SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
221. Intruksi


__ADS_3

Diky kembali memeluk Wulan dari belakang dan mencium leher Wulan dengan lembut. Tubuh Wulan pun terasa meremang karena ulah Diky itu.


"Aku ingin,"bisik Diky dengan suara sensuall. Pria itu mengecup leher Wulan dengan kedua tangan yang mulai bergerak di tubuh Wulan


"A.. Abang..."Wulan memegang tangan Diky yang mulai nakal merayap di tubuh bagian depannya itu.


Diky melepaskan tangan Wulan yang memegang tangannya. Pria itu memegang kedua pundak Wulan lalu memutar tubuh Wulan agar menghadap dirinya. Diky menatap lekat manik mata Wulan yang sedang menatap dirinya.


"Jangan menolak aku! Berdosa jika menolak melayani suamimu sendiri,"ucap Diky lembut.


"Tapi, aku.."


Wulan tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi saat dengan cepat Diky membekap bibir Wulan dengan bibir nya.


Diky memeluk erat tubuh Wulan dan menegang tengkuk Wulan untuk memperdalam ciumannya Pria itu mencium Wulan dengan agresif.


Wulan mencengkram kaos oblong yang dipakai Diky. Napas nya semakin memburu dan tubuhnya terasa kaku. Dan pada akhirnya kut menikmati dan membalas ciuman Diky tanpa disadarinya.


Diky hanya memberikan waktu sebentar untuk Wulan menghirup udara, setelah itu Diky kembali menyerang Wulan semakin agresif.


"Brugh"


Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba tubuh Wulan jatuh di atas ranjang dengan Diky yang berada di atas tubuhnya.


"Bang, jangan bang!"Wulan mencoba mendorong dada Diky, saat Diky ingin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Wulan. Sedangkan tangan Diky sudah menyusup di balik baju Wulan.


"Lan, aku sudah menahannya hingga hari ini. Jangan menolak aku lagi, Lan!"pinta Diky dengan mata yang sudah berkabut hassrat. Suara pria itu pun terdengar berat.


"Bu.. bukan maksud aku menolak Abang. Tapi.. aku.. aku sedang datang bulan, Bang,"ucap Wulan tanpa berani menatap Diky.


"Hahh?! Apa?! Kamu lagi datang bulan?"tanya Diky dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.


"I.. iya, bang,"sahut Wulan lirih.


"Lalu ini gimana, Lan? Sudah terlanjur bangun ini,"ujar Diky merasa frustasi.


"Auwh! Abang!"pekik Wulan yang terkejut karena tiba-tiba Diky menusuk paha Wulan dengan sesuatu yang terasa tumpul dan keras. Gadis itu memalingkan wajahnya yang memerah. Wulan bukannya tidak tahu apa yang tadi dipakai Diky untuk menusuk pahanya.


"Lan, bantu aku menidurkannya, ya?!"pinta Diky dengan wajah yang terlihat memelas dan kusut.


"Ba.. bagaimana caranya, bang? Aku tidak tahu,"sahut Wulan dengan bola mata yang bergerak tak menentu.

__ADS_1


"Kamu ikuti saja instruksi ku. Okey?"


"Hum,"sahut Wulan pasrah.


Akhirnya Wulan menurut apapun yang diinginkannya Diky. Pria itu melanjutkan apa yang sudah di mulainya tadi. Mencium Wulan dimanapun yang disukainya. Melepaskan helai demi helai pakaian mereka hingga Diky polos tanpa sehelai benang. Sedangkan Wulan, hanya pakaian bagian atasnya saja yang dilepaskan Diky.


Pria itu terus mencumbuui Wulan seraya membimbing tangan Wulan untuk memainkan miliknya yang sejak tadi sudah mengeras. Awalnya Wulan merasa sangat malu saat Diky menyodorkan miliknya agar Wulan membantu Diky untuk mendapatkan pelepasan. Namun karena tidak berani membantah apa yang dikatakan oleh suaminya, Wulan pun melakukan apapun yang diinginkan oleh Diky, hingga pria itu mendapatkan pelepasan.


Setelah merasa puas, Diky merebahkan tubuhnya di ranjang Wulan yang tidak terlalu besar. Wulan kembali memakai pakaiannya. Sedangkan Diky nampak memejamkan matanya setelah Wulan membantunya mendapatkan pelepasan tadi. Pria itu nampak terlelap.


Wulan menatap wajah tampan Diky yang terlelap. Wulan tidak pernah membayangkan jika harus membantu suaminya mendapatkan pelepasan.


"Tubuh Abang bagus banget. Lebih bagus dari tubuh model iklan pakaian dalam pria,"gumam Wulan yang menatap tubuh Diky yang hanya ditutupi selimut dari pinggang ke bawah. Dada bidang dan perut berotot pria itu tercetak sempurna, terlihat sangat indah di mata wulan.


"Aku nggak nyangka bisa memiliki suami seperti bang Diky,"gumam Wulan tersenyum-senyum sendiri menatap wajah suaminya yang tampan dan tubuh suaminya yang terlihat berotot. Wulan tidak pernah benar-benar merasa bahagia bisa mendapatkan suami seperti Dicky.


