SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
77. So Sweet


__ADS_3

"Kamu mau jawab apa nanti?"tanya Dimas lagi.


Pria itu merebahkan tubuhnya dan Ayana pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Dimas, menjadikan lengan Dimas sebagai bantalnya.


"Menurut kakak, aku harus jawab apa?"tanya Ayana balik, memeluk pinggang Dimas.


"Katakan saja yang sesungguhnya. Sebentar lagi, kalian juga bakal lulus, 'kan?"tanya Dimas.


"Baiklah, kalau menurut kakak begitu. Kak, apa boleh jika aku mengajak Wulan ke sini?"tanya Ayana.


"Boleh,"sahut Dimas seraya membelai rambut Ayana lembut.


"Kak, sebentar lagi hari pernikahan kak Nando. Apakah.. apakah kita akan datang ke butik mama untuk memilih pakaian?"tanya Ayana agak ragu, takut Dimas tersinggung.


"Tidak perlu. Aku akan menyiapkan pakaian untuk kita nanti. Kamu tidak keberatan, 'kan?"tanya Dimas menatap Ayana.


"Tidak. Aku tidak keberatan,"sahut Ayana tersenyum tipis.


"Tidurlah! Sudah malam. Besok kau harus sekolah,"ujar Dimas Memiringkan tubuhnya, mendekap tubuh Ayana.


Keesokan harinya, seperti biasanya, Dimas mengantarkan Ayana ke sekolah. Saat tiba di sekolah, Dimas melepaskan helm Ayana, kemudian merapikan rambut Ayana.


"Belajar yang benar!"pesan Dimas seraya mencubit hidung Ayana dengan gemas.


"Hum,"sahut Ayana kemudian melambaikan tangannya saat Dimas melajukan motornya. Gadis itu berjalan ke arah kelasnya.


"Ay!"panggil Wulan berlari kecil di belakang Ayana, menghampiri gadis itu.


"Kamu baru datang, Lan?"tanya Ayana menghentikan langkahnya.


"Hum. Gimana yang kemarin?"tanya Wulan menagih janji Ayana.


"Mau ke rumah ku? Biar nanti aku ceritain di rumah,"sahut Ayana tanpa menjawab pertanyaan Wulan.


"Mau,"sahut Wulan mengangguk cepat.


Selama mengenal Ayana, belum pernah sekalipun Wulan di ajak ke rumah Ayana. Jadi saat Ayana mengajak ke rumahnya, Wulan pun dengan cepat menyetujuinya.


"Ya sudah, nanti pulang sekolah ke rumah aku. Sekarang, kita ke kelas, yuk!"ajak Ayana.


"Ayo!"sahut Wulan, meraih tangan Ayana menggandengnya ke kelas. Tapi tiba-tiba Wulan mengangkat tangan Ayana yang digandengnya. Dan melihat cincin yang melingkar di jari manis Ayana yang sebelum tidak ada.


"Indah sekali. Cincin ini...."


"Nanti aku ceritain kalau sudah ada di rumah,"sahut Ayana memotong kata-kata Wulan.

__ADS_1


"Baiklah,"sahut Wulan yang sebenarnya semakin penasaran dengan Ayana.


"𝘾𝙞𝙣𝙘𝙞𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙥𝙖𝙠𝙖𝙞 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙢𝙞𝙧𝙞𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙘𝙞𝙣𝙘𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙬𝙞𝙣,"gumam Wulan dalam hati.


Tidak terasa waktu sudah siang. Ayana dan Wulan baru saja keluar kelas setelah beberapa saat yang lalu bel pulang berbunyi.


"Aku ambil motor di parkiran dulu, Ay,"ujar Wulan.


"Aku tunggu di depan, ya, Lan?"tanya Ayana.


"Oke,"sahut Wulan.


Di depan gerbang sekolah, Bu Nur sudah menunggu Ayana. Gadis cantik itu pun memakai helm yang diberikan Bu Nur.


"Bu, tunggu sebentar, ya! Teman saya ingin main ke rumah saya,"ucap Ayana pada Bu Nur.


"Iya,"sahut Bu Nur tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, Wulan menghampiri mereka. Bu Nur melajukan motornya terlebih dahulu, sedangkan Wulan mengikuti dari belakang. Mereka melewati jalan raya hingga akhirnya masuk ke sebuah perkampungan. Setelah tiga puluh menit mengendarai motor, akhirnya Bu Nur berhenti di depan rumah yang terlihat sederhana.


"Terimakasih, ya, Bu!"ucap Ayana setelah turun dari motor dan memberikan helm milik Bu Nur.


"Sama-sama. Ibu pulang, ya!"pamit Bu Nur.


"Iya, Bu,"sahut Ayana, dan Bu Nur pun melajukan motornya meninggalkan rumah kontrakan Dimas dan Toyib itu.


