
Ayana sudah selesai menyiapkan sarapan. Semuanya pun sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Semalam dapat berapa ronde, Dim?"goda Toyib senyum-senyum sendiri.
"Libur,"sahut Dimas singkat.
"Wahh.. sudah nonton video hot malah nggak praktek. Sayang sekali, Dim,"sahut Toyib kemudian terkekeh.
"Nonton Vidio hot? Kakak semalam nonton video nya?"tanya Ayana seraya mengernyitkan keningnya menatap Dimas curiga.
"Siapa yang nonton video? Jangan dengerin kata Abang kamu itu, Ay! Dia bicara nya suka sembarangan,"ujar Dimas, takut Ayana berpikir macam-macam tentang dirinya.
"Yakin, semalam kakak tidak nonton video hot itu?"tanya Ayana masih dengan tatapan curiga.
"Tapi, aku melihat kamu sudah membuka pesan video yanga aku kirim, Dim. Centang biru dua. Berarti sudah di baca, 'kan?"tanya Diky tanpa dosa.
"Kakak..!"geram Ayana.
"Enggak, Ay! Cuma aku buka sebentar doang, kok,"sahut Dimas kelabakan.
"𝙎𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣! 𝘼𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙨𝙪𝙙 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙪𝙖? 𝘼𝙥𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙧 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖?"gerutu Dimas dalam hati, menatap kedua orang sahabatnya bergantian dengan tatapan tajam. Namun keduanya malah tertawa terbahak-bahak.
"Sebentar? Yakin, kamu cuma nonton sebentar, Dim?"tanya Diky menahan tawa.
"Ya, pasti sebentar lah, Dik. Orang lawan mainnya sudah tidur duluan. Aku curiga, Dimas semalam solo karir di dalam kamar mandi,"sahut Toyib kemudian tertawa, dan Diky pun ikut tertawa.
"Sialan, kalian!"umpat Dimas dengan wajah bersungut-sungut. Namun Toyib dan Diky malah tertawa semakin kencang. Sedangkan Ayana membuang napas kasar.
Semalam Dimas sudah menahan diri untuk tidak menyentuh Ayana, walaupun semalam sebenarnya Dimas ingin dilayani Aryana. Tapi melihat Ayana yang sudah terlelap dan terlihat lelah, Dimas menahan diri agar tidak meminta Ayana untuk melayani dirinya.
***
Ayana baru saja keluar dari kelasnya bersama Wulan. Mereka berjalan sambil membahas pelajaran yang baru saja usai. Hingga akhirnya mereka berpisah. Wulan menuju parkiran dan Ayana menuju gerbang sekolah, tempat Bu Nur biasa menjemput Ayana.
Bu Nur melempar seulas senyum saat melihat Ayana menghampirinya. Wanita paruh baya itu segera menyerahkan helm pada Ayana.
"Sudah lama menunggu, Bu?"tanya Ayana seraya memasang helm di kepalanya.
"Baru sekitar lima menit, Ay,"sahut Bu Nur.
"Eh, kapan bannya kempes? Tadi baik-baik saja. Kenapa jadi kempes begini?"gumam Bu Nur saat akan menaiki motornya, tapi malah melihat ban motor nya kempes. Bu Nur jadi gelisah dan juga kesal.
__ADS_1
"Ya sudah. Kita dorong sampai ke bengkel saja, Bu,"ujar Ayana memutuskan.
"Tapi, Ay. Bengkelnya agak jauh dari sini,"sahut Bu Nur.
"Tapi kita tidak memiliki pilihan lain, selain membawa motor ini ke bengkel, Bu,"sahut Ayana.
"Ay, Bu Nur! Kok, masih ada di sini?"tanya Wulan saat melintas di dekat kedua orang itu.
"Tiba-tiba ban motor Bu Nur kempes, Lan,"sahut Ayana.
"Ya sudah, kalau begitu aku step aja sampai ke bengkel. Biar kalian tidak kepanasan karena harus mendorong motor siang-siang di cuaca panas begini. Kamu sama aku, Ay,"ujar Wulan.
"Ya iya, lah, aku sama kamu. Nggak mungkin juga, 'kan, motor Bu Nur yang kempes ini di naikin berdua. Memang kamu sanggup step motor Bu Nur kalau aku di bonceng Bu Nur? Bisa pegel kaki kamu,"sahut Ayana.
"Iya, ya! He.he.he.."sahut Wulan tertawa bodoh.
Akhirnya Wulan men-step motor Bu Nur sambil membonceng Ayana. Lumayan kerepotan, tapi Wulan tidak mungkin membiarkan Ayana dan Bu Nur mendorong motor di siang hari panas seperti ini.
"Tiiin... Tiiin..."
Tiba-tiba saja sebuah mobil mengklakson tiga orang wanita itu dan orang di dalam mobil membuka kaca mobil lalu melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar rombongan Ayana itu berhenti.
Mau tak mau, akhirnya Wulan menghentikan motornya. Ketiga wanita itu nampak tegang dan sudah bersiap-siap jika ada kemungkinan niat yang tidak baik dari orang yang menghentikan motor mereka itu. Ketiga wanita itu nampak saling menatap, dan terlihat waspada.
"Babang!"seru Ayana merasa lega setelah melihat siapa yang mengendarai mobil itu. Wajahnya yang tadinya tegang langsung berubah menjadi cerah,"Motor Bu Nur ban nya mendadak kempes, bang,"adu Ayana.
Wulan nampak mengernyitkan keningnya menatap Ayana yang nampak akrab dengan Diky. Wulan sangat tahu jika Ayana tidak mudah akrab dengan orang lain, apalagi orang itu seorang pria. Sedangkan Wulan tidak pernah melihat Diky sebelumnya.
"Ya sudah, biar orang babang saja yang benerin motornya Bu Nur. Kalian masuk ke dalam mobil, biar babang antar pulang. Nanti motor Bu Nur akan di antar ke rumah Bu Nur sama orang babang,"ujar Diky.
"Oke,"sahut Ayana lalu menoleh ke arah Wulan,"Lan, ini babang Diky, sahabatnya kak Dimas. Babang Diky, ini adalah Wulan, sahabat aku,"ujar Ayana memperkenalkan.
Kedua orang itupun saling berjabat tangan. Diky tersenyum manis pada Wulan. Sedangkan Wulan tersenyum malu-malu.
"Lan, makasih, ya, sudah di step. Aku pulang sama babang dulu,"pamit Ayana.
"Iya, sama-sama, Ay"sahut Wulan.
Akhirnya Ayana dan Bu Nur masuk ke dalam mobil Diky. Sedangkan Wulan kembali melajukan motornya menuju rumahnya. Dan anak buah Diky ditugaskan untuk menambal ban motor Bu Nur.
"Babang, ini mobil siapa?"tanya Ayana, karena setahu Ayana, Diky tidak memiliki mobil.
__ADS_1
"Mobil untuk operasional, Ay. Properti untuk misi penyelidikan. Di bagian belakang kamu, ada berbagai peralatan, termasuk komputer untuk mempermudah kami melakukan pengintaian,"jelas Diky.
"Oh, pantesan mobilnya besar sekali. Aku tadi sempat takut saat kalian menghentikan kami. Aku pikir, kalian akan bermaksud jahat pada kami,"ujar Ayana terkekeh kecil. Tadi memang Ayana sudah tegang saat anak buah Diky memberi isyarat agar rombongan Ayana berhenti.
"Ibu, juga, Nak Diky. Maklum, kami pernah di hadang orang yang bermaksud jahat saat berkendara, jadi agak trauma,"sahut Bu Nur yang sudah mengenal Diky karena sudah beberapa kali melihat Diky di rumah Ayana.
"Maaf jika membuat kalian takut. Aku kebetulan lewat sini dan tidak sengaja melihat kalian tadi,"sahut Diky dengan mata yang fokus pada jalan raya.
"Babang masih kerja? Kalau masih kerja, mending kami pulang naik taksi online aja. Jangan sampai pekerjaan babang tertunda karena mengantar kami pulang,"ujar Ayana.
"Iya, Nak Diky. Kami bisa naik taksi online jika Nak Diky masih ada pekerjaan lain,"sahut Bu Nur tidak enak hati. Karena semua ini di sebabkan oleh ban motor nya yang tiba-tiba kempes.
"Nggak apa-apa Ay, Bu. Aku tadi baru selesai kerja, mau balik ke kantor. Aku sekalian pulang buat makan dulu, lah. Kebetulan belum makan,"sahut Diky.
"Nanti malam, babang bisa ikut makan malam di rumah papa, 'kan?"tanya Ayana.
"Babang usahakan. Babang penasaran bagaimana akting perempuan itu nanti,"sahut Diky,"Oh, ya, Ay. Temen kamu tadi cantik juga. Udah punya gebetan belum?"tanya Diky sepintas melirik kaca dashboard mobil untuk melihat Ayana yang duduk di kursi penumpang di belakang nya.
"Kenapa? Babang naksir?"tanya Ayana memicingkan sebelah matanya.
"Penasaran aja. Sepertinya dia gadis yang baik. Siapa tahu jodoh,"sahut Diky kemudian terkekeh.
"Dia memang gadis yang baik, babang. Nggak neko-neko. Aku pernah tinggal lumayan lama di rumah dia. Keluarganya hangat dan ramah. Aku sudah menganggap mereka seperti keluarga aku sendiri,"ujar Ayana yang pernah lumayan lama tinggal bersama keluarga Wulan.
"Oh, keluarga tempat kamu tinggal sebelum kamu tinggal sama Dimas, dan Toyib, ya?"tanya Diky yang tahu dari cerita Toyib.
"Iya, bang,"sahut Ayana.
"Masih jomblo, nggak? Kalau masih jomblo, boleh, dong, babang PDKT?"ujar Diky.
"Kebetulan memang masih jomblo,"sahut Ayana.
...🌸❤️🌸...
Notebook :
•Stut motor atau step motor adalah teknik mendorong motor menggunakan kaki yang berpijak di footstep motor yang mogok. Teknik ini banyak digunakan bagi para bikers yang enggan menggunakan tali untuk menderek motor.
•PDKT merupakan kependekan dari kata pendekatan yang berarti proses untuk mendekati lawan jenis yang disukai.
.
__ADS_1
To be continued