
"Tuan muda masih belum melewati masa kritisnya. Dan Nona muda..."Saman menggantung kata-katanya lalu menghela napas panjang.
"Kenapa dengan menantu saya?"tanya Buston yang penasaran dan tidak sabar menunggu Saman melanjutkan kata-katanya.
"Nona muda sedang mengandung. Usia kandungannya empat minggu. Saat ini keadaannya lemah dan kemungkinan besar syok karena mendengar prediksi dokter tentang keadaan Tuan Muda,"sahut Saman.
Buston menghela napas yang terasa berat. Mendengar berita kehamilan Ayana.
"Andai saja berita bahagia ini datang tidak dalam keadaan yang seperti ini. Aku pasti akan merasa sangat bahagia. Tapi ini.. aku tidak bisa membayangkan bagaimana menantuku melewati masa sulit ini,"ujar Buston dengan wajah sendu.
"Tuan benar. Mereka saling mencintai. Saya takut, keadaan tuan Muda saat ini akan berpengaruh besar pada kesehatan nona muda, terutama janin dalam kandungannya,"
"Aku juga mengkhawatirkan hal itu Apa kamu sudah menyelidiki kronologi kecelakaan yang menimpa istri dan anakku ini?"
"Sudah, Tuan. Truk tronton itu kehilangan keseimbangan karena tiba-tiba bannya meletus.Jika tuan Muda tidak melajukan mobilnya dengan kencang untuk menabrak mobil nyonya yang ada di depannya, Nyonya pasti akan mengalami nasib yang sama dengan Tuan Muda,"
"Maksud kamu? Putraku berusaha menyelamatkan istri ku?"
"Iya, Tuan. Sebagai seorang yang sudah fasih mengendarai mobil, tuan Dimas pasti bisa memprediksikan kecepatan mobil yang di kendarainya dan bagaimana kecepatan mobil didepannya bila ditabraknya.Tuan Dimas pasti tahu, walaupun dia melajukan mobilnya dengan kencang, Tuan Muda tidak akan bisa menghindari truk tronton itu. Tapi Tuan muda masih berusaha menyelamatkan nyonya,"
"Bahkan saat nyawanya sendiri terancam, dia masih memikirkan orang lain. Dia benar-benar seperti almarhum ibunya. Dan ibunya mengajari dia terlalu baik. Waktu itu, dia sudah menyelamatkan nyawa kami sekeluarga. Dan kali ini, dia kembali menyelamatkan nyawa istriku. Apa pantas jika aku sebagai seorang ayah tidak memberikan apapun padanya? Semua ini kesalahan ku. Aku bahkan tidak berani mengakui dia sebagai putraku. Karena aku malu telah menjadi ayah yang benar-benar tidak berguna,"ujar Buston penuh rasa sesal.
"Tuan, sebaiknya Tuan makan dulu. Dari tadi Tuan belum makan. Nyonya, Tuan muda, dan nona muda semuanya sakit. Jika Tuan ikut sakit juga, saya akan kerepotan untuk mengurus kalian semua. Belum lagi saya harus mengurus perusahaan. Tuan Axell belum bisa diandalkan untuk menghandle perusahaan. Beda dengan Tuan Dimas yang sangat mahir dalam masalah bisnis. Jadi, Tuan harus makan, biar tetap sehat untuk menjaga keluarga Tuan,"bujuk Saman.
Buston menghela napas panjang, kemudian menatap Liliana,"Baiklah. Mungkin sebentar lagi Liliana sadar. Aku akan makan dulu. Kamu tempatkan seorang perawat untuk menjaga istriku,"
"Baik, Tuan,"sahut Saman.
Liliana membuka matanya saat Buston dan Saman keluar dari ruangan rawat inap nya. Ternyata Liliana sudah sadar sejak Saman masuk ke dalam ruangannya itu. Liliana mendengar semua pembicaraan Buston dan Saman tadi.
"Aku ingin tahu bagaimana wajah anak itu,"gumam Liliana yang semakin penasaran dengan putra Buston yang hadir karena kesalahan Buston itu.
Liliana akhirnya mencari informasi dari perawat yang ditugaskan untuk menjaganya. Bertanya tentang siapa saja orang yang mengalami kecelakaan bersama dirinya. Dari perawat itu, Liliana tahu jika nama dari putra suaminya itu adalah Dimas. Karena hanya orang yang bernama Dimas lh yang mengalami kecelakaan bersama dirinya.
__ADS_1
Keesokan harinya saat Buston pergi ke kantor, Liliana meminta perawat untuk mengantarkannya ke ruangan Ayana di rawat. Karena tidak mungkin dirinya yang belum pulih itu menengok Dimas yang berada di ruang ICU. Walaupun Liliana sangat penasaran ingin melihat orang yang sudah dua kali menyelamatkan nyawanya itu. Sekaligus orang yang ternyata adalah anak tirinya.
"Nyonya Liliana,"ucap Hilda yang terkejut dengan kehadiran Liliana. Di negeri ini, hampir semua orang mengenali Liliana. Karena selain terkenal sebagai istri dari orang terkaya di negeri ini, Liliana juga terkenal sebagai wanita kalangan atas yang sangat dermawan.
"Apakah anda ibu Ayana?"tanya Liliana yang duduk di kursi roda yang di dorong oleh seorang perawat itu
"Ah, iya. Saya Hilda, mama Ayana,"sahut Hilda yang merasa aneh melihat kedatangan Liliana di ruangan rawat putrinya itu.
"Boleh saya menjenguk Ayana?"tanya Liliana sopan.
"Silahkan!"sahut Hilda ramah.
Perawat yang menemani Liliana pun mendorong kursi roda Liliana mendekati Ayana yang masih terbaring di ranjang pasien dengan mata yang terpejam.
"Cantik sekali! Ternyata aku memiliki menantu secantik ini. Apakah anak tiriku juga tampan? Aku ingin sekali melihat dia. Tapi sayang, sampai saat ini dia belum melewati masa kritisnya,"gumam Liliana dalam hati saat melihat wajah Ayana.
"Bagaimana keadaannya?"tanya Liliana menatap Hilda.
"Sudah lebih baik. Tapi masih lemah. Semalam sempat sadar, tapi langsung histeris ingin melihat suaminya. Akhirnya dokter memberinya obat, agar dia bisa istirahat dan tenang,"sahut Hilda terlihat sedih.
"Ay!"panggil Hilda seraya mengelus kepala Ayana.
Perlahan Ayana membuka matanya, mengedip-ngedipkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
"Akhirnya kamu sadar juga, Ay,"ujar Hilda tersenyum tipis, masih mengelus kepala Ayana.
"Kak Dimas, mana kak Dimas, ma? Aku ingin bertemu dengan dia,"ucap Ayana dengan suara lemah dan tubuh yang lemah. Berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
"Tenang, Ay! Tenang!"ucap Hilda, mencegah Ayana untuk bangun.
"Aku ingin bertemu kakak, ma. Biarkan aku pergi. Aku ingin kakak, ma! Aku ingin kakak!"Ayana mencoba berontak dari pegangan Hilda, tapi tenaganya terlalu lemah.
"Berhenti, Ay! Apa kamu pikir Dimas akan senang melihat kamu seperti ini? Lihatlah dirimu! Tubuh kamu lemah, wajah kamu pucat seperti mayat hidup. Apa kamu akan berpenampilan seperti ini di depan suami kamu?"sergah Hilda yang tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk Ayana.
__ADS_1
"Aku ingin melihat kakak, ma. Aku ingin melihatnya,"ucap Ayana yang akhirnya berhenti memberontak. Air matanya menetes di wajahnya yang terlihat pucat.
Liliana merasa iba melihat keadaan menantunya itu.
Diky dan Toyib yang baru saja masuk ke dalam ruangan itupun terlihat sangat sedih melihat keadaan Ayana yang seperti itu.
"Kamu boleh menemui Dimas, jika keadaan kamu sudah membaik. Dengar, ay! Kamu harus kuat dan harus tabah menjalani ini semua. Mama, papa dan saudara-saudara kamu akan selalu mendukung kamu dan menemani kamu melewati masa sulit ini. Kami sudah sangat sedih melihat keadaan Dimas saat ini. Jangan membuat kami semakin sedih dengan melihat keadaan kamu yang seperti ini,"ujar Hilda yang nampak emosional. Mata wanita paruh baya itu terlihat berkaca-kaca.
"Maaf!"ucap Ayana yang akhirnya menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh mamanya adalah benar. Apalagi saat melihat mama dan kedua kakak angkatnya yang terlihat sangat sedih saat menatapnya.
Diky dan Toyib pun mendekati Ayana. Kedua pria itu berdiri di samping kanan dan kiri Ayana. Kedua pria itu memegang jemari tangan Ayana dengan hangat.
"Kita lewati ini semua bersama-sama, ya! Kamu harus kuat. Karena kami akan selalu mendukung kamu,"ucap Diky dengan tatapan lembut.
"Kamu harus sehat dan kuat. Ada yang bergantung hidup padamu. Jika kamu sakit, maka dia juga akan sakit,"ucap Toyib dengan tatapan yang sama lembutnya dengan tatapan Diky.
"Ma.. maksud Abang?"tanya Ayana dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dibaca.
"Ay, Tuhan memberimu kepercayaan untuk mengandung anak Dimas. Jadi, jika kamu stress dan sakit, maka keadaan kamu itu akan berpengaruh pada janin dalam kandungan kamu,"ujar Hilda dengan nada lembut, tidak lagi emosional seperti tadi.
"Benar kata Tante, Ay. Kamu harus menjaganya baik-baik. Kamu tidak mau, 'kan, Dimas bersedih karena kamu tidak menjaga anaknya dengan baik? Jaga dia untuk Dimas, ya!"ucap Toyib seraya meletakkan tangan Ayana di perut Ayana sendiri.
"Aku akan menjaganya baik-baik,"ucap Ayana dengan bibir bergetar dan airmata yang mengalir. Mengusap perutnya sendiri mengingat mimpinya dua hari yang lalu.
"Dia yang akan menemani kamu. Aku pergi dulu, ya! Jaga dia baik-baik untuk aku!"
"Dia orang yang aku cintai setelah kamu. Dia akan menemani kamu saat aku tak ada,"
Kata-kata Dimas dalam mimpinya itu kembali diingat oleh Ayana. Mimpi yang saat itu membuat Ayana ketakutan.
"Apa ini maksud kakak? Dia menitipkan anaknya di rahim ku? Aku akan menjaganya untuk kakak. Kakak harus berjanji untuk kembali! Kakak sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku,"gumam Ayana dalam hati.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued