
Ayana menyiapkan sarapan pagi untuk Dimas dan Toyib. Gadis itu membuat nasi goreng dengan irisan bakso, sosis dan irisan telur. Nasi goreng yang terlihat sangat menggugah selera. Dimas nampak duduk di kursi meja makan sambil memegang handphone dan meminum secangkir teh.
"Wah, baunya harum sekali. Kamu masak apa, Dim?"tanya Toyib yang baru saja bangun, kemudian menguap.
"Aku nggak masak,"sahut Dimas yang tidak mengalihkan perhatian nya pada handphonenya.
Mendengar jawaban Dimas, duda beranak satu itu mengernyitkan keningnya, melihat Dimas sedang menikmati tehnya sambil menatap layar handphonenya. Lalu tatapan mata duda itu beralih ke dapur yang tidak bersekat dengan ruang makan. Melihat Ayana yang sibuk mengaduk nasi di wajan.
"Eh, gadis tengil emang bisa masak, ya? Jangan membuang bahan makanan kami dengan sia-sia! Kamu tahu tidak? Beras sudah tiga belas ribu, bawang empat puluh ribu, telur tiga puluh ribu, minyak dua puluh ribu. Semua serba mahal, jadi kalau masak yang enak! Jangan sampai masakan kamu nggak bisa dimakan!"ujar Toyib kemudian kembali menguap.
"Eh, bang Toyib! Situ sales pakaian apa penjual sembako, sih? Ngomong nya sudah persis emak-emak komplek yang mau demo karena harga sembako pada naik,"ketus Ayana.
"Aku, 'kan sales keliling! Aku sering denger emak-emak yang curhat uang belanjanya kurang karena harga sembako naik,"sahut Toyib.
"Kenapa nggak alih profesi aja? Situ jadi mama Dedeh aja. Curhat dong, ma!"ujar Ayana meniru jargon salah satu tayangan religi di televisi," Pantesan, mulutnya lemes, ketularan mulut emak-emak,"cibir Ayana mewadahi nasi goreng yang sudah matang ke dalam mangkok nasi.
"Dasar gadis tengil!"gerutu Toyib.
"Dasar bang Toyib! Eh, Bang Toyib sudah berapa kali puasa berapa kali lebaran nggak pulang-pulang sampai berakhir jadi duda?"ledek Ayana.
"Empat kali puasa dan empat kali lebaran dia baru pulang. Dan berakhir disodorkan surat cerai,"ujar Dimas menahan tawa.
"Sialan, kau Dim! Jangan buka aib teman sendiri!"ujar Toyib bersungut-sungut.
"Tara! Nasi goreng buatan chef Ayana sudah siap!"ujar Ayana meletakkan nasi goreng yang sudah dihias dengan mentimun, tomat, cabai merah dan juga kol. Terlihat sangat menarik.
"Kalau baunya dan penampilan nya sih, enak. Nggak tau rasanya,"ujar Toyib mengambil sendok di atas meja makan ingin menyendok nasi goreng buatan Ayana untuk mencicipi nya.
"Pletak"
"Awhh! Sakit!"pekik Toyib saat Ayana memukul kepalanya dengan sendok.
"Mandi sana dulu! Lihat, tuh! Kotoran mata penuh, bekas iler masih menghias bibir. Jorok sekali!"bentak Ayana dengan wajah cemberut. Sedangkan Dimas hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat interaksi kedua orang itu.
"Kalau aku mandi dulu, ini nasi udah keburu dingin! Nggak enak lagi! Apalagi kalau masakan nya emang nggak enak, tambah nggak kemakan nanti,"kilah Toyib.
"Kalau takut nggak enak, jangan makan nasi goreng buatan ku! Pergi sana! Hus! Hus! Hus!"usir Ayana yang mengusir Toyib seperti mengusir ayam.
"Nggak enak juga nggak apa-apa, deh. Buat mengganjal perut. Dari pada masuk angin gara-gara nggak sarapan,"ujar Toyib beralasan.
__ADS_1
"Mandi, nggak?"ucap Ayana dengan tatapan tajam, membawa sapu siap untuk memukul Toyib.
"Iya, iya, aku mandi. Buset dah! Galak nya melebihi emak,"gerutu Toyib beranjak dari duduknya. Tapi tangannya dengan cepat menyendok nasi goreng buatan Ayana.
"Plak "
"Aduh! Sakit!"pekik Toyib karena tangan nya di pukul dengan gagang sapu oleh Ayana.
"Mandi sana!"bentak Ayana.
"Iya, iya, sadis banget. Cuma mau nyicip aja nggak boleh. Pelit!"gerutu Toyib sambil mengelus tangannya yang dipukul Ayana, berlalu ke kamar mandi.
Toyib mandi dengan cepat mengingat nasi goreng buatan Ayana yang dari bau dan penampilan sangat menggugah selera. Dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, Toyib keluar dari kamar mandi.
"Aakkh! Dasar mesum!"
"Plak"
"Auwh"pekik Toyib saat tiba-tiba centong nasi melayang mengenai kepalanya. Toyib menatap kesal pada Ayana yang berdiri membelakanginya setelah melempar centong nasi padanya.
"Apalagi salahku kali ini,"gumam Toyib seraya mengelus kepalanya.
"Kalau mau mandi bawa pakaian ganti! Jangan keluar dari kamar mandi cuma pakai handuk doang!"sergah Ayana masih berdiri membelakangi Toyib.
"Nggak nafsu! Dada sih, bidang. Tapi sayang, perut buncit. Merusak pemandangan, tau nggak! Pergi sana! Lain kali kalau masih nggak pakai baju kayak gitu, aku lempar sama panci baru tahu rasa,"ancam Ayana masih tetap berdiri membelakangi Toyib..
"Katanya nggak mau lihat, tapi bisa detail gitu lihat tubuhku. Dasar! Sok malu, tapi di lihat juga. Semakin lama rumah ini semakin banyak aturan. Nggak boleh makan sebelum mandi,. nggak boleh telanjang dada, entah apalagi peraturan nya nanti,"gerutu Toyib sambil berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Dimas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Rumah yang biasanya sepi ini jadi rame karena kehadiran Ayana.
Selesai memakai pakaian, Toyib keluar dari kamar dan langsung menuju ke meja makan. Duda yang berusia dua puluh lima tahun itu langsung menyendok nasi goreng buatan Ayana dan langsung melahapnya. Dimas membantu Ayana membersihkan dapur dan Ayana mencuci piring.
"Ternyata kamu pintar juga memasak. Lumayan juga, jadi kamu nggak numpang doang di rumah kami,"ujar Toyib sambil menikmati nasi gorengnya.
"Dasar perhitungan!"gerutu Ayana.
Selesai sarapan dan mempersiapkan barang dagangan. Dimas dan Toyib pun bersiap untuk berangkat.
"Kunci pintunya! Jangan keluar rumah! Jika ada keperluan yang harus dibeli, catat saja, biar aku belikan setelah pulang nanti,"pesan Dimas.
__ADS_1
"Iya,"sahut Ayana.
"Ha...ha...ha..udah mirip kayak suami istri aja. Kenapa kalian nggak kawin aja?"celetuk Toyib.
"Itu mulut udah seperti api ketemu bensin saja. Langsung nyamber! Pergi kerja sana! Kalau punya waktu luang mending push up biar itu perut nggak buncit!"ujar Ayana.
"Sebentar lagi aku bakalan kawin. Aku pasti rajin push up. Push up di atas ranjang,"ujar Toyib kemudian tertawa.
"Dasar mesum!"umpat Ayana.
"Plak"
"Auwh! Sakit!"pekik Toyib karena kepalanya di pukul gagang penyapu oleh Ayana. Sedangkan Dimas hanya bisa menghela napas melihat keduanya.
"Aku berangkat,"pamit Dimas.
"Iya,"sahut Ayana lembut dengan senyuman manis, kemudian beralih melihat Toyib dengan wajah yang berubah terlihat garang ,"Pergi sana! Apa mau aku pukul lagi!"ancam Ayana.
"Iya, iya! Dasar galak. Ke Dimas aja mukanya kayak bidadari, ke aku mukanya kayak memedi!"ujar Toyib langsung keluar dari rumah.
"Dasar bang Toyib!"gerutu Ayana langsung menutup pintu.
"Rumah kalian jadi rame, ya, semenjak ada adiknya nak Dimas, tegur seorang ibu-ibu.
"Gimana nggak rame, Bu. Itu anak gadis banyak banget aturannya. Ngalahin emak di kampung,"sahut Toyib.
"Tapi kok, nggak pernah keluar rumah, ya? Ibu jadi penasaran,"ucap ibu-ibu itu.
"Nggak boleh sama Dimas, Bu. Takut ada yang naksir,"sahut Toyib melirik Dimas.
"Pasti adiknya cantik, ya? Kakaknya aja ganteng,"ucap ibu-ibu itu lagi.
"Permisi, ya Bu. Saya mau berangkat kerja dulu,"ucap Dimas kemudian meninggalkan ibu-ibu itu. Dimas tidak mau terlalu meladeni ibu-ibu itu. Jika diladeni, bisa nggak berangkat -berangkat. Maklum, ibu-ibu kalau sudah menggosip jadi lupa waktu.
"Saya juga permisi, Bu,"sahut Toyib menyusul Dimas yang sudah berjalan lebih dulu.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued