
Ayana terbangun karena merasa perutnya lapar. Ibu hamil itu perlahan membuka matanya, tapi tidak menemukan Dimas ditempatnya berbaring.
"Kakak kemana?"gumam Ayana dalam hati. Namun saat akan bergerak, Ayana merasa ada sesuatu yang melingkar di perutnya.
"Kakak,"gumam Ayana seraya menyentuh lengan Dimas yang melingkar di perutnya.
Ayana teringat dengan kejadian sebelum dirinya tertidur tadi. Saat dirinya menggoda Dimas hingga hasraat pria itu naik dan akhirnya mereka melakukan penyatuan. Sudah lama tidak melakukan penyatuan, membuat dirinya sangat bersemangat. Dimas pun terlihat bersemangat dan sangat menikmati percintaan mereka tadi. Bahkan mereka saling membuat tanda di tubuh pasangan mereka. Ayana pun beringsut membalikkan tubuhnya.
"Kamu terbangun?"tanya Dimas dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ikut terbangun karena merasakan pergerakan Ayana yang sedang di pelukannya.
"Hum,"sahut Ayana tersenyum menatap Dimas. Tidak bosan rasanya menatap wajah tampan suaminya itu.
"Kakak tetap tampan walaupun rambut kakak acak-acakan,"sahut Ayana dengan seulas senyum yang terlihat manis.
"Apa dia sedang menggoda ku? Apa dia biasa melakukan hal seperti ini padaku? Dia bahkan membuat aku menidurinya. Dia sepertinya sangat tahu bagian-bagian sensitif dari tubuhku. Hingga saat dia menyentuh aku, aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi padanya.
"Kruk.. kruk.. kruk.."
Suara perut Ayana yang keroncongan pun mengalihkan atensi sepasang suami-isteri itu
"Kamu lapar?"tanya Dimas dan Ayana hanya menyengir tanpa menjawab pertanyaan Dimas.
"Menggemaskan sekali!"gumam Dimas melihat ekspresi Ayana yang terlihat menggemaskan di matanya, reflek pria itu langsung mencubit hidung Ayana seperti yang dilakukannya dulu. Namun tiba-tiba Dimas memegang kepalanya dan memejamkan matanya. Pria itu terlihat menahan sakit.
"Aku merasa sudah pernah melakukan ini,"gumam Dimas dalam hati.
"Kakak kenapa?"tanya Ayana terlihat khawatir seraya memegang pipi Dimas.
"Tidak apa. Sebaiknya kamu membersihkan diri. Setelah itu kita makan,"
"Tapi, kakak... "
"Tidak apa. Bersihkan lah tubuh kamu. Jika kamu kelaparan, janin dalam kandungan kamu pasti juga ikut lapar. Apalagi ini sudah pukul satu lewat,"ujar Dimas setelah melirik jam digital di atas nakas.
"Baiklah,"sahut Ayana yang sebenarnya enggan meninggalkan Dimas.
Di dapur.
"Bik, tolong buatkan jus, ya!"pinta Liliana yang baru saja pulang.
__ADS_1
"Iya, nyonya,"sahut pelayan di rumah itu.
"Loh, Bik, kok masih banyak lauk?"tanya Liliana saat membuka tudung saji.
"Tuan Muda Dimas dan istrinya belum keluar untuk makan siang, nyonya. Mungkin mereka lelah setelah pulang dari rumah sakit tadi,"sahut pelayan paruh baya itu.
"Oh, iya. Aku lupa kalau hari ini jadwal Ayana memeriksakan kandungannya,"gumam Liliana, tapi sesaat kemudian Liliana seperti mengingat sesuatu,"Mereka? Apa Dimas menemani Ayana ke rumah sakit?"tanya Liliana.
"Tadi nona berangkat sendirian. Tapi, pas pulang, nona bersama Tuan Muda,"
"Oh, begitu. Apa mereka tertidur? Sampai jam segini belum makan siang,"gumam Liliana.
Tak lama kemudian terlihat Delvin masuk ke dalam dapur itu.
"Sudah pulang, Vin?"tegur Liliana.
"Iya, ma,"sahut Delvin langsung membuka tudung saji.
"Kamu belum makan?"tanya Liliana.
"Belum, ma. Tadi pas di kampus mau ke kantin malas. Jadi, langsung pulang aja,"sahut Delvin lalu mengambil nasi dan lauk pauk.
"Sepertinya lapar banget,"ledek Liliana yang melihat Delvin nampak berselera makan.
"Ohh . pantesan mama kayak mencium bau-bau asem gitu,"ledek Liliana.
"Nggak asem banget juga kali, ma. Asem dikit juga wajar. Namanya juga dari main basket. Pasti berkeringat, lah,"kilah Delvin sambil mengunyah makanannya.
"Eh, kata bibi kalian belum makan. Ayo, makan dulu!"ujar Liliana saat melihat Dimas dan Ayana masuk ke ruangan makan itu. Menatap Dimas dan Ayana yang terlihat segar dengan rambut yang setengah kering.
"Sepertinya mereka sudah lebih dekat. Kucing kalau dekat dengan ikan, mana tahan untuk tidak memakannya,"gumam Liliana setelah memperhatikan secara seksama sepasang suami-isteri itu.
"Iya, ma,"sahut Ayana dengan seulas senyum manis di bibirnya.
Mendengar Liliana menegur orang, lalu terdengar suara Ayana, Delvin yang sedang asyik makan itu pun mengangkat wajahnya dan melihat Ayana dan Dimas dengan rambut setengah kering dan wajah yang terlihat segar dan cerah. Tanpa sengaja Delvin melihat leher sepasang suami-isteri itu yang terlihat ada beberapa kiss mark nya. Melihat itu, seketika selera makan Delvin pun mendadak jadi hilang. Delvin pun beranjak dari duduknya, tidak berselera lagi untuk menghabiskan makanannya.
"Eh, kamu mau kemana, Vin?"tanya Dimas yang melihat makanan di piring Delvin belum habis, bahkan masih ada separuh.
"Ke kamar,"sahut Delvin terdengar datar.
__ADS_1
"Tapi, itu makanan kamu masih banyak,"ujar Dimas.
"Aku sudah kenyang,"sahut Delvin masih dengan suara datarnya, kemudian keluar dari ruangan makan itu,"Bagaimana aku berselera makan, jika melihat mereka seperti itu. Baru keluar dari rumah sakit sudah main di atas ranjang,"gerutu Delvin dalam hati yang merasa tidak suka saat mengetahui Ayana baru saja bercinta dengan Dimas.
Melihat tubuh mereka yang terlihat segar, dengan rambut yang setengah kering dan kiss mark yang tadi pagi tidak ada di leher sepasang suami-isteri itu. Tapi siang ini di leher keduanya ada kiss mark. Sudah bisa di pastikan jika sepasang suami-isteri itu baru selesai bercinta. Dan hal itu membuat Delvin yang masih menaruh hati pada Ayana menjadi kesal.
"Dia pasti tidak berselera makan karena melihat kiss mark di leher Dimas dan Ayana. Dia belum bisa juga melupakan Ayana. Belum bisa move on,"gumam Liliana dalam hati.
Ayana nampak mengernyitkan keningnya melihat tingkah Delvin,"Ada apa dengan dia? Apa dia begitu benci melihat kak Dimas, hingga langsung tidak berselera makan saat melihat kak Dimas?"gumam Ayana dalam hati.
"Delvin tadi menatap aku dan Ayana secara bergantian. Setelah itu langsung berhenti makan dan mengatakan sudah kenyang. Padahal tadi terlihat sangat berselera makan,"gumam Dimas dalam hati, lalu menatap Ayana yang sedang mengambilkan makanan untuk dirinya.
Dimas nampak terkejut saat tanpa sengaja melihat leher Ayana terdapat beberapa kiss mark dan tentu saja itu semua adalah hasil karyanya tadi. Dimas baru menyadari jika dirinya telah meninggalkan banyak tanda di leher Ayana saat mereka bercinta tadi. Dimas terlalu bersemangat dan terlalu menikmati penyatuan mereka tadi, hingga tanpa sadar membuat tanda di beberapa bagian tubuh Ayana.
"Astagaa.! Aku membuat tanda yang begitu jelas di leher Ayana. Apa Ayana tidak menyadarinya?"gumam Dimas dalam hati. Dimas tidak menyadari jika Ayana juga membuat tanda yang sama di lehernya.
"Bagaimana hasil pemeriksaan kandungan kamu tadi, Ay?"tanya Liliana.
"Bagus, ma. Sehat dan tidak ada masalah,"sahut Ayana tersenyum cerah.
"Syukurlah,"sahut Liliana..
Setelah selesai makan, Dimas dan Ayana duduk di teras samping rumah. Melihat kolam ikan yang di kelilingi taman bunga yang tertata rapi.
"Apa kamu dan Delvin sudah saling mengenal sebelum kita menikah?"tanya Dimas yang penasaran melihat gerak gerik Delvin yang menurut Dimas menyimpan rasa pada Ayana.
"Aku kenal dengan dia saat aku mulai kuliah, karena dia adalah senior ku,"sahut Ayana jujur adanya,"Memangnya kenapa, kak?"tanya Ayana yang merasa aneh karena tiba-tiba Dimas bertanya tentang hal itu.
"Nggak apa-apa. Hanya ingin tahu saja,"sahut Dimas, lalu beranjak dari duduknya dan melihat ke arah kolam ikan yang di atasnya ada teratai yang sedang berbunga. Bunga teratai itu berwarna putih dan pink. Terlihat indah menghias kolam.
Delvin menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya. Merasa kesal setelah melihat Dimas dan Ayana tadi. Entah mengapa rasa cinta itu masih ada di hati Delvin. Walaupun berusaha di tepisnya, tetap saja tidak bisa.
"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa melupakan dia? Dan kenapa aku harus jatuh cinta padanya?"gumam Delvin seraya memijit pelipisnya sendiri.
Di satu sisi Delvin merasa bahagia saat mengetahui Ayana tinggal serumah bersama mereka. Tapi, di sisi lain merasa tidak suka saat melihat Ayana begitu perhatian pada Dimas. Ingin rasanya Delvin berada di posisi Dimas.
"Kenapa dia tidak mati saja dalam kecelakaan itu? Jika waktu itu dia mati, aku pasti bisa memiliki Ayana. Bahkan papa dan mama terlihat sangat menyayangi dia. Kenapa dia begitu beruntung? Memiliki sahabat dan orang-orang yang peduli dan sangat menyayangi dia. Apa istimewanya dia?"gumam Delvin membuang napas kasar.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued