
"𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙠𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙏𝙤𝙮𝙞𝙗?"gumam Dimas dalam hati.
"Duarr"
Suara petir dan hujan yang turun secara bersamaan membuat Ayana semakin erat memeluk tubuh Dimas. Tubuh gadis itu bergetar seperti orang yang menggigil kedinginan. Memeluk erat pria yang selama ini selalu ada untuknya. Pria yang sudah menjadi suaminya.
Bayangan saat dirinya di kejar Noval dan tiga orang preman jalanan serta hampir tertangkap tiga orang preman itu selalu saja memenuhi otak Ayana. Seperti film yang diputar berulang-ulang, setiap kali hujan turun di sertai angin, kilat dan petir yang menggelegar bersahutan, ingatan itu selalu datang dan membuat Ayana ketakutan.
"Ay!"panggil Dimas. Perlahan Dimas melepaskan pelukannya di tubuh Ayana.
Dimas menangkup kedua pipi Ayana, kemudian mengangkat wajah istrinya itu. Ayana yang memejamkan matanya pun perlahan membuka matanya dan menatap Dimas yang juga sedang menatapnya dengan lekat. Ayana hanya diam menatap Dimas, masih memeluk erat tubuh pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Perlahan Dimas mendekatkan wajahnya ke wajah Ayana. Ayana terpaku menatap wajah tampan suaminya, namun entah mengapa saat wajah Dimas mendekat ke arah wajahnya, tiba-tiba jantung Ayana berdetak kencang. Dimas memiringkan kepalanya. Semakin dekat.. semakin dekat.. hingga akhirnya..
"Cup"
Bibir mereka saling menempel. Perlahan mata Dimas terpejam, memagut bibir Ayana dengan lembut. Perlahan mata Ayana pun ikut terpejam. Merasakan bibir Dimas yang bergerak lembut memagut bibir nya. Secara naluriah, Ayana membuka bibirnya dan membalas pagutan bibir Dimas. Walaupun Ayana masih kaku saat berciuman, karena baru kali ini yang benar-benar berciuman. Sebelumnya bibir mereka hanya saling menempel saja, tanpa pergerakan seperti saat ini. Rasa nyaman saat bibir mereka saling bersentuhan dan bertautan hingga ingin lagi dan lagi, membuat Ayana melupakan segalanya. Saat ini hanya ada rasa nyaman, menikmati pagutan bibir mereka.
Entah siapa yang memulainya, bahkan saat ini lidah mereka saling membelit
Jantung mereka semakin berdetak tidak karuan. Ayana mencengkram erat kaos oblong yang dipakai Dimas. Sedangkan tangan Dimas memeluk pinggang dan tengkuk Ayana untuk memperdalam ciumannya.
Dimas melepaskan ciumannya saat melihat Ayana mulai kesulitan untuk bernapas. Mendekap erat tubuh Ayana dengan jantung yang berdetak kencang. Ingin lebih? Tentu saja. Tapi sekuat hati Dimas menahannya.
Ayana menggigit bibirnya sendiri, menetralkan detak jantungnya. Bahkan Ayana yang saat ini berada dalam dekapan Dimas bisa mendengar detak jantung Dimas yang sama tidak beraturannya dengan detak jantungnya.
Tidak pernah berpacaran? Memang belum pernah. Sikap Nando yang selalu cuek, merendahkan dan tidak peduli padanya, dan sikap papanya yang sibuk dengan urusannya sendiri membuat Ayana enggan menjalin hubungan dengan seorang pria dan lebih suka berteman dengan perempuan. Ayana juga lebih sensitif pada pria dan cenderung lebih suka berantem dengan pria karena terbiasa berantem dengan Nando.
__ADS_1
Jadi, sikap Ayana pada saat pertama kali bertemu dengan Dimas yang suka berdebat dengan Dimas adalah sikap yang juga di tunjukkan Ayana pada semua pria. Hanya saja, waktu itu sudah ada Pak Parman yang dekat dengan Ayana.
Sedangkan Dimas sendiri memang sudah pernah pacaran, tapi tidak pernah melakukan lebih selain berpelukan dan berciuman.
"Sudah malam. Tidurlah!"ucap Dimas setelah beberapa menit mendekap Ayana dalam diam. Berusaha memberi rasa nyaman pada Ayana dan mengendalikan dirinya agar tidak menerkam Ayana.
Dimas mengernyitkan keningnya saat tidak mendapatkan respon apapun dari Ayana. Pria itu melerai pelukannya dan mendapati jika Ayana sudah terlelap. Perlahan Dimas merebahkan tubuh Ayana. Sedangkan hujan di luar sana masih turun, tapi sudah tidak terlalu deras. Suara kilat dan petir sudah jarang terdengar dan tidak sekuat tadi. Tidak ada lagi angin yang menyertai hujan.
Dimas menggigit bibirnya sendiri menatap bibir Ayana yang berwarna merah alami dan bervolume. Ingin rasanya Dimas kembali mencicipi bibir itu. Tapi Dimas langsung membuang pikiran itu jauh-jauh. Tidak seperti biasanya, kali ini Dimas tidak tidur membelakangi Ayana lagi. Kali ini Dimas tidur memeluk Ayana.
Malam berlalu dan pagi pun menyapa. Ayana terbangun dalam dekapan Dimas. Perlahan Ayana mendongakkan kepalanya menatap wajah Dimas yang masih terlelap. Ayana menggigit bibirnya sendiri saat mengingat semalam dirinya dan Dimas saling berciuman dengan intens. Wajah gadis itu jadi memerah.
"𝙆𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙘𝙞 𝙖𝙠𝙪, '𝙠𝙖𝙣? 𝙎𝙚𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙪𝙢 𝙗𝙞𝙗𝙞𝙧 𝙠𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙢𝙗𝙪𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙢𝙖. 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙩𝙖𝙠 𝙟𝙖𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙩𝙪𝙧𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙞𝙪𝙢𝙖𝙣,"gumam Ayana dalam hati. Enggan rasanya melepaskan dekapan Dimas, tapi dirinya harus bangun untuk menyiapkan sarapan.
***
"Barang-barang sekarang semakin mahal saja. Bawa duit sepuluh juta juga cuma dapat barang sedikit,"keluh Toyib yang baru saja selesai mengecek barang belanjaannya tadi.
"Wajar saja. Apa sih, jaman sekarang ini yang tidak naik?"sahut Dimas yang juga baru selesai merapikan barang dagangan nya.
"Iya, sih. Tapi penghasilan sekarang tidak sebanyak dulu karena banyaknya toko online. Banyak yang memilih membeli baju secara online. Aku takut, lama-lama akan semakin sepi pembeli,"ujar Toyib merasa khawatir dengan masa depan pekerjaannya.
"Tidak usah khawatir! Rejeki sudah di bagi sesuai porsinya masing-masing sama Allah,"ujar Dimas menenangkan Toyib.
"Abang! Kakak! Makan malam sudah siap!"suara cempreng Ayana terdengar dari ruangan makan.
"Nah, ini, nih, yang bisa ngilangin stres,"ucap Toyib yang wajahnya langsung berbinar dan langsung beranjak dari duduknya berjalan ke arah dapur.
__ADS_1
"Muka yang tadinya mendung langsung cerah seketika setelah mendengar makanan sudah siap,"gumam Dimas dengan senyuman tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat wajah sahabat nya yang selalu cerah jika mendengar soal makanan.
"Tok! Tok! Tok!"
Dimas mengurungkan niatnya untuk menyusul Toyib saat mendengar suara ketukan pintu. Pria berwajah tampan itu menghampiri pintu utama dan membukanya.
"Bapak?"ucap Dimas agak terkejut saat melihat ayah mertuanya berdiri di depan pintu rumah kontrakan nya. Selama menikah dengan Ayana, baru dua kali ini Dimas bertemu dengan ayah mertuanya itu. Dimas langsung meraih tangan Geno dan mengecup punggung tangan Geno,"Mari, masuk, Pak!"ucap Dimas dengan seulas senyum.
"Panggil saja papa! Sepertinya Ayana,"sahut Geno seraya masuk ke dalam,"Mana Ayana?"tanya Geno saat Dimas menutup pintu.
"Ayana berada di ruang makan. Kami akan makan malam. Papa pasti belum makan malam, 'kan? Mari, makan malam bersama kami!"ajak Dimas sopan.
"Hum,"sahut Geno mengikuti langkah kaki Dimas menuju ruangan makan. Geno ingin tahu makanan seperti apa yang bisa di berikan menantunya untuk putrinya.
"Siapa yang mengetuk pintu tadi, Dim?"tanya Toyib yang sudah duduk di kursi meja makan tanpa menoleh ke arah Dimas. Saat merasa ada orang yang masuk ke ruangan itu, Toyib menduga itu pasti Dimas.
"Papa,"sahut Dimas membuat Ayana yang baru saja mengambilkan air putih untuk Toyib langsung mengangkat wajahnya. Toyib pun langsung menoleh ke arah Dimas dan melihat Geno yang sudah berdiri di samping Dimas.
"Papa?"
...🌸❤️🌸...
.
.
To be continued
__ADS_1