SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
47. Permintaan Aneh


__ADS_3

Dimas berhenti di warung tempat Toyib berada, dan ikut membuka dagangan nya di warung itu. Akhirnya banyak ibu-ibu dan anak-anak yang berkumpul di teras warung itu. Ada yang membeli secara kredit, ada pula yang membeli secara kontan. Hari ini dagangan Toyib dan Dimas laris manis. Hampir setengah dari isi tas mereka sudah laku.


"Ibu, pengen baju itu,"ucap seorang anak perempuan berusia lima tahun berbaju lusuh seraya menarik-narik baju ibunya yang sedang membeli rokok untuk suaminya. Melihat anak-anak lain dibelikan baju oleh ibu mereka, anak itupun ingin dibelikan baju.


"Silahkan lihat, Bu! Ada kok, ukuran baju model ini yang pas untuk anak ibu,"ujar Toyib ramah seraya menunjukkan beberapa baju anak dengan warna dan model yang berbeda.


"Maaf, bang Toyib! Lain kali saja,"sahut ibu-ibu yang berpakaian lusuh itu.


"Oh, ya sudah. Nggak apa-apa,"sahut Toyib tersenyum ramah. Tidak akan memaksa konsumen untuk membeli barang dagangan nya.


"Ibu, mau baju! Mau baju!"tiba-tiba anak kecil itu menangis dengan kencang. Membuat ibu-ibu yang lain merasa iba.


"Kasian anak itu, ayahnya jarang bekerja, ibunya jadi buruh nyuci,"


"Ayah nya galak, pemarah,"


"Kasihan sekali ibu dan anak itu. Kadang dalam dua hari, mereka cuma bisa beli beras satu liter,"


Bisik-bisik para ibu-ibu yang duduk di dekat Toyib. Sedangkan ibu-ibu berbaju lusuh tadi nampak sedang menenangkan anaknya. Namun anak perempuan itu malah menangis semakin kencang, bahkan sampai berguling-guling di lantai membuat semua orang merasa iba.


"Ini buat anak ibu. Ambil saja! Gratis!"ujar Toyib mengulurkan satu stel baju anak karena merasa tidak tega dengan anak ibu itu.


"Nggak usah, bang! Nanti Abang rugi,"tolak ibu-ibu yang masih terlihat cantik itu.


"Nggak apa-apa, Bu. Saya ikhlas, kok,"sahut Toyib yang masih menyodorkan baju pada ibu-ibu itu. Dengan ragu ibu-ibu itu mengambil baju yang di sodorkan oleh Toyib.


"Mau merayu istriku?"suara bariton seorang pria yang tiba-tiba muncul dengan wajah garang mengalihkan perhatian semua orang.


"Saya hanya memberikan baju untuk anak bapak. Tidak ada niat untuk merayu istri bapak,"sahut Toyib santai.


"Sama saja! Kamu memberinya baju secara gratis. Apa maksud kamu kalau bukan mau merayu istri saya?"bentak pria itu,"Ayo pulang!"ketus pria itu seraya menggendong anaknya yang masih menangis.


"Ini, bang. Saya kembalikan,"ucap ibu-ibu itu menyodorkan kembali baju yang diberikan oleh Toyib.


"Srash"


Suami ibu-ibu itu menyambar baju yang di pegang oleh istrinya,"Barang yang sudah diberikan tidak boleh di kembalikan lagi! Cepat pulang!"bentak pria itu merangkul istrinya,"Awas kalau berani merayu istri ku lagi!"ancam pria itu melotot pada Toyib, kemudian membawa pergi anak istrinya dan juga baju yang diberikan Toyib.


"Sudah diberikan gratisan malah memarahi orang yang ngasih,"


"Mana barangnya di ambil lagi,"


"Kasian istrinya, cantik-cantik dapat suami seperti itu,"kasak-kusuk ibu-ibu yang ada di tempat itu. Sedangkan Dimas dan Toyib hanya bisa menghela napas panjang. Tidak semua maksud baik kita bisa diterima dengan baik oleh orang lain bukan? Itulah kenyataan nya.


***


Hilda baru saja pulang. Wanita itu langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Ayana nampak berbaring di kamarnya. Masih menyusun rencana agar bisa keluar dari rumah kedua orang tuanya tanpa harus membuat Pak parman kehilangan pekerjaannya.

__ADS_1


Kepalaku pusing sekali. Sepertinya aku masuk angin parah,"gumam Ayana yang merasa perutnya tidak nyaman. Tiba-tiba gadis itu berlari kekamar mandi karena perutnya terasa sangat mual.


"Huek! Huek! Huek!"


Ayana kembali muntah-muntah. Seperti tadi pagi, tidak ada yang dimuntahkan Ayana selain cairan berwarna kuning. Karena tadi siang pun Ayana hanya makan sedikit karena perutnya yang terasa tidak enak.


"Ceklek"


Hilda masuk ke dalam kamar Ayana dan mendengar Ayana kembali muntah-muntah. Wanita paruh baya itu mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang terlihat suram.


Tak lama kemudian Ayana keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat pucat dan tubuh yang tampak lesu.


"Apa kamu hamil?"tanya Hilda yang membuat Ayana terkejut karena tidak menyadari kehadiran Hilda di kamarnya.


"Aku tidak tahu,"sahut Ayana.


"Plak!"


Hilda menampar Ayana dengan wajah penuh amarah.


"Dasar anak kurang ajar! Kamu menjual diri untuk bertahan hidup di luar sana, hah?"bentak Hilda.


"Bukankah jika aku di rumah ini, mama juga akan menjual aku?"tanya Ayana dengan suara lirih.


"Kau!"geram Hilda menahan emosi dengan kedua tangan yang mengepal.


"Bugh"


Tiba-tiba Ayana terjatuh, tidak sadarkan diri dan Hilda tidak sempat menangkap tubuh Ayana.


"Ay!"pekik Geno langsung berlari menghampiri putrinya.


Geno langsung mengangkat tubuh Ayana dan membaringkannya di atas ranjang.


"Cepat panggil dokter!"titah Geno pada Hilda dan Hilda pun segera menghubungi dokter.


Geno menghela napas panjang melihat bekas tamparan di wajah putrinya yang terlihat pucat.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Ayana?"tanya Geno setelah Hilda selesai menelpon dokter.


"Aku curiga dia sedang hamil,"ujar Hilda yang terlihat sangat kecewa.


Geno mengusap wajahnya dengan kasar. Menghela napas berkali-kali.


Tak lama kemudian, seorang dokter wanita pun datang.


"Anaknya, kenapa, nyonya?"tanya dokter itu seraya mengeluarkan peralatan medisnya.

__ADS_1


"Pingsan,"sahut Hilda singkat.


"Ada keluhan lain?"tanya dokter itu lagi.


"Muntah-muntah,"sahut Hilda lagi-lagi singkat.


Dokter berusia paruh baya itu mencoba membuat Ayana tersadar dari pingsannya dengan minyak angin. Mengernyitkan keningnya saat melihat ada bekas tamparan di wajah Ayana.


Perlahan Ayana pun sadar, membuka matanya secara perlahan. Melihat sekeliling. Ada papa mamanya yang berdiri di samping ranjang. Ada juga dokter yang duduk di sampingnya.


"Dok!"panggil Ayana lirih.


"Ada apa?"tanya dokter itu lembut.


"Saya ingin.."Ayana tidak melanjutkan kata-katanya melirik ke arah kedua orang tuanya.


Mengerti pasiennya ingin berbicara secara pribadi dengan dirinya, dokter itupun menatap ke arah Geno dan Hilda.


"Bisakah, nyonya dan tuan menunggu di luar?"pinta dokter itu lembut.


"Iya, dok. Kami tunggu di bawah,"sahut Geno langsung menarik Hilda yang nampak enggan untuk keluar dari kamar putrinya.


"Apa ada yang ingin kamu bicarakan?"tanya dokter itu pada Ayana sambil memeriksa tekanan darah Ayana.


"Dok, bisakah dokter mengatakan pada orang tua saya jika saya sedang mengandung?"tanya Ayana membuat dokter itu terkejut.


"Permintaan kamu aneh sekali,"ujar dokter itu tertawa tanpa suara,"Kenapa kamu ingin saya mengatakan pada orang tua kamu jika kamu sedang mengandung?"tanya dokter itu seraya mengernyitkan keningnya.


"Saya ingin menikah dengan pacar saya agar bisa keluar dari rumah ini,"sahut Ayana.


"Kenapa?"tanya dokter itu lagi, semakin penasaran dengan gadis yang sedang diperiksanya itu.


"Apa masih ada bekas tamparan di pipi saya?"tanya Ayana tanpa menjawab pertanyaan dokter itu.


"Iya, masih ada,"sahut dokter itu.


Ayana kemudian berusaha bangkit untuk duduk, dan dokter itu pun membantunya. Gadis itu kemudian membuka pakaiannya dan menunjukkan bekas pukulan Hilda di tubuhnya. Dokter itu terlihat sangat terkejut.


"Kamu di pukuli orang tuamu?"tanya dokter itu terlihat geram.


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2