
Hujan masih turun dengan deras, kilat dan petir juga masih menyambar-nyambar. Geno, Hilda, Nando sudah berada di meja makan. Menu masakan yang sudah disiapkan Ayana tadi sore, sudah diselesaikan oleh pelayan di rumah itu. Ayam dan ikan sudah di bakar, bakwan jagung dan perkedel kentang sudah di goreng, dan sayuran yang sudah direbus pun sudah dicampur dengan bumbu urap yang di buat Ayana sore tadi.
"Wahh.. menunya menggugah selera banget, nih. Di tambah lagi pas hujan-hujan begini. Apa yang masak semua ini Ayana, Bik?"tanya Geno.
"Iya, Tuan,"sahut pelayan itu.
"Mana Ayana? Kenapa nggak turun juga? Perutku sudah lapar,"ujar Nando yang semakin lapar saat melihat menu masakan yang tersaji. Apalagi ayam dan ikan bakarnya masih panas.
"Dimas baru pulang sekitar sepuluh menit yang lalu. Trauma Ayana kambuh. Dimas masih menenangkan Ayana,"sahut Hilda.
"Astaga! Papa lupa soal itu. Papa lupa jika trauma Ayana kambuh jika sedang hujan, kilat dan petir,"sahut Geno menghela napas panjang. Geno benar-benar lupa tentang trauma Ayana. Karena memang semenjak Ayana mengalami trauma, hanya dua kali Geno melihat' trauma Ayana kambuh.
"Mama juga nggak ingat, pa. Tadi mama terkejut saat melihat Dimas berlari masuk ke rumah dan langsung menuju kamarnya. Mama mengikuti Dimas dan melihat Ayana sudah duduk berjongkok di pojok kamarnya, menutup telinganya dengan wajah yang sudah basah oleh air mata,"ujar Hilda menghela napas panjang. Merasa tidak becus menjadi seorang ibu. Bahkan saat trauma Ayana kambuh pun, Hilda tidak tahu.
"Ya sudah, kita makan saja dulu. Kata Dimas, biasanya lama Ayana baru bisa tenang kalau traumanya sedang kabuh,"ujar Geno.
"𝘽𝙞𝙨𝙖-𝙗𝙞𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙜𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙩𝙖𝙡𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖. 𝘼𝙠𝙪 𝙧𝙖𝙨𝙖, 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖, 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙟𝙖,"gerutu Bening dalam hati.
Akhirnya keempat orang itu menyantap makan malam mereka tanpa menunggu Dimas dan Ayana. Menu yang tersaji di meja makan begitu menggugah selera dan membuat perut mereka tidak sabar untuk diisi.
"𝘼𝙣𝙖𝙠 𝙞𝙩𝙪 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙮𝙪 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙖,"gerutu Bening dalam hati, saat memakan masakan Ayana. Ada rasa iri di hati Bening karena Ayana jauh lebih cantik, lebih muda dan lebih pintar memasak dari pada dirinya.
Orang tua dulu sering bilang, suami itu nggak bakal pindah ke lain hati jika istrinya bisa menyenangkan perut atas dan perut bawah suaminya. Dalam artian, wanita harus pintar memasak dan juga harus pintar menyenangkan suami di atas ranjang. Tapi pertanyaannya, kenapa cuma istri yang dituntut seperti itu? Bukankah seharusnya suami juga harus menyenangkan istri, agar istri tidak pindah ke lain hati? Karena rumah tangga itu dijalani berdua. Jadi harus sama-sama saling membahagiakan, bukan?
Di dalam kamar Ayana.
Dimas mengatur napasnya setelah baru saja mendapatkan pelepasan bersama Ayana untuk pertama kalinya. Pria itu merapikan anak rambut Ayana yang menutupi wajah cantik Ayana. Mengusap wajah Ayana yang basah oleh peluh. Ada pancaran kebahagiaan di wajah sepasang suami-isteri yang baru saja melakukan malam pertama yang sudah beberapa bulan tertunda itu. Saling menatap penuh cinta.
"Maaf, karena sudah menyakiti mu. Dan terimakasih karena sudah menjaga dan memberikan kesucian mu untuk ku!"ucap Dimas kemudian mengecup kening Ayana lembut dengan penuh perasaan.
__ADS_1
"Aku mencintai kakak!"ucap Ayana memeluk erat tubuh Dimas yang masih berada di atas tubuhnya. Bahkan saat ini tubuh mereka masih menyatu. Dimas menyangga tubuhnya dengan kedua sikunya agar tidak menimpa tubuh Ayana sepenuhnya.
"Ay!"panggil Dimas di telinga Ayana. Mengingat di luar sana hujan masih turun dengan deras, kilat dan petir masih bersautan.
"Hum,"sahut Ayana masih memeluk tubuh Dimas.
"Apa masih sakit?"tanya Dimas.
"Sedikit,"sahut Ayana.
Dimas menatap Ayana yang berada di dalam kungkungannya.
"Aku ingin lagi. Apa boleh?"tanya Dimas penuh harap.
Ayana tidak menjawab, tapi gadis itu malah mencium bibir suaminya. Mendapatkan respon seperti itu, Dimas pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Keduanya kembali mengulangi aktivitas panas mereka di atas ranjang.
"Apa masih sakit?"tanya Dimas dengan tangan kanan memeluk tubuh Ayana dan tangan kiri membelai wajah Ayana. Dimas sangat bahagia, akhir malam ini dirinya bisa memiliki Ayana seutuhnya.
"Sedikit,"sahut Ayana menatap Dimas yang juga sedang menatapnya. Hujan masih turun dan sesekali kilat dan petir masih menyambar.
"Tapi enak, 'kan?"tanya Dimas kemudian terkekeh seraya mencubit hidung Ayana gemas.
"Iiihh, kakak!"ucap Ayana dengan suara manja dan wajah yang memerah,"Kak, aku lapar,"ucap Ayana yang memang belum makan malam.
"Maaf, aku sampai lupa,"ucap Dimas seraya menatap jam digital di atas nakas yang menunjukkan pukul sembilan malam,""Aku ambilkan saja, ya? Kamu pasti lelah. Kamu tidak takut, 'kan, aku tinggal sebentar?"tanya Dimas seraya membelai rambut Ayana. Mengingat hujan masih turun, walaupun tidak sederas tadi. Kilat dan petir juga sudah tidak lagi terdengar.
"Hum. Tidak apa-apa,"sahut Ayana.
"Baiklah. Aku tinggal sebentar,"ujar Dimas mengecup bibir Ayana sekilas.
__ADS_1
Dimas memakai celana panjang dengan atasan baju tidur kimono. Pria itu berjalan menuruni tangga menuju dapur. Mengambil nampan lalu membuka tudung saji, bermaksud mengambil makanan untuk dirinya dan Ayana.
"Kamu baru mau makan, Dim?"tanya Bening yang tiba-tiba muncul.
"Hum,"sahut Dimas tanpa menoleh pada Bening. Pria itu sedang menyendok nasi.
"Ikannya sudah dingin. Biar aku panaskan,"ucap Bening berjalan mendekati Dimas.
"Terimakasih! Kamu tidak perlu repot-repot memanaskannya. Walaupun sudah dingin, masakan Ayana tetap enak,"sahut Dimas seraya mengambil sayuran dan lauk yang lainnya.
"Dim, aku.."ucap Bening seraya memegang lengan Dimas, tapi Dimas langsung memotong kata-kata Bening dan menepis tangan Bening yang menegang lengannya.
"Jangan menyentuh aku! Istriku tidak akan senang jika melihat aku di sentuh wanita lain. Dan aku rasa, suamimu juga tidak akan senang jika melihat kamu menyentuh pria lain,"ujar Dimas dengan suara dingin.
Bening merasa kesal karena Dimas tidak mau disentuhnya. Bening semakin kesal saat melihat ada beberapa kiss mark di leher Dimas yang di buat Ayana saat bercinta dengan Dimas tadi.
"Aku tahu, kamu menikah dengan Ayana karena kasihan, 'kan? Karena mentalnya terganggu,"cetus Bening kesal.
"Jangan sembarangan bicara! Mental Ayana tidak terganggu. Dia hanya trauma,"sambar Dimas yang tidak suka saat Bening mengatakan bahwa mental Ayana terganggu.
"Itu sama saja, Dim! Apa kamu tidak ingat? Dia mengacaukan pesta pernikahanku karena saat itu traumanya kambuh. Bahkan sekarang, setelah kamu lelah bekerja seharian, kamu juga harus kelaparan dan makan malam selarut ini karena harus menenangkan Ayana. Kamu pasti jenuh dan tersiksa, 'kan, hidup bersama gadis labil yang bahkan mentalnya terganggu seperti Ayana?"cecar Bening mencoba menjelek-jelekkan Ayana, mempengaruhi Dimas agar Dimas meninggalkan Ayana.
Keduanya tidak menyadari jika ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka dari awal.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1