
Pak Parman mengembalikan kursi tambahan yang di ambilnya dari teras rumah di bantu Wulan. Sedangkan Bu Lastri membereskan kue di atas meja. Tak lama kemudian, mereka pun sudah selesai membereskan semuanya dan duduk di ruang tamu.
"Akhirnya selesai juga,"ujar Pak Parman merasa lega.
"Kamu beruntung karena Nak Diky mau menuruti keinginan kamu, Lan. Walaupun tadi ibu melihat kalau wajah Nak Diky seperti kecewa saat kita minta untuk bertunangan dulu,"ujar Bu Lastri membuka obrolan.
"Itu berarti Nak Diky benar-benar menyukai Wulan, Bu. Jika tidak, Nak Diky pasti memilih membatalkan lamarannya,"sahut Pak Parman.
"Iya. Tapi, jangan mentang-mentang Nak Diky menyukai Wulan, terus Wulan tidak memikirkan perasaan Nak Diky, Pak,"sahut Bu Lastri menghela napas kasar.
"Aku tak akan seperti itu, Bu,"sahut Wulan.
"Ibu ini kenapa? Sepertinya ibu tidak setuju jika Wulan dan Nak Diky bertunangan. Mendengar omongan ibu dari kemarin-kemarin, bapak merasa kalau ibu itu sepertinya ingin mereka langsung menikah,"sahut Pak Parman lembut.
"Pak, ibu sudah bilang. Nak Diky itu sudah dewasa. Karena itu Nak Diky tidak mau pacaran dan memilih melamar Wulan untuk langsung dinikahi. Ibu nggak yakin kalau Wulan nggak bakal di apa-apain sama Nak Diky, jika sewaktu-waktu mereka pergi berdua? Nggak mungkin, 'kan, kita tidak mengijinkan Nak Diky membawa Wulan jalan-jalan?"tanya Bu Lastri membuat Pak Parman terdiam. Karena apa yang dikatakan oleh Bu Lastri memang ada benarnya.
"Aku akan menjaga diriku baik-baik, Bu. Aku tidak akan membiarkan bang Diky berbuat yang macam-macam sama aku,"sahut Wulan penuh keyakinan.
"Iya. Sekarang, kamu bisa berkata seperti itu. Tapi ibu nggak yakin kamu bisa konsisten dengan pendirian kamu itu kalau kamu sudah berduaan sama Nak Diky. Ibu ini pernah muda. Jadi ibu juga pernah merasakan bagaimana berjiwa muda. Apalagi jika ibu melihat bagaimana Nak Diky menatap kamu. Ibu nggak yakin jika Nak Diky bisa mengendalikan diri saat berdua sama kamu,"ujar Bu Lastri menghela napas panjang.
Bu Lastri memang memperhatikan Diky, saat pemuda itu datang ke rumah mereka. Bu Lastri bisa melihat jika Diky terlihat sangat gemas jika melihat Wulan.
"Ya sudah lah, Bu! Kalau terjadi apa-apa, ya tinggal di nikahkan saja,"sahut Pak Parman enteng.
"Huhh.. bapak itu selalu saja menyepelekan. Kalau sudah terjadi hal yang nggak diinginkan, nanti nangis itu, anak bapak,"ujar Bu Lastri mendengus kesal.
"Ya gimana, Bu. Sudah terlanjur,"sahut Pak Parman menghela napas panjang.
Sedangkan di rumah kontrakan Dimas, empat orang penghuni rumah itu baru saja sampai dan duduk di sofa ruang tamu.
"Sudah! Tidak usah di pikirkan! Kalau jodoh tak akan kemana. Tiga setengah tahun itu nggak lama, kok,"ujar Toyib santai saat melihat Diky yang terlihat tidak puas karena dirinya dan Wulan cuma bertunangan.
"Dari mana rumusnya kalau tiga setengah tahun itu tidak lama? Nunggu satu minggu ini aja sudah berasa satu tahun,"sahut Diky menghela napas panjang.
"Itu, sih, risiko. Kalau mau mencari yang bisa langsung di ajak nikah, jangan nyari daun muda seperti Wulan! Tapi cari yang dewasa. Sukur-sukur yang sudah janda. Pasti langsung hayoo kalau di ajak nikah. Apalagi kalau di ajak kawin,"sahut Toyib kemudian terkekeh.
__ADS_1
"Sialan, kamu, Yib!"kesal Diky.
"Masalahnya, babang Diky sukanya sama Wulan, Abang. Bukan sama yang lain,"sahut Ayana.
"Nah, anak kecil aja tahu. Masa kamu nggak tahu, sih, Yib!"sambar Diky.
"Iihh.. Babang! Aku bukan anak kecil!"sambar Ayana bersungut-sungut.
"Kamu, 'kan, adik babang, jadi kamu tetap babang anggap anak kecil,"sahut Diky enteng.
"Lah, kamu ini, Dik! Kamu menganggap Ayana anak kecil, tapi kamu sendiri ngebet kawin dengan teman Ayana yang sama bocil nya dengan Ayana,"sahut Toyib tertawa tanpa suara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Itu, sih, beda, Yib. Dia tidak aku anggap adik. Tapi aku anggap sebagai seorang gadis,"sahut Diky.
"Terserah, kamu, lah!"sahut Toyib pasrah,"Aku penasaran. Sampai berapa lama kamu nggak bakal menerkam si Wulan. Sedangkan sekarang aja, kalau melihat Wulan aja sudah seperti harimau kelaparan yang melihat rusa,"ujar Toyib tersenyum miring.
"Beneran, Yib?"tanya Dimas yang memang tidak memperhatikan gerak gerik Diky selama mereka ada di rumah Pak Parman.
"Beneran, Dim. Diky itu kelihatan gemes banget kalau melihat Wulan,"sahut Toyib.
"Aku usahakan,"sahut Diky menghela napas panjang.
Diky sebenarnya tidak yakin bisa mengendalikan diri jika bersama Wulan. Entah mengapa Diky selalu merasa gemas jika melihat Wulan.
"Kak, bobok, yuk! Aku ngantuk,"ajak Ayana yang menyandarkan kepalanya di bahu Dimas dengan tangan yang memeluk lengan Dimas. Mata wanita muda itu memang sudah terlihat merah karena mengantuk.
"Sudah, sana! Kelonin dulu sana!"ujar Toyib.
Dimas mencubit hidung Ayana gemas, kemudian menggendong Ayana ke dalam kamar. Diky hanya bisa menghela napas melihat kemesraan Dimas dan Ayana.
"Tambah pengen, tuh,"ledek Toyib pada Diky, kemudian terkekeh.
"Kamu jangan meledek aku terus, Yib!"sahut Diky yang merasa kesal pada Toyib, karena selalu meledek nya. Namun Toyib malah tertawa.
***
__ADS_1
Sore itu, wajah Diky nampak bersemangat dan berseri-seri. Pria itu memakai pakaian kasual, berdiri di depan cermin menyisir rambutnya sambil bersiul-siul.
"Sudah! Mau di sisir sampai satu jam pun, itu rambut akan tetap berantakan setelah memakai helm. Makanya kalau ngedate pakai mobil aja, biar tatanan rambut kamu tidak berubah,"celetuk Toyib yang baru keluar dari dalam kamar mandi.
"Pergi berdua sama gebetan itu nggak seru kalau pakai mobil, Yib. Nggak asyik. Ntar, nggak dapat pelukan. Kalau pakai motor, 'kan, bisa dapat pelukan. Belum lagi pas ada polisi tidur, bisa dapat untung yang lain,"sahut Diky kemudian terkekeh.
Membayangkan Wulan memeluk pinggang nya saat dibonceng nya pakai motor, dan saat ada polisi tidur berharap dapat keuntungan yang lain, membuat hati Diky berbunga-bunga.
"Dasar mesum! Begini, nih, kalau orang sudah ngebet kawin, tapi malah cuma bisa tunangan,"celetuk Toyib.
"Sialan, kamu, Yib!"umpat Diky seraya merapikan pakaiannya.
"Ngarep kamu, Dik! Gimana kalau Wulan nggak mau pegangan di pinggang kamu, tapi memilih pegangan di motor? Lagian, kamu nggak ingat apa, kalau akhir-akhir ini sering turun hujan. Bagaimana jika kalian masih di jalan terus kehujanan? Nggak kasihan kamu sama Wulan?"ujar Toyib.
"Semoga aja enggak hujan. Kamu juga jangan mendoakan hujan, dong, Yib! Ini pertama kalinya aku ngedate dengan Wulan,"sahut Diky, kemudian pemuda itu memicingkan sebelah matanya menatap Toyib"Jangan-jangan, kamu iri, karena kami mau double ngedate dan kamu sendiri di rumah?"cibir Diky.
Malam ini, rencananya, Diky, Wulan, Dimas dan Ayana memang akan ngedate bareng. Sedangkan Toyib terpaksa harus tinggal di rumah sendirian karena calon istrinya ada di kampung.
"Cih, buat apa aku iri? Aku memang malam ini sendirian di rumah. Tapi, dua bulan lagi, aku sudah bisa kelonan sama istriku. Lah, kamu? Kamu harus bersabar menunggu tiga setengah tahun lagi baru bisa ngelonin si Wulan,"balas Toyib.
"Ah! Sialan kamu, Yib! Mentang-mentang sudah mau kawin,"ketus Diky, tapi Toyib malah tertawa.
"Sabar.! Sabar.! Berdoa saja keris kamu nggak bakal karatan, karena harus menunggu tiga tahun setengah lagi baru bisa masuk ke sarungnya,"ledek Toyib kembali terkekeh.
Diky mendengus kesal kemudian beranjak keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Toyib yang masih menertawakan dirinya
...π"Ikan lele berkumis tipis, jangan di anggap sepele, nanti kamu nangis!π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1