SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
30. Cekrek


__ADS_3

Hari sudah senja. Kemilau keemasan di langit terlihat sangat indah. Dimas dan Ayana duduk di tepi ranjang di dalam kamar Ayana. Menatap indahnya langit senja dari balik kaca jendela kamar itu.


"Indah sekali,"gumam Ayana yang menatap langit senja.


"Senja memang indah, namun hanya sesaat. Mengajarkan kita bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Sedih dan bahagia juga tidak akan selamanya. Senja mengajarkan kita bahwa keindahan tak harus datang lebih awal.


Dan dari senja kita juga bisa belajar, bahwa terkadang kita hanya bisa mengagumi tanpa bisa memiliki,"ujar Dimas yang juga sedang menatap senjata, membuat Ayana menoleh pada Dimas.


"Kakak benar,"sahut Ayana menoleh menatap lekat wajah tampan Dimas dari samping,"𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙜𝙪𝙢𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙢𝙪 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙞𝙖𝙢, 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣, 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞. 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙖𝙙𝙞𝙠𝙢𝙪 𝙨𝙖𝙟𝙖,"lanjut Ayana dalam hati.


"Oh, ya, bukankah sebentar lagi liburan sekolah akan berakhir. Bagaimana dengan sekolah mu?"tanya Dimas yang mengingat tentang sekolah Ayana. Menoleh, menatap Ayana.


Ayana menundukkan wajahnya menghela napas berat,"Aku tidak tahu, kak,"sahut Ayana membuat Dimas terdiam.


Ayana memang belum mempunyai rencana apapun tentang sekolah nya. Apa akan lanjut sekolah atau berhenti. Ayana belum tahu. Walaupun ingin lanjut sekolah, tapi Ayana tidak punya uang untuk biaya sekolahnya. Pulang ke rumah pun Ayana sudah tidak mau lagi. Keluarga nya benar-benar telah membuat Ayana kecewa. Tapi terus menumpang di kontrakan Dimas dan Toyib pun tidak enak hati.


"Aku ingin bekerja. Apakah ada lowongan pekerjaan untuk gadis seusia ku?"tanya Ayana tiba-tiba membuat Dimas terkejut.


'Kamu tidak ingin melanjutkan sekolah?"tanya Dimas nampak tidak suka dengan keputusan Ayana.


"Aku ingin lanjut sekolah, tapi tidak punya biaya. Lagi pula, aku tidak mungkin selamanya tinggal dan menumpang hidup pada kalian. Aku tidak ingin menjadi beban buat kalian. Aku sudah sangat berterima kasih kalian mau menampung aku selama ini. Aku tidak ingin merepotkan kalian lagi. Kalian sudah terlalu baik padaku,"ujar Ayana dengan wajah semakin tertunduk.


Dimas menghela napas panjang,"Kami tidak pernah merasa direpotkan oleh kamu. Sudah ku bilang, kami sudah menganggap kamu seperti adik kami sendiri,"ujar Dimas yang terasa menusuk di hati Ayana. Entah mengapa sekarang Ayana sangat membenci kata-kata dianggap adik sendiri. Kata-kata itu membuat Ayana tersenyum getir.


"Kamu benar-benar tidak ingin pulang?"tanya Dimas lagi.


"Tidak lagi. Aku tidak ingin mereka menjajakan aku pada para pria seperti dagangan mereka lagi. Aku ingin bekerja dan hidup mandiri. Mencari kontrakan untuk tepat tinggal ku nanti. Tapi sebelum aku mendapatkan pekerjaan dan uang, tolong ijinkan aku tinggal di sini, kak! Aku akan menjadi pembantu kalian, memasak, mencuci dan menyetrika pakaian kalian dan juga membersihkan rumah ini. Tolong ijinkan aku tinggal di sini sementara waktu, kak!"pinta Ayana dengan tatapan memelas pada Dimas.


Ayana merasa sesak dadanya saat mengingat kedua orang tuanya yang ingin segera mencarikan jodoh untuk dirinya. Karena itu Ayana tidak ingin pulang ke rumah lagi.


Dimas kembali menghela napas mendengar kata-kata Ayana. Prihatin dan kasihan, itulah yang dirasakan oleh Dimas pada Ayana.

__ADS_1


"Mencari pekerjaan dengan ijazah SMP akan sulit. Lanjutkan lah sekolah kamu! Dan tetap lah tinggal di sini bersama kami! Tidak perlu menjadi pembantu kami. Lakukan apa saja di rumah ini seperti sebelumnya. Aku akan meminjamkan kamu uang untuk membayar biaya sekolah kamu. Setelah lulus sekolah nanti, kamu baru bisa mencari pekerjaan dan mengganti uang yang aku pinjamkan padamu. Dan kamu tetap boleh tinggal bersama kami selama kamu mau,"ujar Dimas panjang lebar.


Bukan tidak mau membiayai sekolah Ayana, hanya saja takut Ayana menolak niat baiknya. Karena itu Dimas mengatakan akan meminjamkan uang untuk biaya sekolah Ayana. Agar gadis itu tetap melanjutkan sekolahnya.


"Terimakasih, kak!"ucap Ayana langsung memeluk Dimas dengan perasaan bahagia.


"Dasar gadis tengil!"ucap Dimas dengan tangan kiri membalas pelukan Ayana dan tangan kanan mengacak-acak rambut Ayana gemas. Kemudian memeluk Ayana dengan kedua tangannya.


"𝘽𝙞𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙖𝙙𝙞𝙠. 𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙨𝙞𝙣𝙮𝙖. 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣𝙠𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙜𝙪𝙢𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞? 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙨𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙘𝙪𝙠𝙪𝙥 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖,"gumam Ayana dalam pelukan Dimas.


Tapi apakah benar begitu? Apakah tetap bertahan di sisi orang yang kita cintai tapi tidak mencintai kita bisa membuat kita bahagia? Jawabannya adalah, mungkin iya, tapi tidak selamanya. Akan ada saat nya kita cemburu dan sakit hati saat dia di dekati orang lain. Apalagi saat dia memperhatikan dan mencintai orang lain. Ingin marah dan melarang? Atas dasar apa? Itulah resiko mencintai dalam diam.


"Pyarr"


Suara perabot yang pecah dari dalam ruangan makan membuat dua orang yang sedang berpelukan itu melepaskan pelukan mereka. Toyib yang kebetulan baru pulang pun meletakkan tasnya dan bergegas ke ruang makan. Ayana langsung berlari ke arah ruang makan disusul oleh Dimas. Bersamaan dengan kucing yang melompat hampir menabrak Ayana, hingga membuat Ayana terkejut.


"Syuutt"Ayana terpeleset air yang menggenang di lantai.


"Ay!"pekik Dimas mencoba menangkap tubuh Ayana.


"Gedebuk"Dimas jatuh memeluk tubuh Ayana dengan posisi Ayana di bawah tubuh Dimas dan dengan bibir yang saling menempel. Keduanya terpaku dengan detak jantung yang berdetak kencang. Saling menatap tanpa berkedip.


Toyib melihat teko air yang terguling di atas meja. Tudung saji yang jatuh di lantai lengkap dengan ikan dan pecahan mangkok wadah ikan. Dan tentunya dengan dua orang yang sedang terdiam memaku dengan bibir yang saling menempel dan mata yang saling menatap. Tak jauh dari pecahan mangkok.


Toyib menghela napas melihat pemandangan di depan matanya kemudian tersenyum menyeringai mengeluarkan handphonenya dan..


"Cekrek"


"Cekrek"


"Cekrek"

__ADS_1


Toyib memotret dua orang yang berbaring di lantai itu dari berbagai sisi. Membuat Dimas dan Ayana tersadar dan buru-buru berdiri dengan wajah yang memerah karena malu. Namun...


"Aakkh!"


"Cekrek "


"Gedebuk"


"Cekrek"


Toyib berhasil mengambil gambar saat Dimas dan Ayana akan terjatuh, hingga akhirnya benar-benar terjatuh.


Lagi dan lagi. Kali ini posisi Ayana yang berada di atas tubuh Dimas dan bibir keduanya kembali menempel. Membuat keduanya kembali terpaku dengan saling menatap. Jantung keduanya yang tadinya belum sempat berdegup normal, sekarang kembali berdegup kencang dan semakin tidak beraturan.


"Cekrek "


"Cekrek "


"Cekrek "


Toyib kembali mengabadikan momen keduanya berciuman dari beberapa sisi. Dimas dan Ayana pun kembali tersadar mendengar suara dari kamera Toyib yang lumayan keras sehingga tersadar dari keterpakuan mereka dan kembali berusaha bangkit. Namun kali ini Dimas dan Ayana lebih berhati-hati karena takut terjatuh lagi untuk yang ketiga kalinya.


...🌟"Suatu saat kamu akan merasakan, bahwa memendam perasaan itu menyakitkan,"🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2