SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
87. Bantu aku!


__ADS_3

"Deg"


Dimas terkejut mendengar kata-kata Ayana.


"𝘼𝙥𝙖 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧, 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝘽𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪? 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙞𝙩𝙪𝙠𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙨𝙤𝙧𝙚 𝙞𝙩𝙪 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙖𝙣𝙚𝙝?"gumam Dimas dalam hati.


Dimas mulai mengumpulkan puzzle demi puzzle di memory otaknya. Saat dirinya meninggalkan Ayana di hotel sore itu, Ayana masih ceria seperti biasanya.Tapi Ayana berubah saat dirinya kembali ke kamar hotel. Bahkan Dimas menemukan Ayana tenggelam di bathtub. Sore itu, hampir saja Dimas kehilangan Ayana. Lalu sikap mesra Ayana padanya di depan keluarganya. Dan juga sikap Ayana yang acuh padanya saat jauh dari keluarganya. Sekarang Dimas tahu, apa yang menyebabkan Ayana berubah.


Begitulah manusia, tidak ada yang sempurna. Dimas memiliki otak yang cerdas, wajah tampan, dan tubuh proporsional. Namun satu kekurangannya, yaitu tidak peka. Penyakit yang diderita rata-rata kaum pria, yaitu tidak peka. Seringkali penyakit itu membuat hubungan menjadi renggang, bahkan salah paham.


Namun, apa benar para pria itu tidak peka, ataukah para wanita yang terlalu rumit hatinya? Entahlah, mungkin sama saja.


"Aku memang mencintai kakak, bahkan sangat mencintai kakak. Tapi bukan berarti kakak bisa mempermainkan hatiku sesuka hati kakak. Aku tidak ingin lagi bersama kakak. Aku ingin kita berpisah. Aku mau kita cer..emp.."Ayana tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat tiba-tiba Dimas menutup mulutnya dengan bibirnya.


Ayana berusaha berontak, tapi Dimas memegang tengkuk Ayana dan memeluk pinggang Ayana dengan erat hingga Ayana tidak bisa berontak. Dimas memagut, dan menyesap bibir Ayana. Menggigit kecil bibir bervolume Ayana hingga Ayana membuka mulutnya. Mengeksplor semua yang ada di dalam mulut Ayana. Ciuman yang begitu lembut dan penuh perasaan. Seolah dari ciuman itu, Dimas ingin mengatakan betapa Dimas sangat mencintai Ayana.


Dimas melepaskan pagutan bibirnya saat Ayana mulai kesulitan bernapas. Pria itu mengatur napasnya dan memegang kedua pipi Ayana, menatap lekat wajah istrinya.


"Kamu tahu? Aku begitu membenci kata cinta. Perempuan itu menggunakan kata cinta hanya untuk kepentingannya sendiri. Lalu meninggalkan aku dalam keadaan terpuruk. Aku memang mencintai dia, sangat mencintainya. Tapi itu dulu, bukan sekarang. Aku sudah lama menghapus namanya dari hatiku. Sekarang, hanya ada kamu, hanya nama kamu di hatiku, Ay. Hatiku hanya milikmu, Ay! Hanya milikmu! Apa semua yang aku lakukan selama ini belum bisa dan belum cukup untuk membuktikan betapa berartinya dirimu di hatiku? Apa kata cinta lebih berarti dari semua yang sudah aku lakukan untukmu? Tidak bisakah kamu membaca hati dan sikap ku? Kata cinta tidak bisa dan tidak cukup untuk mewakili perasaanku padamu. Tidak bisa mendeskripsikan betapa berartinya dirimu dalam hidupku, Ay! Bagiku, kamu adalah tempat untuk aku pulang, tempat ternyaman ku. Dan semangat hidupku. Bagiku, tertawa mu sudah cukup membuat aku bahagia, Ay. Dan aku ingin kamu ada di sisiku, sepanjang hidupku, hingga tutup usiaku,"ucap Dimas menatap lekat manik mata Ayana.


Dengan cepat Ayana memeluk Dimas.Dimas pun membalas pelukan dari Ayana yang menangis sesenggukan di dada bidang suaminya. Rasanya Ayana tidak percaya dengan ungkapan hati Dimas barusan. Ayana terlalu bahagia mendengar isi hati pria yang selama ini dicintainya itu. Betapa bodohnya dirinya yang masih menganggap kata cinta adalah segalanya. Untuk apa seseorang mengatakan mencintai, jika tindakannya tidak mencerminkan mencintai, tapi malah cenderung menyakiti?


"Jangan lagi mengatakan ingin berpisah dariku, Ay! Aku tidak mau lagi mendengarnya. Aku tidak akan pernah melepaskan mu hingga maut menjemput,"ucap Dimas mengeratkan pelukannya.


"Hum,"sahut Ayana.


"Jadi, istriku cemburu?"goda Dimas setelah tangis Ayana reda.


"Mana ada istri yang nggak cemburu kalau suaminya lebih memilih mengatakan mencintai wanita lain dari pada mengatakannya pada istrinya sendiri,"sahut Ayana melepaskan pelukannya dengan wajah yang bersungut-sungut, membuat Dimas gemas.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mendengar, aku mengatakan mencintainya, sangat mencintai dia, tapi itu dulu. Sekarang, aku sudah melupakan dia. Tidak ada lagi cinta di hatiku untuk dia. Sekarang, di hatiku hanya ada gadis kecil yang manja ini,"ucap Dimas mencubit hidung Ayana gemas.


"Gombal!"ketus Ayana menepis tangan Dimas dengan wajah yang masih bersungut-sungut, namun Dimas malah tersenyum.


"Makanya kalau menguping itu jangan setengah-setengah. Biar nggak salah paham,"cibir Dimas yang menduga bahwa Ayana pasti tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Bening sampai selesai, hingga Ayana salah paham pada dirinya.


"Siapa juga yang menguping,"kilah Ayana.


"Iya..iya.. tidak menguping. Cuma mendengarkan secara sembunyi-sembunyi,"ledek Dimas.


"Sama aja!"ketus Ayana dengan wajah cemberut.


"Bikin gemes, deh!"ucap Dimas seraya mencubit hidung Ayana,"Lihatlah! Kamu membuat bajuku basah,"ucap Dimas seraya menunjuk ke arah kaos oblong yang dipakainya yang basah oleh air mata Ayana.


"Bodo,"cetus Ayana.


Ayana mencuci wajahnya dan tidak berapa lama kemudian keluar dari kamar mandi. Gadis itu berjalan menghampiri Dimas.


"Kenapa kakak tidak memakai baju?"tanya Ayana yang melihat Dimas bertelanjang dada, bersandar di headboard ranjang menatap layar handphonenya.


"Aku tidak membawa banyak baju, Ay,"sahut Dimas yang sedang mengecek handphonenya.


"Kakak tidak bermaksud untuk keluar dari kamar dengan bertelanjang dada seperti itu, 'kan?"tanya Ayana memicingkan sebelah matanya.


"Aku tidak akan keluar seperti ini, Ay!"ucap Dimas meletakkan handphonenya, lalu menarik tangan Ayana dengan lembut hingga gadis itu duduk di pangkuannya lalu mengecup pipinya.


"Bagaimana kakak bisa memiliki tubuh seperti ini?"tanya Ayana dengan jemari lembutnya mengelus dada bidang Dimas.


"Tentu saja dengan berolahraga,"ucap Dimas dengan mata yang menatap bibir Ayana. Tubuhnya terasa meremang saat jemari tangan Ayana terus merayap mengelus dada dan perutnya.

__ADS_1


Dimas meraih tengkuk Ayana, dan memeluk pinggang Ayana yang ada di dalam pangkuannya, kemudian mencium bibir istrinya itu dengan lembut. Tangan kiri Ayana melingkar di leher Dimas, sedangkan tangan kanan Ayana menyentuh dada bidang Dimas yang terekspos sempurna. Keduanya saling mengecup, menyesap, memagut, dan saling membelitkan lidah. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saat ini Ayana sudah berbaring di atas ranjang dengan Dimas sudah berada di atas tubuhnya.


Tangan Dimas mulai bergerilya di tubuh Ayana tanpa melepaskan pagutan mereka, jemarinya tangannya mulai membuka kancing piyama Ayana.


"Greb"


Ayana memegang pergelangan tangan Dimas, membuat Dimas melepaskan pagutannya dan menatap Ayana dengan mata yang sudah di penuhi kabut hasraat.


"Ay, aku ingin,"ucap Dimas dengan wajah memelas.


"Kak, aku sedang datang bulan,"ucap Ayana membuat Dimas menghela napas.


"Kamu yang memulainya tadi. Sekarang, kamu harus tanggung jawab. Kamu harus bantu aku!"ucap Dimas.


"Memulai apa? Bantu apa?"tanya Ayana dengan wajah polosnya membuat Dimas menjadi gemas.


"Ikuti saja apa yang aku inginkan,"ucap Dimas kembali memagut bibir Ayana dan jemarinya melepaskan kancing piyama Ayana.


Dimas melepaskan pagutan bibirnya,. kemudian menyusuri leher Ayana dengan bibir dan lidahnya. Dimas terus menyusuri tubuh Ayana hingga akhirnya, bibirnya sampai di dua bukit kembar Ayana yang entah sejak kapan sudah tidak tertutup sehelai benangpun. Tubuh bagian atas Ayana sudah polos tanpa sehelai benang.


"Kak...ugh.."gumam Ayana saat Dimas mulai bermain di dua bukit kembar miliknya.


"Tok! Tok! Tok!"


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2