
Rengganis berjalan di koridor kampusnya. Gadis yang dulu dekil kurus dan hitam itu sekarang menjelma menjadi gadis cantik, berkulit bersih dengan berat badan ideal.
Tentu saja sekarang Rengganis berubah drastis. Dulu di kampung, setiap hari bekerja serabutan dan sering bekerja sebagai buruh tani yang bergelut dengan tanah dan bekerja di bawah teriknya matahari. Sehingga membuat kulitnya menjadi hitam dan dekil. Badannya menjadi kurus sebab makan dengan lauk seadanya karena harus menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Agar bisa tetap makan saat dirinya tidak mendapatkan pekerjaan.
Semenjak menjadi anak angkat Bu Ningsih dan tinggal di kota, Rengganis tidak lagi merasakan teriknya matahari seharian dan bisa makan dan minum berkecukupan. Jadi wajar saja jika kecantikan sesungguhnya dari gadis itu akhirnya terlihat.
Walaupun banyak mahasiswa yang seangkatan ataupun senior nya yang sengaja mendekatinya, Rengganis tidak menanggapi mereka. Gadis itu lebih fokus pada kuliahnya. Tidak ingin mengecewakan Bu Ningsih yang telah mengangkat dirinya sebagai anak. Wanita yang mencukupi semua kebutuhan hidupnya, bahkan menguliahkan dirinya. Sungguh, Rengganis merasa sudah terlalu banyak berhutang budi pada wanita yang mengangkat dirinya sebagai anak itu. Karena itu, Rengganis ingin membanggakan wanita itu dengan prestasinya.
"Hai, Nis!"sapa seorang pemuda yang akhir-akhir ini mendekati Rengganis. Pemuda yang tumbuhnya kurus itu menghadang Rengganis.
"Maaf, kak! Aku ingin ke perpustakaan. Tolong berikan aku jalan,"ucap Rengganis sopan.
"Jangan belajar terus! Nanti bisa stres, loh! Sesekali bersantai dulu.Kita ke kantin, yuk! Aku traktir,.deh!"ajak pemuda yang tidak lain adalah Tony.
"Terimakasih, kak! Aku masih kenyang,"tolak Rengganis secara halus,"Permisi!"ucap Rengganis membalikkan tubuhnya berjalan cepat meninggalkan Tony, mencari jalan lain menuju perpustakaan kampus.
"Dia itu menakutkan sekali. Entah mengapa, aku merasa kalau dia itu bukan pria baik-baik. Mana akhir-akhir ini dia gencar mendekati aku lagi," gumam Rengganis dalam hati.
Sementara itu seorang mahasiswa berambut jabrik nampak menghampiri Tony yang menatap Rengganis berjalan cepat meninggalkan dirinya.
"Bray, serius amat ngelihatin itu cewek?"
"Si Rengganis itu semakin hari semakin cantik, bro. Dan belum ada yang bisa menjadikan dia pacar. Aku jadi tertarik padanya. Apalagi, keliatannya dia itu masih polos banget. Mungkin masih Virgin. Kalau bisa merayunya dan bisa menjadikan dia sebagai pacar, 'kan, lumayan dapat teman berbagi peluh di atas ranjang,"sahut Tony.
"Iya, sih. Kayaknya emang masih polos. Tapi sepertinya dia itu kutu buku. Aku sering lihat dia ke perpustakaan. Terus juga nggak pernah lihat dia nongkrong di kantin. Dia sering makan di taman sambil baca buku. Sepertinya dia bawa bekal dari rumah,"ujar si jabrik.
"Gadis ini benar-benar sulit didekati,"gumam Tony yang masih bisa didengar si jabrik.
"Kalau tidak bisa didekati baik-baik, dekati saja dengan cara lain, bro!"celetuk si jabrik.
"Good idea. Gadis seperti dia, jika sudah terjerat, pasti tidak akan bisa lepas,"ujar Tony tersenyum miring.
Good idea : Ide yang bagus.
__ADS_1
"Mau kemana, bro?"tanya di jabrik yang melihat Tony bergegas pergi.
"Beraksi,"sahut Tony tanpa menghentikan langkahnya.
Tony menebarkan pandangannya menatap semua orang yang ada di sekitar tempat itu. Pandangan Tony tertuju pada seorang mahasiswi yang mengenakan jilbab, lalu menghampiri mahasiswi itu.
"Hai! Kamu punya jarum pentul, nggak?"tanya Tomy sopan.
"Kenapa?"tanya mahasiswi berjilbab itu.
"Ada daging yang nyangkut di gigiku. Bisa pinjam sebentar, nggak, jarum pentul kamu?"pinta Tony berbohong.
"Ada. Sebentar,"sahut mahasiswi itu seraya membuka tasnya,"Ini, pakai aja, nggak usah dikembalikan,"
"Okey! Thanks!"ucap Tony langsung melenggang menuju parkiran. Mahasiswa itu tersenyum smirk saat melihat motor yang biasanya digunakan oleh Rengganis. Tony pun menusuk ban motor milik Rengganis.
"Sebentar lagi, si Rengganis itu pasti akan pulang. Jika di tusuk seperti ini, ban nya akan kempes setelah dia agak jauh dari kampus,"gumam Tony penuh senyuman, kemudian bergegas pergi dari tempat itu.
Lima belas menit kemudian, Rengganis nampak berjalan menuju parkiran. Gadis yang benar-benar hanya fokus pada kuliahnya itu mengendarai motornya keluar dari kampus.
"Apakah suatu saat nanti, aku bisa punya pasangan yang manis seperti itu,"gumam Rengganis melajukan motornya melewati pasangan yang terlihat mesra itu.
Pasangan yang dilihat Rengganis itu tidak lain adalah Ayana dan Dimas. Seperti yang dilakukan Dimas semenjak Ayana hampir dicelakai Clara waktu itu. Dimas selalu menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput Ayana. Dan hal itu tentu saja membuat Ayana merasa sangat bahagia.
Sementara dari tempat yang tidak terlalu jauh dari sepasang suami-isteri itu, nampak Delvin menatap sepasang suami-isteri dengan tangan terkepal. Merasa iri melihat Dimas dan Ayana yang selalu terlihat mesra.
"Kenapa bukan aku yang lebih dulu bertemu dengan kamu? Kenapa harus dia?"gumam Delvin dalam hati.
Setelah Ayana dan Dimas pergi, Delvin pun beranjak dari tempatnya mengintip Ayana dan Dimas. Sedangkan si keriting dan si gisul ternyata juga berada tidak jauh dari tempat itu. Mereka diam-diam mengikuti Delvin dan melihat Delvin mengintip Ayana yang sedang bersama Dimas.
"Huff.. sakit cinta itu ternyata memang susah obatnya,"gumam si gisul menatap Delvin yang semakin menjauh.
"Itu, sih, tergantung pada orangnya masing-masing. Si bos aja yang terlalu baper, alias kebawa perasaan. Begitu melihat Ayana langsung jatuh cinta. Dan saat mengetahui Ayana sudah ada yang punya jadi patah hati. Mencintai itu jangan terlalu! Yang sedang-sedang saja,"sahut si keriting sok bijak.
__ADS_1
"Jangan banyak bacot lu! Kamu bisa ngomong begitu karena tidak ada di posisi si bos,"sahut si gisul.
"Aku nggak bakal berada di posisi seperti bos"
"Iya. Aku yakin kamu nggak bakal pernah berada di posisi si bos sekarang. Karena aku yakin kamu sadar diri. Jangankan cewek cantik, cewek terjelek di kampus ini pun mikir seribu kali buat jadi pasangan kamu,"
"Sembarangan, kamu kalau ngomong! Jangan menghina!"
"Aku nggak menghina. Aku realistis. Nggak bakal ada cewek yang mau sama kamu. Isi dompet kamu paling elit juga gambar Frans Kaisiepo (Sepuluh Ribuan). Kebanyakan yang parkir di dompet kamu cuma gambar Mohammad Hoesni Tamrin (Dia ribuan). Pulang pergi kalau nggak disamperin Delvin juga naik angkot. Mana ada cewek yang mau sama orang keren tanpa n alias kere seperti kamu,"cibir si gisul.
"Eh, sialan kamu! Kalau ngomong bener-bener suka beneran,"sahut si keriting tersenyum masam.
"Makanya, fokus aja sama kuliah. Kasian tuh, emak bapak kamu banting tulang buat biaya kuliah kamu. Mereka berharap kamu jadi generasi penerus bangsa, bukan generasi penerus bangsaat,"
"Buset, dah! Omongan kamu tajamnya seperti pisau belati yang menghujam hati. Mak Jleb. Lama-lama kamu kok, ngalahin emak aku, ya?! Tiap hari ngasih kuliah. Nggak cuma kuliah subuh, kuliah siang, sore, malam pun ada,"
"Wajar aja kamu dikuliahi emak kamu. Sudah tahu emak bapak kau orang susah, pulang kuliah kamu bukannya bantu jualan mie ayam. Tapi malah main game,"
"Haiss.. sudahlah. Kamu jadi semakin cerewet melebihi emakku. Ayo susul si bos! Kalau gantung diri di bawah pohon cabe karena payah hati, 'kan, berabe, terus datengin kita bergantian, 'kan, nggak lucu,"
"Ini, mah, alamat susah move on nya,"
...🌟Lepaskan dan relakan apa yang tidak mungkin kamu dapatkan.🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
Notebook :
•Virgin adalah murni atau suci. Perempuan yang belum pernah melakukan hubungan suami-istri.
.
__ADS_1
To be continued