SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
116. Terkapar


__ADS_3

"Kamu benar-benar sangat cantik. Walaupun tanpa makeup sekalipun,"ucap Noval, tersenyum penuh arti. Tangan Pemuda itu terulur untuk menyentuh wajah Ayana. Saat ini Ayana memang tidak memakai masker, karena tanpa sengaja maskernya jatuh saat berada di toilet sekolah. Sehingga Noval bisa melihat wajah cantik Ayana.


Bu Nur membulatkan matanya saat melihat Noval ingin menyentuh wajah Ayana. Perempuan paruh baya itu ingin menarik Ayana agar tidak di sentuh Noval.


"Dugh"


"Argkhh"


"Dugh"


"Akkhh"


Sebelum Bu Nur menarik tubuh Ayana, tiba-tiba dengan sepenuh tenaga, Ayana menendang pangkal paha Noval, tempat benda pusaka Noval berada. Membuat Noval memekik menahan sakit seraya memegangi benda pusaka kebanggaannya. Tidak sampai di situ, Ayana juga menendang tulang kering Noval dengan kuat hingga membuat Noval terjatuh di aspal. Belum puas dengan itu, Ayana melepaskan helm nya dan memukuli Noval dengan helm seperti orang kesurupan.


Melihat majikannya terjatuh kesakitan dan terus di serang Ayana, pria berambut gondrong yang sempat tertegun pun berusaha menolong Noval. Pria itu mendekati Ayana, ingin meringkus Ayana. Namun Bu Nur yang juga sempat tertegun melihat Ayana yang seperti orang kesurupan pun langsung melindungi Ayana. Bu Nur ikut-ikutan melepas helm nya. Dan sama seperti Ayana, Bu Nur menyerang pria berambut gondrong itu dengan helm nya.


"Akkhh! Hentikan!"


"Ampun!"


"Akhh"


Teriakkan kedua orang pria itu karena serangan brutal kedua perempuan beda usia yang bertubi-tubi menghantam tubuh mereka menggunakan helm.


Noval dan pria berambut gondrong itu terus berusaha menghindar dari serangan dua orang perempuan itu, namun gagal. Keduanya jadi bulan-bulanan Ayana dan Bu Nur. Tanpa terasa tempat itu telah dikerumuni oleh beberapa orang yang melewati jalan itu. Mereka menyaksikan kejadian itu, bahkan ada yang merekam saat kedua perempuan itu menghajar Noval dan pria berambut gondrong.


Bu Nur menghentikan aksinya saat pria berambut gondrong itu sudah terkapar tidak berdaya. Namun berbeda dengan Ayana yang terus menyerang Noval dengan kilatan mata penuh amarah.

__ADS_1


"Ay! Sudah Ay!"pekik Bu Nur yang melihat Ayana terus memukul Noval yang sudah terkapar tidak berdaya.


Namun Ayana benar-benar seperti orang kesurupan. Perempuan muda itu seperti memiliki dendam kesumat pada Noval. Hingga Noval sudah terkapar pun, Ayana masih menghajarnya.


"Ay! Hentikan! Kamu bisa membunuhnya!"pekik Bu Nur mencoba menyadarkan Ayana.


"Dia pria brengseek! Dia ingin menodai aku! Bajingan! Aku akan membunuhnya!"pekik Ayana yang dari tadi hanya diam. Terus menyerang Noval tanpa peduli apapun.


Bu Nur berusaha memeluk Ayana dari belakang, untuk menghentikan Ayana menyerang Noval yang sudah tidak berdaya.


"Ay!"tiba-tiba tubuh Ayana ditarik dan di dekap seseorang yang tak lain adalah Dimas.


Dimas yang baru saja bertemu dengan klien, tak sengaja melihat beberapa orang berkerumun saat melewati jalan itu. Dimas sangat terkejut saat melihat Bu Nur sedang memeluk Ayana dari belakang,.mencoba menahan Ayana untuk tidak menyerang Noval yang sudah terkapar.


"Ay! Tenanglah! Aku di sini!"ucap Dimas mendekap erat tubuh Ayana yang sudah seperti orang kesurupan dari belakang.


Ayana yang tadinya ingin berontak dari dekapan Dimas, akhirnya menjatuhkan helm yang sedari tadi dipakainya untuk menyerang Noval. Ayana berbalik dan malah memeluk Dimas, saat mengenali aroma tubuh orang yang saat ini mendekapnya adalah suaminya.


"Tenanglah! Tidak apa-apa! Aku ada bersama mu. Tenanglah!"ucap Dimas mendekap erat tubuh Ayana. Menatap dua orang yang terkapar di aspal yang salah satunya adalah Noval. Dimas juga melihat mobil Noval yang posisinya memotong jalan.


"Bu, tolong telepon polisi! Dua orang ini, tadi menghadang kalian, 'kan?"tanya Dimas yang masih memeluk Ayana.


"Iya, Nak,"sahut Bu Nur segera mengambil handphonenya lalu menghubungi polisi.


Tidak berapa lama kemudian, polisi dan ambulance pun datang. Dimas meminta polisi mengijinkan dirinya dan Ayana untuk memberikan keterangan esok hari, dengan alasan keadaan Ayana yang belum stabil. Sedangkan Bu Nur ikut dengan polisi untuk menjelaskan kronologi kejadian.


Dimas tidak membawa Ayana pulang, tapi membawa Ayana ke tempat psikolog tempat Ayana berobat. Dimas memilih menggunakan taksi dan menghubungi orang kantor untuk mengambil dan mengantarkan motornya ke rumah kontrakannya.

__ADS_1


"Pak Adit, tolong handle dulu pekerjaan di kantor! Saya ada urusan penting yang tidak bisa saya tinggalkan,"ucap Dimas menghubungi orang kepercayaan mertuanya.


"Baik, Tuan,"sahut Pak Adit dari sambungan telepon.


Pak Adit menutup teleponnya dengan dahi yang nampak berkerut,"Ada apa dengan Tuan Dimas? Tidak biasanya Tuan Dimas meninggalkan pekerjaannya,"gumam Pak Adit yang merasa Dimas tidak seperti biasanya.


Setelah bertemu dengan psikolog, Dimas membawa Ayana pulang. Pria itu membungkus tangan mungil Ayana dengan tangannya yang besar. Merebahkan kepala Ayana di pangkuan nya ketika menyadari Ayana tertidur di bahunya saat mereka dalam perjalanan pulang menaiki taksi. Pria itu mengelus lembut kepala Ayana yang saat ini berada dalam pangkuan nya.


Mengingat ucapan psikolog Ayana yang menanamkan pemikiran di otak Ayana bahwa Ayana harus berani dan menunjukkan dirinya tidak lemah. Menyerang orang yang ingin berbuat tidak senonoh padanya di titik yang paling menyakitkan. Yaitu di pangkal paha dan tulang kering. Namun di luar dugaan, Ayana malah seperti orang kesurupan menyerang Noval hingga terkapar di aspal tanpa daya.


Dimas menggendong Ayana masuk ke dalam rumah. Istri kecilnya itu masih terlelap. Toyib yang sedang duduk di bangku di bawah jambu melihat Dimas menggendong Ayana keluar dari taksi. Tanpa berkata ataupun bertanya apapun, Toyib mengikuti Dimas masuk ke dalam rumah, lalu membantu Dimas membuka pintu kamarnya. Setelah Dimas masuk ke dalam kamarnya, Toyib pun menutup pintu kamar Dimas.


Toyib yakin telah terjadi sesuatu, saat karyawan yang bekerja di perusahaan Geno mengantarkan motor Dimas pulang. Pria yang mengantarkan motor Dimas itu mengatakan bahwa Dimas akan pergi ke daerah xx, yang diketahui Toyib adalah daerah tempat praktek psikolog yang menangani trauma Ayana.


Dimas menghela napas panjang seraya mengelus kepala Ayana yang sudah di baringkan nya di atas ranjang. Pria itu menyelimuti tubuh Ayana, kemudian mengecup kening Ayana lembut. Tak lama kemudian, Dimas pun keluar dari kamarnya. Berjalan menuju dapur untuk minum. Meneguk air mineral botolan dari dalam lemari es.


"Apa yang terjadi, Dim?"tanya Toyib yang baru saja duduk di salah satu kursi meja makan.


"Ayana bertemu dengan pria yang bernama Noval itu,"sahut Dimas seraya berjalan menuju meja makan, kemudian duduk di salah satu kursi.


"Di mana?"tanya Toyib penasaran.


"Di jalan. Noval menyuruh seseorang untuk menjemput Ayana dengan alasan di suruh oleh papa. Lalu Noval dan seorang pria suruhannya menghadang Ayana dan Bu Nur di jalan yang sepi. Ayana yang di sugesti psikolog untuk melawan orang yang bermaksud buruk padanya, malah bekerja sama dengan Bu Nur menghajar Noval dan orang yang bersama Noval. Kedua orang itu babak belur di pukuli helm oleh Ayana dan Bu Nur. Bahkan saat aku datang, keduanya sudah terkapar tidak berdaya di aspal dan Ayana masih ingin memukulinya,"jelas Dimas lalu menghela napas panjang.


"Lalu, bagaimana keadaan pria yang bernama Noval itu?"


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2