
"AK grup?"tanya Geno.
"Iya, pa. Mereka menawarkan biaya yang paling rendah dari perusahaan lain untuk membangun hotel yang akan kita dirikan, pa. Jika papa menandatangani persetujuan untuk bekerja sama besok, maka lusa pembangunan nya akan segera di mulai,"sahut Nando antusias.
"Pa, sebaiknya papa mencari kontraktor lain,"sahut Dimas membuat semua orang menatapnya.
"Hei, sales keliling! Tidak usah ikut bicara! Tahu apa kamu tentang bisnis?"sergah Nando.
"Kakak bisa lihat track record AK grup. Mereka memang melakukan pekerjaan mereka dengan cepat dengan penawaran biaya yang lebih rendah dari perusahaan lain. Tapi semua bangunan yang mereka kerjakan hampir semua mengalami masalah. Lima tahun lalu mall yang mereka bangun mengalami masalah pada eskalator nya hingga terjadi kecelakaan yang membuat tujuh orang meninggal. Tiga tahun yang lalu, mereka membangun apartemen yang lift nya mengalami masalah hingga menewaskan lima orang. Dua tahun lalu hotel yang mereka bangun tidak selesai karena ada sengketa dengan pemilik hotel dan masih ada beberapa masalah lain. Kalian bisa mencari informasinya lebih detail jika tidak percaya,"ujar Dimas panjang lebar.
"Jangan omong kosong!"sergah Nando.
"Dari mana kamu tahu semua itu?"tanya Geno mengernyitkan keningnya.
"Aku hanya suka mengikuti perkembangan dunia bisnis saja. Jika papa ingin hasil pembangunan yang bagus, papa bisa bekerja sama dengan perusahaan DD grup. Walaupun biaya yang mereka tawarkan memang tergolong tinggi, tapi hasilnya tidak pernah mengecewakan,"jelas Dimas.
"Papa akan memastikan apa kata-kata Dimas itu benar atau tidak. Setelah itu, baru papa akan memutuskan apa kita akan bekerja sama atau tidak dengan perusahaan mereka,"sahut Geno memutuskan.
"Papa percaya pada sales pakaian keliling ini?"tanya Nando tidak percaya.
"Apa salahnya menelitinya lebih dulu? Banyak dana yang akan kita gelontorkan untuk pembangunan hotel ini. Papa tidak mau rugi,"ujar Geno membuat Nando terdiam. Sedangkan Hilda sepertinya enggan untuk bicara.
Setelah makan malam selesai, mereka pun pergi ke kamar mereka masing-masing. Ayana dan Dimas juga masuk ke kamar. Ayana pergi ke kamar mandi, sedangkan Dimas duduk bersandar di headboard ranjang, sibuk dengan handphonenya seperti biasanya.
"Kak!"panggil Ayana seraya naik ke ranjang.
"Hum,"sahut Dimas masih fokus pada layar handphonenya.
"Kita akan menginap berapa hari di sini?"tanya Ayana.
"Terserah kamu,"sahut Dimas.
"Kalau begitu, kita pulang besok saja. Kakak mau dimasakin apa besok pagi?"tanya Ayana duduk di sebelah Dimas.
"Apa saja. Kalau kamu yang masak pasti enak,"sahut Dimas tanpa mengalihkan pandangannya pada handphonenya.
Ayana menghela napas panjang melihat Dimas yang nampak sangat fokus pada handphonenya, bahkan tidak meliriknya sama sekali, apalagi menatapnya. Gadis itu memilih merebahkan tubuhnya memainkan handphonenya, sesekali gadis itu tertawa kecil. Dimas melirik Ayana yang nampak sibuk berbalas pesan. Pria itu meletakkan handphonenya di atas nakas lalu mematikan lampu utama.
"Sudah malam. Tidurlah!"ucap Dimas.
"Sebentar,"sahut Ayana kembali membalas pesan kemudian meletakkan handphonenya di atas nakas. Gadis itu merebahkan kepalanya di lengan Dimas, kemudian memeluk tubuh Dimas.
"Kak, berapa mantan pacar yang kakak punya?"tanya Ayana tiba-tiba.
__ADS_1
Dimas terdiam mendengar pertanyaan dari Ayana. Ingatan pahit tentang kisah cintanya dulu membuat dada Dimas terasa sesak. Dimas kehilangan semua yang dimilikinya karena wanita yang dulu di cintainya. Dan sejak saat itu, Dimas tidak pernah lagi dekat dengan wanita manapun hingga Ayana datang dalam hidupnya. Gadis kecil yang haus akan perhatian dan kasih sayang. Yang akhirnya memaksa dirinya menikahinya.
"Kak!"seru Ayana karena tidak mendapatkan jawaban dari Dimas.
"Sudah malam. Ayo tidur!"ucap Dimas, mendekap tubuh Ayana. Pria itu benar-benar enggan membahas masalah mantan pacarnya.
Ayana terdiam dalam pelukan Dimas. Pria itu tidak menjawab pertanyaannya, membuat Ayana semakin penasaran. Akhirnya Ayana terlelap dengan rasa penasarannya yang tidak terjawab.
***
Seperti biasanya, Ayana yang sudah terbiasa bangun pagi pun beranjak dari tempat tidurnya, meninggalkan Dimas yang masih terlelap. Gadis itu bergegas ke dapur dan melihat bahan masakan apa yang ada di dalam kulkas.
"Nona mau apa?"tanya ART di rumah itu yang biasanya bertugas untuk memasak.
"Aku ingin menyiapkan sarapan, Bik,"sahut Ayana, mengeluarkan bahan masakan yang diinginkannya.
"Nona ingin memasak apa?"tanya ART itu yang melihat Ayana mengeluarkan daging dari lemari es.
"Aku pengen bikin soto daging, Bik,"sahut Ayana.
"Biar bibi saja yang masak, non,"sahut ART itu. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah itu, belum pernah sekalipun wanita paruh baya itu melihat Ayana memasak. Jadi wanita itu ragu saat Ayana mengatakan akan memasak. Apalagi masakan yang akan dibuat bukanlah masakan yang sederhana.
"Nggak usah, Bik. Bibi bantu aku menggoreng kerupuk udang ini saja,"ucap Ayana memberikan kerupuk udang pada ART itu.
"Aku membawa kemarin, Bik. Kak Dimas sangat suka makan kerupuk udang. Apalagi kalau lauknya soto,"sahut Ayana yang dengan cekatan sudah mulai memasak. ART itu nampak terkejut melihat Ayana yang terlihat cekatan mulai mengolah bahan masakan. Memotong-motong daging dan menyiapkan bumbu, terlihat sudah sangat terbiasa.
Akhirnya wanita paruh baya itupun membiarkan Ayana memasak. Satu jam kemudian, ART itu nampak takjub melihat sarapan yang di buat Ayana. Penampilan, aroma, dan rasanya sungguh menggugah selera.
"Sejak kapan nona bisa memasak?"tanya ART itu penasaran.
"Baru, Bik. Bik, tolong bereskan dapurnya, ya! Aku ingin mandi dulu,"ujar Ayana setelah menyajikan masakannya di meja makan.
"Iya, non,"sahut ART itu.
Ayana masuk ke dalam kamar saat Dimas baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kak, habis sarapan kita pulang, ya?"ujar Ayana.
"Hum. Mandilah dulu!"ucap Dimas.
Ayana membersihkan diri, sedangkan Dimas membereskan barang-barang mereka.
Di lantai bawah.
__ADS_1
"Bibi masak apa? Baunya harum sekali,"tanya Hilda yang masuk ke ruangan makan.
"Tadi non Ayana masak soto daging, nyonya,"sahut ART itu.
"Ayana memasak? Bibi jangan bercanda,"ujar Hilda tidak percaya.
"Ada apa, ma?"tanya Geno yang baru datang bersama Nando.
"Ini, bibi bilang Ayana yang memasak sarapan pagi kita kali ini,"sahut Hilda.
"Mana mungkin,"sahut Nando.
"Ayana memang bisa memasak. Papa pernah mampir ke rumah mereka dan makan malam bersama mereka,"sahut Geno bersamaan dengan Ayana dan Dimas masuk ke ruangan makan itu.
"Ayo, sarapan!"ajak Geno saat Ayana dan Dimas sudah duduk.
Seperti semalam, Ayana melayani papanya dan juga suaminya. Mereka tampak sangat menikmati sarapan pagi mereka.
"Kamu, yang masak, Ay?"tanya Geno sambil menikmati soto di mangkok nya.
"Iya, pa. Kenapa? Apa tidak enak?"tanya Ayana.
"Enak, kok. Enak banget,"sahut Geno dengan seulas senyum.
"Apa kamu bisa masak opor ayam dan rendang?"tanya Nando.
"Bisa,"sahut Ayana.
"Apa kamu dijadikan tukang masak sama suamimu ini? Sampai kamu bisa memasak berbagai masakan?"cibir Nando.
"Dicarikan jodoh orang yang kaya malah milih yang kere,"gerutu Hilda yang bisa di dengar semua orang.
"Di berikan uang berapa kamu perbulan oleh suami mu yang kere ini?"tanya Nando yang terkesan menghina.
"Aku melakukan apa yang aku inginkan. Kak Dimas tidak pernah menyuruh aku melakukan apapun. Kak Dimas selalu memperhatikan dan menyayangiku. Tidak pernah menuntut apapun dariku, dan selalu ada untukku. Tidak pernah memarahiku, apalagi menghinaku. Dan selama bersama kak Dimas, aku tidak pernah merasa kekurangan apapun. Aku merasa bahagia tinggal bersama kak Dimas. Tidak seperti saat tinggal di rumah ini. Aku merasa tidak bahagia tinggal di rumah ini. Karena kalian..."
"Ay!"
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued