SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
121. Takut Kehilangan


__ADS_3

Dimas menatap wajah Ayana yang terlihat pucat. Merapikan anak rambut Ayana yang berantakan.


"Aku buatkan teh, ya? Biar perut kamu anget dan ada isinya,"ujar Dimas, dan Ayana hanya mengangguk dengan wajah pucat nya.


Dimas beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah dapur. Membuat teh untuk Ayana. Dimas melihat Toyib yang sedang duduk di salah satu kursi meja makan seraya mengupas buah jeruk.


"Dim, Ayana kenapa?"tanya Toyib tanpa mengalihkan pandangannya pada buah jeruk yang di kupasnya.


"Nggak tahu, Yib. Dia muntah-muntah,"sahut Dimas menghela napas panjang.


"Apa.. Ayana hamil, Dim?"tanya Toyib penuh selidik.


"Aku tidak tahu, Yib. Kalau pun iya, aku harus tetap menerimanya bukan? Tidak mungkin aku menyuruh Ayana menggugurkan anak kami. Ini memang salahku,"sahut Dimas membuang napas kasar seraya memasukkan gula ke dalam gelas.


"Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri! Kamu itu cuma manusia biasa, Dim. Punya istri cantik kinyis-kinyis dan manja gitu, mana ada yang tidak khilaf? Terkecuali kamu bukan pria normal yang sukanya main pedang-pedangan,"celetuk Toyib.


Sedangkan Dimas hanya diam. Benar kata Toyib, dirinya hanya manusia biasa. Punya istri cantik kinyis-kinyis, manja dan suka menempel padanya, bagaimana dirinya yang pria normal bisa tahan untuk tidak menerkamnya.


"Sebaiknya dibawa ke dokter untuk memastikan Ayana hamil atau tidak,"lanjut Toyib.


"Aku akan mencoba untuk membujuknya lagi. Soalnya dari aku pulang tadi, aku ajak berobat dia tidak mau,"sahut Dimas.


Dimas kembali menghela napas,"Aku ke kamar dulu, Yib"pamit Dimas setelah selesai membuat teh.


"Ya sudah, sana! Kasian lagi sakit di tinggal. Untuk makan siang, biar aku belikan saja. Ngomong saja apa yang ingin kalian makan, nanti aku carikan,"ujar Toyib.


"Iya, Yib. Terimakasih!"ucap. Dimas tulus.


"Kayak sama siapa aja, kamu ini,"sahut Toyib tersenyum tipis.


"Sama saudara,"sahut Dimas yang juga tersenyum tipis.


Dulu, saat baru tiba di kota ini, Dimas tidak tahu harus melakukan apa. Waktu itu, Dimas hanya berniat meninggalkan kota tempatnya meniti karir yang akhirnya hancur. Dimas ingin memulai hidup yang baru di kota ini. Waktu itu, Dimas sedang mencari kontrakan dan tidak sengaja bertemu dengan Toyib.


Tidak di sangka, Toyib mengajak Dimas tinggal bersama Toyib di kontrakan Toyib, dengan alasan agar Toyib ada teman saat berada di kontrakan nya dan tidak kesepian setelah pulang bekerja. Dimas yang sejak pertama bertemu dengan Toyib merasa nyaman mengobrol dengan Toyib pun setuju tinggal bersama Toyib. Dimas mengatakan ingin membagi dua uang sewa kontrakan, karena merasa tidak enak hati jika menumpang pada Toyib. Toyib pun waktu itu setuju dan malah senang karena bisa memangkas biaya mengontrak, jadi Toyib bisa menabung lebih banyak.

__ADS_1


Waktu itu, Dimas mengaku memiliki sedikit uang untuk modal usaha. Tapi belum tahu mau usaha apa. Akhirnya Toyib mengajak Dimas untuk berjualan pakaian keliling seperti dirinya. Walaupun modal yang dimiliki Dimas tidak terlalu besar, tapi bisa untuk membuka usaha berjualan pakaian keliling.


Sejak saat itulah, Dimas menjadi sales pakaian keliling bersama Toyib. Toyib memberitahu Dimas di mana tempat untuk membeli barang dagangan. Toyib juga mengajari Dimas bagaimana cara berjualan pakaian keliling dengan sistem kredit. Dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan cara berdagang pakaian keliling.


Sedikit demi sedikit, modal Dimas pun semakin bertambah, bahkan juga bisa menabung, walaupun tidak terlalu banyak. Bagi Dimas, Toyib sangat berjasa bagi hidupnya dan sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri. Jika tidak ada Toyib, entah bagaimana keadaan Dimas saat ini.


Dimas masuk ke dalam kamarnya, kemudian duduk di tepi ranjang tempat Ayana berbaring.


"Ay, minum tehnya dulu!"ucap Dimas seraya mengelus pipi Ayana.


"Hum,"sahut Ayana seraya membuka matanya yang terasa berat.


Dimas membantu Ayana duduk. Pria itu memeluk tubuh Ayana dari samping dan menyandarkan kepala Ayana di dadanya. Dimas membantu Ayana meminum teh hangat yang baru di buatnya.


"Ay, kita periksa ke dokter, yuk! Aku tidak akan bisa tenang meninggalkan kamu untuk bekerja, jika kamu sakit begini. Apalagi sebentar lagi kamu juga akan ujian. Kamu harus sehat untuk menghadapi ujian,"bujuk Dimas setelah Ayana meminum teh.


"Baiklah, tapi jangan sekarang, ya, kak? Aku masih lemas,"sahut Ayana menurut.


Ayana tidak ingin Dimas tidak fokus bekerja karena mengkhawatirkan dirinya. Apalagi, sekarang Dimas sangat sibuk mengurus perusahaan papanya yang sedang memproduksi makanan ringan yang baru saja mereka luncurkan secara besar-besaran. Ayana tidak ingin pekerjaan suaminya terbengkalai karena mengurus dirinya yang sakit.


"Aku ingin makan bakso, kak,"sahut Ayana seraya memeluk Dimas.


Setiap kali berdekatan dengan Dimas, Ayana selalu ingin memeluk dan di peluk Dimas. Apalagi saat dirinya sakit seperti saat ini. Ayana hanya ingin bermanja-manja di dalam pelukan Dimas.


"Oke. Akan aku katakan pada Toyib,"sahut Dimas.


Dimas yang melihat Ayana enggan melepaskan pelukannya pun meraih handphonenya untuk memberitahu Toyib, makanan apa yang ingin di belinya.


"Kapan papa sembuh? Kakak tidak punya banyak waktu untuk aku semenjak mengurus perusahaan papa,"keluh Ayana.


"Orang yang mengalami patah tulang, biasanya memerlukan waktu 3-6 bulan untuk pulih kembali, Ay. Karena usia papa sudah lima puluh tahun lebih, maka proses pemulihannya akan sedikit lebih lama. Mungkin sekitar lima bulan lagi papa baru bisa pulih,"sahut Dimas.


"Lama sekali, kak. Aku lebih suka kakak jual beli saham. Jadi kakak bisa punya banyak waktu untuk aku,"sahut Ayana yang masih memeluk Dimas dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimas.


"Ay, bagaimana jika kau hamil?"tanya Dimas tiba-tiba.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Dimas, Ayana pun mendongakkan kepalanya menatap Dimas.


"Memang kenapa jika aku hamil? Aku, 'kan punya suami,"sahut Ayana nampak tanpa beban.


"Kamu tidak takut?"tanya Dimas yang tidak menduga jika Ayana akan menjawab pertanyaannya dengan santai tanpa beban.


"Kenapa harus takut?"tanya Ayana.


"Kamu masih sekolah, Ay. Aku tidak ingin sekolah kamu terganggu karena kamu hamil. Banyak ibu-ibu hamil yang mengalami morning sickness. Aku takut, kamu seperti itu, Ay. Apalagi usia kamu masih terlalu muda. Banyak resiko jika hamil pada usia muda atau remaja, antara lain berisiko kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah (BBLR), dan juga perdarahan persalinan, yang dapat meningkatkan kematian ibu dan bayi. Aku tidak ingin kehilangan kamu, Ay,"ujar Dimas mengungkapkan kekhawatirannya. Memeluk erat tubuh Ayana.


"Kenapa kakak jadi paranoid, sih? Percayalah, bahwa semua akan baik-baik saja!"ucap Ayana seraya memegang sebelah pipi Dimas.


"Wajar jika aku jadi paranoid, Ay. Karena kamu sangat berarti bagi aku,"ucap Dimas seraya memegang tangan Ayana yang memegang pipinya, kemudian mengecup nya dengan lembut.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kakak. Karena kakak hanya milikku. Aku tidak rela kakak di miliki wanita lain. Jadi, aku akan menua bersama kakak,"ucap Ayana dengan seulas senyum di wajahnya yang masih terlihat pucat.


Dimas memegang pipi Ayana, kemudian menundukkan wajahnya.


"Cup"


"Cup"


"Cup"


Dimas mencium bibir Ayana beberapa kali, kemudian kembali memeluk erat tubuh Ayana,"Aku juga tidak rela kamu dimiliki pria lain. Aku ingin kamu hanya menjadi milikku seorang,"ucap Dimas memeluk erat tubuh Ayana seraya memejamkan mataku.


"Ngomong-ngomong, aku sudah telat dua hari, kak,"


...🌟"Jangan terlalu mencintai! Semakin kamu mencintainya, maka kamu akan semakin takut kehilangannya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2