
Iya, bang. Ngomong-ngomong, kenapa Abang bisa menduda?"tanya Ayana membuat Toyib menghela napas panjang.
"Nggak usah di jawab kalau Abang tidak ingin menjawabnya,"lanjut Ayana yang merasa tidak seharusnya menanyakan hal yang terlalu private pada Toyib.
"Abang meninggalkan dia di kampung bersama anak Abang yang baru lahir. Abang ingin mengumpulkan banyak uang untuk membahagiakan mereka. Tiga kali puasa, tiga kali lebaran Abang nggak pulang-pulang agar bisa mengumpulkan banyak uang dan tetap bisa mengirim uang bulanan mereka. Tapi waktu puasa keempat kalinya, pas mau lebaran ke empat kalinya, Abang pulang malah mendapatkan surat gugatan cerai. Dia selingkuh dengan pria lain yang lebih mapan dari Abang. Tapi tidak apa-apa, buat apa mengingat orang yang sudah mengkhianati Abang. Lagipula, walaupun selingkuhan mantan istri Abang itu memang mapan, tapi tidak lebih tampan dari Abang,"ujar Toyib dengan nada narsistik menaikkan dagunya.
"Yah, sudah jadi duda karena diselingkuhi juga masih narsis,"sahut Ayana geleng-geleng kepala melihat pria yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya itu.
"Emang kenyataannya begitu, Ay. Dia kalah tampan dari Abang. Cuma menang kantongnya tebal doang,"ujar Toyib.
"Iya..iya . Abang memang ganteng, tapi masih gantengan kak Dimas,"sahut Ayana.
"Jangan begitu sama Abang sendiri, Ay. Kamu membuat Abang terbang ke awan, setelah tinggi kamu jatuhkan secara sadis,"keluh Toyib.
"Aiihh... kayak judul lagu aja, bang. Sadis,"sahut Ayana malah terkekeh.
"Dasar!"ucap Toyib seraya mengacak-acak rambut Ayana.
"Abang! Rambut aku jadi berantakan,"keluh Ayana dengan wajah bersungut-sungut.
"Iiiiihhh.. tambah nggemesin, deh!"ucap Toyib malah kembali mengacak-acak rambut Ayana. Dan kali ini malah dengan kedua tangannya hingga rambut Ayana benar-benar kusut.
"Abang! Awas, ya!"teriak Ayana langsung mengambil penyapu yang tidak jauh dari tempatnya berada. Melihat Ayana yang marah mengambil penyapu, Toyib pun melarikan diri.
Ayana terus mengejar Toyib hingga Toyib kelelahan dan memilih masuk ke dalam kamarnya untuk menyelamatkan diri dari pukulan penyapu Ayana.
"Brak! Brak! Brak!"
Ayana menggedor pintu kamar Toyib dengan perasaan kesal.
"Abang! Keluar! Akan aku pukul Abang dengan penyapu!"teriak Ayana kembali menggedor pintu kamar Toyib.
"Nggak mau!"sahut Toyib dari dalam kamar.
"Ada apa ini?"tanya Dimas yang baru saja datang. Pria itu mati-matian menahan tawa melihat rambut Ayana yang amburadul.
"Kak, lihat ini! Abang mengacak-acak rambut sku sampai kusut begini. Aku sebel sama Abang,"adu Ayana dengan suara manja dan wajah cemberutnya membuat Dimas malah menjadi gemas.
"Iiihhh...nggemesin, deh,"ucap Dimas malah mencubit kedua pipi Ayana.
__ADS_1
"Iiihhh.. kakak sama saja seperti Abang,"keluh Ayana.
"Cup"
"Cup"
"Cup"
Dimas malah mengecup bibir Ayana beberapa kali karena sangat gemas pada Ayana.
"Ayo, aku sisir rambut kamu,"ucap Dimas lalu menggendong Ayana yang masih bersungut-sungut ke dalam kamar mereka.
***
Nando mengendarai mobilnya menuju rumah
nya, bersama Bening yang duduk di sebelah kursi kemudi.
"Sayang, tinggal dimana Ayana sekarang?"tanya Bening.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"tanya Nando tanpa menjawab pertanyaan Bening.
"Tidak apa-apa. Hanya teringat aja,"sahut Bening tersenyum manis.
"Dimanakah itu?"tanya Bening mencoba mencari informasi dari Nando.
Nando mengatakan dimana alamat tempat tinggal Ayana tanpa curiga sedikit pun pada Bening. Bening yang mendapatkan informasi tentang tempat tinggal Ayana pun merasa senang.
