SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
180. Meledak


__ADS_3

Seorang pelayan yang sedang membersihkan kaca nampak memperhatikan Bening dari pantulan kaca jendela yang sedang di bersihkan nya. Wanita itu memperhatikan gerak gerik Bening tanpa di sadari oleh Bening. Mengikuti Bening yang berjalan menuju kamarnya dari jauh dengan alasan bersih-bersih. Hingga tidak lama kemudian Bening sudah keluar dari dalam kamarnya dengan baju yang sudah berganti.


Tadinya memakai daster khusus untuk ibu hamil. Walaupun cuma daster, tapi terlihat modis sehingga cocok di pakai untuk bepergian. Namun sekarang sudah berpakaian stelan atasan dan celana untuk ibu hamil. Tidak lupa masker untuk menutupi wajahnya.


Pelayan itu diam-diam mengikuti Bening dan memotret plat mobil online yang dinaiki Bening. Kemudian segera menghubungi seseorang.


"Tuan, saya merasakan gelagat aneh dari perempuan bernama Bening itu. Saat keluarga Tuan Geno akan mengajaknya pergi berlibur, dia mengaku tidak enak badan. Tapi, setelah Tuan Geno dan keluarganya pergi, perempuan itu juga keluar rumah. Saya. merasa perempuan itu akan berbuat sesuatu yang jahat. Tuan muda dan istrinya berada satu mobil dengan Tuan Geno. Saya akan kirimkan nomor plat mobil yang dikemudikan oleh Tuan muda, dan juga plat mobil online yang di naiki perempuan itu,"ucap pelayan dalam sambungan telepon.


Bening yang berada di dalam taksi online nampak menghubungi seseorang,"Aku pinjam mobil kamu. Sebentar lagi aku sampai di tempat kamu,"ucap Bening pada paria yang di suruhnya untuk menculik Dimas waktu itu.


"Untuk apa?"tanya pria itu dalam sambungan telepon.


"Sudah! Pinjamkan saja! Cerewet! Aku selalu melayani kalian, tapi kalian tidak pernah memberikan apapun padaku. Masa pinjam mobil saja tidak boleh,"gerutu Bening.


"Iya... iya.. pakai saja!"sahut pria itu.


Tut..Tut...Tut..."


Bening membuang napas kasar karena sambungan telepon itu sudah di putuskan lebih dulu. Namun sesaat kemudian wanita hamil itu tersenyum licik. Tidak lama kemudian, Bening sampai di tempati pria yang di telponnya .


Dengan cepat, Bening keluar dari taksi online yang di tumpanginya, lalu menghampiri pria yang di telponnya tadi.


"Ini kuncinya. Awas! Kendarai mobil ku dengan baik! Aku tidak mau mobilku lecet sedikitpun,"ucap pria itu.


"Cerewet!"ketus Bening langsung mengambil kunci mobil itu dan dengan cepat langsung masuk ke dalam mobil, lalu mengendarainya.


Bening sengaja tidak memakai mobilnya sendiri agar nantinya tidak mudah di lacak polisi jika dirinya melenyapkan keluarga Geno.


"Aku yakin bisa menyusul mobil mereka. Aku akan menghadang mereka,"gumam Bening tersenyum licik.


Di sisi lain.


"Kenapa bisa kehilangan jejak Tuan muda dan perempuan itu?!"bentak Saman dalam sambungan telepon.


"Mobil kami tiba-tiba mogok, Tuan. Dan motor orang kita yang mengawasi perempuan bernama Bening itu ban nya bocor di perjalanan saat mengikuti perempuan itu,"sahut anak buah Saman yang diperintahkan mengawasi Dimas dan orang-orang terdekat Dimas.


"Aku tidak mau tahu! Temukan Tuan muda dan perempuan itu secepatnya! Jika terjadi sesuatu pada Tuan muda, aku pastikan kalian akan aku buat sengsara!"bentak Saman yang marah.


"Baik, Tuan,"sahut anak buah Saman.

__ADS_1


Saman mengusap wajahnya dengan kasar. Saman takut terjadi apa-apa dengan Dimas. Karena menurut laporan anak buahnya yang menyamar sebagai pelayan di rumah Geno, sepertinya Bening mempunyai rencana jahat pada Tuan mudanya dan juga keluarganya.


Bening mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Menyusul mobil Dimas yang sudah beberapa menit lebih dulu darinya. Bening tahu jalan ke arah hotel yang di tuju keluarga itu. Setelah menyalip banyak kendaraan dan melewati jalan yang nampak sepi, akhirnya Bening melihat mobil itu. Mobil yang dikendarai Dimas.


"Akhirnya aku menemukan kalian juga. Kebetulan sekali jalan ini lumayan sepi. Aku akan membuat kalian bertemu dengan malaikat maut secepatnya,"gumam Bening tersenyum jahat, kemudian melajukan mobilnya mendahului mobil yang di kendarai oleh Dimas. Setelah cukup jauh, Bening memutar arah mobilnya hingga berlawanan arah dengan mobil yang dikendarai Dimas. Saat sudah dekat dengan mobil Dimas, Bening langsung memotong jalur yang di lalui Dimas dan mengarahkan mobilnya ke arah trotoar.


"Tiiinnnn...."


"Brak"


Dimas yang terkejut langsung membanting setir ke kanan karena jika membanting stir ke kiri pasti langsung menabrak mobil Bening. Walaupun sempat tertabrak mobil yang berada di belakangnya, namun untungnya Dimas masih bisa mengendalikan mobilnya. Mobil yang di kendarai Dimas hanya tertabrak di bagian belakangnya saja oleh mobil yang ada di belakangnya tadi.


Mobil yang menabrak mobil Dimas terus melaju meninggalkan mobil Dimas tanpa peduli dengan keadaan mobil dan orang-orang yang ada di dalam mobil yang ditabraknya.


Jalanan terlihat sepi. Saat ini hanya ada mobil yang di kendarai Bening dan Dimas yang ada di tempat itu. Tempat yang dekat dengan laut dengan langit yang mulai gelap karena senja telah tenggelam.


Bening masih bisa mengendalikan mobil yang di kendarainya. Namun melihat Dimas dan keluarga mertuanya masih selamat, Bening pun merasa geram.


"Sial! Kenapa mereka tidak masuk jurang? Padahal sedikit lagi,"gerutu Bening.


"Apa orang dalam mobil itu sedang mabuk?"gerutu Nando dengan wajah kesal.


Jika saja Dimas tidak mengerem tempat waktu, mobil mereka pasti sudah terjun bebas ke jurang. Untung rem mobil itu berfungsi dengan baik dan Dimas juga cekatan mengerem.


"Siapa orang dalam mobil itu?"gumam Geno yang juga masih syok.


"Kak!"panggil Ayana yang melihat Dimas diam, tapi nampak berkonsentrasi dan sesekali menoleh ke arah mobil yang memotong jalan mereka tadi.


Dalam hati Dimas,"Sepertinya orang dalam mobil itu sengaja ingin mencelakai kami. Tadi aku melihat mobil itu mendahului mobil kami. Tak lama kemudian mobil itu kembali dari arah yang berlawanan dengan mobil kami dan melaju sangat kencang. Sepertinya sengaja memotong jalan kami dan memaksa aku untuk banting stir ke kanan. Sepertinya dia mengharapkan kami jatuh ke jurang,"gumam Dimas dalam hati.


Dimas nampak siaga dengan tangan yang memegang kemudi mobil dan kaki yang siap menginjak gas.


Melihat mobil Dimas yang masih belum bergerak dari tepi jurang, Bening kembali melajukan mobilnya dengan cepat menjauh dari mobil Dimas beberapa meter. Setelah itu Bening memutar arah dan melajukan mobilnya dengan cepat ke arah mobil Dimas.


"Kali ini, kalian tidak akan lolos lagi!"gumam Bening menyeringai menatap tajam mobil Dimas yang belum bergerak sama sekali.


"Dugaan ku benar. Orang dalam mobil itu ingin mencelakai kami,"gumam Dimas dalam hati yang nampak sudah menyusun strategi saat melihat mobil yang menabraknya tadi kembali melaju dengan kencang ke arah mobilnya.


Geno, Hilda dan Nando nampak masih menenangkan diri karena syok. Tidak menyadari mobil yang dikendarai oleh Bening melaju ke arah mobil mereka. Sedangkan Ayana melihat gelagat aneh dari Dimas. Suaminya itu tidak menyahut saat di panggilnya dan nampak sangat berkosentrasi serta waspada.

__ADS_1


"Brumm"


"Ckiiitt "


Tiba-tiba Dimas memundurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan setelah mundur beberapa meter, dengan cekatan Dimas langsung mengeremnya.


"Akkh"


Teriak semua orang yang ada di dalam mobil Dimas yang terkejut dengan aksi Dimas.


Bening yang ingin menabrak mobil yang dikendarai Dimas agar memasuk ke dalam jurang tidak menyangka dengan pergerakan cepat dari Dimas. Wanita itu terkejut hingga tidak bisa berpikir dan lupa menginjak rem.


"Akkh"


Pekik Bening saat mobilnya meluncur bebas masuk ke dalam jurang.


"Brakk"


"Boomm"


"Astaga!"


Pekik Geno, Hilda, Nando dan Ayana bersamaan karena mendengar suara ledakan yang begitu keras. Belum hilang rasa syok mereka karena hampir masuk jurang. Dan juga karena Dimas tiba-tiba memundurkan mobilnya dengan cepat lalu mengerem dengan cepat pula. Sekarang malah mendengar suara ledakan mobil yang yang memekakkan telinga. Dimas langsung memegang tangan Ayana dengan hangat untuk menenangkan istrinya itu.


Mobil yang di kendarai Bening akhirnya terjun bebas ke jurang dan meledak di dasar jurang. Wanita egois, serakah dengan hati yang di penuhi oleh rasa iri, benci dan dengki itu akhirnya mati terpanggang di dalam mobil yang jatuh ke dalam jurang.


Bersamaan dengan meledaknya mobil Bening, mobil Saman baru saja sampai di tempat itu. Saman langsung keluar dari dalam mobil dan bergegas menuju mobil Dimas.


Tok! Tok! Tok!"


Saman mengetuk jendela mobil yang lampunya masih menyala itu dengan cemas karena dari lampu sorot mobilnya, Saman bisa melihat bagian belakang mobil yang di kendarai Tuan Mudanya itu ringsek lumayan parah.


"Apa kalian baik-baik saja?"tanya Saman dengan wajah khawatir saat Dimas membuka kaca mobilnya.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2