ini. Kamu tahu, 'kan, kalau di tempat langganan kamu itu ramai yang beli. Abang nggak mau keponakan Abang kelaparan karena kamu nggak makan gara-gara menunggu Abang kembali,"
"Baiklah,"sahut Ayana lalu memaksakan diri untuk makan.
"Abang pergi dulu!"
"Hum. Hati-hati, bang!"sahut Ayana. Walaupun agak eneg saat makan, tapi Ayana memaksakan dirinya untuk makan.
Sudah setengah jam setelah Ayana makan, tapi Toyib belum juga kembali. Karena memang mungkin satu jam lebih Toyib baru akan kembali. Mengingat tempat yang dituju nya yang agak jauh, belum lagi yang beli juga biasanya ramai.
"Aku capek sekali,"gumam Ayana kemudian pandangannya tertuju pada suaminya.
Ayana beranjak dari duduknya lalu naik ke atas ranjang, tempat Dimas berbaring selama satu bulan ini. Ayana membelai wajah tampan suaminya yang terasa halus, kemudian menciuminya. Mengecup bibir pria yang dicintainya itu beberapa kali, lalu berbaring memeluk tubuh Dimas.
Tuan Buston dan keluarganya akhirnya sampai di rumah sakit tempat Dimas dirawat. Axell dan Delvin sangat penasaran dengan sosok orang yang menjadi putra pertama papa mereka itu. Tidak sabar rasanya untuk melihatnya. Hingga mereka tiba di depan pintu sebuah ruangan yang membuat mereka semakin penasaran. Liliana membuka pintu ruangan itu, lalu masuk di susul Tuan Buston, Axell dan Delvin.
"Eh, tumben dia sudah tidur,"ujar Liliana yang masuk lebih dulu. Menatap ke arah ranjang dimana Ayana nampak terlelap memeluk Dimas.
"Itu kakak kalian dan istrinya,"ucap Buston menunjuk ke arah ranjang.
Axell dan Delvin yang melihat sepasang suami-isteri di atas ranjang itu pun terkejut. Kakak dan adik itu nampak syok. Axell tidak menyangka jika gadis yang dicintai adiknya adalah istri kakaknya sendiri, yang berarti adalah kakak iparnya. Begitu pula dengan Delvin, rasanya tidak percaya bahwa suami dari gadis yang dicintainya adalah kakak yang satu ayah dengan dirinya.
Liliana berjalan mendekati ranjang dan merapikan selimut yang dipakai Dimas dan Ayana. Buston juga mendekati kearah ranjang agar bisa melihat wajah putranya lebih dekat.
"Kenapa kalian diam di sana? Apa kalian tidak ingin melihat kakak kalian dari dekat? Dia yang sudah menyelamatkan nyawa kalian,"ujar Buston dengan suara pelan karena takut Ayana terbangun. Buston melihat kedua putranya masih berdiri mematung dengan ekspresi yang tidak terbaca oleh Buston.
"Kenapa kalian terdiam seperti itu? Kalian terlihat seperti orang syok,"celetuk Liliana yang merasa aneh dengan ekspresi kedua putranya itu.
__ADS_1
Axell dan Delvin tidak mengatakan apapun. Kakak beradik itu melangkah mendekati ranjang tempat Dimas dan Ayana berbaring. Selama ini Axell hanya melihat Dimas dan Ayana dari foto saja. Sedangkan Delvin tidak pernah melihat Dimas dengan jarak dekat.
Namun dengan jarak sedekat sekarang Delvin bisa melihat betapa tampannya pria yang menjadi saingan cintanya yang tidak lain adalah kakaknya itu. Tidak dipungkiri, Delvin merasa cemburu melihat Ayana yang terlelap memeluk Dimas.
Sedangkan Axell nampak kagum melihat wajah pria yang ternyata adalah kakaknya itu. Wajah tampan, putih bersih, dengan alis yang tebal, hidung mancung, bibir tipis tapi terlihat seksi, dan rahang yang terlihat tegas. Saat beralih menatap Ayana, Axell pun juga dibuat kagum dengan kecantikan Ayana yang ternyata lebih cantik aslinya dari pada fotonya.
"Benar-benar pasangan yang serasi. Cantik dan tampan. Dibandingkan dengan kami berdua, dia memang lebih tampan,"gumam Axell dalam hati.
Untuk beberapa menit, keempat orang itu menatap sepasang suami-isteri itu, kemudian duduk di sofa.
"Nama kakak kalian adalah Dimas Anggara. Menantu dari Tuan Geno, rekan bisnis papa. Kamu pasti sudah pernah mendengar tentang kakak kamu itu, 'kan, Xell? Kamu pasti juga sudah mendengar, betapa pintarnya dia dalam berbisnis dan berapa banyak aset yang dimilikinya, 'kan?"tanya Buston.
"Iya, pa. Aku sudah mendengarnya. Ternyata dia mewarisi otak cerdas papa dalam berbisnis,"sahut Axell yang sudah mengetahui siapa Dimas saat menyelidiki Dimas dulu.
"Kalian pasti akan terkejut jika tahu siapa yang menghandle semua aset dan melanjutkan hobi kakak kalian melakukan jual beli saham,"ujar Buston.
"Memang siapa, pa?"tanya Axell penasaran. Sedangkan Delvin nampak diam dengan ekspresi tidak terbaca.
"Yang menghandle semuanya adalah kakak ipar kalian. Entah bagaimana kakak kalian mengajarinya. Tapi yang pasti, di usianya yang semuda itu, dia bisa melakukan jual beli saham yang menguntungkan baginya. Bahkan Delvin yang sudah kuliah selama tiga tahun pun tidak mengerti soal bisnis. Belum bisa menghasilkan uang sendiri,"sindir Buston pada Delvin yang selalu beralasan jika di suruh belajar soal bisnis. Hingga sampai sekarang masih bergantung hidup pada kedua orang tuanya.
"Benarkah?"tanya Axell yang terkejut, sekaligus tidak percaya. Demikian pula dengan Delvin.
"Itu benar. Bahkan mama pernah mendengar Ayana berdiskusi soal jual beli saham dengan kakak angkatnya,"sahut Liliana membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Sepertinya kamu benar-benar harus mulai belajar soal bisnis, Vin,"ujar Axell seraya melirik adiknya. Sedangkan Delvin hanya diam tertunduk. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1