SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
236. Khawatir


__ADS_3

Hari ini Toyib berniat kembali ke kota bersama istrinya. Sedangkan putranya memilih tinggal bersama kedua orang tua Toyib.


"Yakin, tidak mau ikut ayah dan ibu?"tanya Toyib pada putranya.


"Enggak. Aku mau tinggal sama kakek dan nenek saja,"sahut putra Toyib menggeleng cepat, memeluk neneknya


"Ya sudah, kalau kangen ngomong, ya? Nanti ayah dan ibu akan pulang,"ucap Bunga yang sudah dekat dengan putra Toyib. Bunga mengusap lembut rambut anak sambungnya itu dengan seulas senyum.


Semenjak Toyib dan Bunga bertunangan, kedua orang tua Toyib sudah mengajari anak Toyib untuk memanggil ibu pada Bunga. Sifat Toyib menurun pada putranya. Sifat ramah yang mudah bergaul dengan semua orang dan juga mandiri. Hal itu membuat Bunga menyukai anak sambungnya itu dan mereka jadi lebih cepat akrab. Selama ini, mereka sudah berinteraksi selayaknya ibu dan anak itu. Apalagi Sifat Bunga yang keibuan, membuat putra Toyib menjadi lebih dekat dengan Bunga dibandingkan dengan ibu kandungnya sendiri.


Mantan istri Toyib langsung menyerahkan anak laki-laki itu pada keluarga Toyib setelah Toyib menandatangani surat perceraian mereka. Dan semenjak itu, mantan istri Toyib jarang menemui putranya itu. Apalagi setelah menikah lagi, wanita itu semakin jarang menemui putra kandung hasil pernikahan nya dengan Toyib itu. Hal itulah yang membuat putra Toyib lebih dekat dengan Bunga yang sering mengunjunginya, dari pada dengan ibu kandungnya sendiri.


"Hati-hati di jalan! Tidak usah mengirim uang lagi sama bapak dan ibu. Hasil sawah dan kebun kita sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kami bertiga,"ujar Ibu Toyib.


"Iya, Bu. Tapi kalau butuh bilang aja, Bu, aku pasti akan mengirim uang untuk kalian,"sahut Toyib.


Toyib dan istrinya meninggalkan kampung halaman mereka itu dengan doa dari kedua orang tua mereka. Sedangkan tidak jauh dari rumah kedua orang tua Toyib, terlihat dua orang wanita yang sedari tadi memperhatikan keluarga itu. Salah satu wanita itu terlihat iri melihat kebahagiaan keluarga Toyib. Dan wanita itu adalah mantan istri Toyib.


"Sudah! Untuk apa lagi kamu kepo sama kehidupan Toyib. Kalau ingin mengunjungi anak kamu, ya, kunjungi saja! Jangan cuma diam di sini!"ujar wanita yang bersama mantan istri Toyib. Namun mantan istri Toyib itu tetap diam dengan mata yang menatap Toyib yang semakin menjauh.


"Aku dulu juga bilang apa? Kamu harus sabar menunggu Toyib sukses. Walaupun dia nggak pulang-pulang, tapi dia, 'kan, selalu mengirimkan banyak uang sama kamu. Dia juga selalu menelpon kamu. Kata kamu, dulu Toyib mengatakan sedang menabung untuk membeli rumah di kota agar nanti bisa menjemput kamu dan anak kalian, lalu tinggal bersama di kota. Tapi kamu nya malah nggak sabar. Malah selingkuh dan memilih meminta cerai dari Toyib lalu menikah dengan selingkuhan kamu, orang terkaya di kampung ini. Tapi lihat sekarang! Toyib, mantan suami kamu itu sekarang lebih kaya dari pada suami kamu yang sekarang. Pas kamu nikah sama suami kamu yang sekarang, waktu itu cuma mengundang biduan biasa yang tidak terkenal. Sedangkan Toyib, menggelar pesta pernikahan yang jauh lebih megah dari pernikahan kamu dengan suami kamu yang sekarang. Bahkan tidak tanggung-tanggung mengundang empat orang artis ibukota papan atas untuk memeriahkan pesta pernikahannya. Makanya, jadi orang itu yang sabar! Biar akhirnya nggak menyesal seperti ini. Dulu Toyib cuma punya keunggulan lebih tampan dari suami kamu yang sekarang. Tapi sekarang, Toyib lebih unggul segalanya di bandingkan dengan suami kamu sekarang,"ujar teman mantan istri Toyib itu panjang lebar.


"Berisik, lah!"ketus mantan istri Toyib, kemudian pergi dari tempat itu.


"Dari dulu aku sudah menasehatinya agar setia pada Toyib dan sabar menunggu Toyib sukses. Tapi, kata-kata ku malah tidak didengarkan. Kata orang, penyesalan datangnya selalu belakangan. Kalau datangnya duluan, itu namanya pendaftaran. Dan kata orang tua, kalau sabar, lama-lama jadi subur. Seperti Toyib yang sabar mencari uang hingga akhirnya jadi orang kaya,"gumam teman mantan istri Toyib yang hanya bisa menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya menatap mantan istri Toyib.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan, akhirnya Toyib dan istrinya tiba di rumah kontrakan Dimas. Hari sudah petang saat Toyib dan istrinya tiba di rumah itu.


"Ini adalah rumah kontrakan ku, Dimas dan Diky. Dulu, sebelum Diky menikah, kami tinggal bersama di rumah ini. Sementara kita tinggal di sini, ya?"ujar Toyib pada istrinya.


"Iya, bang,"sahut Bunga.

__ADS_1


"Ayo, kita masuk! Aku punya kunci serepnya, kok,"ujar Toyib kemudian membuka pintu rumah itu,"Sepertinya Ayana ada di rumah,"gumam Toyib yang masih bisa di dengar oleh Bunga.


Melihat lampu yang sudah menyala semua, membuat Toyib yakin jika Ayana ada di rumah. Toyib kemudian mengajak istrinya ke kamarnya. Lalu menyuruh istrinya mandi di kamar mandi yang ada di kamarnya. Sedangkan Toyib sendiri memilih mandi di kamar mandi yang ada di dekat dapur.


"Hutff.. rasanya tubuhku segar sekali setelah mandi,"gumam Toyib saat masuk ke dalam kamarnya dan melihat istrinya juga sudah selesai mandi.


"Bang, Diky menelpon Abang,"ujar Bunga seraya memberikan handphone Toyib yang ada di dekatnya. Handphone itu tidak berdering, karena hanya diaktifkan nada getarnya saja.


"Diky?"gumam Toyib, lalu menerima panggilan masuk dari Diky.


"Halo, Dik?"sapa Toyib.


"Halo, Yib! Kamu sekarang dimana? Sudah pulang ke rumah kontrakan belum?"tanya Didy terdengar khawatir.


"Ya. Aku sudah ada di rumah kontrakan. Ada apa? Kenapa kamu terdengar khawatir seperti itu?"


"Dimas mengalami kecelakaan, Yib,"


"Apa?!"tanya Toyib yang terlihat sangat terkejut.


"Astagaa! Semoga Dimas baik-baik saja,"ucap Toyib penuh harap.


Sedangkan Bunga nampak penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.Karena Bunga hanya bisa mendengar kata-kata Toyib, tanpa bisa mendengar perkataan Diky. Tapi dari kata-kata dan ekspresi Toyib, Bunga yakin telah terjadi sesuatu yang tidak baik.


"Yib, tolong kamu sampaikan pelan-pelan pada Ayana tentang masalah ini. Dan jika Ayana ingin ke rumah sakit, tolong antarkan dia! Temani dia! Aku sangat mengkhawatirkan dia,"pinta Diky yang memang mengkhawatirkan Ayana.


"Baiklah, akan aku sampaikan pada Ayana, dan jika dia mau ke rumah sakit, aku akan mengantarkan dia ke rumah sakit,"sahut Toyib yang terlihat lesu.


"Terimakasih, Yib! Dimas di rawat di rumah sakit xx. Aku tutup teleponnya,"ucap Diky dan sambungan telepon pun diakhiri.


Toyib menghela napas panjang yang terasa berat setelah menerima telepon dari Diky. Sedih dan khawatir terlihat jelas di wajah Toyib.

__ADS_1


"Ada apa, bang?" tanya Bunga yang sudah tidak dapat membendung rasa penasarannya.


"Dimas mengalami kecelakaan. Kita harus memberitahu pada Ayana. Ayo!"ucap Toyib, lalu menggandeng tangan Bunga menuju kamar Ayana.


Dengan perasaan yang tidak menentu, Toyib berjalan bersama Bunga ke kamar Ayana. Sudah beberapa tahun dirinya dan Dimas tinggal bersama. Melewati masa sulit bersama-sama, saling membantu, saling mengingatkan dan saling menasehati satu sama lain. Walaupun awalnya Dimas hanya orang asing, namun seiring berjalannya waktu, Toyib sudah menganggap Dimas sebagai saudaranya sendiri. Karena itu, Toyib merasa syok, sedih dan khawatir saat mendengar Dimas mengalami kecelakaan.


Dengan perasaan ragu, Toyib mengetuk pintu kamar Ayana. Entah bagaimana reaksi adik angkatnya itu jika mengetahui suaminya mengalami kecelakaan. Mengingat Ayana sangat mencintai Dimas, begitu pula sebaliknya.


"Ceklek"


Pintu kamar Ayana terbuka dan Ayana terlihat segar. Karena Ayana baru saja selesai mandi. Ayana tidak terkejut dengan kehadiran Toyib, karena memang Toyib mengabari akan sampai di kontrakan sore hari. Tapi Ayana terkejut melihat ekspresi wajah Toyib.


"Ay!"panggil Toyib dengan wajah yang terlihat khawatir.


"Ada apa, bang?"tanya Ayana yang penasaran melihat ekspresi wajah Toyib yang nampak tidak baik-baik saja.


"Ay, Dimas mengalami kecelakaan. Dan sekarang sedang di tangani di IGD,"ucap Toyib lembut agar Ayana tidak terlalu syok.


"A.. apa?!"tanya Ayana menutup mulutnya sendiri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ay!"


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•UGD ( Unit Gawat Darurat) dan IGD (Instalasi Gawat Darurat) merupakan Instalasi yang melayani pasien dalam kondisi gawat darurat. Pelayanan dibuka 24 jam secara terus menerus, dimana para petugasnya bekerja dengan 3 (tiga) kali pembagian shift setiap harinya, yaitu pagi, siang dan malam, pada setiap shift pelayanan terdapat 3 (tiga) dokter umum.


•Bedanya, instalasi gawat darurat atau IGD, ukurannya lebih besar dibandingkan dengan unit gawat darurat (UGD). Di IGD, alat yang digunakan dan dokter yang berjaga pun lebih lengkap dari sisi spesialisasi. Sementara itu di UGD, yang berjaga adalah dokter umum, dengan jenis alat yang relatif terbatas.


Selain itu, mengenai dokter yang ditugaskan di ruang IGD, umumnya tidak hanya dokter umum saja, namun juga ada juga dokter spesialis. Sedangkan untuk ruang UGD hanya diperuntukkan untuk dokter umum saja yang ditugaskan.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2