Perlahan Wulan beranjak keluar dari kamarnya saat mendengar kedua orang tuanya sudah pulang.


"Sudah selesai, Bu, Pak?"tanya Wulan menghampiri kedua orang tuanya yang duduk di kursi ruang tamu seraya membawa air minum untuk kedua orang tuanya.


"Sudah. Ibu hanya menyisakan untuk makan malam kita saja,"sahut Bu Lastri.


"Nggak nyangka kalau kita bakal mengadakan hajatan sebesar, semewah, semegah dan seheboh ini, ya, Pak?"ujar Bu Lastri nampak bahagia.


"Iya, Bu. Para warga dari kampung sekitar kampung kita juga pada datang ingin melihat,"sahut Pak Parman seraya menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah di sandaran kursi.


"Untung saja nggak ada yang berani membuat keributan, ya, Pak? Biasanya kalau ramai kayak gitu, 'kan, ada saja yang bikin keributan,"sahut Bu Lastri.


"Mana ada yang berani macam-macam', Bu. Polisinya aja banyak kayak gitu,"sahut Pak Parman.


"Iya, ya, Pak. Polisinya banyak banget,"sahut Bu Lastri.


"Artis ibukota kalau nggak dikawal banyak polisi bisa dikerubuti warga Bu,"sahut Wulan.


"Benar juga, ya, Lan. Tadi aja pada berebut minta tandatangan dan foto bareng sama artis -artis itu,"sahut Bu Lastri yang mengingat sangat banyak warga yang ingin menta tandatangan dan foto bareng artis yang memeriahkan pesta pernikahan putrinya tadi


.


"Halahh.. Ibu tadi juga ikut-ikutan minta foto bareng sama para artis itu,"sahut Pak Parman.


"Ya, nggak apa-apa, lah, Pak. Wajar saja ibu minta foto bareng sama mereka. Ibu, 'kan, yang punya hajat,"sahut Bu Lastri sambil menyengir.

__ADS_1


"Bapak mau mandi dulu lah, biar seger,"ujar Pak Parman seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, duluan sana Pak! Habis bapak baru ibu yang mandi,"sahut Bu Lastri, lalu menatap Wulan,"Lan, dimana suami kamu?"tanya Bu Lastri seraya mengamati leher Wulan yang banyak bercak merahnya.


"Tidur, Bu,"sahut Wulan.


"Lan bukannya kamu hari ini sedang datang bulan, ya?"tanya Bu Lastri yang ingat, tadi pagi Wulan meminta pembalut miliknya.


"Iya. Memangnya kenapa, Bu?"tanya Wulan yang merasa aneh dengan pertanyaan ibunya itu.


"Kamu tidak melakukan hubungan suami-istri dengan suami kamu, 'kan?"tanya Bu Lastri seraya memicingkan sebelah matanya.


"Enggak, Bu,"sahut Wulan.


"Ingat, Lan! Melakukan hubungan suami-istri pada saat datang bulan itu tidak baik untuk kesehatan,"


"Iya, Bu,"


Waktu beranjak malam, Pak Parman, Bu Lastri, Wulan dan Diky baru saja selesai makan malam. Mereka duduk bersama sambil mencerna makanan yang baru saja masuk kedalam perut mereka.


"Pak, Bu, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan,"ucap Diky memulai pembicaraan.


"Katakan saja! Tidak perlu sungkan,"sahut Pak Parman.


"Begini, Pak, Bu, saya berniat mengajak Wulan tinggal di apartemen saya. Jika kami tinggal di apartemen, Wulan tidak perlu menempuh perjalan terlalu jauh untuk pergi ke kampus. Dan juga tidak terlalu jauh dari kantor saya. Jadi, jika bapak dan ibu berkenan, saya akan membawa Wulan untuk tinggal bersama saya di apartemen,"ujar Diky sopan.


"Jika kamu ingin tinggal di apartemen kamu bersama Wulan, bapak sih, setuju, setuju saja.. Sekarang Wulan adalah istri kamu, tanggung jawab kamu. Jadi hak kamu jika ingin membawa Wulan. Bapak hanya berpesan agar kamu memperlakukan Wulan dengan baik,"ujar Pak Parman.


"Pasti, Pak. Saya akan memperlakukan Wulan dengan baik. Oh, ya, Pak, bapak sudah bertahun-tahun bekerja di toko sembako. Apa bapak tidak berniat untuk berhenti dan membuka toko sembako sendiri?"


Notebook :


•Instruksi adalah sebuah arahan atau perintah untuk melakukan sesuatu.


•Melakukan hubungan suami-istri pada saat datang bulan bisa meningkatkan risiko infeksi di dalam rahim. Selama masa datang bulan, keadaan mulut rahim akan terbuka dan sensitif. Apabila memasukkan alat reproduksi pria ke dalam alat reproduksi wanita, kuman dari luar bisa saja terdorong masuk ke dalam alat reproduksi wanita dan membuat infeksi.


•Penetrasii dalam hubungan suami-istri adalah memasukkan alat reproduksi pria kedalam alat reproduksi wanita.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2