"Sayang, boleh tidak kalau besok aku ijin sehari nggak masuk kantor?"tanya Bening.
"Kenapa?"tanya Nando seraya mengernyitkan keningnya. Menatap Bening sekilas, kemudian kembali menatap jalan raya.
"Aku ada jadwal memeriksakan kandungan. Aku juga ingin pulang untuk mengunjungi ibu,"ucap Bening.
"Tidak bisakah hari lain, agar aku bisa menemani kamu? Kamu tahu, 'kan, besok aku ada meeting,"ujar Nando masih fokus pada jalan raya.
"Vitamin aku sudah habis, sayang. Sudah waktunya untuk kembali ke dokter kandungan. Aku juga sudah kangen dengan ibu. Kamu tahu sendiri, 'kan, selama ini kami tidak pernah berpisah,"ucap Bening. beralasan.
"Baiklah. Besok kamu boleh nggak kerja. Aku akan bilang sama papa,"ucap Nando.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang!"ucap Bening mengecup pipi Nando dan bergelayut manja di lengan Nando.
"𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙮𝙖, 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙣𝙙𝙤. 𝘾𝙪𝙢𝙖 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙙𝙞𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙚𝙠𝙖𝙮𝙖𝙖𝙣. 𝙎𝙚𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝𝙣𝙮𝙖, 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙠𝙪, 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙢𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖. 𝙎𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙣𝙙𝙤 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙮𝙖, 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙉𝙖𝙣𝙙𝙤 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝𝙞 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨,"gumam Bening dalam hati.
***
Pagi itu, Bening sarapan bersama Geno, Hilda dan Nando. Semenjak melihat kehangatan Ayana, Dimas dan Toyib di meja makan, Geno berusaha mengajak keluarganya untuk sarapan dan makan malam bersama. Tidak seperti dulu yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, bahkan tidak sempat untuk berkumpul dan makan bersama.
Setelah sarapan bersama, Bening pamit untuk ke apartemen yang ditinggali oleh ibunya. Namun apa benar Bening ke apartemen ibunya? Pagi itu Bening bermaksud untuk mencari alamat rumah kontrakan Dimas. Berbekal alamat yang didapatkan Bening dari Nando kemarin.
"Di jam seperti ini, Ayana pasti sudah sekolah, dan Dimas pasti belum berangkat kerja. Tidak mungkin, 'kan, sales pakaian keliling berangkat pagi-pagi sekali?"gumam Bening.
Wanita itu mengendarai mobil yang diberikan oleh Nando masuk ke sebuah perkampungan sesuai alamat yang diberikan oleh Nando.
"Oh, ya ampun! Ini benar-benar kampung padat penduduk. Bisa-bisanya Dimas tinggal di tempat seperti ini,"gerutu Bening melihat betapa padatnya rumah di kampung yang dimasukinya itu.
Padahal, jika bukan karena Bening, karier Dimas tidak akan hancur. Dimas tidak akan kehilangan semua hartanya dan tidak mungkin akan tinggal di perkampungan padat penduduk seperti beberapa tahun terakhir ini.
Bening juga tidak sadar diri jika dirinya dulu juga bukan orang kaya. Sejak kecil tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah yang sederhana. Kedua orang tuanya bekerja keras untuk menyekolahkan dan membiayai kuliah Bening.
Tidak lama kemudian, Bening memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah. Wanita itu turun dari mobilnya dan menghampiri seorang ibu-ibu yang sedang menyapu.
"Bu, tahu rumah Dimas, nggak?"tanya Bening tanpa basa basi.
Ibu-ibu itu memperlihatkan Bening dari ujung rambut sampai ujung kaki,"Dimas yang berkerja sebagai sales pakaian keliling itu, ya?"tanya ibu-ibu itu setelah memperhatikan penampilan Bening.
"Iya, benar. Ibu tahu, 'kan, dimana rumahnya?"tanya Bening antusias.
Ibu-ibu itu akhirnya memberitahu di mana alamat rumah Dimas. Tanpa menunggu lama, Bening pun bergegas menuju alamat yang diberikan oleh ibu-ibu itu. Dan disinilah saat ini Bening berada, di depan sebuah rumah sederhana.
"Apa benar ini rumahnya? Aku ketuk saja pintunya,"gumam Bening kemudian berjalan mendekati pintu rumah itu.
"Tok! Tok! Tok!"
Bening mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan seorang pria yang memakai kaos oblong dan celana pendek. Pria itu nampak menguap beberapa kali dengan rambut yang acak-acakan.
"Cari siapa?"
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued