
"Kenapa Ayana bicara seperti itu?"tanya Nando menatap Bening penuh rasa curiga.
Nando merasa kata-kata yang diucapkan Ayana tadi tertuju pada Bening. Dan dari kata-kata Ayana, sepertinya Ayana menunjukkan rasa ketidak kesukaannya pada Bening.
"Aku juga tidak tahu sayang,"sahut Bening pelan, mencoba menutupi.
Hilda yang mendengar pertanyaan Nando pun buka suara,"Semalam Bening ngidam, pengen makan soto di tempatnya langsung. Bening minta Dimas mengantarkannya, tapi Ayana ingin ikut karena tidak ingin suaminya pergi berdua bersama wanita lain. Tapi Bening malah tidak jadi pergi,"sahut Hilda.
"Ayana itu sangat mencintai Dimas. Jadi dia tidak suka jika Dimas di dekati perempuan lain. Kalian lihat saja! Ayana selalu menempel pada Dimas,"sahut Geno.
"Aku hanya ngidam saja, sayang. Kemarin, 'kan, udah malam, aku takut jika harus pergi sendirian. Apalagi aku sedang mengandung. Jadi, aku minta tolong Dimas buat ngantar aku, karena semalam mama lagi dapat orderan besar. Tapi Ayana malah marah-marah tidak jelas. Tapi aku maklum, kok. Dia itu, 'kan masih kecil, masih labil,"ujar Bening yang mau tidak mau harus memberikan penjelasan pada Nando agar Nando tidak salah paham pada dirinya. Karena kedua mertuanya menceritakan kejadian semalam pada Nando. Eh, tunggu dulu! Agar tidak salah paham? Bukan salah paham, lebih tepatnya adalah curiga.
"Ya sudah, lain kali jangan dekati Dimas lagi, apalagi minta di antar sama Dimas,"ujar Nando yang jadi was-was.
"Iya, sayang,"sahut Bening dengan senyum yang di buat semanis mungkin.
Entah mengapa Nando menjadi takut jika istrinya sampai kecantol sama Dimas. Tanpa Nando tahu jika Dimas bagi Bening adalah mantan yang tidak terlupakan dan masih berharap bisa jadi masa depan.
Di lihat dari wajah, postur tubuh, dan kecerdasan, Nando sudah merasa kalah telak dari Dimas. Apalagi jika Nando tahu bahwa Dimas adalah orang yang kaya. Nando akan semakin minder, benci, sekaligus iri pada Dimas.
"𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙗𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣. 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙘𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙞𝙣𝙜𝙠𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖? 𝙎𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙨 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙢𝙖𝙪 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙖𝙙𝙖 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖. 𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙧𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙠𝙪 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙜𝙖𝙜𝙖𝙡 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞,"gumam Bening dalam hati, menyesali kecerobohannya. Ayana selalu saja menggagalkan rencana nya. Dan hari ini yang paling parah.
"Dimas itu terlalu tampan dan sempurna. Wajar jika Ayana posesif padanya. Dan itu lebih baik. Aku tidak mau, apa yang dikatakan oleh Ayana terjadi. Bisa saja, 'kan, Bening tergoda dengan Dimas? Apalagi keadaan ku sekarang seperti ini. Aku harus menjauhkan Bening dari Dimas,"gumam Nando yang menjadi was-was.
***
Setelah dua minggu dirawat di rumah sakit Geno dan Nando sudah diperbolehkan pulang, walaupun kaki mereka belum sembuh benar. Nando menjalani terapi dan sedikit-sedikit sudah mulai bisa berjalan kembali. Sedangkan perusahaan masih tetap di pimpin Dimas. Tangan kanan Geno dan Nando masih belum sembuh. Perkiraan tangan dan kaki Geno yang patah akan sembuh sekitar 3-6 bulan. Begitu pula dengan tangan Nando yang patah.
__ADS_1
Di perusahaan Geno, satu minggu setelah Dimas menggantikan posisi Geno, produk makanan ringan yang baru di luncurkan perusahaan Geno langsung meledak di pasaran. Dari rasa, dan bentuk yang unik, serta kemasan yang menarik, membuat makanan ringan yang mereka luncurkan menjadi booming. Tidak hanya di gemari anak-anak, tapi juga digemari oleh segala usia.
"Ay, papa dan mama menyuruh kita menginap di rumah,"ujar Dimas saat mereka sedang bersantai di ruangan keluarga yang tidak terlalu besar dengan televisi yang menyala.
Seperti biasa Dimas sibuk dengan handphonenya, Ayana bermanja-manja di pangkuan Dimas. Menonton televisi bersama Toyib seraya memakan kacang rebus.
"Aku males, kak. Lihat wajah mantan kakak itu bikin aku emosi,"sahut Ayana.
"Memangnya masih belum menyerah juga itu mantan?"tanya Toyib sambil mengupas kacang.
"Masih aja, tuh, bang. Kalau masih cinta, kenapa dulu ditinggalin?"sahut Ayana.
"Sudah! Jangan bicarakan dia lagi! Yang penting, sekarang aku adalah milik kamu,"ucap Dimas seraya mencubit gemas hidung Ayana yang sedang mengunyah kacang.
"Aku heran, kenapa kamu dulu bisa punya pacar model begituan, Dim?"tanya Toyib.
"Tapi, apa tujuan dia mendekati kamu lagi, Dim? Dia nggak tahu, 'kan, kalau kamu kaya?"tanya Toyib.
"Yang tahu tentang harta yang aku miliki cuma kita bertiga. Aku bahkan tidak pernah mengaku sama papa, berapa jumlah aset yang aku miliki,"sahut Dimas.
"Kalau si ulat bulu itu tahu aset yang kakak miliki, pasti dia bakal semakin getol ngejar-ngejar kakak,"sahut Ayana.
"Aku akan tetap menyembunyikan tentang hal itu dari siapapun. Jadi, mau nginap di rumah papa, nggak?"tanya Dimas menatap Ayana yang berada di pangkuannya.
"Baiklah. Tapi cuma semalam saja,"sahut Ayana.
"Hum,"sahut Dimas.
__ADS_1
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, Ayana meminta Bu Nur untuk mengantarkan dirinya ke rumah kedua orang tuanya. Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Ayana tiba di depan rumah kedua orang tuanya.
"Ini, rumah siapa, Ay?"tanya Bu Nur menatap rumah megah di depannya.
"Ini rumah kedua orang tuaku, Bu,"sahut Ayana seraya melepaskan helm nya.
"Rumah kedua orang tua kamu? Kenapa kamu nggak tinggal di sini bersama kedua orang tua kamu, Ay? Padahal jarak dari sekolah kamu ke rumah ini sama dengan jarak dari kontrakkan kalian ke ke sekolah kamu,"ujar Bu Nur masih menatap rumah di depannya dengan tatapan kagum.
"Aku tidak bisa menceritakannya Bu. Ceritanya panjang. Yang pastinya, aku lebih nyaman tinggal bersama kakak dan Abang,"sahut Ayana.
"Maaf, kalau ibu lancang bertanya,"ujar Bu Nur yang merasa tidak pantas menanyakan kehidupan pribadi penumpangnya.
"Nggak, kok, Bu,"sahut Ayana seraya menyerahkan helm yang tadi dipakainya pada Bu Nur.
"Ya sudah, ibu pulang, ya!"pamit Bu Nur.
"Nggak mampir dulu, Bu?"tawar Ayana.
"Lain kali aja, Ay. Ibu masih ada pekerjaan lain,"tolak Bu Nur yang memang masih punya pekerjaan lain.
"Oh, begitu, ya? Ya sudah, hati-hati di jalan, ya, Bu!"ujar Ayana.
"Iya,"sahut Bu Nur melempar senyum pada ayan
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued