
Dimas bergegas kembali dari toilet. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Begitu memasuki ballroom hotel, Dimas terkejut saat melihat banyak orang berkerumun di pojok ballroom. Tempat dirinya meninggalkan Ayana tadi. Dimas semakin merasa khawatir saat mendengar suara teriakan seorang wanita ditengah alunan musik dan orang-orang yang berbisik-bisik.
"Ada apa ini?"tanya Hilda yang keluar dari kerumunan para tamu undangan bersama Geno.
"Pergi! Pergi! Jangan sentuh aku!"pekik Ayana.
"Hei! Kamu jangan membuat orang ditempat ini salah paham padaku,"ucap Noval yang bingung harus bagaimana.
Dimas bergegas menerobos kerumunan orang dan sangat terkejut saat melihat Ayana sedang histeris. Dengan cepat Dimas berlari menghampiri Ayana. Geno yang juga hendak menghampiri Ayana menghentikan langkahnya saat melihat Dimas datang.
"Ay! Tenang, Ay! Ada aku!"ucap Dimas segera memeluk Ayana. Pria itu menatap dingin dan tajam pada Noval. Aura pria tampan itu begitu suram dan dingin. Membuat siapa pun yang melihatnya merasa terintimidasi.
"Jangan pernah dekati dia lagi!"ucap Dimas pada Noval dengan suara yang terdengar dingin.
Dimas yakin jika pria yang ada di depannya dan Ayana saat ini pasti adalah pria yang bernama Noval. Karena psikolog Ayana mengatakan, trauma Ayana tidak akan kambuh jika tidak mengalami suasana yang sama seperti angin kuat, hujan, kilat, petir atau melihat orang yang berkaitan dengan peristiwa itu.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Dimas membawa Ayana yang memeluknya dengan erat pergi dari tempat itu.
"Maaf atas kekacauan ini! Silahkan dilanjutkan pestanya!"ucap Geno tidak enak hati.
Para tamu undangan pun, kembali melanjutkan pesta, walaupun masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi. Bahkan tidak sedikit yang menatap Noval curiga.
"Om, aku benar-benar tidak melakukan apapun pada Ayana. Saat aku mendekatinya, dia langsung histeris, Om,"ujar Noval mencoba menjelaskan, tidak ingin orang tua Ayana dan para tamu undangan salah paham pada dirinya.
"Ayana mengalami trauma karena kejadian beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat pesta pertunangan Nando. Pernah ada orang yang bermaksud jahat padanya. Karena itu, Ayana tidak bisa didekati oleh sembarang pria. Apalagi jika pria yang mendekatinya adalah orang yang sudah membuat dia menjadi trauma,"ujar Geno yang sebenarnya menyindir Noval.
Dari psikolog Ayana, Geno tahu, apa saja yang dapat membuat trauma Ayana kambuh. Dan Geno sangat yakin jika saat ini trauma Ayana kambuh pasti karena melihat Noval.
"Apa karena itu, selama ini Om tidak mengijinkan saya bertemu dengan Ayana?"tanya Noval yang tidak tahu jika sebenarnya dirinya yang di sindir Geno.
"iya. Maaf, saya harus menemani tamu yang lain. Silahkan dinikmati pestanya!"ucap Geno tersenyum pada Noval. Tepatnya pura-pura tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Om,"sahut Noval,"Sial! Gagal sudah impianku memiliki gadis itu,"gumam Noval setelah Geno pergi.
Sedangkan Bening yang kembali ke pelaminan bersama Nando tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Nan, ada apa dengan Ayana? Kenapa dia bisa histeris seperti tadi?"tanya Bening pelan.
"Ayana mengalami trauma karena hampir dilecehkan orang. Dan semenjak itu, Ayana menjauhi semua pria. Kecuali si sales penjual pakaian keliling itu,"sahut Nando terlihat kesal.
Akhirnya Nando tidak lagi menutup-nutupi soal Ayana dan Dimas. Karena saat ini Bening sudah menjadi istrinya. Cepat atau lambat, Bening akan tahu juga, apa pekerjaan adik ipar yang dibencinya itu.
"Sales penjual pakaian keliling?"tanya Bening seraya mengernyitkan keningnya.
"Iya, si Dimas itu, suaminya Ayana. Dia itu cuma bekerja sebagai sales pakaian keliling. Aku malu sekali memiliki adik ipar seperti dia,"jelas Nando masih dengan wajah kesalnya.
"𝙅𝙖𝙙𝙞 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙨𝙖𝙡𝙚𝙨 𝙥𝙖𝙠𝙖𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙡𝙞𝙡𝙞𝙣𝙜?"gumam Bening dalam hati. Sekarang Bening tahu, apa profesi yang digeluti Dimas setelah nama Dimas di blacklist.
"Ngomong-ngomong, bagaimana mereka bisa menikah? Bukankah Ayana masih sekolah?"tanya Bening mencoba untuk mengorek informasi dari Nando.
"Jadi... maksudnya, Ayana memaksa Dimas untuk menikahi dia?"tanya Bening memperjelas informasi yang dijelaskan oleh Nando.
"Iya. Ayana sempat menggores lehernya sendiri dengan pisau saat sales pakaian keliling itu menolak untuk menikah denganya. Bahkan Ayana masih berdiri sambil menodongkan pisau di lehernya sendiri saat sales pakaian keliling itu mengucapkan ijab kabul,"jelas Nando.
"Adik kamu nekat banget, ya?"sahut Bening.
"Iya. Dari dulu, dia memang badung. Sekarang, dia cuma nurut sama sales pakaian keliling itu doang,"sahut Nando.
"𝙅𝙖𝙙𝙞, 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙥𝙖𝙠𝙨𝙖? 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖? 𝘿𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙡𝙖𝙢𝙞 𝙩𝙧𝙖𝙪𝙢𝙖?"gumam Bening dalam hati. Ada kelegaan dan kebahagiaan di hati Bening setelah mengetahui jika Dimas terpaksa menikah dengan Ayana.
Sementara itu, Dimas sudah tiba di kamar hotel yang ditempatinya bersama Ayana. Pria itu lumayan kesulitan untuk membuka pintu karena sedang menggendong Ayana. Setelah beberapa saat berusaha membuka pintu kamar hotel itu, akhirnya Dimas berhasil juga membuka pintu kamar hotel itu.
Dimas membaringkan tubuh Ayana di atas ranjang, dan Dimas pun ikut berbaring seperti biasanya. Mereka pun tertidur tanpa mengganti pakaian mereka. Hingga saat dini hari, akhirnya Dimas terbangun dari tidurnya. Dimas melerai pelukannya, kemudian melepaskan sepatu Ayana. Menyelimuti tubuh Ayana. Dimas mengelus kepala Ayana dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Apa pria tadi yang membuat Ayana trauma? Besok, aku akan menanyakannya pada papa,"gumam Dimas yang sudah lama penasaran dengan sosok yang bernama Noval. Pria yang menjadi penyebab Ayana trauma.
Dimas beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan kearah kamar mandi. Membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Lalu kembali membaringkan tubuhnya di samping Ayana dan kembali memeluk Ayana.
Keesokan paginya, Geno, Hilda, Nando dan Bening sudah berada di sebuah privat room restoran yang ada di hotel itu. Mereka sedang menunggu Dimas dan Ayana untuk sarapan bersama.
"Kenapa kamu mengundang Noval di acara pesta pernikahan kamu semalam?"tanya Geno nampak tidak suka.
"Noval adalah teman aku, pa. Masa iya, aku tidak mengundang dia di pesta pernikahan aku,"ujar Nando.
"Bukankah kamu tahu, jika adik kamu mengalami trauma karena si Noval itu?"ketus Geno.
"Aku tidak mengira jika respon Ayana akan seperti itu, pa,"sahut Nando.
"Semalam itu benar-benar memalukan. Teman-teman mama jadi pada tahu kalau Ayana mengalami trauma,"ketus Hilda yang merasa kecewa karena kejadian yang sempat mengundang perhatian para tamu undangan semalam. Karena kejadian semalam telah menjadi gosip yang lumayan panas di kalangan teman-teman sosialitanya. Dan Hilda merasa malu saat teman-teman sosialitanya mengetahui bahwa putrinya mengalami trauma.
"Apa sales pakaian keliling itu tidak membawa Ayana ke psikolog? Jangan-jangan, dia tidak mempunyai uang untuk membawa Ayana berobat,"sahut Nando. Sedangkan Bening hanya diam mendengarkan pembicaraan orang tua dan anak itu. Ingin mengetahui informasi lebih dalam mengenai Dimas dan Ayana.
"Dimas rutin membawa Ayana ke psikolog. Papa selalu menanyakan tentang perkembangan pengobatan Ayana pada psikolog yang menangani Ayana. Bahkan Dimas membawa Ayana ke psikolog yang terbaik di kota ini,"tukas Geno.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu private room itu menghentikan perbincangan Geno, Hilda dan Nando.
"Masuk !"ucap Geno.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1