"Iya. Parkirkan motor kamu di teras rumah saja, Lan!"pinta Ayana.


"Oke,"sahut Wulan mendorong motornya ke teras rumah kontrakan itu.


"Ayo, masuk!"ajak Ayana membuka rumah dengan kunci yang dibawanya.


"Duduk di sini dulu, ya? Aku mau ganti baju dulu,"ujar Ayana menunjuk ke arah kursi ruang tamu.


"Aku mau numpang ke kamar mandi, Ay,"ujar Wulan.


"Ya sudah. Ayo aku tunjukkan!"ajak Ayana menunjukkan kamar mandi pada Wulan. Setelah itu Ayana bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Wulan keluar dari dalam kamar mandi, dan saat akan kembali ke ruangan tamu, Wulan melihat Ayana keluar dari sebuah kamar.


"Ini kamar kamu, Ay?"tanya Wulan menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Ayana.


"Ini kamarku dan kamar kak Dimas. Ayo, makan dulu! Kamu duduk di kursi meja makan dulu, aku akan cuci tangan dan kaki dulu,"sahut Ayana menuntun Wulan ke ruangan makan, kemudian meninggalkan Wulan disana. Sedangkan Ayana bergegas ke kamar mandi.


"Kamar Ayana dan kamar kak Dimas? Maksudnya... Ayana dan kak Dimas tidur di dalam satu kamar?"gumam Wulan yang duduk sendirian di ruangan makan. Mengingat kata-kata Ayana tadi.

__ADS_1


Tak berapa lama, Ayana pun kembali dari kamar mandi. Ayana mengajak Wulan makan sambil menceritakan tentang hubungannya dengan Dimas. Tapi tidak menceritakan jika dirinya mengancam akan bunuh diri jika Dimas tidak menikahi nya. Hanya mengatakan meminta Dimas menikahi dirinya dan Dimas setuju. Terlalu malu rasanya jika mengingat tingkah konyolnya sendiri yang memaksa Dimas untuk menikahinya dengan menodongkan pisau dilehernya sendiri.


"Jadi, kalian sudah resmi menjadi suami-istri?"tanya Wulan setelah Ayana selesai bercerita, bertepatan dengan mereka yang selesai makan. Tidak menyangka jika Ayana benar-benar sudah menikah dengan Dimas.


"Hum. Kami sudah resmi menjadi sepasang suami-isteri sah di mata agama dan hukum,"jelas Ayana.


Dimas memang sudah mengurus akte pernikahan mereka, satu bulan setelah mereka menikah. Sehingga saat ini, mereka telah menjadi pasangan suami-isteri yang sah di mata hukum dan agama.


"Dan cincin kamu itu..."Wulan menggantung kata-katanya.


"Ini cincin pernikahan aku dengan kak Dimas,"ucap Ayana dengan seulas senyum memegang cincin dari emas putih bertahtakan berlian itu.


"Ayo, kita duduk diruang tamu saja, sambil nonton televisi!"ajak Ayana setelah keduanya membereskan meja makan dan mencuci piring yang mereka pakai tadi.


Kedua sahabat itu pun bersenda gurau dan bercerita banyak hal. Hingga terdengar suara dua motor di teras rumah.


"Itu pasti kakak dan Abang,"ucap Ayana. Dan benar saja, tak lama kemudian, Toyib dan Dimas pun masuk.


Ayana menyambut keduanya dengan senyum manis menyalami dan mencium punggung tangan kedua pria itu secara bergantian.


"Kak, bang!"sapa Wulan tersenyum tipis den sedikit mengangguk pada Dimas dan Toyib, merasa agak canggung.


"Eh, ada Wulan,"ujar Toyib, sedangkan Dimas hanya tersenyum tipis pada Wulan.


"Aku siapkan makanan untuk Abang dan kakak,"ucap Ayana hendak ke ruangan makan. Namun Dimas langsung memegang tangan Ayana.


"Tidak perlu. Kami bisa menyiapkannya sendiri. Kamu temani Wulan saja,"ucap Dimas.


"Iya, Ay. Abang dan Dimas bisa sendiri. Kamu temani saja Wulan,"timpal Toyib.


"Baiklah,"sahut Ayana dengan senyuman manisnya.


Dimas mencubit hidung Ayana gemas, kemudian meninggalkan Ayana dan Wulan di ruangan tamu.


"Iihh.. so sweet banget,"gumam Wulan memegang kedua pipinya sendiri dengan senyuman di bibirnya,"Apa kak Dimas selalu seperti itu sama kamu Ay?"tanya Wulan pelan.


"Hum,"sahut Ayana tersenyum tipis.


"Beruntung banget kamu punya suami seperti kak Dimas. Ngomong-ngomong, selama tiga bulan menikah, kalian sudah ngapain aja, Ay?"tanya Wulan penasaran.


"Kepo!"sahut Ayana.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2